Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
70. Hancur


__ADS_3

Argh... Praaaakkkk.... Praaaang... Pyaaaar...


Bara mengamuk, menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya saat ia mengetahui jika sebentar lagi Serina dan Pram akan menikah. Pria ini menghempaskan apa saja yang ada di depan matanya lalu membuangnya ke sembarang arah.


Arum yang mendengar suara keributan dari kamar suaminya bergegas pergi ke kamar Bara. Sesampainya di kamar, ia tidak berani masuk saat ia mendengar Bara berteriak seperti orang kerasukan.


"Arum, ada apa ini?" Tanya Mayang panik.


"Mas Bara mengamuk mah, entah apa yang sedang terjadi sama Mas Bara. Arum tidak berani masuk!" Jawab Arum.


Mayang segera masuk ke dalam kamar anaknya, wanita ini terkejut melihat kamar Bara yang bak kapal pecah bahkan pecahan kaca ada dimana-mana bahkan melukai kaki Bara. Mayang Bergegas menghampiri Bara yang duduk di sudut kamar seperti orang frustasi bahkan pria ini menangis seperti anak kecil.


"Astaga Bara, kamu kenapa nak?!" Tanya Mayang panik.


"Mah, kaki mas Bara terluka." Ucap Arum yang juga panik.


"Bara kamu kenapa nak?" Tanya Mayang sekali lagi. Wanita paruh baya ini sangat khawatir sekarang.


"Serina mah...!"


Mayang menghembuskan nafas pelan.


"Bara, ikhlaskan saja mantan istrimu. Biarkan dia bahagia bersama calon suaminya. Kalian sudah lama selesai, jalan kalian sudah masing-masing." Ujar Mayang.


"Aku... Aku sangat mencintai Serina, aku masih mencintai Serina. Kenapa dia tega melupakan aku secepat ini?" Ucap Bara yang benar-benar patah hati.


Arum seketika terdiam mendengar pengakuan suaminya yang masih mencintai mantan istrinya. Arum memejamkan mata, merasakan sesak di dada tiba-tiba menghujam.


"Semua ini gara-gara kau, Arum!" Ucap Bara sambil menatap tajam Arum. "Andai aku tidak tergoda denganmu, mungkin saat ini aku masih hidup bahagia bersama Serina." Ucap Bara yang masih menangis.


"Kenapa kamu malah menyalahkan aku, mas? Jika bagimu aku adalah godaan dalam dalam rumah tangga kalian, seharusnya kamu tidak tergoda dengan ku. Kamu saja yang mata keranjang dan tidak setia..!


"Arum, jangan banyak bicara! Cepat kamu ambil kotak obat..!" Titah Mayang.

__ADS_1


Bara kembali menangis, kecintaan pada Serina sangat dalam. Hanya karena menuruti nafsu sesaat membuat rumah tangga yang ia dan Serina bangun harus hancur karena kesalahannya sendiri.


Mayang hanya bisa mengelus-elus pundak Bara untuk menenangkannya. Mayang mengajak Bara duduk di atas ranjang untuk mengobati luka di kaki dan tangannya yang memukul-mukul dinding.


Beberapa saat kemudian, Arum datang dengan membawa kotak obat-obatan di tangannya.


"Mah, biar aku saja yang mengobati mas Bara." Ucap Arum.


"Tidak sudi aku disentuh olehmu. Biarkan mamahku saja yang mengobatinya." Ucap Bara terdengar dingin di telinga Arum.


"Tapi, mas---"


"Arum, sini berikan!" Pinta Mayang.


"Kau keluarlah! Aku muak melihatmu!" Ucap Bara yang sekali lagi membuat dada Arum kembali sesak.


Arum pun berlalu dari kamar Bara dengan segenap perasaan kesal. Wanita ini terus saja mengeluarkan sumpah serapahnya menyumpahi suaminya sendiri bahkan ia menyalahkan segala yang terjadi pada Serina.


"Apa ini sakit?" Tanya Mayang yang membersihkannya sisa serpihan kaca di telapak kaki Bara.


"Lupakan dia, Bara! Jodoh kalian sudah selesai. Yah, meskipun kamu dan Serina tetap berjodoh pasti akan ada jalannya untuk kalian kembali." Nasihat Mayang membuat Bara sedikit tenang.


