
"Baik, bu!" Ucap pak Seno sedikit menunduk dan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Serina tersenyum miring, "Kamu pikir aku diam saja? tunggulah pembalasanku untuk kamu dan jala*Ng kamu itu." Lirih Serina.
Hari itu pun berlalu dengan kesibukan, ia akan menelusuri semua laporan keuangan semenjak dua tahun yang lalu.
Setelah beberapa saat kemudian, Serina mulai tahu semuanya bahwa selama dua tahun kebelakang, Bara banyak mengeluarkan uang yang nominalnya lumayan tinggi bahkan bisa disebut jika Bara selama ini melakukan korupsi. Entah untuk apa Serina sendiri pun tak tahu Kemana Bara menghabiskan uang yang sebegitu banyaknya.
"Apa dia jarang pergi ke kantor?" Tanya Serina pada pak Seno yang berdiri dibelakangnya.
"Iya Bu, sangat jarang sekali beberapa bulan ini." Jawab pak Seno.
Serina tak habis pikir setelah mendengar jawaban dari Pak Seno. Menurutnya sewaktu ia belum bercerai, Bara tak pernah sekalipun tak pergi ke kantor kecuali hari libur.
"Pekerjaan sering kali terbengkalai bahkan hampir membuat perusahaan bangkrut, bu." Kata Pak Seno
"Seharusnya aku tidak mempercayainya untuk menjalankan perusahaan ini." Ucap Serina begitu geram.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul satu siang, Serina yang memang ada janji bertemu dengan Klein nya di cafe, langsung saja bergegas pergi keluar dari ruangan itu.
"Apa ada yang bisa saja bantu lagi, Bu?" Tanya pak Seno kembali mengiring dibelakang.
"Tentu saja, adakan rapat besok. Aku akan mengambil alih kembali jabatanku." Ucap Serina sambil terus melangkah.
Lagi, Pak Seno dibuat kaget dengan pernyataan dari Serina. Memang dia tahu, sebelum Serina menikah dengan Bara, Serina lah yang menjadi direktur di perusahaan ini. Akan tetapi setelah menikah dengan Bara, Serina malah menyuruh Bara untuk menggantikannya menjalankan perusahaan.
*
Hari berganti, keesokan harinya Bara memang tidak pergi ke kantor karena Arum terus saja merengek ingin Bara menemaninya hari ini. Bara pun menurut saja, lagipula akhir-akhir ini ia sangat merasa malas untuk pergi ke kantor.
"Mas ......." Panggil Arum.
"Ada apa sayang?" Tanya Bara.
"Hem.....aku boleh minta sesuatu nggak?"
"Sesuatu apa, Rum? katakanlah."
"Aku pengen kamu beliin aku mobil baru, Mas." Ucap Arum dengan wajah cemberut.
Bara diam sesaat, dan tanpa pikir panjang ia langsung mengiyakan permintaan dari istrinya.
"Iya, boleh." Ujar Bara mengangguk tersenyum.
"Hah, yang bener mas?" Tanya Arum.
"Iya bener, Rum. Apa sih yang nggak buat kamu."
Arum begitu sumringah dan ia langsung saja memeluk erat Bara. "Makasih mas, kamu memang suami yang baik dan pengertian." Puji Arum.
__ADS_1
Bara pun hanya tersenyum dan berbalik memeluk Arum.
"Jadi kapan kita akan beli mobilnya, Mas?" Tanya Arum seraya melepaskan pelukannya.
"Kamu tidak usah khawatir, Sayang. Pokoknya besok siang kita langsung pergi beli mobil." Jawab Bara enteng.
"Mas, sekali lagi terimakasih!" Arum kembali memeluk Bara.
Sementara saat ini, Serina sedang melakukan rapat tertutup dengan beberapa orang. Dia ingin mengambil alih perusahaan ini dari Bara. Orang-orang yang hadir dalam rapat tersebut pun sangat mendukung jika Serina mengambil alih kembali perusahaan ini. Karena bagi mereka semenjak perusahaan dipimpin oleh Bara, gajih karyawan sering kali terlambat.
"Pak Seno, jika Bara datang ke kantor tolong jangan izinkan dia untuk masuk!" Titah Serina.
Pak Seno mengangguk mengiyakan perintah dari atasannya.
Setelah selesai dengan urusannya, Serina memutuskan untuk pergi menemui Pram di cafe tempat biasanya mereka bertemu.
"Pram, kamu sudah lama menungguku?" Tanya Serina yang tiba-tiba datang dari arah belakang Pram.
"Serina, kamu mengagetkanku saja." Ucap Pram.
Serina menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Pram. Sebelumnya Pram juga sudah memesankan Serina minuman.
"Bagaimana, apakah semua berjalan dengan lancar?" Tanya Pram.
Serina menganggukkan kepalanya. "Yah, tentu saja. Aku sudah mengambil alih semuanya jadi sekarang dia tidak ada hak lagi." Ucap Serina.
