
Tak menghiraukan raungan ibunya, Arum langsung saja melangkah pergi meninggalkan kediaman orangtuanya.
Saat hendak menuju ke mobil, Arum tiba-tiba dipanggil oleh Laras yang kebetulan baru saja pulang.
Tapi Arum hanya menatap adiknya dengan tatapan nanar dan kemudian berlalu begitu saja masuk ke dalam mobil tanpa berkata sepatah katapun.
Laras tidak ambil pusing, gadis ini pun masuk ke dalam rumah dan mendapati sang ibu yang kini tengah terduduk lemas di lantai.
"Ibu....!" Pekik Laras.
"Bu, apa yang terjadi?" Tanya Laras menghampiri ibunya.
Sisil tak buru-buru menjawab, wanita paruh baya ini menghapus kasar air matanya yang terus saja keluar dari pelupuk matanya.
"Bu, Jawab Laras! Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ibu menangis?" Tanya Laras panik.
"Laras, mulai sekarang kamu jangan pernah menghubungi kakak mu Arum lagi!" Ucap Sisil masih berderai air mata.
"Tapi kenapa, Bu? Ada apa sama kak Arum?" Tanya Laras semakin tak mengerti.
"Dia sudah kurang ajar sama ibu, Laras. Selama ini dia membohongi kita semua. Dia itu ternyata adalah perebut laki orang." Jelas Sisil.
Sontak hal itu membuat Laras begitu kaget. Bagaimana bisa kakaknya seperti itu? padahal yang Laras tahu selama ini kakaknya itu adalah pribadi yang baik saat dirumah.
"Sudahlah Bu, jangan dipikirkan lagi. Bisa-bisa ibu jadi sakit nanti." Kata Laras berusaha menenangkan.
Sementara dilain tempat, seharian Bara terus saja menunggu balasan pesan dari Serina, tapi sama sekali pesan tersebut tak kunjung dibalas apalagi dibaca. Bara yang sudah hilang kesabarannya, ia pun langsung saja bergegas pergi ke kantor Serina dengan mengendarai mobil yang lain.
Bara memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang terlihat begitu ramai oleh lalu lalang kendaraan. Sesekali juga ia melirik ke arah surat yang ia taruh di kursi sampingnya.
Tak butuh waktu lama, Bara akhirnya sampai di kantor mantan istrinya.
Bara segera turun dari mobil dan bergegas masuk untuk menemui Serina. Baru saja berjalan di lobby, tiba-tiba seorang wanita memberhentikan langkahnya tepat di depan dirinya.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Desi yang sudah paham dengan masalah rumah tangga atasannya itu.
"Ah.....aku ingin menemui Serina." Jawab Bara.
"Serina tidak ada, sudah tiga hari ini dia tidak datang ke kantor." Ucap Desi.
"Hah, em baiklah kalau begitu." Ujar Bara kemudian berlalu begitu saja.
Desi pun hanya mengangkat kedua bahunya sambil keheranan melihat tingkah laku mantan suami atasannya itu.
Tak menyerah, Bara harus tetap menemui mantan istrinya hari ini juga. Dia pun berniat untuk pergi ke rumah yang pernah ia diami selama sepuluh tahun bersama Serina.
_
Ting.....Ting......
Bara terus saja memencet bel berulang kali. Dan tak lama pintu terbuka dan keluarlah Serina yang menatap dingin dirinya.
"Kita harus bicara." Ucap Bara.
__ADS_1
"Bicara apa lagi, semua sudah jelas. Tak perlu ada yang dibahas lagi." Ujar Serina kemudian memutar tubuhnya hendak masuk ke dalam tapi Bara dengan sigap langsung meraih lengannya.
"Semua belum jelas, kalau bukan kamu langsung yang menjelaskan." Kata Bara.
Serina menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu tanpa panjang lebar Serina langsung saja mempersilahkan mantan suaminya itu untuk masuk ke dalam.
Didalam rumah, Bara langsung saja melemparkan surat yang ia bawa tadi ke atas meja. Serina melirik ke arah surat itu lalu dirinya menunjukan seulas senyuman.
"Ada apa kamu datang kesini ? Apa kamu ingin berterimakasih kepadaku karena sudah memberikan kado yang luar biasa di hari pernikahanmu?" Tanya Serina.
"Apa maksudmu, coba jelaskan apa itu!" Seru Bara.
"Hei, bukankah mata mu tidak buta atau kamu tidak bisa membaca?" Ejek Serina.
Bara mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Andai saja di hadapannya ini bukan seorang wanita sudah pasti ia akan menghajarnya.
"Mengapa selama ini kamu merahasiakannya dariku?" Tanya Bara dengan nada yang sedikit memanas.
"Kenapa tidak memberitahuku sejak awal, Serina!" Teriak Bara.
