
"Jangan seperti ini, Arum. Mari ku antar saja pulang ke apartemen." Ujar Bara.
Arum diam, tak menggubris.
"Aku minta maaf, Arum. Sudahlah jangan ngambek begitu." Kata Bara.
Arum tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Sudah sore, ayo kita pulang!" Ajak Bara.
"Aku tidak mau pulang sekarang, mas. Aku ingin kamu mengajak ku jalan-jalan." Ucap Arum.
"Rum, ini sudah sore sebaiknya kita pulang."
"Mas lagipula aku hanya ingin jalan-jalan dengan mu apa salahnya? Selama ini aku tidak pernah minta apa-apa sama kamu." Ujar Arum.
Bara menghela nafas.
"Kita bisa melakukannya di lain waktu, Rum."
"Sepertinya aku memang benar, kalau kamu pasti malu sama aku, mas."
Tak ingin berdebat lebih panjang, akhirnya Bara pun menyetujui permintaan Arum yang meminta jalan-jalan.
Mereka pun akhirnya melangkah pergi, melewati beberapa karyawan yang masih asik berbisik tentang mereka.
Ada sedikit rasa malu di dalam benak Bara, tapi semua sudah terlanjur. Untuk kali ini biarlah dia kehilangan Serina asalkan jangan kehilangan Arum juga.
Arum, wanita itu berjalan sambil mendongakkan wajah angkuhnya. Dengan sengaja juga ia bergelayut manja di lengan Bara. Dia ingin semua orang tahu bahwa dia lah pemenangnya.
Huft.....
Pram dan Serina kini telah selesai makan. Pram terus saja memandangi wajah cantik Serina tanpa berkedip sedikitpun. Serina yang menyadari jika Pram terus saja menatap dirinya, ia pun langsung saja merasa risih.
"Jangan menatapku seperti itu, Pram!" Ucap Serina.
"Kenapa? padahal aku hanya ingin memandangi ciptaan tuhan yang sangat indah ini, apakah tidak boleh?" Tanya Pram.
Serina tak menjawab dan hanya memutar mata malas.
"Sudah mau malam, sebaiknya kita pulang!" Ajak Serina.
"Jangan buru-buru pulang, Serina. Kita jalan-jalan dulu sebentar. Toh, malam ini adalah malam Minggu." Kata Pram.
"Aku tidak peduli Pram, mau ini malam Minggu, malam Jumat atau malam apa aku tidak peduli. Yang penting aku ingin pulang saja!" Tegas Serina yang mulai kesal.
"Ayolah, Serina. Sekali ini saja, daripada kamu dirumah terus pasti kamu akan kembali sedih lagi." Ucap Pram.
__ADS_1
Serina terdiam sesaat. Apa yang diucapkan Pram itu ada benarnya juga. Setiap ia pulang ke rumah pasti dia akan kembali merasakan kesedihan. Serina lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Baiklah, untuk kali ini aku menerima ajakanmu." Ujar Serina membuat Pram tersenyum lebar.
Akhirnya, Pram dan Serina pergi dalam satu mobil yang sama. Pram berniat mengajak Serina untuk pergi ke mall, karena Pram berpikir mungkin jika wanita sedang galau pasti akan sangat cocok jika di ajak untuk berbelanja.
Sedangkan Bara dan Arum, kini sedang dalam perjalanan yang entah kemana.
"Kamu mau pergi kemana, Rum?" Tanya Bara.
"Ke mall aja, mas. Aku pengen shopping!" Jawab Arum sumringah.
"Kamu punya uang, Rum?"
"Ya, gak punya tapi kan ada kamu, Mas. Jadi kamu yang bayarin." Kata Arum dengan santainya.
Bara melirik Arum di sebelahnya.
"Kenapa? Emang salah ya kalau calon istri minta uang calon suami?" Tanya Arum saat mendapat tatapan tajam dari Bara.
Tidak menjawab, Bara hanya menghembuskan nafasnya kasar.
Selang beberapa saat, mobil yang mereka kendarai pun telah tiba di salah satu mall terbesar di kota itu. Bara turun dari mobil, begitu juga dengan Arum, wanita itu langsung saja menggandeng lengan Bara.
"Rum, ini tempat umum jangan begini!" Kata Bara seraya melepaskan tangan Arum dari lengannya.
