Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
12. Makan Siang


__ADS_3

🍄HAPPY READING🍄


Beberapa saat kemudian, Desi datang ke ruangan Serina. Memberitahu pada Serina bahwa di lobby kantor ada Pram yang mencari dirinya.


Serina yang mendengar itupun langsung menyuruh Desi untuk mengatakan pada Pram jika ia sedang sibuk dan tidak punya waktu. Akan tetapi Desi mengatakan jika Pram terus saja memaksa untuk bertemu dengannya.


Serina mendengus kesal. Mau tidak mau dia pun harus beranjak dari ruangannya untuk menemui Pram.


Dari kejauhan terlihat Pram sedang berdiri menunggu di lobby. Melihat Serina yang datang, Pram langsung saja tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.


"Akhirnya kamu muncul juga!" Ucap Pram.


Tak menjawab, Serina langsung meraih lengan Pram dan membawanya pergi ke halaman kantor.


"Pram, kenapa kamu nekad sekali datang kesini?" Tanya Serina dengan kesal.


"Kan aku sudah bilang, Serina. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama." Jawab Pram santai.


Serina menggeleng cepat. "Tidak bisa, aku sibuk! kamu pergilah!" Ujar Serina seraya berlalu.


Pram dengan cepat langsung meraih lengan Serina.


"Tunggu, Serin. Apa salahnya jika kita makan siang bersama?"


"Astaga, Pram. Aku kan sudah bilang kalau aku sudah---"


"Kalau kamu sudah menikah? iya aku tahu, tapi aku hanya sekedar mengajakmu makan siang saja. Tidak lebih!" Ungkap Pram.


Serina menghela nafas panjang, lalu ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Baiklah! untuk kali ini saja!"


Mendengar itu, Pram pun kembali tersenyum lebar.


"Ayo!"


Mereka lalu pergi dalam satu mobil yang sama.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menembus jalanan yang sedikit lenggang. Sepanjang perjalanan, Serina pun hanya membuang pandangannya menatap ke arah jendela.


"Kamu kesal padaku?" Tanya Pram yang fokus pada setirnya, tapi sesekali ia melirik ke arah Serina juga.


Tak menjawab, Serina hanya menggeleng saja.


Sekitar lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di salah satu restoran ternama.


"Mau pesan apa?" Tanya Pram sambil membolak-balik buku menu.


"Minum saja!" Jawab Serina singkat, wajahnya terlihat begitu datar.


"Kamu tidak makan?"


"Tidak!"


"Makanlah, aku tahu kamu sedang lapar!" Ucap Pram.

__ADS_1


"Cih.....terserah kamu saja!"


Beberapa saat kemudian, sambil menunggu pelayan datang mengantar pesanan, Pram membuka obrolan pada Serina.


"Kamu kenapa, Serina? tampak seperti orang yang sedang memendam masalah?" Tanya Pram yang peka.


"Aku tidak apa-apa, sudahlah tidak usah mencampuri urusan pribadiku!" Ujar Serina.


Pram menghela nafasnya. "Kamu bahagia menikah dengan Bara?"


Serina sejenak terdiam. " Tentu saja, aku bahagia menikah dengannya!" Tutur Serina berbohong.


"Baguslah kalau begitu," Ucap Pram yang terdengar lesu. "Aku harap kamu dan Bara akan terus berbahagia." Tutur Pram sambil memaksakan senyumnya.


"Apa kamu sudah punya anak sekarang?" Pram terus saja menanyai Serina.


"Pram, sudah syukur-syukur aku mau makan siang denganmu. Sudahlah, jangan banyak tanya!" Kesal Serina.


"Ba-baiklah, maafkan aku jika pertanyaanku menyinggung perasaan mu." Kata Pram.


Tak lama pesanan keduanya pun datang. Pelayan tersebut membawa dua piring nasi goreng seafood beserta jus mangga.


Sejenak Serina termenung saat melihat pelayan meletakan piring yang berisi nasi goreng, seulas senyum pun terbit dari sudut bibirnya.


"Makanlah..." Tutur Pram. Tapi terlihat Serina hanya diam sambil tersenyum.


"Serina, kenapa kamu malah tersenyum?" Tanya Pram.


Serina mendengus kesal.


"Bukan urusan mu!" Ketus Serina.


"Kamu masih ingat?" Tanya Serina tiba-tiba.