"Aku hanya tidak ingin rumah tangga kita berantakan, aku hanya takut jika kamu mengetahuinya pasti kamu akan terluka. Maka dari itu, sebagai istri yang baik aku lebih baik menyimpannya sebagai rahasia." Jelas Serina berusaha tegar agar air matanya tidak runtuh.
Brak!
Bara mengebrak meja, Serina yang melihat hal itupun hanya bisa tersenyum miring.
"Lalu kenapa kamu memberikannya disaat hari bahagia ku, hah?" Tanya Bara, pembuluh darah tampak tegang dilehernya.
"Itu kado pernikahan mu dari ku, bagaimana, apa kamu suka?" Tanya Serina kembali dengan menatap lekat Bara.
"Sepertinya begitu, ini adalah pembalasanku terhadap pengkhiantan yang kamu lakukan." Ucap Serina.
"Aku tak menyangka jika kamu benar-benar tahu cara menyimpan dendam." Gumam Bara.
"Kamu pikir selama ini aku hanya berdiam diri tanpa membalas?" Tanya Serina menatap Bara dengan tegas.
"Jika kamu berpikir seperti itu, kamu salah besar." Ucap Serina lalu tertawa kecil.
"Sungguh ini bukan Serina yang dulu ku kenal!" Lirih Bara.
"Benar, ini bukan lagi Serina yang dulu kamu kenal." Sela Serina.
"Bukannya pendendam, tetapi aku ingin kamu merasakan apa yg aku rasakan." Timpal Serina.
"Wanita sialan!" Hardik Bara. "Bukankah aku sudah meminta maaf padamu, hah!" Ucap Bara kesal.
"Aku tahu permintaan maaf mu itu tidak tulus."
"Tapi intinya sudah minta maafkan?" Tanya Bara yang benar-benar tersulut api emosi.
"Memaafkan bukan berarti melupakan." Ungkap Serina.
"Pengkhiantan yang kamu lakukan, bahkan sampai sekarang masih meninggalkan rasa trauma bagiku."
__ADS_1
"Jadi apa maumu sekarang, apakah kamu ingin bermain-main denganku?" Tanya Bara ekspresi wajahnya mengeras.
Tak buru-buru menjawab, Serina masih menatap santai Bara.
"Rupanya kamu benar-benar ingin bermain dengan ku, baiklah aku akan masuk ke dalam permainan sampah mu itu!" Gumam Bara.
"Padahal aku tidak ada niatan untuk mengajak mu bermain-main tapi karena kamu duluan yang memulainya, baiklah." Tantang Serina tak mau kalah.
"Dasar wanita ular!" Umpat Bara kesal kemudian pria ini berlalu begitu saja.
"Nyonya, tamunya mana?" Tanya mbok Dar, art baru Serina.
"Sudah pulang, mbok!" Jawab Serina.
"Baik, nyonya. Mbok bawa kebelakang lagi minumannya." Ucap mbok Dar ramah.
"Iya mbok, aku juga mau istirahat dulu di kamar." Kata Serina.
"Iya, nyonya. Silahkan!" Balas Mbok Dar.
Baru saja hendak melangkahkan kakinya, Serina kembali mendengar deru mobil memasuki halaman rumahnya.
"Kenapa dia balik lagi kesini?" Gumam Serina ia pun kembali duduk di sofa seperti semula.
"Mbok, itu di luar sepertinya ada tamu, coba mbok lihat siapa yang datang!" Titah Serina dan diiyakan oleh mbok Dar.
Beberapa saat kemudian mbok Dar sudah kembali bersama seorang pria yang tak lain adalah Pram.
"Wah, ternyata kamu sudah menunggu kedatangan ku." Ujar Pram.
"Tidak, mantan suamiku baru saja pulang."
"Untuk apa lagi dia menemui mu?" Tanya Pram tak suka.
"Entahlah tapi dia bilang, dia merindukan ku." Gurau Serina.
Pram mendengus kesal tanpa di persilahkan ia langsung duduk di samping Serina.
"Aku tidak suka kalau kamu masih berhubungan dengan mantan mu itu." Ujar Pram.
"Kenapa memangnya?" Tanya Serina.
"Ya, aku hanya tidak suka. Kalian kan sudah bercerai lalu untuk apalagi masih berhubungan dengan pria yang sudah menjadi asing." Jawab Pram yang sebenarnya merasa cemburu.
"Hei, kamu saja orang asing kenapa kamu mengatainya orang asing juga."
"Sepertinya sebentar lagi aku bukan orang asing bagi mu." Goda Pram.
"Kamu ini ada-ada saja!"
"Tuan, nyonya silahkan di minum!" Ucap mbok Dar yang membawakan dua gelas minuman dan beberapa camilan.
"Terimakasih, mbok!" Ujar Pram.
__ADS_1
"Sama-sama, tuan!" Ucap mbok Dar kemudian beranjak pergi ke dapur.