Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
68. Ketemu Mantan


__ADS_3

"Arum...... kurang ajar kamu!" pekik Bara menatap nyalang Arum.


"Kenapa gak terima, hah?" tanya Arum membelalakkan matanya.


Sementara Mayang menatap Bara dari atas kebawah dengan tatapan jijik.


"Hei Arum, apa yang kamu lakukan itu?" tanya Bu Mayang dengan mata tajam.


"Mamah nggak lihat. Anak mamah yang satu ini sangat kurang ajar, bisa-bisanya dia ingin menjual semua tas branded milikku!" Keluh Arum.


"Dasar perempuan sinting! Tas-tas itu dibeli pakai uang anakku jadi terserah dia lah kalau mau dijual!" Celoteh Mayang.


"Apa mamah bilang? Mah, tapi kan itu sudah menjadi hak Arum, toh lagian mas Bara juga dulu yang beliin buat Arum tanpa Arum minta sendiri." Kata Arum.


"Bohong Mah, dulu Arum sendirilah yang mengemis dan merayu ke Bara agar Bara menuruti permintaannya itu." Tukas Bara.


"Mas, kok kamu gitu sih?" Tanya Arum kesal.


"Yakan memang benar kan? Kamu itu dulu pinter banget kalau morotin aku!"


"Sudah-sudah! Bara, cepat kamu mandi terus kita pergi untuk menjual tas-tas itu. Arum, kalau kamu nggak mau barang kamu dijual mending kamu pergi aja dari rumah ini. Kamu itu beban tahu nggak!" Hardik Bu Mayang.


"Tapi mah..."


"Bara cepetan! Mamah tunggu kamu di mobil!"


Mayang dan Bara pun berlalu tanpa menghiraukan Arum yang masih berdiri dengan wajah bingung.


"Argh.. sial!!" Umpat Arum.


Dongkol tentu saja, hati Arum begitu dongkol menghadapi sikap suami dan mertuanya yang dianggapnya sudah gila itu.


"Awas saja, aku akan memberikan kalian pelajaran nanti!" Lirih Arum.


Menjelang sore, barulah Mayang dan Bara pulang ke rumah. Mereka turun dari mobil sambil menenteng tas belanjaan yang sangat banyak.


Bara meletakkan semua belanjaan yang ia beli tadi di ruang tamu.


"Mah, nanti saja beresinnya. Bara capek soalnya." Ucap Bara.


"Iya mamah juga. Ya sudah mamah mau membersihkan diri dulu."


Mayang dan Bara pun pergi ke kamar mereka masing-masing.


Arum yang baru pulang pun wajahnya seketika berbinar-binar ketika melihat banyak sekali barang-barang belanjaan yang terletak di sofa. Wanita ini membuka satu persatu paper bag dan melihat-lihat isinya.


"Hei, sedang apa kamu?" Teriak Bara.


"Wah, mas kamu membelikan aku satu set perhiasan. Cantik sekali perhiasan ini. Aku suka!" Ujar Arum tersenyum lebar.

__ADS_1


Bara mendekat lalu merampas satu set perhiasan tersebut dari tangan Arum.


"Ini punya mamah ku bukan untuk kamu!" Ketus Bara.


"Terus buat aku mana?" tanya Arum.


"Nggak ada. Sana kamu ke dapur, masak yang enak buat aku dan mamah ku!" Titah Bara sambil mendorong-dorong tubuh Arum.


"Gak ada gimana maksudnya? Jelas-jelas itu belinya pasti pakai uang dari hasil jual tas ku kan?"


"Iya betul, terus kenapa? Gak terima, gak suka kamu?"


Arum mendengus kesal, suaminya sungguh benar-benar bukan lelaki yang ia kenal dulu.


"Sudah jangan banyak cingcong, sana pergi masak!" Lagi-lagi Bara mendorong tubuh Arum.


Arum yang memang sudah kesal pun langsung saja melangkah menuju ke dapur.


Didapur Arum terus menggerutu, dia tidak terima jika dirinya diperlakukan seperti tadi. Alhasil Arum pun ingin melakukan balas dendam kepada suami dan mertuanya itu.


Arum ingin masak, masak masakan kesukaan suami dan mamah mertuanya, akan tetapi ia sengaja menambahkan garam yang begitu banyak sehingga rasa dari masakan itu menjadi ngalor-ngidul.


Makan malam pun tiba, hati Arum panas saat melihat ibu mertuanya mengenakan satu set perhiasan mahal sambil berlagak sombong didepannya.


