Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
43. Kado Pernikahan


__ADS_3

Serina, wanita itu pun kemudian berlalu begitu saja bersama Pram.


"Serina, aku jadi penasaran. Kado apakah yang kamu berikan kepada mereka?" Tanya Pram.


Serina kembali tersenyum. "Sebuah kado yang begitu spesial dan istimewa. Tapi aku tidak yakin apakah dia akan bahagia atau akan bersedih nanti?"


"Aku yakin itu kado pasti bukan sembarang kado." Ujar Pram.


"Benar." Balas Serina.


Huft.......


Saat Bara melihat Arum yang sedang asik berbincang dengan para tamu, Bara pun mulai membuka isi map tersebut karena rasa penasarannya sudah tidak bisa ditahan lagi.


"Dia membuat aku penasaran saja!", Lirih Bara seraya membukanya. Didalamnya terdapat secarik kertas yang entah apa Bara sendiri tak tahu.


Pria itu pun mulai membaca tulisan di secarik kertas itu. Dan alangkah terkejutnya Bara saat membaca itu. Ternyata itu adalah surat pernyataan dari Dokter bahwa yang sebenarnya mandul itu adalah dirinya bukan Serina.


Bara, kedua matanya membola dan tangannya begitu gemetar saat memegang kertas tersebut.


"Ti-tidak mungkin! tidak mungkin, semua ini bohong!" Ujar Bara sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang......kamu kenapa?" Tanya Arum menghampiri.


Bara yang terkejut dengan datangnya Arum, ia pun langsung saja dengan sigap memasukan kembali surat tersebut ke dalam map.


Arum keheranan saat melihat gelagat aneh dari Bara yang sekarang sudah menjadi suaminya.


"Ada apa mas? kok seperti orang yang kaget?" Tanya lagi Arum.


"Tidak ada apa-apa, Rum!" Jawab Bara memalsukan senyumnya.


"Hem....oh ya aku pengen lihat dong, apa yang ada didalam map itu." Kata Serina, ia berusaha meraih map tersebut tapi langsung dijauhkan Bara.


"Bukan apa-apa, Rum. Ini sama sekali tidak penting!" Ujar Bara yang sebenarnya dia tidak ingin Arum tahu bahwa dirinya lah yang mandul.


"Ya, tapi kan aku pengen lihat, mas?" Arum begitu kekeh.


"Sudahlah Rum, ini sama sekali-" Ucapan Bara terpotong saat tiba-tiba ibu Arum datang menghampiri.


"Arum......." Panggil Sisil.

__ADS_1


"Iya ibu, ada apa?" Tanya Arum.


"Selesai acara, kalau nanti ada waktu mari kita bicara.." Ajak Sisil.


"Em....baiklah ibu."


Bara menghela nafas lega, karena dia sebelumnya tak bisa memberikan alasan kepada Arum.


"Ya sudah mas, kalau begitu aku mau ngobrol dulu sama tamu-tamu." Ucap Arum kemudian berlalu.


Di kejauhan, Serina dan Pram tampak menikmati hidangan di meja makan. Pram sedang asik berbicara dengan teman lamanya yang kebetulan juga hadir di pesta pernikahan.


Sementara Serina sejak tadi terus saja memperhatikan Bara yang tengah termenung hingga Bara sadar kalau ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya. Bara mengangkat pandangannya dan melihat Serina sedang berdiri sambil memegang gelas berisi minuman dengan diiringi senyum miring sebelum dia akhirnya mengalihkan pandangannya.


"Lihatlah, Bara menatap mu terus." Ujar Pram yang sudah selesai berbincang-bincang dengan temannya.


"Ya, aku rasa di kepalanya banyak pertanyaan-pertanyaan." Jawab Serina.


"Pertanyaan bagaimana maksud mu?" Tanya Pram yang tak mengerti.


"Lihat saja beberapa hari ke depan, dia pasti akan datang menemui ku." Ujar Serina.


"Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang kamu rencanakan?"


Pram terkejut saat mendengar apa yang di bisikan oleh Serina. Dia sungguh tak menyangka bahwa yang selama ini mandul itu bukanlah Serina.


