Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
23. Makan Siang


__ADS_3

Kini Bara dan Arum telah selesai makan siang. Mereka makan di salah satu restoran yang tak jauh dari apartemen. Bara terlihat sangat murung, tak seperti biasanya. Arum yang merasakan Bara berbeda pun langsung saja menanyainya.


"Kamu kenapa mas?" Tanya Arum. Bara tak menjawab.


"Mas!!" Panggil Arum, barulah Bara menjawab.


"Iya Arum, ada apa?" Tanya balik Bara.


"Kamu kenapa mas? dari tadi kelihatan murung terus. Apa kamu memikirkan Serina?"


"Sepertinya. Aku hanya takut saja, kalau dia beneran menceraikan aku." Kata Bara.


"Lah, bagus dong. Lalu kenapa kamu malah takut?"


"Rum, aku sudah bilang kan sama kamu, sampai kapan pun tidak akan ada kata perceraian diantara kami."


"Jika kamu takut kehilangan istri mu, lalu kenapa kamu masih ingin bersama ku, mas?


"Aku mencintai kamu, Rum juga Serina. Aku tidak bisa kehilangan kalian berdua."


"Seharusnya kamu pilih salah satu, Mas." Ujar Arum. "Apa kamu hanya menjadikan aku pemuas nafsu mu saja?" Tanya Arum.


Bara tak menggubris, karena tahu ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu.


"Sebaiknya kita kembali ke apartemen, Rum." Ucap Bara mengalihkan pembicaraan.


Arum mengangguk, meski ia sedikit kesal karena tak mendapat jawaban dari Bara.


Sesampainya di apartemen, Bara mengatakan pada Arum jika ia harus segera pulang karena hari sudah menjelang sore. Bara takut jika Serina mencari dirinya dan berpikiran yang bukan-bukan.


"Aku harus pulang, Rum!" Ujar Bara.


"Apa pulang? jadi kamu tidak akan menemani aku disini?" Tanya Arum.


"Bukan begitu Rum, tapi aku harus pulang, aku tidak ingin Serina bepikir yang bukan-bukan nanti." Jelas Bara.


"Tapi mas----"


"Mengertilah," Pinta Bara sambil mengangguk pelan. Pria itu kemudian berlalu begitu saja.


"Jika kamu mencintai ku, nikahi aku mas."


Langkah Bara seketika terhenti mendengar penuturan Arum yang seperti itu.


Bara hanya menoleh sekilas ke arah Arum lalu pria itu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Arum.

__ADS_1


Arum mendengus kesal, ketika ia tak mendapat jawaban dari Bara.


Arum menatap tajam Bara yang semakin menjauh.


"Awas saja kamu, Mas. Akan ku buat kamu menikahi ku secepatnya." Kesal Arum.


Bara memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang tak terlalu ramai oleh lalu lalang kendaraan.


Sambil menyetir, satu tangan Bara gunakan untuk memijat-mijat kening yang terasa pusing. Pria itu tampak gelisah, pikiran nya terus saja tertuju pada Arum yang terus mendesaknya untuk menikah dengan dirinya.


"Sial, situasi ini membuat kepala ku pusing saja!" Ungkap Bara.


"Aku memang mencintai Serina tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Arum. Oh tuhan... Apa yang harus ku lakukan?" Tanya Bara pada dirinya sendiri.


Seperti menemukan secerca cahaya di kegelapan, Bara tiba-tiba mendapatkan ide yang menurut dia bagus.


"Iya, ini ide yang sangat bagus!" Ucap Bara.


Bara lalu memacu kecepatan mobilnya dengan tinggi, rasanya dia sungguh tidak sabar untuk segera sampai di rumah dan memberitahukan pada Serina.


Tidak lama kemudian, Bara telah tiba di rumah. Dia turun dari mobil dan langsung bergegas masuk ke dalam.


Suasana didalam rumah tampak begitu sepi dan hening, padahal di depan Bara melihat ada mobil Serina, jadi ia pikir Serina sudah pulang ke rumah. Bara lalu menaiki anak tangga, ia berniat untuk pergi ke kamar, mungkin sang istri ada disana.


