Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
13. Tidak Jujur


__ADS_3

🐭HAPPY READING🐭


Sementara dirumah, Arum wanita itu tengah asik teleponan dengan ibunya.


"Ibu... Aku sudah mengirim uang nya."


"Terimakasih banyak, Arum. Kamu memang anak yang paling pengertian!" Puji ibunya.


Arum tersenyum lebar mendengar pujian sang ibu.


"Baiklah ibu, sama-sama. Uangnya sengaja Arum kirim lebih bu, agar ibu bisa segera melunasi hutang-hutang ibu." Ujar Arum.


"Tentu saja, Rum. Ibu sekarang begitu senang!"


"Kalau begitu Arum mau melanjutkan pekerjaan dulu. Jadi Arum tutup dulu teleponnya, Bu!" Kata Arum.


Tiba-tiba Bara datang dan langsung merangkul pinggang Arum dari belakang. Hal itu pun tentu saja membuat Arum begitu kaget karena melihat kedatangan Bara yang tiba-tiba.


"Rum....." Ucap Bara sambil tersenyum.


"Mas, kamu mengagetkanku saja!" Ujar Arum seraya berbalik badan.


"Mas kangen sama kamu,"


Arum tersenyum lebar mendengarnya. Tapi senyuman itu seketika memudar begitu saja.


"Wajahmu kenapa berubah menjadi seperti itu, Rum? apa kamu nggak seneng?" Tanya Bara.


"Mas.... sekarang aku merasa cemburu."


"Cemburu karena apa?"


"Kalian akan merayakan pesta anniversary, tentu saja aku merasa cemburu." Ucap Arum sambil melipat kedua tangan di dada.


"Seharusnya aku yang jadi istrimu, karena dia sama sekali tak pantas menjadi istrimu." Tukas Arum.


"Tidak usah cemburu Arum, yang penting kan hatiku hanya untuk kamu." Kata Bara.


"Apa perkataan mu itu bisa ku percaya?"


"Tentu saja, sayang!"


"Kalau begitu kenapa kamu tidak menceraikan nya saja? lalu setelah itu kita menikah, menjalani kehidupan bersama!" Tutur Arum dengan entengnya.


Bara menghela nafas panjang. "Tidak semudah itu, Arum."


"Kenapa mas? kenapa?" Tanya Arum.


Tak bisa menjawab, Bara hanya diam saja seperti orang kebingungan.

__ADS_1


"Sedang apa kalian?" Tanya Serina tiba-tiba muncul begitu saja.


Bara dan Arum langsung saja menoleh ke arah Serina yang sedang berdiri menatap lekat ke arah mereka.


"Sa-sayang, kamu sudah pulang?" Tanya Bara mengalihkan pembicaraan.


Serina melangkah lebih maju lagi, mendekat ke arah Bara dan Arum.


"Aku tanya kalian sedang apa berduaan didapur?" Serina mengulang pertanyaannya seraya tersenyum menyeringai.


Senyuman Serina sungguh membuat Bara dan Arum ketakutan. Arum pun hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Kenapa tidak ada yang menjawab? kenapa malah diam saja?" Serina melirik ke arah Bara lalu melirik lagi ke arah Arum.


"Hahaha.....sayang......jangan salah paham, aku tadi hanya menyuruh Arum untuk membuatkan ku jus saja. " Bara tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang sempat kaku. "Bukankah begitu, Arum?" Tanya Bara sambil melirik Arum seolah memberi isyarat agar Arum mengiyakannya.


"Be-betul nyonya, Tuan tadi meminta saya untuk membuatkannya jus." Ucap Arum terbata-bata, masih dalam wajah tertunduk, karena ia tak berani menatap Serina.


"Oh begitu rupanya," Serina menatap sinis Arum.


"Sudah sayang, lebih baik kita ke kamar saja. Kamu harus membersihkan dirimu terlebih dulu." Ujar Bara merangkul pundak Serina dan membawanya pergi dari dapur.


Arum menghela nafas lega, ketika majikannya itu sudah pergi.


"Huh, untung saja. Hem....kira-kira dia dengar atau tidak ya percakapanku dengan mas Bara tadi?" Tanya Arum pada diri sendiri.


Dikamar, Serina langsung saja melempar tasnya ke atas tempat tidur. Wanita itu lalu berbalik badan dan menatap suaminya dengan dingin.


"Jawablah dengan jujur, maka aku akan memaafkan mu dan memberimu satu kesempatan." Ujar Serina dengan serius.


"Aku tidak mengerti maksudmu, sayang?"


