Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
49. Datang Ke Kantor


__ADS_3

"Bukan begitu, Rum. Aku juga bingung kenapa kartuku tiba-tiba dibekukan." Jelas Bara.


"Berarti kita gak jadi beli mobil ini?" Tanya Arum.


Bara hanya diam, tak bisa menjawab pertanyaan dari Arum.


"Udahlah, Mas. Aku kesal dan kecewa sama kamu!" Lontar Arum kemudian berlalu begitu saja, tapi dengan sigap Bara langsung meraih lengannya.


"Kamu mau kemana, Rum?" Tanya Bara.


"Mau pulanglah, ngapain lagi disini? bikin malu aja!" Imbuh Arum.


"Kita pulang bersama, Rum."


"Gak usah aku bisa pulang sendiri!" Arum kembali melanjutkan langkahnya, pergi begitu saja meninggalkan Bara.


"Arum.....Arum....." Panggil Bara tapi tak dihiraukan Arum.


Bara mendengus kesal, dia pun mulai teringat dengan mantan istrinya. Ia berpikir jika semua kekacauan ini adalah ulah Serina.


Akhirnya Bara mau tidak mau harus membatalkan pembelian mobil tersebut. Setelah itu Bara pun berlalu begitu saja dengan maksud akan pergi ke kantor Serina. Dia ingin menanyakan semuanya pada Serina.


"Bay.....kamu jemput aku ya!" Titah Arum pada Bayu dalam sambungan telepon dan Bayu pun mengiyakannya.


Tak butuh waktu lama, Bayu akhirnya datang menjemput Arum yang sejak tadi sudah menunggu dicafe dekat showroom mobil.


"Kamu kenapa, Rum? apa ada masalah?" Tanya Bayu.


"Nggak papa kok, cuma aku lagi kesel sama suamiku!" Jawab Arum.


"Hem....kalau begitu kamu mau aku antar pulang sekarang atau....." Bayu menggantung ucapannya.


"Aku gak mau pulang sekarang, mending kamu bawa aku ke apartemen kamu aja." Tukas Arum.


"Dengan senang hati, Rum." Ujar Bayu.


Akhirnya mereka berdua pun pergi dari cafe tersebut.


Sementara Bara, dia masih dalam perjalanan menuju ke kantor Serina. Dia terus saja mengomel sambil berulang kali memukul-mukul setir mobil.


"Dia benar-benar mempermainkan ku, ternyata!" Gumam Bara.


Sesampainya dikantor Serina, Bara bergegas turun dari mobil dan langsung melangkah masuk. Akan tetapi pak satpam langsung menghalanginya.

__ADS_1


"Maaf pak, bapak mau apa lagi kesini?" Tanya pak Satpam.


"Saya kesini ada urusan sama atasan kamu!" Jawab Bara dengan ketus.


"Tapi bapak tidak boleh lagi menginjakan kaki disini, jadi silahkan pergi!" Usir pak Satpam dengan tegasnya.


"Heh, saya gak peduli ya! intinya saya harus bertemu sama atasan kamu itu!" Sentak Bara sembari menyingkirkan tangan pak satpam.


"Saya hanya menjalankan tugas, pak. Bapak tidak boleh masuk!"


Bara tak perduli, dengan kekeh dia langsung saja menerobos begitu saja meski Pak Satpam sudah menghentikannya.


Tepat didepan pintu ruangan Serina, sebelum ia membuka pintu, Bara lebih dulu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Treek..........


Bara membuka pintu tanpa permisi, dan terlihat Serina hanya berwajah santai ketika melihat kedatangan Bara. Wanita itu sudah menduga jika mantan suaminya itu akan menemui dirinya kembali.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Bara sambil melangkah mendekat ke arah Serina. "Apakah semua itu ulah kamu? kamu membekukan semua kartu ku!"


Tak buru-buru menjawab, Serina melipat kedua tangannya di dada lalu ia menunjukan senyuman tipis untuk Bara.


"Kenapa kamu terlihat begitu marah sekali?" Tanya Serina. "Apakah karena istrimu marah gara-gara tidak jadi beli mobil?" Tanya lagi Serina dengan menyeringai.


Bara memicingkan matanya."Apa maksudmu, darimana kamu tahu?" Tanya Bara.


"Kamu memang wanita licik, Serina." Lirih Bara dengan kedua tangan terkepal erat.


