
Waktu terus berjalan, tak terasa sudah empat hari berlalu.
"Mas, ini sudah empat hari berlalu, kenapa belum ada Persiapan untuk pernikahan kita?" Tanya Arum.
"Rum, aku belum bilang sama mamah kalau kita akan menikah."
"Ya kalau begitu, mas bilang dong!" Ujar Arum kesal.
Tidak menjawab, Bara meninggalkan Arum pergi ke Balkon kamar.
Arum mendelik kesal, wanita ini lalu menyusul Bara.
"Aku ingin pernikahan kita di rayakan semewah dan semeriah mungkin, mas." Pinta Arum.
"Sederhana saja, Rum. Kamu lupa dengan kejadian sebelumnya?" Tanya Bara.
"Aku gak mau tahu mas, pokonya pernikahan kita harus dirayakan semeriah mungkin!" Ucap Arum dengan nada penuh penekanan.
Bara tak buru-buru menjawab dan hanya menatap datar Arum.
"Oh ya, besok keluargaku akan datang kemari, mas. Aku sudah memberitahu mereka, kalau aku akan menikah sebentar lagi!" Ujar Arum kemudian berlalu begitu saja.
Benar saja, Keesokan harinya, keluarga Arum sudah tiba di kediaman Arum dan Bara saat ini. Ayah, ibu serta adik Arum menunggu di ruang tamu.
"Calon suami mu mana, Rum?" Tanya ibu Arum.
"Masih di kantor, Bu paling sebentar lagi pulang." Jawab Arum.
Sisil yang tak lain adalah ibu Arum, dia tampak terkagum-kagum saat melihat apartemen yang begitu mewah.
"Jadi selama ini kamu tinggal di tempat yang semewah ini, Rum?" Tanya Sisil.
"Iya dong Bu,"
Ting......Ting.....
Tiba-tiba terdengar suara orang membuka pintu, yang tak lain adalah Bara.
Bara yang baru saja memasuki apartemen, dia begitu tercengang saat melihat orang asing ada ditempatnya.
"Nah, itu dia calon suami Arum!" Seru Arum sambil melirik ke arah Bara.
"Mas, perkenalkan ini Ayah, ibu dan juga adik ku, Laras." Ucap Arum mengenalkan keluarganya pada Bara yang baru saja pulang dari kantor.
"Dan ayah, ibu, Laras. Perkenalkan ini Mas Bara calon suami ku."
"Wah.. Mbak Arum hebat ya bisa dapat orang kaya." Celetuk Laras.
Bara terlihat begitu bingung dengan semuanya. Melihat Bara yang bingung, Arum pun langsung mendekatinya.
__ADS_1
"Mas....kok malah bengong, ayo salaman dong sama keluarga aku!" Ujar Arum.
Bara pun mengangguk lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Wah....ternyata calon suami kamu tampan dan berwibawa ya, Rum." Puji Sisil, ibu Arum.
"Ibu bisa saja," Arum tersipu malu.
"Tidak salah jika dulu bapak mengizinkan kamu untuk merantau ke kota." Ucap Larso, ayah Arum.
Akhirnya mereka pun duduk dan berbincang-bincang membahas masalah pernikahan yang sebantar lagi akan dilaksanakan.
"Jadi kapan nak, Bara? kapan kamu akan menikahi anak kami?" Tanya Larso pada Bara.
Bara tergugup saat mendengar pertanyaan dari ayah Arum. Dia masih bimbang dan ragu untuk menikahi Arum. Melihat Bara yang tergugup, Arum pun langsung menjawab pertanyaan sang ayah.
"Secepatnya, Ayah! kami akan secepatnya menikah. Bukankah begitu, mas?" Arum tersenyum lebar sambil mencubit kecil lengan Bara.
"Iya--- pak benar, kami akan secepatnya menikah. Mungkin besok saya akan mengurus semua persiapan pernikahan saya dengan Arum." Sambung Bara yang tak bisa berkutik.
Larso tertawa kecil. "Baguslah kalau begitu, semakin cepat semakin baik. Karena kalau kelamaan tidak baik juga!" Ujar Larso.
"Ngomong-ngomong, kalian berdua kenal dimana Rum?" Tanya Sisil penasaran.
"Em.....di-dikantor bu, Mas Bara adalah bos Arum, dan Arum adalah managernya." Jawab Arum berbohong.
"Ya ampun ibu sama sekali tidak menyangka jika kamu akan mendapatkan calon suami seorang bos!" Kata Sisil merasa senang.