*


Dua hari telah berlalu dan besok malam adalah hari di mana Bara akan menyaksikan mantan istrinya akan bersanding dengan laki-laki lain di atas pelaminan. Bara, pria ini mencoba untuk memejamkan matanya untuk tidur namun sulit. Pikirannya tidak bisa tenang bahkan pikirannya terus melayang pada Serina. Hatinya sangat rindu, tapi ia tak bisa berbuat banyak.


"Sepuluh tahun kita bersama dan kamu bisa semudah ini melupakan aku, Serina. Hatiku sakit sekali saat melihatmu digandeng oleh pria lain selain diriku." Ucap Bara dalam hati.


Seolah tidak sadar diri atas apa yang dia lakukan pada Serina. Di saat sang mantan istri bisa bahagia dengan orang lain, Bara seolah merasa paling tersakiti sekarang.


Pintu kamarnya di ketuk, dengan perasaan malas Bara bangkit dari tidurnya dan membuka pintu.


Tatapan Bara datar saat melihat orang yang di depannya ternyata Arum.

__ADS_1


"Mas kata mamah, kamu belum makan dari siang, ini aku masakin makanan kesukaan kamu." Ucap Arum.


Namun Bara tetap diam, pria ini acuh dan tidak peduli dengan kehadiran Arum.


"Mas, aku istrimu. Setidaknya hargai aku!" Ucap Arum begitu kesal.


"Jika kamu sudah selesai, pergilah!" Ucap Bara.


"Apa kamu masih mencintai Serina?" Tanya Arum.


"Yah, aku masih mencintainya." Jawab Bara membuat hati Arum kembali terasa nyeri.


"Jahat kamu, mas!" Lirih Arum.


"Wajar jika aku masih mencintainya sebab kami pernah bersama selama sepuluh tahun lamanya." Jawab Bara.


"Mas, aku masih istrimu sekarang. Bukan Serina atau yang lain. Kamu harus mencintaiku mas!"


"Kamu tidak ada hak mengatur perasaanku..!"


"Lantas kenapa kamu ingin menikah denganku?"


"Bukankah kamu yang ingin menikah denganku? Kamu yang selalu mengahasut ku untuk menceraikan Serina. Bahkan jika aku tidak memilihmu kamu mengancam akan bunuh diri. Jujur saja, aku tidak bisa membuang rasa cintaku pada Serina. Selama ini aku sudah berusaha mencintaimu namun tetap saja tidak bisa."


Arum menangis menjual air mata kesedihannya namun tetap saja Bara tidak peduli pada dirinya.


"Kau memang masih menjadi istriku dan kamu memiliki raga ini tapi kamu tidak bisa memiliki hatiku. Sebab Serina masih ada di dalamnya."Ucap Bara begitu tegas dan lugas.


Arum menangis tersedu-sedu, ia tak menyangka jika Bara tega mengatakan hal seperti itu yang menginjak-injak harga dirinya. Dengan perasaan emosi ia hendak melayangkan satu tamparan ke wajah Bara tapi dengan cepat Bara menahannya. Arum terduduk lemas di lantai, wanita ini menangis pilu sekarang.


Tanpa menghiraukan Arum, Bara keluar dari kamarnya. Tinggallah Arum yang penuh derita meratapi nasibnya.


Sedangkan Bara, pria ini pergi ke taman belakang rumah untuk menenangkan pikirannya, duduk di kursi mendongakkan kepalanya menatap hamparan langit malam. Pria ini mengingat masa-masa indah saat ia bersama dengan Serina dulu. Sesekali ia tertawa, tapi disaat ia mengingat telah menyakiti Serina, ia kembali bersedih.

__ADS_1


"Sungguh aku tidak rela jika kamu harus menikah lagi, Serina!" Ucap Bara seraya menghapus sudut matanya yang basah.


Mayang yang memperhatikan anaknya dari kejauhan pun hanya bisa geleng-geleng kepala, untuk kali pertamanya ia melihat Bara hancur seperti ini. Bahkan ketika ayahnya meninggal, Bara tidak sesedih seperti sekarang ini.


__ADS_2