"Baguslah, orang seperti itu memang harus di beri pelajaran." Ungkap Pram.
"Belum Serin, daritadi kan aku nungguin kamu." Jawab Pram.
"Oh ya, em kalau begitu makan kali ini biarkan aku yang mentraktir mu, anggap saja sebagai rasa terimakasih ku karena selama ini kamu sudah menjadi tempat curhatku." Tutur Serina.
"Sudah kubilang aku akan selalu ada untukmu." Ujar Pram tersenyum.
"Kamu benar-benar teman yang baik, Pram." Kata Serina, seketika senyum diwajah Pram memudar.
"Hei.....Pram, kenapa wajahmu jadi datar begitu? apa perkataanku ada yang salah?" Tanya Serina.
"Apakah sampai detik ini kamu hanya menganggap ku teman?" Tanya Pram dengan nada lirih.
Serina terdiam sesaat, pertanyaan dari Pram sungguh membuat lidahnya terasa Kelu.
Pram terus menunggu jawaban dari Serina, tapi Serina malah terlihat seperti orang yang kebingungan.
"Baiklah, tidak usah dijawab, Serina. Karena aku sendiripun sudah tahu jawabannya." Ucap Pram memalsukan Senyumnya.
*
Sedangkan pagi ini, Bara sudah rapi dengan pakaian kantornya. Namun sejak tadi Arum istrinya itu belum juga bangun.
__ADS_1
"Sayang.....bangun dong!" Ucap Bara pada Arum yang masih tertidur.
"Hem.....apa sih mas, aku masih ngantuk!" Ujar Arum kembali menarik selimut.
"Loh ini udah mau jam tujuh kok, kamu gak bikinin aku sarapan?" Tanya Bara.
Arum menghembuskan nafas kasar. "Haduh, kamu hari ini sarapan diluar aja deh. Aku lagi mager ini." Kata Arum.
Bara menarik nafasnya dalam-dalam. "Baiklah kalau begitu, Rum. Mas pergi dulu!" Pamit Bara.
Tak ada jawaban dari Arum, Bara langsung saja melangkah pergi.
Sekitar lima belas menit kemudian, Bara kini telah sampai di perusahaannya. Dia turun dari mobil dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
Namun baru saja sampai di pintu masuk, tiba-tiba pak Satpam langsung memblokir jalannya.
"Loh, apa-apaan ini?" Tanya Bara mengernyitkan dahinya.
"Maaf pak, bapak dilarang masuk sekarang." Jawab pak Satpam itu.
Lagi, Bara mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan jawaban pak Satpam itu.
"Maksud bapak ini apa ya? saya kan direktur perusahaan ini, masa nggak boleh masuk!" Omel Bara.
"Maaf sekali lagi, pak. Saya hanya menjalankan perintah saja." Ucap Pak Satpam.
"Aneh-aneh saja, perintah dari siapa, hah? saya ini direktur jadi saya berhak untuk masuk!" Kesal Bara sembari menyingkirkan tangan pak Satpam yang menghalanginya. Tapi dengan sigap pak Satpam langsung menahannya agar tak masuk.
Bara yang kesabarannya setipis kulit bawang pun, langsung saja emosi.
"Heh, pak bapak ini jangan macam-macam ya sama saya. Saya bisa Lo memecat anda sekarang juga!" Ancam Bara dengan tatapan tajam.
"Kamu sudah tidak ada hal lagi untuk menginjakan kaki kotor mu itu disini, Mas!" Seru Serina yang tiba-tiba muncul dari dalam.
Sepasang mata Bara kini membulat ketika melihat keberadaan mantan istrinya yang muncul tiba-tiba.
"Se-serin......?" Ucap Bara tergagap.
Serina melepas kacamatanya, lalu dengan kedua tangan dilipat dada, ia tersenyum miring ke arah mantan suaminya itu.
"Apa maksud dari semua ini dan apa maksud ucapan kamu itu?" Tanya Bara benar-benar tak paham.
"Kamu bukan lagi direktur perusahaan ini, karena aku sudah mengambil alih kembali." Jawab Serina tegas dan berwibawa.
Bara begitu kaget mendengar pernyataan dari Serina. Dia seolah-olah tak terima jika Serina kembali mengambil alih perusahaan ini, yah meskipun sejak awal Bara sudah tahu jika perusahaan ini bukanlah milik dia seutuhnya.
"Tidak.....tidak....tidak bisa begitu, Serin!" Ucap Bara sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu tahu sendiri selama beberapa tahun ini aku yang menjalankan perusahaan ini, lalu kenapa kamu mengambil alihnya secara tiba-tiba?" Tanya Bara.
"Ya terserah aku dong, Mas. Dari awal kamu sudah tahukan bila aku anak pemilik perusahaan, dan kamu hanya sementara disini. Jadi aku bebas ingin melakukan apa saja." Jelas Serina dengan senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Oh aku jadi paham sekarang, apakah caramu seperti ini untuk mengejek dan mempermainkan ku?" Tanya Bara sinis.