"Kamu benar, hanya saja aku ingin mencari jawaban dari kecurigaanku ini. Apa kamu ada hubungan lebih dengan Arum, pembantu kita?" Tanya Serina.


"Sayang... Mana mungkin aku memiliki hubungan dengan pembantu kita. Arum, wanita itu jauh di bawah kamu, lalu untuk apa aku memiliki hubungan dengannya sedangkan istriku ini saja wanita paling sempurna." Ujar Bara tersenyum lebar.


Serina diam dan kembali menatap Bara dengan dingin.


"Masih saja kamu tidak mengaku, mas!" Batin Serina. "Baiklah, mari kita lihat nanti bagaimana kelakuan bejatmu dengan seorang pembantu!"


"Sayang, kita sudah sepuluh tahun membina rumah tangga. Apa kamu masih kurang percaya padaku?" Tanya Bara mendekat ke arah Serina hingga jarak keduanya hanya sejengkal saja.


"Aku memang mempercayai mu, mas. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi! semenjak kamu mengkhianati ku, rasa percayaku pun Sirna begitu saja!." Batin Serina.


"Baiklah, mas. Aku percaya. Maafkan aku karena aku sudah berpikiran yang negatif tentangmu!" Ucap Serina dengan memberikan setengah senyumannya.


Bara menghela nafas lega, hampir saja ia tak bisa berkata-kata. Tapi untung saja ia bisa merangkai kata-kata manis untuk membuat Serina percaya.


"Sekarang bersihkan lah dirimu, habis itu kita makan malam!" Titah Bara.

__ADS_1


Serina mengangguk, kemudian berlalu ke kamar mandi.


Melihat Serina yang sudah masuk ke kamar mandi, Bara langsung saja bergumam.


"Hah, hampir saja aku kehabisan kata-kata. Apa tadi sebelumnya dia mendengar percakapanku dengan Arum?"


"Ah....tidak mungkin!"


Selang beberapa saat, keduanya sudah duduk diruang makan.Seperti biasa suami dan istri itu menyantap makan malamnya masing-masing.


"Pesta perayaan pernikahan kita dua hari lagi, mas. Mungkin besok aku tidak masuk bekerja." Ucap Serina membuka obrolan.


"Tentu saja, sayang! Kita harus menyiapkan pesta kita mulai dari sekarang. Aku akan menemani berbelanja besok." Ujar Arum.


"Benarkah, Mas? kamu memang suami yang baik hati. Aku semakin mencintai mu." Ucap Serina dengan sengaja agar Arum mendengarnya.


Bara hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"Arum.....kemari kamu!" Panggil Serina dan Arum langsung menghampiri dengan wajah tertunduk.


"Iya nyonya, ada apa?" Tanya Arum.


"Besok kamu harus ikut!" Ucap Serina.


"Aaa.....ikut kemana, nyonya?" Tanya lagi Arum.


"Ikut kami berbelanja lah, soalnya kamu kan pembantu jadi kamu yang harus bantu-bantu bawa belanjaan nanti!" Ujar Serina dengan wajah datar.


Arum pun hanya bisa mengangguk dan mengiyakan perintah dari majikannya itu.


"Sayang, kenapa harus Arum? kan ada pak Kubis yang nanti bantu bawain!" Sambung Bara.


"Sudahlah mas, apa salahnya coba?" Tanya Serina.


"Iya Terserah kamu saja, sayang. Yang penting kamu senang." Ucap Bara pasrah karena ia tak berani membantah.


Huft.........


Pagi ini Serina sudah berpenampilan rapi dengan dress berwarna putih. Tampak anggun dan cantik hingga membuat Bara terpesona melihat istrinya sendiri.


"Sayang.. Apa kamu tidak terlalu cantik dengan pakaian seperti itu?" Tanya Bara yang sedari tadi menatap istrinya.


"Memangnya kenapa, Mas?" Tanya Serina.


"Kamu sangat cantik, sayang. Rasanya ingin sekali aku menerkam mu." Goda Bara sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar laki-laki brengsek!" Umpat Serina dalam hati. "Sudah selingkuh masih saja bisa tergoda."


"Aku takut, jika pria di luar sana akan tergoda dengan mu." Ujar Bara.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan mu, mas. Apa kamu juga seperti laki-laki di luar sana yang tergoda dengan wanita cantik?"


"Tidak mungkin, sayang. Istriku saja cantiknya seperti ini, bodoh sekali jika aku masih melirik wanita lain!" Tutur Bara.


__ADS_2