"Ingat apa?" Tanya balik Pram dengan kedua alis terangkat.


"Bukan apa-apa!" Serina kembali menatap nasi goreng di hadapannya. Pram langsung saja menyadarinya.


"Oh...iya tentu saja aku masih ingat. Makanan kesukaanmu kan nasi goreng seafood." Ujar Pram.


Serina kembali tersenyum, lalu keduanya pun menyantap makanan di piring masing-masing.


"Wah... Ini sungguh enak sekali. Aku baru tau ada restoran yang menyediakan menu selezat ini." Ucap Serina sambil mengunyah makanannya.


"Jika kamu ingin, kita bisa datang lagi kesini." Ucap Pram.


Tidak menjawab, Serina lebih memilih menikmati makanannya.


Mereka telah selesai makan. Terlihat keduanya begitu menikmati makan siangnya.


"Mari ku antar ke kantor mu." Ucap Pram


"Tidak usah... Aku bisa naik taxi." Tolak Serina.


"Tidak. Aku yang menjemput mu jadi aku yang harus mengantar mu lagi." Ujar Pram.

__ADS_1


Tidak ingin berdebat, akhirnya Serina menuruti Pram. Lagi-lagi sepanjang perjalanan, Serina hanya terdiam seribu bahasa. Pram sekilas menatap ke arah Serina yang dari tadi hanya diam tanpa ekspresi.


Sesampainya di kantornya, Serina langsung saja turun dari mobil Pram. Pram sendiri juga ikut turun.


"Terimakasih, untuk makan siangnya!" Ucap Serina.


"Baik sama-sama. Aku harap lain kali kita bisa makan bersama lagi!" Ujar Pram tersenyum.


Serina menggeleng. "Tidak akan lagi!" Tolak Serina seraya berlalu.


"Tunggu, Serin!" Pinta Pram.


Langkah Serina terhenti dan dengan kesal ia berbalik badan.


"Apa lagi, Pram?" Tanya Serina.


"Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kamu alami, tapi jangan terlalu banyak menahan semuanya sendirian." Ungkap Pram dengan bijaksana.


"Jika kamu perlu bantuan, beritahu aku kapanpun. Aku akan selalu siap untukmu!" Ucap Pram dengan senyuman manisnya.


Mendengar pernyataan Pram yang seperti itu, Serina pun terdiam sesaat.


Ia lalu membuang pandangannya, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca.


Hingga akhirnya Serina kembali menegakkan pandangannya.


"Pram... Apa kamu tidak lihat aku baik-baik saja." Tanya Serina dengan wajah sendu.


"Serina... Fisik mu memang terlihat baik-baik saja tapi apakah hatimu sedang baik-baik saja?" Tanya balik Pram. "Aku tahu Serina, kalau kamu sedang tidak baik-baik saja sekarang!"


Serina termangu. Bibirnya seketika tergagap, ia tak bisa berkata satu huruf pun dan hanya menatap Pram dengan mematung.


Melihat Serina yang hanya diam mematung tanpa sepatah katapun, Pram menganggukkan kepalanya kemudian ia masuk ke dalam mobil dan berlalu begitu saja.


Serina menatap ke arah mobil Pram yang telah berlalu.


Dia menghembuskan nafasnya dengan pelan. Entah kenapa lidah nya seolah-olah Kelu saat mendengar pernyataan Pram.


Serina mulai berpikir, apa yang dikatakan Pram itu ada benarnya juga. Fisiknya memang terlihat baik-baik saja, akan tetapi tidak dengan hatinya.


Huft......


Serina sudah kembali ke ruangannya. Namun entah kenapa pikirannya masih terngiang-ngiang oleh perkataan Pram yang barusan.


Tak ambil pusing, Serina pun kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti tadi.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Serina memutuskan untuk pulang karena sudah tidak ada lagi hal yang harus di kerjakan.


Tiba-tiba ponsel Serina berdering tanda panggilan masuk dari Pram.


"Ada apa lagi?" Tanya Serina datar.


"Aku ingin menjemput mu."


"Aku bawa mobil sendiri, jadi kamu tidak perlu menjemput ku!" Tolak Serina datar.

__ADS_1


"Hem.. baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan, jika sudah sampai kabari aku."


Serina mendecih, tanpa kata penutup, ia langsung mematikan sambungan teleponnya.


__ADS_2