Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
64. Kecelakaan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Arum sudah bangun dan sudah siap-siap ingin pergi.


"Bu Susi, Arum mau pamit pergi."


"Kamu udah dapat alamat orang tuamu, Rum?" Tanya Bu Susi.


Arum menggeleng.


"Arum mau pulang ke rumah." Jawab Arum.


"Oh ya sudah kalau begitu. Kamu nggak sarapan dulu di sini?"


"Enggak, Bu. Arum langsung aja."


"Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan ya...!"


"Iya Bu, terimakasih..!"


Arum pun pergi dengan menggunakan taksi online yang sudah ia pesan. Menempuh perjalanan satu jam, akhirnya Arum sudah sampai di depan rumah Bara. Yah, wanita ini memutuskan untuk pergi ke rumah suaminya.


Berharap lelaki yang masih dianggapnya suami ada di rumah. Sangat kebetulan, Bara baru saja pulang.


"Mau apa kamu?" Tanya Bara dengan wajah sinis nya.


"Mas, kamu nggak bisa menceraikan aku begitu saja." Ucap Arum.


"Aku sudah tidak ada urusannya dengan mu. Pergilah dan tunggu surat cerai dari ku..!" Kata Bara.


"Aku tidak mau bercerai dari kamu. Mas, hanya kamu yang aku miliki sekarang, keluarga ku, tidak tahu entah kemana." Jelas Arum.


"aku sudah tidak peduli apapun tentang mu. Pergilah...!" Seru Bara. "Aku jijik padamu..!!"


"Mas, aku mohon...!!"


"Aku bilang pergi ya pergi..!!" Usir Bara dengan kasarnya mendorong Arum.


Bruk...


Arum terjatuh, wanita ini meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Mas...!!"

__ADS_1


"Kenapa kamu sekarang setega ini padaku. Bukankah kamu sangat mencintai ku..!!"


"Jangan bicara omong kosong, Arum!!"


"Buktinya kamu rela meninggalkan istrimu demi aku." Ujar Arum.


"Dan sekarang aku menyesal telah memilih jala*ng seperti dirimu...!!"


"Asal kamu tahu saja, aku berencana untuk membawa rujuk Serina dan jika dia mau maka aku akan menendang mu." Jelas Bara.


"Tega kamu mas...!!" Jerit Arum.


"Sekarang juga pergi kamu!" Usir Bara dengan nada tinggi.


Arum yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi pun akhir ya dengan langkah berat pergi begitu saja dari halaman rumah Bara.


Akan tetapi baru saja keluar dari halaman rumah Bara, tiba-tiba Arum mengalami kecelakaan. Yah, seorang pengendara motor tak sengaja menabrak dirinya dan orang itu langsung kabur begitu saja tanpa tanggung jawab.


Bara yang mendengar suara gaduh pun langsung saja berlari menghampiri Arum yang sudah terkapar lemas dan tak sadarkan diri.


Bara menepuk-nepuk pipi Arum tapi tetap saja wanita itu tak sadarkan diri.


"Sial!" Umpat Bara panik.


Kepanikan Bara semakin bertambah, tak kala dirinya melihat darah yang mengalir dari kaki Arum.


Pria ini langsung saja menggendong tubuh Arum, lalu memasukannya ke dalam mobil kemudian membawanya ke rumah sakit yang tak jauh.


Tak berapa lama, ia sampai di rumah sakit. Arum dengan cepat langsung mendapatkan penanganan dari Dokter. Beberapa saat kemudian, Dokter pun keluar.


"Anda suaminya?" Tanya Dokter.


Bara sejenak berpikir menimbang diri, pada akhirnya ia mengangguk juga.


"Istri anda mengalami pendarahan yang cukup parah, Pak. Jadi....." Dokter menggantung ucapannya.


"Jadi apa Dok, maksud Dokter apa?" tanya Bara tak paham.


"Mohon maaf pak, istri bapak dinyatakan keguguran karena pendarahan yang cukup parah itu." Jelas Dokter.


Bara hanya diam dengan menampilkan raut wajah santai, tentu saja hal ini membuat dokter kebingungan. Tak mau ambil pusing, dokter pun berlalu begitu saja meninggalkan Bara.

__ADS_1


Setelah beberapa jam berlalu, Arum kini sudah sadar.


"Mas...bagaimana kata Dokter tadi? Dan bagaimana dengan kondisi kandunganku mas?" tanya Arum yang masih terbaring lemas.


"Dokter mengatakan kalau kamu keguguran karena mengalami pendarahan yang sangat parah." Jelas Bara.


Arum, wanita ini menggeleng tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bara.


"Tidak.....tidak......tidak......." Teriak Arum histeris.


"Anakku......anakku......" Arum menangis sejadi-jadinya. Sementara Bara hanya diam menyaksikan Arum yang sedang menangis. Tak ada kesedihan dalam diri Bara, karena pikirnya anak yang dikandung Arum lagipula bukanlah anaknya.


"Sudah takdir, mungkin ini karma buat mu, Rum!" Celetuk Bara.


Lagi, Arum menggeleng tak percaya sambil berteriak histeris. Dan setelah itu Arum kembali tak sadarkan diri.


Menjelang Malam, Arum kembali sadar. Wanita itu terlihat termenung meratapi nasib sialnya. Cairan bening pun tak hentinya keluar dari sudut matanya.


"Di mana rumah mu?" Tanya Bara.


Tapi Arum hanya diam saja.


"Hei, dimana rumahmu?" Tanya Bara sekali lagi.


"Ada apa?" Tanya balik Arum dengan nada lirih.


"Kata dokter kamu sudah boleh pulang, jadi dimana rumahmu? karena aku akan mengantarkan kamu!" Seru Bara.


"Bukankah rumah mu, rumah ku juga." Ucap Arum membuat Bara terkekeh.


"Jangan mimpi, Rum. Sebentar lagi kita bukan suami istri..!"


"Aku mohon bawa aku pulang bersama mu, mas. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu." Mohon Arum.


"Apa kamu tidak kasihan melihat aku yang seperti ini? aku baru saja mengalami musibah, Mas. Jadi tolong......" Rengek Arum dengan wajah sedih.


Bara mendengus kesal, tak ada pilihan lain akhirnya dia mau membawa Arum pulang ke rumahnya.


"Baiklah. Kamu boleh ikut bersama ku tapi ada syaratnya."


"Apa itu?" Tanya Arum penasaran.

__ADS_1


"Kamu lihat saja nanti." Ucap Bara.


__ADS_2