
Hari ini Bara dan Arum bersiap-siap untuk pergi ke sebuah butik untuk memilih pakaian pengantin yang akan di kenakan di acara pernikahan mereka.
Acara pernikahan mereka nantinya akan diselanggarakan disalah satu hotel berbintang lima. Semua itu adalah permintaan dari Arum.
"Arum, kamu tampak cantik sekali mengenakan gaun ini." Bara memuji Arum saat mencoba gaun pengantin.
"Aku memang cantik, mas. Buktinya saja kamu lebih memilih aku, kan?" Ujar Arum sambil tersenyum nakal.
"Emm.. Arum kamu serius ingin mengundang mantan istri ku atau lebih tepatnya mantan majikan mu?" Tanya Bara memastikan.
"Ya iyalah, memang seharusnya kita itu mengundang Serina. Aku yakin pasti dia akan terkejut." Ucap Arum begitu angkuh.
"Tapi kemana kita akan mengantar undangannya?" Tanya Bara bingung.
"Aku terlalu malu jika harus bertemu dengannya." Imbuhnya.
"Cih....kamu masih memiliki perasaan sama dia, mas? kalau kamu malu, biarkan aku ikut bersamamu untuk mengantar undangannya!"
Bara menggeleng dengan cepat. "Tidak Rum, aku saja sendiri yang mengantarnya." Ujar Bara.
"Lebih cepat lebih baik, mas!" Ucap Arum.
Setelah menemukan jas dan gaun yang cocok, mereka pun langsung membelinya. Setelah semuanya beres barulah Bara dan Arum pulang ke apartemen.
Saat berjalan menyusuri koridor apartemen untuk menuju ke unitnya, Bara dan Arum tak sengaja berpapasan dengan Pram yang kebetulan lewat.
Langkah Pram menjadi pelan saat ia berpapasan dengan Bara dan Arum.
Begitu juga sebaliknya dengan Bara dan Arum, langkah mereka menjadi pelan saat melihat Pram lewat.
"Hai, bukankah kamu Pram?" Tanya Bara.
"Benar, aku Pram dan kamu Bara?"
"Ternyata kamu masih mengingat ku." Ucap Bara.
"Tentu saja, kamu adalah orang yang di pilih Serina untuk menjadi pendamping hidupnya." Ujar Pram tersenyum tipis. Dia sengaja untuk berpura-pura tidak tahu.
Bara yang semula tersenyum, wajahnya seketika berubah menjadi masam.
"Kamu tinggal disini juga?" Tanya Bara mengalihkan pembicaraan.
Pram menganggukkan kepalanya.
"Benar, aku tinggal disini." Jawab Pram.
"Oh ternyata kalian sudah saling mengenal?" Tanya Arum.
"Ya, aku dan Bara dulu satu universitas."
"Arum, kamu mengenalnya?" Tanya Bara pada Arum.
Arum mengangguk.
"Pram yang mengantarkan mu saat kamu mabuk waktu itu, mas."
Bara sejenak terdiam.
__ADS_1
"Oh ya, Pram. Kamu teman mas Bara jadi sekalian saja kami akan mengundang mu dalam acara pernikahan kami." Ucap Arum.
"Loh, Bara kamu sudah tidak sama Serina lagi?" Tanya Pram terkejut yang sebenarnya sudah tahu.
"Kami baru saja bercerai dua Minggu yang lalu." Jawab Bara dengan wajah datar.
"Dan kamu akan menikah lagi?" Pram tak habis pikir.
"Aku penasaran kenapa kamu bercerai dengan Serina, padahal dia wanita yang sangat sempurna." Sindir Pram.
Bara menghembuskan nafasnya kasar.
"Sebaiknya kamu tidak usah mengurusi masalah ku. Arum! Ayo kita masuk." Ujar Bara seraya berlalu dari hadapan Pram.
"Apakah Serina tahu jika mantan suaminya akan menikah lagi? Sepertinya aku harus bertemu Serina dan memberitahunya." Gumam Pram dalam hati sambil menatap heran Bara dan Arum.
Agar dirinya tak penasaran lagi, Pram pun berniat untuk menemui serina.
Pram kini sudah berada di cafe, sebelumnya dia sudah menghubungi Serina untuk bertemu dengannya. Lima belas menit kemudian Serina sudah tiba di cafe.
"Ada apa kamu mengajak ku bertemu?" Tanya Serina ketika sudah sampai.
"Pesanlah minuman dulu, agar kamu tidak kepanasan mendengar apa yang aku ucapkan!" Ujar Pram.