"Kamu masih malu jalan sama aku?" Tanya Arum dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kalau begitu kita pulang saja, mas!" Ujar Arum lalu melangkahkan kedua kakinya menuju mobil tapi langsung di cegah Bara.
"Rum, jangan seperti anak kecil begitu!"
"Lagian apa salahnya? Aku hanya ingin mengandeng tangan mu tapi kamu menepisnya, kamu malu kan, mas!" Ucap Arum setengah berteriak. Air mata kini sudah membanjiri kedua matanya.
Bara terdiam.
"Lebih baik kita pulang saja daripada kamu harus malu!" Ujar Arum lagi.
Bara mencekal tangan Arum agar wanita itu tak pergi.
"Lepaskan!" Sentak Arum sambil melepaskan tangannya dari Cengkeraman Bara.
Bara, pria itu menarik Arum hingga Arum jatuh ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Arum. Aku tidak bermaksud begitu. Aku sudah bilang statusku masih suami Serina." Ucap Bara terdengar begitu lembut.
"Bukankah kamu dan wanita itu akan bercerai?" Tanya Arum di sela Isak tangisnya.
"Kamu benar, Rum. Lihatlah, aku sekarang memilihmu karena aku mencintaimu lalu untuk apa aku harus malu memiliki mu?" Tanya Bara.
__ADS_1
Arum melepaskan pelukan Bara lalu wanita itu menatap lekat wajah pria di hadapannya.
"Benarkah kamu mencintaiku?" Tanya Arum.
Bara tersenyum lalu mengangguk.
"Sudah jangan menangis lagi!" Kata Bara sambil mengusap air mata Arum, perlakuan Bara seperti itu membuat Arum bersorak kegirangan di dalam hatinya.
Arum menatap Bara sambil tersenyum.
"Kalau begitu ayo kita masuk!" Ucap Arum.
Keduanya pun lalu masuk ke dalam mall sambil bergandengan tangan.
Di dalam mall, mereka berkeliling membeli apa saja yang ada dihadapan mata yang disukai. Sampai tak terasa tangan mereka sudah penuh membawa beberapa tentengan paper bag.
Arum menghentikan langkahnya, saat ia melewati sebuah toko perhiasan.
"Ada apa, Rum. Kok berhenti?" Tanya Bara.
"Mas....kita masuk kedalam yuk!" Ajak Arum.
"Tapi Rum, mau ngapain lagi? toh, belanjaan kamu sekarang udah banyak!" Ujar Bara.
"Aduh, cuma lihat-lihat saja kok mas!" Kata Arum, ia langsung melangkah masuk.
Bara menggelengkan kepalanya, lalu menyusul langkah Arum yang masuk kedalam lebih dulu.
Awalanya Arum memang melihat-lihat saja, akan tetapi lama-kelamaan ia mulai tertarik dengan satu kalung yang bermatakan berlian.
"Mas....kalung ini bagus sekali!" Ujar Arum sambil menunjuk ke arah kalung.
"Iya, bagus sekali." Kata Bara dengan wajah datar.
"Bisakah kamu membelikannya untuk ku, mas?" Tanya Arum dengan mata berbinar.
"Arum, tapi kamu sudah belanja banyak hari ini. Bahkan untuk beli pakaianmu dan lain-lain saja sudah habis berjuta-juta!" Tukas Bara.
"Kok kamu jadi perhitungan gini sih, mas? kamu gak ikhlas ya?" Tanya Arum matanya mulai berkaca-kaca.
"Bukan begitu, Rum. Ta-tapi..." Belum selesai Bara berbicara, Arum langsung memotongnya.
"Sudahlah mas, bilang saja kamu pelit dan perhitungan sama aku!" Cibir Arum dengan wajah melas.
Bara semakin dibuat pusing oleh sikap Arum yang seperti anak kecil. Sedangkan menurut Bara, Serina saja selama ini tidak pernah seperti itu. Tak ingin berdebat lagi, akhirnya mau tidak mau Bara menuruti permintaan dari Arum.
Arum tersenyum puas ketika Bara menuruti permintaannya. Hatinya benar-benar bahagia ternyata Bara memang benar-benat mencintai dirinya.
__ADS_1
"Terimakasih, mas. Sebagai gantinya aku akan melayani mu malam ini." Bisik Arum yang membuat Bara tergoda.