
Ciuman Bara semakin liar, memancing Arum untuk segera memulai permainan.Menuju ke kamar lalu menghempaskan tubuh Arum ke atas ranjang. Bara membuka kancing bajunya satu persatu, tatapannya seolah-olah ingin segera memangsa Arum.
"Mas, kamu mau apa?" Tanya Arum.
"Aku tahu, dengan seperti ini pasti kamu akan diam!" Jawab Bara lalu melepas celananya.
"Aku tidak mau, mas!" Tolak Arum.
"Arum jangan menolak, kamu pasti akan suka." Ujar Bara seraya melepas paksa seluruh pakaian yang dikenakan Arum.
Arum terus saja berontak, tapi apalah daya, tenaga Arum tak sekuat tenaga Bara yang terus saja memaksakan benda pusaka nya untuk masuk ke lembah milik Arum. Bara semakin liar hingga pada akhirnya Arum, wanita itu mulai terbuai ke dalam permainan panas yang di ciptakan oleh Bara.
Sampai beberapa saat kemudian, Bara dan Arum telah selesai melakukan perbuatan haramnya.
"Mas, aku mau kamu malam ini menemani aku tidur disini!" Pinta Arum.
"Arum, aku mau menemanimu tidur asalkan kamu harus berjanji dulu kalau kamu tidak akan mengulangi hal gila seperti tadi."
"Aku berjanji mas, tapi kalau kamu tetap menjatuhkan pilihan mu pada Serina, aku akan melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk dari itu." Ancam Arum.
Bara menghela nafas berat. Ia pun mau tidak mau harus menuruti permintaan dari Arum.
Sampai keesokan harinya, Bara baru saja pulang ke rumah, membuat Serina yang sedang menikmati sarapannya terhenti sejenak.
Serina menatap dingin ke arah Bara, sebaliknya dengan Bara, ia menatap Serina dengan penuh kecanggungan.
"Serina......" Tegur Bara dengan wajah tak enak.
Serina tak menjawab, dan hanya menatap dingin Bara.
"Jangan salah paham dulu Serina, aku tidak pulang semalam karena aku ada urusan pekerjaan diluar kota." Ujar Bara memberi penjelasan. Sambil memalsukan senyumnya agar Serina percaya.
Serina tersenyum miring, ia lalu meraih segelas air putih dan langsung meminumnya. Setelah itu ia bangkit dari duduknya dan langsung melangkah mendekati Bara.
Bara semakin merasa takut tak kala melihat Serina mendekat ke arahnya dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Kamu kenapa kelihatan gugup seperti itu?" Tanya Serina. "Padahal aku belum sempat bertanya!" Ucap Serina.
"Ah....itu karena aku ingin menyakinkan kamu saja, Serina. Agar kamu tidak berpikir yang macam-macam terhadap diriku." Ujar Bara.
__ADS_1
Serina tersenyum sinis, ia menatap Bara dari atas ke bawah dan kembali lagi keatas. Serina dapat merasakan wangi parfum pada Bara sangat berbeda kali ini. Seperti wangi parfum perempuan. Tak hanya itu, Serina tiba-tiba memicingkan matanya saat melihat ke arah leher Bara. Ada sebuah cap merah, yang tak asing. Tentu saja membuat hati Serina sedikit sakit melihatnya.
"Ka-kamu kenapa menatapku seperti itu? apa kamu tidak percaya?" Tanya Bara gelagapan.
Tak menjawab, Serina malah membuang pandangannya lalu mengembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kamu sudah puas semalaman, lalu untuk apalagi pulang ke rumah?" Tanya Serina datar, kemudian berlalu begitu saja.
"Serina....tunggu....apa maksudmu itu? aku tidak mengerti!" Tanya Bara setengah berteriak. Tapi Serina sama sekali tak mengindahkannya.
"Hah, apa jangan-jangan dia tahu ya? ah tidak mungkin! tapi kenapa dia berbicara seperti itu?"
Bara lalu menyusul langkah sang istri yang menuju ke kamar. Namun baru saja akan menyusul, Serina sudah terlihat seperti orang yang akan pergi.