Dua jam kemudian, kedua orangtua Arum serta adiknya Laras pun berpamitan pulang kepada Arum dan Bara. Mereka mengatakan jika besok lusa mereka akan datang kembali.
"Rum, aku tidak habis pikir kenapa kamu berbohong pada keluarga mu sendiri." Ujar Bara setelah keluarga Arum pulang.
"Mas, mana mungkin aku bilang ke orang tua ku kalau aku merebut suami majikanku sendiri."
"Memang faktanya begitu, Rum." Ucap Bara asal.
"Apa katamu?" Tanya Arum dengan nada sedikit meninggi. "Hai mas, aku sama sekali tidak pernah merebut kamu dari istrimu. Takdir Lah yang menyatukan kita. Lagi pula bukankah kamu juga menikmatinya." Ucap Arum sambil tersenyum mengejek.
Bara memutar bola matanya malas, pria ini pergi begitu saja dengan tujuan ke rumah ibunya.
"Mas..! Mau kemana kamu?" Seru Arum tapi tak di hiraukan oleh Bara.
"Sial! Dia mengabaikan ku." Umpat Arum.
Bara memacu mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota.
Setibanya di rumah mamahnya, Bara langsung saja turun dari mobil dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Bara langsung saja duduk di sofa ruang tamu sambil memijit kepalanya yang terasa pening.
"Bara, kamu mengagetkan mamah saja. Tumben kamu kesini, ada apa?" Tanya Mayang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, mah. Memangnya Bara tidak boleh kesini?" Tanya Bara balik.
"Ya boleh dong, kebetulan juga uang pegangan mamah habis, jadi mamah mau minta uang sama kamu." Ucap Mayang.
Bara menghembuskan nafasnya pelan lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dompetnya.
"Bara, kamu tidak salah ngasih mamah cuma lima ratus ribu?" Tanya Mayang tak percaya.
Lagi, Bara menghembuskan nafasnya berat.
"Gak salah, Mah. Lagipula Kemarin baru kasih mamah uang limapuluh juta. Masa udah habis."
Wajah keriput Mayang seketika berubah menjadi masam ketika mendengar ucapan Bara yang seperti itu.
"Sebenarnya Bara kesini ada sesuatu yang ingin Bara omongin, mah!" Ucap Bara.
Mayang menjadi penasaran, dia langsung saja duduk di samping Bara, tetapi berbeda sofa.
"Apa yang ingin kamu omongin, Bara? cepat katakanlah!" Ujar Mayang.
Bara menghela nafas panjang, sejenak dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya pada mamanya.
"Seperti yang mamah tahu, Bara kan sudah resmi bercerai dari Serina."
"Lalu?"
"Ja-jadi Bara, Bara sekarang berniat untuk menikahi Arum secepatnya, mah!" Tutur Bara terbata-bata tanpa menatap ke arah mamahnya.
Mayang begitu syok tak kala mendengar penuturan anaknya yang akan menikahi wanita pembantu.
"A-apa kamu sudah gila menikahi pembantu?" Tanya Mayang.
"Dia bukan pembantu lagi, dia sekarang adalah calon istri Bara, mah!" Tegas Bara.
Mayang menggelengkan kepala tanda tak setuju.
"Kamu edan Bara. Kamu bercerai dari Serina lalu mau menikah dengan wanita model batu kerikil seperti, Arum! Tidak, mamah tidak setuju!" Kata Mayang.
"Tapi mah, Arum adalah pilihan hati Bara sekarang." Ujar Bara.
"Bara, dengar mamah. Kamu boleh menikah dengan siapa saja, asalkan jangan dengan batu kerikil itu!" Cibir Mayang.
"Apa kamu gak malu sama orang-orang atau sama mantan istrimu , kalau kamu malah menikah sama pembantu itu?"
"Mah, dia bukan pembantu lagi!" Tukas Bara.
"Carilah yang setara sama kamu, Bara! Kalau perlu diatas mantan istrimu mu!" Ujar Mayang.
"Ah....sudahlah! Bara tidak peduli, mah! mau Mamah setuju atau enggak terserah, yang penting Bara akan menikahi Arum secepatnya!" Seru Bara, ia pun pergi begitu saja tanpa berpamitan.
__ADS_1
"Bara......Bara....mau kemana kamu?" Panggil Mayang tapi tak dihiraukan.
"Aish.....sialan pelet apa yang sudah diberikan batu kerikil itu terhadap anakku!" Umpat Mayang kesal.