"Tua Bangka satu ini sengaja memamerkan nya ke aku." Batin Arum menatap sinis.


"Apa lirik-lirik? Iri ya?" Cibir Mayang.


"Enak saja, wong ini perhiasan harganya mau belasan juta. Oh ya Bara, emang bener wanita ini masih punya perhiasan yang lebih maha dari mamah?" tanya Bu Mayang.


Belum saja Bara menjawab, Arum langsung saja buru-buru menjawabnya.


"Masih dong, kan dulu mas Bara yang beliin buat aku. Gak tanggung-tanggung, mas Bara beliin aku perhiasan berlian lagi!" Jelas Arum dengan nada Sombong.


"Bara, kenapa kamu gak ambil perhiasannya juga biar dijual?" tanya Mayang pada Bara yang duduk disebelahnya.


"Ba-Bara lupa mah, kalau Arum masih punya perhiasan. Besok deh Bara ambil terus Bara jual!"


"Enak saja!" protes Arum.


"Rasain kamu, makanya jangan sombong!"


"Aduh mamah jangan banyak omong, udah tua nanti bibir nya jadi melorot ke kiri." Ejek Arum.


"Kamu..." Mayang geram.


"Sudah jangan berisik, sebaiknya mamah dan mas Bara makan dulu karena Arum sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian!" Titah Arum menampilkan seulas senyuman.


Mayang mengerucutkan bibirnya, tak biasanya Arum akan memasakan makanan kesukaan dirinya dan Bara.

__ADS_1


"Tumben!" seru Mayang lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Arum tersenyum jahat saat melihat suami dan mertuanya menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka masing-masing.


"Hueeek..........!" Tiba-tiba secara bersamaan Bu Mayang dan Bara memuntahkan makanan yang baru saja mereka makan.


"Hahahaha......." Arum tertawa renyah saat melihat suami dan mamah mertuanya itu.


"Huek.........! Arum, kurang ajar kamu!" Umpat Bu Mayang lalu meneguk segelas air putih. Sebaliknya Bara pun sama.


"Gimana, emangnya enak?" tanya Arum yang merasa hatinya geli.


"Rum! Kamu benar-benar wanita sinting!" Cemooh Bara yang keasinan.


"Ya itu azab buat kamu sama mamah kamu, Mas! karena sudah berani menjual barang milikku!" Seru Arum.


"Sekarang nikmatilah makan malam kalian, aku mau bersantai dulu!" Timpal Arum kemudian berlalu begitu saja.


"Kurang ajar, harus diberi pelajaran ini." Ucap Bara yang geram.


"Sudah jangan diladeni, kalau kamu ladeni, kamu juga ikut-ikutan sinting." Ujar Mayang. "Biarkan saja dia kualat nanti!" timpalnya.


*


Malam berlalu, siang hari ini Pram dan Serina akan pergi untuk melakukan fitting gaun pengantin karena beberapa hari lagi mereka akan melaksanan acara pernikahan.


Setelah selesai dengan urusan memilih gaun pengantin, Pram mengajak Serina ke mall untuk membeli perhiasan untuk wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Tanpa disengaja, tiba-tiba Pram dan Serina tak sengaja melihat Bara dan mamahnya sedang berada di toko perhiasan tersebut. Usul punya usul setelah Pram dan Serina memperhatikan dengan seksama, ternyata Bara dan mamahnya itu sedang menjual perhiasan.


"Mas, kita ke sana yuk."


"Ayok!"


Pram dan Serina pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko perhiasan tersebut.


"Ehem.. sedang apa Bu Mayang?" Tanya Serina.


Bara dan Mayang pun membalikan badannya mencari sumber suara yang tak asing bagi mereka.


"Serina!" Ucap Bara dan Mayang serempak.


"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Mayang.


"Ini diajak calon suami beli perhiasan." Jawab Serina sementara Bara hanya diam saja memperhatikan mantan istrinya yang tambah cantik.


"Sayang, ayo kamu pilih perhiasannya." Ujar Pram.


Mendengar kata sayang, membuat telinga Bara terasa sangat panas. Ia merasa tidak rela jika mantan istrinya dekat dengan pria lain apalagi dinikahi sampai dinikahi.

__ADS_1


Pram membelikan Serina satu set perhiasan senilai tujuh ratus juta. Tentu saja hal itu membuat Mayang terkejut sama halnya dengan Bara pria ini juga terkejut saat mendengar harga perhiasan itu. Selama menikah dengan Serina, ia saja tidak pernah membelikan istrinya barang semahal itu.


__ADS_2