Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
71.Pernikahan


__ADS_3

Malam pernikahan Serina dan Pram tiba. Pernikahan tersebut diselenggarakan di sebuah hotel mewah berbintang. Banyak tamu undangan yang hadir baik dari kalangan atas maupun menengah.


Sementara Bara, Mata elang itu berkaca-kaca saat menyaksikan mantan istri yang masih ia cintai tengah bersanding dengan laki-laki yang jauh lebih segalanya dari pada Bara. Arum tersenyum puas, itu artinya sekarang Bara tidak bisa lagi mengejar-ngejar Serina. Dalam pikiran Arum, sudah pasti Bara akan mencintai dirinya lagi.


"Lihatlah, mas. Untuk apa kamu mengejarnya lagi, dia sudah bahagia. Seharusnya kamu menunjukkan ke Serina kalau kamu juga bisa lebih bahagia!" Ucap Arum.


Bara tidak peduli, pria ini masih betah mengagumi kecantikan Serina yang tidak bosan dipandang mata.


"Serina aku menyesal sekarang! Aku lelaki bodoh telah melepaskan wanita cantik dan baik seperti dirimu." Batin Bara.


"Mas, aku tahu kamu memikirkannya. Sudahi perasaan kamu mas. Serina saja bisa melupakanmu secepat itu, kenapa kamu tidak bisa?" Ucap Arum sekali lagi memancing emosi Bara.


"Tutup mulutmu! Sekali lagi kamu bicara, akan ku patahkan batang lehermu!" Ancam Bara. Mata pria ini tak sedikitpun berpaling menatap Serina yang malam ini sungguh sangat indah.


Arum terdiam, tangannya mengepal erat, wanita ini hanya bisa menahan jengkel di hatinya sedangkan Bara, pria ini kembali meingat saat bahagia dirinya dan Serina dulu.


"Kamu tersenyum seperti itu semakin membuat hatiku patah, Serina. Tidak adakah harapan untukku lagi untuk membawamu kembali?" Batin Bara meratap pilu.


Sementara Serina, ia benar-benar merasa sangat bahagia sekarang. Ia menari dan bersenang-senang hingga membuat Bara semakin dilanda risau.


"Sayang, aku pergi menyapa para tamu dulu ya." Ucap Pram langsung diiyakan oleh Serina.


Melihat Pram tidak ada disisi Serina, Bara pun mengambil kesempatan untuk menghampiri mantan istrinya itu.


"Serin....." panggilnya.


"Mas Bara, ternyata kamu datang. Aku pikir tidak!" ucap Serina.


Bara hanya tersenyum paksa, dia pura-pura tegar dihadapan Serina.


"Selamat atas pernikahan kamu, Serina." Kata Bara yang sebenarnya tak rela jika harus mengucapkan kata itu.


"Terimakasih, Mas."


"Sejujurnya aku sungguh tak rela melihat mu bersanding dengan lelaki lain, Serin. Tapi semua sudah terlambat. Andai kamu mau memberi ku kesempatan, pasti kita masih......"


Serina menghela nafas panjang.


"Sudahlah mas, lupakan semuanya. Yang lalu biarlah berlalu, aku rasa aku juga berhak bahagia atas kehidupanku. Dan kamu juga berhak bahagia meskipun tidak bersamaku." Ucap Serina bijak.


"Menikah dengan Arum sama sekali tidak membuatku bahagia, Serin." Ujar Bara dengan tatapan sendu.


Serina tersenyum lalu berkata,

__ADS_1


"Tapi mas, bukankah itu pilihan mu dulu?" tanya Serina.


Bara diam membisu. Melihat Bara diam, Serina pun berlalu pergi karena ia sudah muak melihat wajah mantan suaminya itu. Bara yang perasaannya benar-benar campur aduk itu pun memutuskan untuk pergi ke toilet.


Sementara Arum dari kejauhan kini sedang menatap tajam ke arah Bara dan Serina yang barusan saja sedang mengobrol berdua. Hatinya terasa begitu panas tak kala dia mengingat perlakuan Bara yang kasar padanya. Arum berpikir jika Serina lah yang menyebabkan Bara selama ini memperlakukannya semena-mena. Panas hati, ditambah cemburu yang begitu besar, membuat Arum menjadi lupa diri.


Dia memecahkan gelas minuman yang ia pegang, lalu mengambil pecahan gelas tersebut. Wanita ini dengan langkah tertatih-tatih langsung bergegas menghampiri Serina. Ia menyembunyikan pecahan gelas tersebut dibalik tubuhnya. Tiba-tiba saja Arum mencengkeram lengan Serina sampai membuat Serina merintih kesakitan.


