Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
36. Setelah Perceraian


__ADS_3

Dua minggu setelah perceraian, kehidupan Serina sudah berjalan dengan semestinya bahkan hubungan nya dengan Pram sudah sangat Akrab. Sedangkan semenjak bercerai, Serina tak pernah lagi tahu tentang keadaan mantan suaminya itu. Bara hilang begitu saja seperti ditelan bumi.


Hari ini Serina berencana akan pergi ke salon untuk memanjakan dirinya. Sudah lama sekali serina tak memanjakan tubuhnya di salon. Semenjak menikah dengan Bara, ia tak pernah ke salon, bisa dibilang jarang. Dia selalu disibukan dengan pekerjaannya.


Serina melajukan mobilnya ke salon milik sahabatnya. Dia ingin mengubah penampilan dirinya dengan penampilan yang baru.


Mobil Serina telah sampai ditempat tujuan. Dia keluar lalu segera bergegas masuk ke dalam salon. Serina disambut hangat oleh sahabatnya.


"Serina.....sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana dengan kabarmu?" Tanya Stevi sambil memeluk erat sahabatnya.


"Stevi, aku merindukanmu. Kabarku baik-baik saja!" Jawab Serina tersenyum lebar.


"Aku juga, Serin. Selama ini kamu kemana saja?"


"Tidak kemana-kemana, hanya saja aku disibukan dengan pekerjaan."


Stevi menatap selidik Serina. "Ada apa, Serin? tumben kamu kesini?"


"Stevi.....sudah sekian lama aku tak kesini, jadi aku ingin melakukan perawatan seperti biasanya. Aku ingin kamu mengubah penampilanku dengan yang baru." Kata Serina.


"Padahal kamu sudah sangat cantik, Serin. Tapi baiklah, aku akan mengubah dirimu menjadi lebih cantik lagi." Ujar Stevi. Dia pun mulai melakukan pekerjannya.


Tujuh jam kemudian, Serina telah selesai melakukan perawatan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, Serina terlihat begitu lebih cantik dari sebelumnya.


"Wow, Serina! Kamu benar-benar sangat cantik." Puji Stevi dengan senyum mengambang di bibir. "Bagaimana, apa kamu suka dengan hasilnya?" Tanya Stevi.


"Kamu terlalu berlebihan, Stev. Aku bisa seperti ini berkat keajaiban tangan mu." Serina balik memuji.


"Aku serius, Serina. Kamu bahkan terlihat seperti remaja yang baru beranjak dewasa, bahkan tanpa make up pun kamu masih terlihat sempurna."


Tidak menanggapi, Serina hanya tersenyum lembut ke arah sahabatnya itu.


"Aku saja senang melihat kecantikanmu, apalagi suamimu nanti!" Ujar Stevi yang belum mengerti jika Serina telah bercerai.


Serina memaksakan senyumannya ketika Stevi berbicara seperti itu. "Andai saja kamu tahu yang sebenarnya, Stev." Batin Serina.


Karena hari sudah beranjak sore, dan tubuhnya juga sedikit letih, Serina pun berpamitan kepada sahabatnya untuk pulang.


"Aku pulang dulu, Stev. Terimakasih banyak sekali lagi!" Serina dan Stevi saling berpelukan.


Serina kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu begitu saja membelah jalanan kota yang cukup ramai.

__ADS_1


Ditengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Serina berdering. Menandakan bahwa ada yang meneleponnya. Dia menepikan mobilnya dipinggir jalan, lalu mengangkat telepon tersebut.


Ternyata yang menelponnya adalah Pram. Pram mengajaknya untuk bertemu disalah satu restoran berbintang untuk makan bersama. Serina pun tanpa banyak basa basi langsung mengiyakan ajakan dari Pram. Kebetulan juga perutnya sudah sangat lapar.


Tak lama kemudian, Serina telah tiba direstoran yang dimaksud Pram. Dia pun turun dari mobil dan segera masuk ke dalam. Di dalam restoran, Serina melihat sudah ada Pram yang duduk menunggu dirinya. Serina lalu melangkahkan kakinya menghampiri Pram.


"Pram.....kamu sudah lama menungguku?" Tegur Serina dari arah belakang, membuat Pram sedikit kaget.


Pram bangkit dari duduknya, ia begitu tercengang saat melihat penampilan Serina yang baru. Pram terus menatap Serina dari atas kebawah tanpa berkedip, dia sungguh terpesona akan kecantikan Serina.


"Ish...Pram! kenapa malah menatapku seperti itu? aku kan jadi tidak enak!" Ujar Serina.


