
Arum menghentakkan kakinya kesal, wanita ini pun kemudian beranjak pergi.
"Di mana anakku?" Tanya Mayang pada Arum.
"Masih di kamar mah, sebentar lagi akan turun." Jawab Arum.
Tak berapa lama menunggu akhirnya Bara datang juga, pria ini menarik kursi kosong lalu duduk, begitu pula dengan Arum, wanita ini juga menarik kursi kosong di samping Bara membuat pria itu menatap sinis dirinya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Bara.
"Ya makanlah, terus mau ngapain lagi?" Arum bertanya balik.
"Nggak, aku nggak mau makan bersama wanita menjijikan seperti kamu..!" Seru Bara.
"Heh, Arum! Apa yang dikatakan Bara itu benar, bisa-bisa selera makan kami hilang gara-gara kamu juga ikut makan satu meja sama kami. Kalau kamu mau makan, makan di dapur sana, jangan di sini..!" Ucap Mayang menimpali.
"Tapi apa salahnya aku ikut makan bersama kalian, toh lagi pula aku ini menantu mamah dan istri mas Bara."
Bara tertawa sarkas. Pria ini berdiri lalu menyeret Arum dan membawanya ke dapur.
"Kalau kamu mau makan, makanlah di sini!" Ucap Bara dengan suara dingin.
"Mas..!" Teriak Arum yang merasa tidak terima.
"Kamu itu di sini pembantu jadi bersikaplah layaknya seorang pembantu..!"
"Aku istri kamu mas, kenapa kamu jadi kejam begini?" tanya Arum.
"Tutup mulut mu, Arum! Aku seperti ini sebab karena kamu, karena mu Serina menceraikan aku. Seharusnya aku tidak tergoda dengan wanita murahan seperti dirimu..!" Ucap Bara membuat Arum terhina dan tidak terima.
"Apa maksud kamu, mas? Kenapa kamu berkata seperti itu kepadaku? Aku ini istri kamu tidak sepantasnya kamu mengatakan aku ini wanita murahan." Ucap Arum.
"Kamu tidur dengan lelaki lain dan bahkan kamu mengandung anak dari lelaki lain disaat kamu sudah mempunyai suami. Apakah itu bukan wanita murahan namanya?"
Arum tertawa, wanita ini menatap Bara dengan tatapan mengejek dan menghina.
"Lalu apa bedanya sama kamu, mas? Kamu sudah memiliki istri yang cantik dan kaya bahkan dia menerima kekurangan kamu yang tidak bisa memiliki keturunan tapi kenapa kamu masih bisa tergoda dengan seorang pembantu, hah? Kita sama saja mas jadi kamu tidak usah mengatai aku." Ucap Arum dengan nada mengejek.
Bara terdiam, apa yang dikatakan Arum memang ada benarnya, selama ini ia lah yang tidak pernah bersyukur memiliki istri yang menerima kekurangannya. Jauh di lubuk hatinya terbesit rasa penyesalan. Wanita yang seharusnya ia jaga dan cintai, nyatanya hanya luka yang ia berikan. Pria ini merasa benar-benar menyesal sekarang, namun percuma saja dia menyesal sekarang, karena semua sudah terlambat.
Melihat Bara yang terdiam, Arum kembali bersuara. "Mandul saja banyak tingkah..!" Hina Arum.
"Jaga mulut mu atau aku akan merobeknya..!"
"Memang kenyataannya kan..! Toh lagipula aku ini istri kamu."
__ADS_1
"Sudahlah, aku tidak peduli dengan mu, Arum! Kamu itu tidak pantas menjadi istriku."
"Lalu untuk apa kamu menikahi ku kalau bukan karna cinta?"
"Aku tidak pernah mencintai kamu, satu-satunya wanita yang aku cintai adalah Serina dan dia lah yang pantas menjadi istriku..!" Tegas Bara.
Tanpa menunggu tanggapan Arum, pria ini beranjak pergi menghampirinya Bu Mayang yang terlihat kesal.
"Lama banget sih..!" Protes Mayang.
"Mah, kita makan di luar aja."
"Loh kenapa?"
"Lihat wajah Arum bikin aku gak selera."