"Sudah tahukan? jadi tidak usah dibahas lagi." Ujar Serina.


Pram mengangguk tanda mengerti.


Tapi dia masih belum menyangka.


Sedangkan Arum yang tengah asik berbincang dengan tamu-tamu, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan sosok yang tak asing yaitu Bayu. Kedua mata Arum membelalak melihat Bayu yang tersenyum jahat ke arahnya.


Tanpa banyak cingcong, Arum langsung saja menghampiri Bayu.


"Bayu, kamu mau apa kesini?" Tanya Arum.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat saja atas pernikahan kamu." Jawab Bayu seraya mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman.


Arum tak menanggapinya,

__ADS_1


ia justru malah mengusir Bayu.


"Tidak perlu, sekarang juga pergilah dari sini!" Usir Arum dengan panik dan penuh ketakutan


"Apa kamu senang sekarang?" Tanya Bayu.


"Tentu saja, aku senang karena pada akhirnya aku menikah dengan orang kaya. Tidak sama kamu yang miskin itu!" Hina Arum dengan angkuh nya.


Bayu mendecih.


"Cih.....jangan senang dulu, kamu pikir aku akan melupakan dan melepaskan mu begitu saja?" Tanya Bayu menyeringai.


Arum memicingkan kedua matanya. Perkataan Bayu seolah membuat dirinya begitu takut.


"Apa maksudmu itu?" Tanya Arum.


"Datanglah besok lusa ke alamat ini. Kalau tidak kamu akan tahu akibatnya." Ancam Bayu seraya memberikan secarik kertas yang tertuliskan alamat.


"Arum.....siapa dia?" Tanya Bara tiba-tiba datang menghampiri.


"Mas.....Hem.....ini, ini adalah temanku dari kampung mas." Jawab Arum berbohong, dia tak ingin Bara tahu yang sebenarnya.


"Oh ya, em....terimakasih ya karena sudah datang menghadiri acara pernikahan kami!" Bara mengulurkan tangannya dan Bayu langsung menyambutnya.


"Baik, sama-sama. Semoga kalian berdua langgeng." Ujar Bayu seraya melirik sinis Arum.


Acara pernikahan berjalan dengan begitu lancar tanpa ada halangan, para tamu menikmati semua hidangan yang tersedia. Tak ada senyum ceria maupun bahagia dari sepasang pengantin itu, baik dari keluarga Bara maupun Arum.


Padahal seharusnya malam ini menjadi malam bahagia bagi sepasang pengantin itu, tapi tidak bagi Bara, raut wajahnya begitu masam bagai orang yang tak bersemangat untuk hidup. Perasaannya kini bercampur aduk setelah tahu kenyataan yang sebenarnya.


Singkat cerita, acara pernikahan pun telah selesai. Para tamu satu persatu mulai meninggalkan ballroom hotel. Begitu juga Pram dan Serina, mereka langsung saja pulang setelah acara selesai.


Sebenarnya Bara ingin menahan Serina untuk membawanya bicara empat mata, tapi ia tahu situasi saat ini manalah mungkin terlebih lagi Arum terus saja menempel pada dirinya.


"Ibu, kita bicara besok saja. Soalnya Arum dan mas Bara mau langsung istirahat." Ujar Arum pada ibunya.


Ibu Sisil mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah Rum, kamu dan Bara memang harus beristirahat." Kata Sisil.


Singkat cerita, hari yang tidak bahagia pun berlalu. Pagi ini, Bara bangun lebih dulu daripada Arum. Sepertinya Arum begitu kelelahan dan mengantuk berat karena semalam saat selesai acara, Arum dan Bara langsung bertempur habis-habisan sampai dini hari.

__ADS_1


Bara beranjak dari ranjang, lalu meraih ponsel yang berada diatas nakas. Ia kemudian pergi ke luar kamar dan duduk di meja makan. Bara menatap layar ponselnya, dia berniat ingin menghubungi mantan istrinya untuk meminta penjelasan tentang surat itu.


Bara menelepon Serina beberapa kali, tapi sama sekali tak diangkat. Ia pun lalu mengirimi Serina sebuah pesan untuk mengajaknya bertemu.


__ADS_2