Saat sudah didepan pintu kamar, Bara samar-samar mendengar dari dalam kamar ada suara Serina yang tampak sedang berbicara dengan seseorang di balik telpon. Bara pun menempelkan kupingnya, dia begitu penasaran.


"Aku akan membantu mu, Serina. Aku tidak rela jika suamimu menyakiti kamu." Ucap Pram di balik telpon.


"Sudahlah Pram, tak usah dibahas lagi. Yang terpenting aku sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan." Jelas Serina.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi jika kamu memerlukan bantuan ku. Aku sangat siap."


"Terimakasih! tapi aku tidak ingin merepotkan mu lagi!" Ucap Serina.


Mendengar percakapan Serina yang entah bertelepon dengan siapa, sungguh membuat kedua bola mata Bara melotot seperti yang ingin keluar dari tempatnya.


Amarah begitu membuncah, kedua tangan sudah terkepal dengan erat. Dengan keras Bara langsung saja menendang pintu kamar.


"Serina.......!" Teriak Bara.


Serina begitu kaget, ia langsung saja menoleh ke arah Bara yang terlihat sedang emosi.


Bara sangat yakin dan percaya pasti istrinya itu sedang bertelepon dengan pria lain. Bara lalu mendekatkan langkahnya, menuju ke arah Serina. Tanpa aba-aba Bara langsung saja melayangkan satu tamparan ke wajah mulus Serina.


Plaaak....

__ADS_1


Serina merintih kesakitan sambil memegangi pipinya yang baru saja terkena tamparan dari Bara.


"Mas....apa-apaan kamu ini? kenapa datang-datang langsung menamparku!" Bentak Serina.


"Kamu yang apa-apaan Serina! aku sudah bilang kan ke kamu kalau diantara kita itu tidak ada kata perceraian sampai kapanpun!" Jelas Bara dengan emosi. "Katakan, dengan siapa kamu bertelepon tadi?"


Serina lagi-lagi dibuat geram oleh Bara. Tak ingin kalah, Serina langsung saja membalas tamparan dari Bara.


Plaaak.......


"Seharusnya kamu bercermin, mas. Mengapa aku bisa menceraikan kamu!" Pekik Serina.


Bara berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala.


"Aku tidak mau bercermin, Serina."


"Cih ......" Serina mendecih. Suaminya benar-benar konyol.


"Harus berapa kali aku meminta maaf, Serina?! Aku memang salah tapi aku sudah minta maaf, bukan?" Tanya Bara.


Serina menghela nafas panjang. "Begini saja, aku akan memaafkan mu asalkan kamu bisa memilih antara dua pilihan yang aku berikan." Ujar Serina dengan tatapan serius.


"A-apa itu?" Tanya Bara dengan wajah gugup. Ia seperti yang sudah tahu kemana Serina akan membawa pilihan ini.


"Kamu pilih mana, aku atau jalaN*g itu?"


Deeg.....


Benar saja, Serina pasti akan memberikan pilihan seperti itu. Bara menundukkan pandangannya, seolah seperti orang yang bingung ingin menjawab apa. Baginya pilihan ini adalah pilihan yang begitu sulit.


Melihat Bara yang malah seperti itu, Serina langsung saja berkata,


"Tidak perlu buru-buru menjawab, pikirkan saja dulu." Ujar Serina.


Setelah tidak ada jawaban dari Bara, dengan kecewa Serina berlalu begitu saja meninggalkan suaminya itu.


"Serina, kamu mau kemana?" Tanya Bara seraya menegakkan pandangannya.


Tapi Serina sama sekali tak menjawab.


Bara lalu menyusul langkah istrinya yang hendak masuk ke kamar lain.


"Serina, kamarmu disini!" Ujar Bara seraya meraih lengan istrinya dan menunjuk ke kamar mereka.


"Mulai malam ini aku tak ingin satu kamar denganmu!" Ucap Serina dengan tegas.

__ADS_1


Serina lalu melepaskan pegangan tangannya kemudian masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu.


__ADS_2