
Bara baru saja tiba didepan perusahaan milik Serina. Ia ingin bertemu dengan Serina sekarang. Namun sama seperti dulu, Bara kembali dihadang oleh satpam.
"Lepaskan tanganku, aku harus segera bertemu dengan atasan kalian itu!" Seru Bara.
"Tidak bisa, pak. Bapak tidak boleh masuk kedalam, kecuali bapak sudah memasang janji dengan Bu Serina." Ucap Satpam.
"Argh......aku tidak peduli, aku harus menemuinya sekarang juga!" Gumam Bara mendorong pak satpam.
"Ada apa kamu kemari?" Seru Serina dari arah belakang.
Bara menoleh, pria ini langsung berlari menghampiri Serina dan langsung mencekik leher Serina.
"Perempuan biadap...! Kamu telah menghancurkan hidup ku, lebih baik kamu mati saja!" Pekik Bara semakin kuat mencekik Serina.
Sontak semua orang terkejut melihat apa yang sedang terjadi, bergegas satpam menghampiri atasannya dan berusaha menyingkirkan Bara si pria gila.
Tapi entah setan apa yang merasuki Bara, tenaga pria ini sangat kuat meski sudah di lerai oleh satpam dan beberapa staf lainnya.
"Kamu pantas mati, Serina! Seharusnya dari dulu saja aku membunuh mu..!" Sumpah serapah Bara keluar terus menerus dari mulutnya. Cekikan yang begitu kuat membuat Serina semakin sulit untuk bernafas.
Bug!
Tiba-tiba seseorang memukul tenguk Bara dari belakang hingga pria ini jatuh tersungkur ke lantai, orang tersebut tak lain adalah Pram. Pram yang melihat Serina dengan nafas tersengal-sengal langsung saja meminta seseorang untuk mengambilkan air minum.
"Minumlah, Serina!" Titah Pram. Serina pun lalu meminumnya.
"Apa kamu baik-baik saja sekarang?" Tanya Pram.
Serina hanya mengangguk dengan wajah yang terlihat begitu ketakutan dan syok.
Pram membuang nafas kasar, lalu menatap tajam ke arah Bara yang masih tersungkur dilantai.
Perilaku Bara yang barusan sungguh membuat dirinya begitu murka, Pram langsung saja menarik kerah baju Bara lalu pria ini menghajar Bara habis-habisan.
Perkelahian tak terelakkan, bahkan satpam dan beberapa orang lainnya kewalahan untuk melerai mereka.
"Biadab.......kenapa kamu menyakiti dia, hah!" Tanya Pram dengan amarah yang sudah membuncah.
"Aku tidak ada urusan dengan mu, urusan ku dengan wanita sialan itu!" Lirih Bara dengan suara lemah.
Lagi, Pram kembali melayangkan tinjuan sampai membuat sudut bibir Bara berdarah.
"Pram.....hentikan!" Pinta Serina menengahi dan menarik lengan Pram.
"Tapi Serina, dia sudah menyakiti dirimu!"
Serina menggeleng. "Iya aku tahu, Pram. Tapi jangan berkelahi seperti ini!"
__ADS_1
Akhirnya Pram pun mengakhiri perkelahiannya dengan Bara. Terlihat Bara masih rebahan santai di lantai dengan wajah yang sudah lebam.
Semenit dua menit barulah Bara tersadar kembali dan dengan sekuat tenaga ia berdiri meski sempoyongan.
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Bukankah kita sudah berpisah?" Tanya Serina.
"Aku ingin kamu menderita, sama seperti diriku, Serina." Jawab Bara dengan lantang sambil mengusap darah yang keluar dari hidung.
Serina terkekeh mendengar jawaban dari Bara. "Kalau menderita, menderita saja sendiri, tidak usah bawa-bawa orang. Toh lagian, itu semua adalah karma yang baru saja menghampiri kamu, Bara!" Jelas Serina dengan tegas.
Bara mengamuk, pria ini semakin tidak terima dengan apa yang di ucapkan mantan istrinya.
Melihat Bara yang seperti itu, Serina pun langsung memerintahkan satpam untuk mengusir Bara.
"Lepaskan aku, aku bisa pergi sendiri!" Kata Bara memanas.
Pria itu kemudian berlalu pergi, tapi kepergiannya itu membuat Serina merasa khawatir, pasalnya Bara terus saja mengumpat dan memberikan sebuah ancaman untuk Serina.
Pram yang melihat Serina ketakutan, ia langsung saja menenangkan Serina dengan mengatakan jika ia akan selalu ada disisi Serina sehingga mantan suaminya itu tidak bisa menganggu dirinya.