"Serin, kamu mau kemana?" Tanya Bara sembari meraih tangan Serina.
"Ada urusan penting, aku harus pergi!" Jawab Serina tanpa menoleh ke arah Bara.
"Aku baru saja datang, Serin. Tapi kamu malah mau pergi begitu saja? kamu itu istriku, seharusnya kamu melayani aku sebagai suamimu!" Ujar Bara tak bermalu.
Serina langsung menatap tajam Bara. "Apa kamu bilang barusan?"
Serina menghembuskan nafasnya kasar kemudian wanita ini segera menuju ke dapur untuk membuatkan suaminya sarapan.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Bara heran.
"Katamu aku harus melayanimu? baiklah, karena kamu masih suamiku, maka aku akan melayanimu untuk saat ini. Aku akan membuatkan mu sarapan!" Ucap Serina, ia segera berkutat dengan bahan dan alat-alat masakan.
Bara tersenyum-senyum melihat istrinya yang menurut, pria ini pikir, mungkin istrinya sudah tidak marah lagi, sambil menunggu istrinya memasak, Bara memutuskan untuk pergi ke kamar. Sesekali pria itu bersenandung kecil menemani setiap langkahnya.
Dikamar, Bara langsung saja masuk ke kamar mandi Lalu membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dengan ritual mandi, Bara menyiapkan pakaian kerjanya.
"Hem.. biasanya Serina yang menyiapkan." Gumamnya.
Bara, pria itu terkejut menatap dirinya di pantulan cermin, terdapat tanda merah di lehernya.
"Ini pasti ulah Arum!" Kesal Bara. "Arum.. kamu pasti sengaja agar membuat Serina salah paham." Geram Bara.
__ADS_1
"Pantas saja sikap Serina seperti itu tadi, huh!"
Beberapa saat kemudian, dimeja makan, sudah tersedia sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Bara tak henti-hentinya tersenyum.
"Kamu jangan besar kepala dulu, mas. Aku melakukan ini karena kamu masih suamiku jadi aku masih berkewajiban melayani mu." Ujar Serina datar.
Senyum Bara seketika memudar.
"Kalau begitu aku mau pergi, dulu!" Kata Serina.
"Tunggu, Serin!" Pinta Bara.
Serina berbalik badan dan menoleh ke arah suaminya.
"Ada apa lagi?" Tanya Serina.
Bara bangkit dari duduknya dan menatap Serina dengan tatapan gugup.
"Maafkan aku, Serina." Ucap Bara yang sudah kehabisan kata-kata. "Di dalam rumah tangga itu tidak selamanya akan berjalan dengan mulus, pasti ada saja cobaannya dan ini adalah cobaan rumah tangga kita." Imbuhnya.
"Cobaan yang di buat-buat sendiri, begitu bukan?" Ucap Serina sambil tersenyum miring.
Bara terdiam sesaat sambil mengusap wajahnya yang terlihat begitu frustasi.
"Saat aku tahu kamu mengkhianati aku, aku benci bahwa aku orang baik yang tak bisa berkata buruk. Aku sudah mencintai mu selama sepuluh tahun tapi rasa cinta ku hilang begitu saja." Ujar Serina.
"Aku memang salah telah mengkhianati mu, sayang. Tapi asal kamu tahu, bahwa kamu adalah satu-satunya di hatiku." Kata Bara.
"Tidak, Saat kamu memanggilku dengan kata sayang, aku tahu aku bukan satu-satunya." Sanggah Serina.
Bara menepis semua apa yang dikatakan Serina. "Kamu satu-satunya!" Tegas Bara.
"Jika aku satu-satunya, kenapa ada Arum?"
Bara diam mematung, tak bisa menjawab pertanyaan Serina yang akan membuat ia tersudut.
"Kamu tak menjawab? baiklah kalau begitu, lupakan saja!" Ucap Serina lalu melangkah pergi dari hadapan Bara.
Bara menghela nafas panjang dan hanya menatap nanar kepergian sang istri.
__ADS_1