Menurut, akhirnya Serina memesan segelas minuman dingin rasa vanila latte.
"Apa yang ingin kamu katakan, Pram?" Tanya Serina kembali.
Pram menghela nafas panjang.
"Tahu, tahu apa?"
"Oh, jadi kamu belum tahu."
"Ya memang belum, kamu kan belum memberi tahu." Kata Serina.
"Serina, serius jangan bercanda." Ucap Pram mulai membuat Serina sedikit kesal.
Sesaat Pram menghela nafas panjang lalu mulailah dia bercerita bertemu Bara dan Arum lalu mereka mengundang Pram untuk datang ke acara pernikahan mereka.
"Apa?!" Serina terkejut mendengar pernyataan Pram.
"Iya Serina, mantan suamimu sebentar lagi akan menikah!"
Serina menelan ludahnya, sejenak ia termangu. Entah apa yang dipikirkan Serina, Pram sendiri tak tahu.
Serina tiba-tiba tertawa, berusaha untuk kuat dihadapan Pram.
"Padahal belum genap satu bulan kami bercerai tapi dia sudah menikah lagi." Cibir Serina.
"Apa kamu cemburu dengan mantan mu?" Tanya Pram.
Serina mendelik kesal ke arah Pram.
"Apa katamu? Cemburu." Serina tertawa lalu melanjutkan ucapannya. "Cemburu ku terlalu sayang jika harus ku gunakan untuk pengkhianat seperti dia."
"Baguslah, tapi aku harap kamu tidak akan menangis sendiri setelah ini." Ejek Pram kemudian tertawa.
__ADS_1
Serina mendengus kesal.
"Bercanda, jangan marah!" Ucap Pram.
Tiba-tiba ponsel Serina berdering.
"Angkatlah! Itu pasti mantan suamimu. Aku yakin pasti dia akan mengundang mu." Tebak Pram.
"Manusia tak tahu diri!" Hardik Serina.
Serina pun mengangkat telpon tersebut untuk beberapa saat. Lalu setelah itu menutup teleponnya.
"Dia mengajakku untuk bertemu. Sepertinya kamu benar, Pram. Pasti dia akan mengundangku ke pernikahannya. Tapi kamu tahu dari mana jika dia akan mengundang ku?"
"Hanya menebak." Jawab Pram singkat.
"Menyebalkan!"
"Benar, mantan suami mu itu memang menyebalkan."
"Bukan dia tapi kamu!"
"Loh kok aku?" Tanya Pram.
"Gak tahu ah! ya sudah, aku harus pergi sekarang juga!" Ucap Serina.
"Baiklah, jangan menangis ya! Air mata mu terlalu mahal untuk menangisi orang seperti itu." Goda Pram.
"Sekali lagi kamu mengejek ku akan ku cubit ginjal mu." Seloroh Serina.
______
Di sebuah cafe yang berbeda, dua mata saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Serina memalingkan wajahnya.
"Mau apalagi kamu menemui ku, cepatlah katakan apa yang ingin kamu katakan, aku tidak punya banyak waktu!" Ucap Serina tanpa menoleh ke arah mantan suaminya.
"Aku mengajak mu bertemu hanya ingin memberikan ini." Ucap Bara dengan wajah sedikit tertunduk sambil menyodorkan sebuah undangan pernikahan.
Serina melirik sekilas tak berniat untuk mengambilnya.
"Langsung saja, aku berniat untuk mengundang mu untuk menghadiri pernikahan ku dengan Arum." Ucap Bara tak bermalu.
"Ternyata rasa malu mu sudah hilang sampai-sampai kamu tak bermalu untuk mengundang ku." Cibir Serina.
"Aku tidak ada maksud apa-apa."
"Lalu apa? Apa tujuan mu menyuruh ku untuk pergi ke pernikahan mu?" Tanya Serina.
"Serina, aku tahu ini berat bagi mu. Aku minta maaf dengan kabar ini membuat mu kembali terluka." Ucap Bara lagi-lagi tak bermalu.
Serina tertawa renyah hingga membuat Bara keheranan.
"Apa kamu sudah gila kenapa tertawa?" Tanya Bara heran. Pria itu lalu menghela nafas panjang.
"Baiklah aku tahu, pasti kamu sedang berusaha untuk menutupi luka di hatimu dengan cara tertawa bukan?" Bara kembali bertanya.
Perkataan Bara sungguh benar-benar membuat Serina geli sekaligus muak.
__ADS_1