***
Sedangkan Arum saat ini sedang makan siang bersama teman lamanya disalah satu Cafe dipusat kota. Namun sejak tadi wajah Arum terlihat begitu pucat dan lesu.
"Arum, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Rara.
"Apa kamu sudah minum obat atau pergi ke dokter?"
"Tidak dua-duanya, aku pikir ini hanya pusing biasa, tapi sampai sekarang rasanya masih ada." Kata Arum.
Tiba-tiba pelayan datang mengantarkan pesanan yang mereka pesan tadi. Saat pelayan meletakan makanan tepat dihadapan Arum, Arum langsung saja mual dan menutup mulutnya.
"Rum, kamu kenapa?" Tanya lagi Rara yang begitu cemas saat melihat Arum yang seperti itu.
Tanpa menjawab, Arum langsung saja bangkit dari duduknya dan kemudian berlari ke arah toilet dengan disusul Rara.
"Huek......huek......" Arum terus saja memuntahkan cairan dari mulutnya.
"Rum, sepertinya ini bukan pusing biasa, kita ke rumah sakit saja sekarang!" Ajak Rara dan langsung diiyakan oleh Arum.
Tak butuh waktu lama, kini Arum dan Rara sudah tiba di rumah sakit. Ditemani oleh Rara, Arum pun segera memeriksakan dirinya.
"Bagaimana keadaan teman saya, dok?" Tanya Rara.
"Selamat, teman anda dinyatakan sedang hamil. Dan usia kehamilannya sekarang sudah jalan dua Minggu." Ucap Dokter tersebut dengan tersenyum lebar.
Arum yang duduk disamping Rara seketika memasang wajah kaget.
__ADS_1
"Apa Dok, saya sedang hamil?" Tanya Arum memastikan.
Dokter mengangguk tanda mengiyakan.
"Benar Bu, sekarang ibu sedang hamil dan saran saya ibu harus menjaga kesehatan agar kandungan ibu normal." Jelas Dokter.
Arum begitu sumringah, terlihat senyuman lebar di wajahnya. Akan tetapi tiba-tiba senyuman itu memudar begitu saja.
Membuat Rara yang melihat begitu keheranan dan langsung menanyainya.
"Rum, kamu kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Rara.
"Ah.. tidak.. tidak. Aku hanya berpikir ini anak ayah nya siapa. Sementara saja aku dan Bara sudah lama tak berhubungan," Ucap Arum tanpa sadar.
Sontak saja Rara maupun Dokter begitu terkejut saat mendengar ucapan Arum.
"Ma-maksud kamu apa, Rum?"
"Hah, astaga......bukan apa-apa, Ra.
"Arum apa maksudmu?" Tanya Rara.
"Ah.. anu aku tidak bilang apa-apa. Kalau sudah selesai, ayo kita pulang!" Ujar Arum yang baru sadar dengan apa yang di ucapkan nya barusan.
_"Sial, aku keceplosan!" Gumam Arum dalam hati_.
Akhirnya Rara dan Arum pun pulang.
Sepanjang perjalanan, pikiran Arum terus saja berkecamuk. Dia sangat yakin jika anak yang sedang dikandungnya saat ini bukanlah anak dari Bara, melainkan anak dari Bayu. Karena ia pikir dirinya dan Bara sudah lama bahkan sudah sangat jarang melakukan hubungan badan.
Singkat cerita kini Arum sudah mengantar pulang Rara. Sampai punggung Rara tak terlihat, barulah Arum pergi. Tujuan Arum sekarang bukanlah pulang ke rumah, melainkan ia akan pergi ke apartemen Bayu untuk memberitahu kabar kehamilannya.
Sesampainya di apartemen Bayu, Arum berkali-kali memencet bel tapi pintu tidak terbuka juga. Arum mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Bayu, ternyata ponsel Bayu tidak aktif. Merasa kesal, Arum pun menendang pintu apartemen tersebut.
"Sial! Kemana dia?" Umpat Arum sambil berkacak pinggang.
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Arum tercengang, karena yang ia lihat bukanlah Bayu, melainkan seorang wanita dengan tubuh hanya dibalut selimut saja. Arum menatap sinis wanita asing tersebut dari atas kebawah, sementara wanita asing itu juga menatap Arum dengan sinis.
"Heh, siapa kamu?" Tanya Arum.
"Justru kamu yang siapa!" Seru wanita asing itu.
"Dimana Bayu, sedang apa kamu di apartemennya dengan tubuh hanya dibalut selimut, Hah?" Tanya Arum lebih lanjut tanpa menghiraukan seruan wanita asing tersebut.
"Aku pacarnya," jawab wanita itu dengan enteng.
Arum tersentak, kedua matanya membulat saat mendengar jawaban itu.
__ADS_1