Pram menggeleng. "Tidak apa-apa, Serina. Tapi hari ini kamu benar-benar membuatku terpesona!" Kata Pram tersenyum lebar.


Serina menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Duduklah!" Pram menarik kan kursi untuk Serina. Serina pun duduk lalu membuka buku menu.


Ada sedikit kebahagian dalam diri Pram, menurutnya sikap Serina sudah tidak sedingin seperti dulu. Sambil menunggu pesanan datang, Pram membuka obrolan.


"Kamu sangat cantik, Serina!" Puji Pram.


Serina tersipu malu, saat mendengar pujian dari Pram.


"Aku ingin Bara tahu diri siapa dia sebenarnya tanpa aku dan aku akan membuat wanita itu menerima resikonya karena telah menghancurkan rumah tanggaku." Ujar Serina.


Pram mengerutkan dahinya, tak mengerti apa yang di maksud Serina.


"Apa kamu ingin membalas dendam kepada mereka?" Tanyanya memastikan.


Serina tersenyum miring dan berkata, " Tentu saja! Mereka harus membayar mahal apa yang sudah mereka lakukan kepadaku."


"Aku akan membantu mu." Ujar Pram.


"Tidak perlu, Pram! Ini masalah ku, aku tidak ingin orang lain masuk ke dalam masalah ini." Ucap Serina yang menolak bantuan Pram.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa tapi jika kamu perlu bantuan ku, aku siap kapanpun."


"Terimakasih, Pram!" Ucap Serina lalu tersenyum.


Pram mengangguk lalu tersenyum tipis menatap Serina.

__ADS_1


_


Sementara ditempat lain, Bara dan Arum baru saja selesai mengayuh birah*i. Arum begitu kelelahan karena dirinya terus saja ditunggangi oleh Bara. Baik pagi, siang, malam dan subuh, Bara sama sekali tak mengenal waktu untuk melakukan ritual esek-eseknya.


Meskipun begitu, tanpa memakai pengaman pun Arum tak kunjung hamil-hamil.


"Mas.....kapan kita menikah?"Tanya Arum dengan nada manja.


"Arum, aku saja baru bercerai dari Serina. Sabarlah dahulu!"


"Tapi mas, aku kan ingin hamil anak kamu." Ucap Arum.


"Aku mengerti, Rum. Tapi lihatlah kondisinya bagaimana. Kalau aku menikahi mu sekarang nanti apa kata orang? pasti nama ku akan jadi jelek." Tutur Bara memberikan pengertian.


"Ya baiklah, aku mengerti tapi kamu sudah berjanji mas untuk menikahi ku. Kalau kamu mengingkari lihat saja apa yang akan ku lakukan!" Ancam Arum.


Bara tidak menjawab, pria itu masih bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Jangan diam saja, mas! Aku wanita dan aku butuh kepastian bukan kepalsuan." Kata Arum dengan wajah sedikit kesal.


"Aku tidak mau tahu, pokonya seminggu lagi kita harus menikah." Ucap Arum.


"Tapi--" Belum sempat Bara berucap Arum terlebih dahulu memotongnya.


"Tapi kamu baru bercerai dari istrimu. Mas, kamu itu bukan suami wanita itu lagi lalu untuk apa kamu harus berpikir? toh, lagian aku sudah kasih kamu waktu seminggu kan?"


"Selama ini juga aku sudah mengerti kamu, mas. Kamu jangan egois!" Imbuhnya.


Belun sempat Bara membuka mulut, Arum terus saja mencerocos.


"Oh ya, aku ingin kamu mengundang mantan istri mu itu untuk datang ke pernikahan kita."


"Rum!" Bara sedikit kaget mendengar pernyataan Arum. Mana mungkin dia mengundang mantan istrinya itu, mantan istri yang masih ia cintai dengan segenap hati.


"Aku ingin dia tahu bahwa kamu sudah menjadi milikku seutuhnya. Aku hanya takut jika suatu saat nanti dia datang merebut mu kembali. Aku sungguh tidak rela!" Jelas Arum


"Tidak mungkin, Rum. Dia yang ingin berpisah dengan ku lalu untuk apa dia datang kembali?" Bara bertanya balik.


"Kalian sudah menjalin rumah tangga selama sepuluh tahun, tidak mungkin dia bisa melupakan mu begitu saja. Aku yakin dia tidak bisa hidup tanpa kamu, mas." Ucap Arum.


"Pasti suatu hari nanti dia akan datang mengemis agar kamu kembali padanya, aku tidak mau hal itu terjadi." Timpalnya.

__ADS_1


"Bukan dia yang kehilangan aku, Rum. Tapi aku yang kehilangan dia." Ucap Pram dalam hati.


__ADS_2