Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
30. Angin Lalu


__ADS_3

"Oh ya, kamu mengenal Bara?" Tanya Arum.


Pram mengangguk. "Iya aku mengenalnya, tapi kami tidak terlalu dekat." Jawab Bara.


"Kalau begitu aku pergi dulu!"


"Baiklah, sekali lagi terimakasih!" Kata Arum.


Pram pun lalu melangkah pergi, meninggalkan unit Bara. Didalam benaknya mulai bermunculan beberapa pertanyaan, tentang siapa wanita tadi.


Pram mengedikkan bahunya lalu dia kembali mempercepat langkahnya untuk kembali ke unit miliknya.


_


Keesokan harinya, Arum bangun lebih awal. Ia melirik ke arah samping dan mendapati Bara yang masih tertidur pulas.


Arum tersenyum menyeringai tak kala dia mendapatkan sebuah ide.


Ia merogoh saku celana Bara, dan langsung mengambil ponsel milik Bara. Arum berpose mesra sambil memeluk Bara, lalu ia memotret dan ia kirimkan foto tersebut kepada Serina. Setelah itu ia menghapus foto tersebut agar tidak ketahuan Bara.


"Kamu pasti akan kepanasan melihat ini, Serina!" Lirih Arum tersenyum puas.


Ting....


ponsel Serina berbunyi, sebuah pesan masuk dari Bara. Serina lalu membukanya.


Sebuah foto mesra Bara dan Arum yang Serina sendiri tak tahu apa maksud dari Bara mengirimkan foto tersebut. Serina yang melihat foto itu pun hanya memandang datar tanpa ekspresi.


Cukup lama Serina memandangi foto tersebut. Setelah puas, Serina lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.


Wanita itu memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena sebantar lagi dia akan pergi ke kantor.


-


Pagi menjelang siang, kini Bara sudah terbangun dari tidurnya, kepalanya masih terasa pusing. Dengan langkah pelan pria itu lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bara teringat jika dirinya tadi malam mabuk berat, ia bertanya-tanya siapa orang sudah mengantarnya kesini. Bara bergegas menyelesaikan ritual mandinya. Setelah selesai, ia lalu menghampiri Arum yang tengah memasak.


"Mas Bara, kamu udah bangun?" Tanya Arum.


"Hem.. seperti yang kamu lihat."


"Duduklah dulu, sebentar lagi masakan jadi!" Kata Arum.

__ADS_1


Bara menarik kursi lalu duduk. Ia termenung dengan satu tangan memijat kepalanya.


"Rum, kenapa aku bisa ada disini? siapa yang mengantarkan ku kesini?" Tanya Bara.


"Oh itu, aku lupa bertanya siapa namanya. Tapi katanya dia mengenalmu, mungkin dia temanmu!" Jawab Arum.


Bara menghela nafasnya. "Mungkin itu Damar!"


"Oh ya mas, kamu kenapa mabuk-mabukan?" Tanya Arum penasaran.


Seketika Bara bangkit dari duduknya. "Arum, aku harus pergi!" Ucap Bara.


"Apa maksudmu, pergi kemana? aku belum selesai memasak, mas!" Kata Arum.


"Ini penting, aku harus segera menemui Serina!" Ujar Bara seraya berlalu.


"Apa, menemui Serina? mas....mas....tunggu.....mau apa lagi kamu menemuinya?" Panggil Arum sambil menyusul langkah Bara yang hendak bergegas pergi. Tapi Bara sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari Arum.


Bara menyalakan mobilnya, lalu melaju begitu saja dengan kecepatan tinggi. Ia berharap jika istrinya itu masih ada di rumah.


Bara terlihat khawatir karena keputusannya malam tadi yang sudah menandatangi surat cerai. Bara sama sekali tak ingin berpisah dari Serina.


Setibanya dirumah, Bara langsung saja turun dan bergegas masuk ke dalam rumah. Bara terus memanggil nama Serina, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Suasana rumah terasa begitu hening dan sepi. Bara melangkahkan kaki menuju ke kamar, dikamar ia juga tidak mendapati adanya Serina.


"Serina, kamu dimana?" Tanya Bara.