"Ya sudah, ayo! Mamah juga jadi gak selera lihat dia." Ucap Mayang.
"Kalian mau kemana?" Tanya Arum.
"Bukan urusanmu!" Ucap Bara.
Mayang dan Bara pun beranjak pergi tanpa memperdulikan Arum yang berdiri memperhatikan mereka.
Suasana restoran tersebut cukup terbilang ramai karena kebetulan malam ini adalah malam Minggu. Bara dan mamahnya baru saja duduk dan memesan beberapa menu makanan. Akan tetapi tatapan Bara tak sengaja terfokus oleh sebuah meja yang terdapat dua sosok tak asing bagi nya. Bara memicingkan kedua matanya, memastikan dugaannya bahwa yang dilihat itu adalah mantan istrinya.
Dan benar saja, ternyata itu adalah sang mantan istri yang sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang tak lain adalah Pram.
Melihat gelagat anaknya seperti itu, Mayang pun langsung menanyainya.
"Bara, ada apa?" tanya Mayang.
"Mah, sepertinya itu.....itu Serina!" ucap Bara yang terus memperhatikan.
Mayang pun menoleh ke belakang dan memang benar ternyata itu adalah mantan menantunya.
"Iya Bara, itu Serina....." Ucap Mayang.
Bara mendengus kesal, pria itu menggebrak meja dengan pelan.
"Wah.....gak bisa dibiarin ini!" seru Bara.
Hatinya begitu terasa panas saat melihat mantan istrinya duduk bersama dengan pria lain. Bahkan ia semakin tak bisa menahan kecemburuannya saat melihat Pram menggenggam dan mengelus-elus tangan Serina yang berada diatas meja.
"Bara.....kamu mau kemana?" tanya Mayang saat melihat anaknya bangkit dari duduk.
__ADS_1
"Bara mau nyamperin Serina mah, Bara ingin tahu kebenaranya. Katanya dia akan menikah sebentar lagi!" Ucap Bara kemudian melangkah menuju ke arah meja Serina.
Sebaliknya dengan Mayang, ia pun juga bangkit dari duduknya dan mengikuti Bara.
"Serina......." tegur Bara.
Serina memutar kepalanya, melihat sumber suara yang tak asing baginya.
"Mas Bara....." Balas Serina sedikit terkejut.
"Aku mau bicara sama kamu." Ucap Bara sambil menatap tajam ke arah Pram.
"Bicara apa lagi? aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Ujar Serina dengan nada santai.
"Cih.....jadi wanita kok sombong banget. Gak ingat ya kalau Bara itu mantan suami kamu?" tanya Mayang mencibir.
"Ya tahu, lebih tepatnya bekas mantan suami. Terus kalau mantan suami memang nya kenapa? Kan udah gak ada hubungan lagi!" Seru Serina.
"Kamu itu yah, sama orang tua dari dulu sukanya ngejawab aja!" Kata Mayang yang merasa geram karena merasa tak dihormati.
"Sudahlah mah, jangan bikin gara-gara disini." Ujar Bara setengah berbisik.
"Serina, aku ingin kita rujuk!" Ucap Bara tak tahu malu.
Serina diam beberapa saat, kemudian bangkit dari duduknya seraya terkekeh kecil.
"Apa kamu bilang, Mas?" tanya Serina.
Bara menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi dia mengulangi ucapannya.
"Aku ingin kita rujuk, Serin!"
"Jangan mimpi kamu, Mas!" Celetuk Serina.
"Kenapa Serin? Apa salahnya? Aku tahu kita berdua ini masih saling mencintai dan menyayangi!" Jelas Bara.
Serina tertawa sarkas, mantan suaminya itu benar-benar tidak tahu malu.
"Kenapa kamu malah tertawa, Serin?" tanya Bara.
Serina melirik ke arah Pram, lalu meraih lengan Pram dan kemudian bergelayut manja di lengan Pram.
Membuat Pram seketika merasa gugup, namun dalam hati merasa senang.
Sedangkan Bara yang melihat Serina bergelayut manja di lengan Pram, ia malah terlihat seperti orang yang kebakaran jenggot.
__ADS_1