"Sebaiknya kamu berkaca dan sadar diri, Mas. Semuanya itu adalah milik ku, baik fasilitas yang kamu gunakan sekarang." Jelas Serina.


"Begini Kah caramu untuk membalas dendam dan mempermainkan ku?" Tanya Bara yang sudah geram.


Serina tersenyum miring. "Kalau sudah tahu, lantas untuk apa bertanya lagi?"


Bara mengangkat satu tangannya, ia hendak melayangkan tamparan ke wajah Serina, akan tetapi tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah seorang pria yang tak lain adalah Pram.


"Apa yang ingin kamu lakukan pada Serina?" Tanya Pram saat melihat Bara mengangkat tangan.


Melihat kedatangan Pram, Serina hanya tersenyum karena memang sebelumnya mereka sudah berjanji untuk makan siang bersama.


Lain halnya dengan Bara, dia begitu heran ketika melihat Pram yang datang.


"Tidak usah ikut campur urusan kami. Kamu mau apa datang kesini?" Tanya Bara.

__ADS_1


Pram sekilas melirik ke arah Serina. "Aku dan kekasihku ada janji untuk bertemu siang ini. Apakah masalah buat kamu?" Tanya balik Pram.


Kedua mata Bara membulat ketika mendengar kata kekasih. Begitu juga sebaliknya dengan Serina, dia tak habis pikir jika Pram akan berbohong seperti itu. Padahal Pram sengaja berbohong agar Bara kebakaran jenggot.


"Apa katamu, kekasih?" Bara seolah tak percaya dan langsung menatap Serina.


"Em....dia kekasihku," Ucap Serina membenarkan.


Pram tersenyum lalu merangkul pundak Serina. "Sayang, kamu pasti sudah lapar, ayo kita makan siang bersama." Ajak Pram.


"Tentu saja, aku sudah lapar sekali ini." Balas Serina sedikit kaku.


Entah mengapa melihat mantan istrinya dirangkul oleh pria lain, hati Bara terasa sangat panas.


"Serina, sejak kapan kamu ada hubungan dengan Pram?" Tanya Bara.


"Apa pentingnya kamu menanyakan itu?" Tanya Serina balik.


"Hah, jangan bilang kamu berhubungan dengan dia sebelum kita bercerai." Tangkas Bara.


"Kalau iya kenapa kalau tidak kenapa? toh, lagian kamu juga berhubungan dengan wanita lain sebelum kita bercerai kan?"


Bara terdiam, ucapan mantan istrinya itu ada benarnya juga.


"Masa lalu biarkan masa lalu, untuk apa kamu membahasnya terus?" Tanya Bara. "Jangan bilang kamu masih naksir aku ya?" Dengan percaya dirinya Bara bertanya seperti itu.


Serina tertawa terbahak-bahak, mendengar Bara yang berkata seperti itu.


"Dengar Mas, aku itu sudah tidak punyak perasaan apa-apa sama kamu. Karena perasaan aku sekarang itu sudah berpindah kepada Pram. Kami berdua salin mencintai satu sama lain!" Jelas Serina membuat Hati Bara semakin panas.


Pram tertegun tak kala mendengar Serina yang berkata seperti itu. Seketika degup jantungnya berirama dengan cepat. Seolah kata-kata yang keluar dari mulut Serina itu adalah benar.


"Sayang, ayo kita pergi!" Seru Serina pada Pram.


"Baiklah sayang, ayo kita pergi. Kamu meladeninya sama saja seperti buang-buang waktu!" Ucap Pram menatap Bara sinis.


"Apa maksudmu!" Sergah Bara.


Serina lalu melangkah maju ke arah Bara, lalu ia membisikan sesuatu ke telinga Bara.


"Akan ku tunjukkan bagaimana rasanya kehilangan Segalanya!" Bisik Serina dengan senyum menyeringai.


Melihat Bara yang terdiam mematung, Pram dan Serina pun berlalu begitu saja dari hadapannya.

__ADS_1


Sedetik dua detik kemudian, Bara mulai sadar dengan ucapan Serina yang barusan.


"Beraninya kamu seperti itu, Serina! cuih.....lihat saja, siapa yang akan menderita dalam permainan ini! " Lirih Bara kemudian melangkah pergi dengan amarah yang menggebu-gebu.


__ADS_2