
Kini Bara dan Arum sudah sampai dirumah.
Mayang yang awalanya sedang duduk santai didepan televisi, tiba-tiba terkejut saat melihat kedatangan Bara yang bersama Arum.
"Bara, wanita ini mau apa lagi kesini?" Tanya Mayang dengan sinis menatap Arum.
Bara menghembuskan nafas kasar, pria itu lalu menjelaskan semuanya kepada sang mamah.
"Arum akan tinggal disini, mah. Untuk sementara waktu saja tapi." Ucap Bara.
"Apa? tinggal disini? enggak.....enggak mamah gak mau wanita ini tinggal dirumah mamah!" Tolak Mayang.
"Tapi mah, Arum baru saja keguguran dan sekarang Arum tidak punya tempat tinggal." Sambung Arum dengan wajah sedih.
"Heh, aku gak peduli ya! mau kamu keguguran kek apa kek mati kek, pokonya aku gak peduli!" Cemooh Mayang.
"Sudahlah mah, biarkan Arum tinggal sementara waktu disini." Kata Bara.
"Bara, bukanya kamu mau bercerai dari Arum?" tanya Mayang.
"Iya mah, Bara memang mau bercerai dari Arum. Jadi sembari mengurus perceraian, biarkan saja Arum tinggal disini. Dan jika kamu sudah resmi bercerai, maka kamu Arum, segeralah angkat kaki dari sini!" Jelas Bara.
"Mas, tapi aku gak mau kita cerai!" Seru Arum.
"Kita harus tetap bercerai, Rum! Lagian aku sudah gak nafsu lihat kamu itu!" Cetus Bara.
"Sekarang ikut aku!" titah Bara melangkahkan kakinya menuju ke gudang dan Arum pun mengikut dibelakang.
"Ini tempatmu!" ucap Bara.
Arum mengerutkan dahinya.
"Maksud kamu apa ya mas?" tanya Arum.
"Kan kamu tinggal disini, jadi inilah kamar kamu!" ujar Bara.
Arum terkekeh kecil, merasa heran dengan lelaki yang masih ia anggap suaminya itu.
"Lo, bukannya kita sekamar mas, dikamar atas?" tanya Arum.
"Enak saja, kita ini sudah mau bercerai. Jadi mana mungkin kita satu ranjang lagi." Kata Bara.
"Tapi masa aku tidur digudang? gudang sempit dan kotor oleh debu ini?"
"Ya terus kamu mau tidur dimana? didapur? kan waktu dirumah sakit aku udah bilang, kalau kamu mau ikut aku pulang itu ada syaratnya."
"Iya terus syaratnya apa, mas?"
__ADS_1
"Iya kamu jadi art dirumah ini, kebetulan mamah juga udah tua udah mulai sakit-sakitan." Jelas Bara.
Arum menggeleng tak percaya, suaminya sendiri tega menyuruhnya menjadi Art dirumah sendiri.
"Gak mas, aku gak bisa.......aku bukan art tau! aku gak mau kerja-kerja gitu!" tolak Arum seraya menggelengkan kepala.
"Jangan sok gaya, dulu aja kamu hanya seorang art!" cibir Bara.
"Mas.....! Kenapa kamu tega sama aku, Mas? Padahal dulu kamu sangat mencintai aku!" Ujar Arum.
"Aku mencintaimu? itu dulu, karena aku bodoh. Aku bodoh karena sudah kamu goyahkan. Jangan-jangan dulu kamu pelet aku ya?" tanya Bara menatap curiga.
"Pelet? untuk apa juga aku melet kamu, mas!" sanggah Arum.
"Argh.......yasudah! sekarang kamu beres-beres, nanti sore jangan lupa nyiapin makan malam, buat aku sama mamah!" Ucap Bara kemudian berlalu begitu saja.
"Mas......mas.....aku gak bisa......aku ga bisa tidur disini!" Seru Arum tapi tak dihiraukan.
Akhirnya mau tak mau karena tak ada pilihan lain, Arum pun memutuskan untuk membersihkan gudang yang terlihat begitu sangat kotor.
Dalam hati Arum terus saja mengumpat Bara. Dia juga memikirkan nasibnya kedepan nanti, akankah dia balik lagi seperti dulu? Menjadi seorang art, sungguh Arum tak ingin.
Sore harinya, Setelah membersihkan gudang, Arum merasakan tubuhnya lelah apalagi ia baru saja keguguran, wanita ini merebahkan tubuhnya di kasur lantai yang sangat tipis.
"Sial. Kenapa hidupku jadi susah begini, ini semua gara-gara Bayu, awas saja kamu Bayu, aku akan memberikan kamu pelajaran." Ucap Arum yang merasa dendam pada Bayu.