"Arum, apa yang kamu lakukan?" Tanya Serina.


Arum tak menggubris dan


entah setan apa yang merasuki Arum, wanita ini nekat menusukan pecahan gelas tersebut tepat di perut Serina.


"Arrrghhh...." Jerit Serina sejadi-jadinya sehingga membuat semua orang berteriak dan panik.


Pram yang melihat istrinya sudah tergeletak di lantai sambil merintih kesakitan memegangi perut yang sudah bercucuran darah pun langsung saja berlari menghampiri istrinya.


"Serina......." teriak Pram panik.


"Sayang.......kamu kenapa?" tanya Pram.


"Arum...Dia menusukku!" Lirih Serina lalu tak sadarkan diri.


Pram semakin syok saat melihat gaun pengantin Serina berubah menjadi warna merah karena darah yang terus mengalir. Bara yang baru keluar dari toilet merasa terkejut saat melihat Serina yang sudah berdarah. Pria ini bergegas menghampiri dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Pram, apa yang terjadi dengan Serina?" Tanya Bara panik.


"Istrimu telah menusuk istriku!" Sentak Pram begitu emosi.


"Hah, apa! Lalu dimana Arum?" tanya Bara.


"Dia melarikan diri!" Ucap Pram.


Dan tanpa pikir panjang, Pram dengan cepat langsung menggendong tubuh Serina yang sudah lemas, dia membawanya pergi ke rumah sakit.


"Serina, aku puas sekarang. Aku puas...!" Ucap Arum yang baru menaiki Taxi. Dia tidak merasa bersalah sama sekali.


Tanpa merasa berdosa, Arum pulang ke rumah seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Mayang yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu pun menegurnya.


"Di mana Bara?" Tanya Mayang.


Arum terdiam, wanita ini baru ingat pada suaminya.

__ADS_1


"Ah.. anu mah, mas Bara mampir dulu ke rumah temannya, jadi Arum pulang lebih dulu!" Ujar Arum berbohong.


Tapi terlihat Mayang menatap Arum dengan tatapan aneh. Mayang merasakan jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arum. Terlebih saat melihat gelagat aneh Arum yang tak seperti biasanya.


"Tangan kamu kenapa?" Tanya Mayang saat melihat tangan Arum yang terdapat bercak darah.


"Ah.....anu ini......." Arum menjadi gagap, dia bingung ingin menggunakan alasan apa.


Mayang mengernyitkan dahinya. Sikap Arum semakin membuatnya curiga.


"Kalau ditanya dijawab! Punya mulut kan!" bentak Mayang.


"Dasar nenek peot!" celetuk Arum kemudian berlalu begitu saja menuju ke kamarnya.


"Heh, dasar wanita kurang didikan! Awas saja ya kamu!" Seru Mayang tak terima.


Arum tak menggubris dia pergi ke kamarnya dan dengan buru-buru dia mengambil koper lalu memasukan semua pakaiannya ke dalam kope. Dia yakin pasti orang-orang akan mencari dirinya, terlebih dengan Bara yang pastinya akan mengamuk.


"Pokonya aku harus buru-buru pergi!" ujar Arum.


Selesai mengemasi pakaiannya ke dalam koper, Arum langsung saja menyeret koper keluar.


"Heh.....mau kemana kamu?" tanya Mayang saat melihat Arum membawa koper.


"Bukan urusan kamu, Nek!" Seru Arum.


Mayang semakin geram dengan Arum, Arum sama sekali tak menghormati dia sebagai orangtua.


"Heh, kamu kemana!" bentak Mayang bertanya sekali lagi sambil meraih lengan Arum.


"Aduh....lepasin! Arum harus pergi dari rumah jahanam ini!" Kata Arum.


"Kenapa tiba-tiba? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya lagi Mayang.


Arum mendengus kesal. "Bukannya mamah senang ya kalau Arum pergi dari rumah ini? Jadi biarkan Arum pergi sekarang juga!" Jelas Arum.


seraya mendorong tubuh peot Mayang hingga jatuh tersungkur ke lantai.


"Argh... ..." Mayang merintih kesakitan, tapi Arum sama sekali tak perduli dan malah melanjutkan langkahnya.


"Hei.....wanita ******!" Teriak Mayang.


Dan baru saja Arum mau keluar dari rumah tersebut, tiba-tiba pintu terbuka lebar dan masuklah Bara dengan wajah seram seperti ingin membunuh.

__ADS_1


__ADS_2