"Datanglah ke cafe xxx, ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" Jawab Serina, langsung menutup sambungan teleponnya.


Bara lalu bergegas menuju cafe yang dimaksud oleh Serina.


Tidak lama kemudian, Bara telah sampai di Cafe tersebut. Bara masuk ke dalam dan melihat sudah ada Serina yang sedang duduk menunggu.


"Apa kamu sudah lama menungguku?" Tanya Bara menghampiri.


"Tidak juga," Jawab Serina datar. "Duduklah!" Titahnya.


Bara menarik kursi, lalu ia pun duduk.


"Aku tidak punya waktu banyak, jadi langsung ke intinya saja." Kata Serina.


"Apa itu?" Tanya Bara tak paham.


"Minggu depan datanglah ke pengadilan, disana kita akan sidang perceraian." Ujar Serina.

__ADS_1


Bara menggeleng dengan cepat. "Tidak, aku tak akan ke pengadilan. Kita hanya bisa dipisahkan oleh kematian saja." Ucap Bara dengan wajah sendu.


"Apa katamu?" Serina membelalakkan kedua matanya.


"Lupakan tentang apa yang sudah ku perbuat. Anggap itu angin lalu. Dan sekarang akan ku bayar kekecewaan dan lukamu." Pinta Bara.


"Bagaimana bisa angin berlalu sampai dua tahun?" Tanya Serina.


Bara terdiam sejenak.


"Sudah kucoba beberapa kali, aku ingin menjauhinya tapi tetap saja tak bisa."


Serina menghela nafasnya dengan panjang.


"Sudahlah, aku tak perduli. Intinya Minggu depan kamu harus datang ke pengadilan!" Ucap Serina lalu bangkit dari duduknya.


Bara juga bangkit dari duduknya, dan langsung meraih lengan Serina.


"Mana mungkin kita akan berakhir seperti ini?" Mata Bara berkaca-kaca. "Aku jadi heran sama pemikiran kamu, Serina. Perkara aku hanya selingkuh sekali saja kamu langsung menceraikan ku!" Ujar Bara.


"Sejahat-jahatnya dunia lebih jahat lagi omongan kamu, mas!" Gumam Serina dengan sorot mata tajam.


Wanita itu pun kemudian berlalu tapi lagi-lagi Bara menahan tangan Serina.


"Aku tidak bisa kehilangan mu, Serina!"


"Aku tidak bisa kehilangan mu." Serina mengulang perkataan Bara. "Ketika kamu sudah berselingkuh di belakang ku itu artinya kamu sudah siap kehilangan diriku!" Ujar Serina membuat Bara bungkam.


Serina menepis tangan Bara lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Bara yang berdiri mematung.


"Aku sudah memaafkan mu, tapi bukan berarti kita harus bersatu kembali. Aku sudah cukup dewasa untuk memaafkan mu, tapi aku terlalu bodoh jika harus mempercayai mu lagi!" Batin Serina.


Bara, pria itu masih berdiri mematung sambil menatap nanar kepergian Serina . Dering telepon membuyarkan lamunan pria itu. Bara merogoh ponsel dari saku celananya, melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata itu Arum. Bara tidak berminat mengangkat telpon dari Arum jadi ia membiarkannya saja.


"Serina, aku tidak akan dan tidak ingin berpisah dengan mu." Batin Bara.


Sementara Arum, wanita itu terus saja mengomel karena sikap Bara yang pagi tadi membuatnya begitu sangat kesal. Terlebih lagi saat Bara tidak mengangkat teleponnya.


"Kemana dia, kenapa dia mengabaikan telpon ku?" Kesal Arum.


"Apa jangan-jangan dia pergi ke rumah Serina, tidak, tidak mungkin ini masih siang jadi kemungkinan pasti Serina masih di kantornya, apa aku harus ke kantor serina?" Tanyanya.


"Tidak.. tidak. Jika aku kesana, sama saja aku mempermalukan diriku sendiri.

__ADS_1


"Ah.. daripada pusing-pusing mikir kamu, mending aku jalan-jalan keluar saja. Lagipula sudah lama aku tidak menghirup udara diluar sana." Ucap Arum sambil tersenyum.


__ADS_2