Arum memejamkan kedua matanya, baru saja ia hampir terlelap, pintu kamarnya sudah digedor-gedor dengan keras.
Arum mendengus kesal, wanita ini membukakan pintu dan tampaklah ibu mertuanya dengan wajah terlihat marah.
"Ada apa sih, mah? Ganggu orang tidur aja..!" Protes Arum.
"Heh, kamu di sini itu sebagai pembantu bukan nyonya lagi. Cepat kamu masak untuk makan malam kami..!"
"Mah, tapi Arum kan masih istri mas Bara dan menantu mamah. Kenapa kalian memperlakukan ku seperti ini?"
"Lebih tepatnya sebentar lagi kamu itu mantan istri anakku. Kamu itu seharusnya bersyukur diperbolehkan tinggal di sini..!"
"Jelas. Karena Arum istri mas Bara dan menantu mamah..!" Ucap Arum semakin membuat Mayang kesal.
"Jangan mimpi. Sebaiknya cepat kamu siapkan makan malam untuk kami. Kamu pikir tinggal di sini gratis, enak aja..!" Ujar Mayang kemudian beranjak pergi.
Arum mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Wanita ini pun kemudian menuju ke dapur untuk memasak makan malam.
Setelah selesai memasak, bertepatan dengan Bara baru pulang dari luar, Arum segera menghampiri pria yang masih ia anggap suami.
"Mas, kamu dari mana saja?" Tanya Arum.
__ADS_1
"Mau ke mana aku, itu bukan urusan mu!" Ucap Bara menatap sinis Arum.
"Jangan seperti itulah mas, aku ini istri kamu jadi aku berhak tau," ucap Arum seketika membuat Bara tertawa.
"Tapi aku menganggap mu bukan istri ku lagi. Seharusnya kamu itu bersyukur Arum sudah ku pungut, yang awalnya hanya seorang art jadi nyonya, ehh... kamu malah mengkhianati aku." Ucap Bara.
"Mas, kamu salah paham..!!"
"Udahlah aku capek debat sama orang gak penting kaya kamu. Minggir..!" Ucap Bara lalu mendorong Arum hingga jatuh ke lantai.
Arum meringis kesakitan, sumpah serapah keluar dari mulutnya untuk Bara.
"Awas saja kamu mas, aku kan membuat kamu kembali padaku lagi..!"
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, itu artinya saatnya jam makan malam. Mayang sudah duduk di meja makan sambil menunggu anaknya yang belum juga turun.
"Hai Arum, cepat kamu panggil Bara untuk makan..!!" Titah Mayang.
"Iya mah!" Ucap Arum dengan senang hati.
Wanita ini segera pergi ke kamar suaminya yang terletak di lantai dua. Dengan perasaan bahagia, Arum mengetuk pintu suaminya, berkali-kali ia mengetuk tapi tidak ada jawaban. Ia memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci. Arum tersenyum lebar, ia pun masuk ke dalam kamar, matanya berkeliling mencari sosok suaminya.
"Ke mana mas Bara?"
Arum melangkahkan kakinya ke kamar mandi, baru saja ingin membuka pintu, Bara terlebih dulu membukanya.
Wajah Arum berbinar-binar tak kala melihat Bara yang hanya menggunakan handuk menutup area sensitifnya, tubuh kekar dengan dada bidang membuat Arum tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk meraba dada suaminya.
"Mau apa kamu..!!" Bentak Bara dengan mata melotot.
"Mas, aku kok jadi kangen saat-saat kita bercinta dulu." Ujar Arum tanpa malu.
"Cih, jangan mimpi aku akan menyentuh kamu. Kamu menjijikan lagi murahan..!"
"Tapi mas, bukankah kamu menyukai tubuhku?"
"Itu dulu sebelum aku tahu kalau tubuh mu sudah banyak ditiduri banyak pria." Cibir Bara.
"Mas, aku nggak seperti yang kamu katakan..!" Sanggah Arum.
"Arkh...Pergi kamu dari sini, kamu membuat ku muak..!!" Teriak Bara.
"Aku ke sini di suruh mamah panggil kamu untuk makan." Ucap Arum.
"Baiklah. Bilang sama mamah aku sebentar lagi akan turun." Ucap Bara namun Arum, wanita ini tak kunjung pergi dari tempatnya hingga membuat Bara kesal.
Pria ini mencengkeram tangan Arum lalu menyeretnya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Tega kamu mas..!" Jerit Arum.
"Masa bodoh..!!" Ucap Bara kemudian pria ini dengan keras menutup pintu kamarnya.