Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
27. Mertua Benalu


__ADS_3

"Aku sangat benci kata salah paham. Apanya yang salah paham? kalau salah ya salah. Menurutku salah paham itu hanya alasan. Lagipula aku tidak mengerti bagian mana yang kusalahpahami? jelas-jelas aku melihat semuanya." Jelas Serina.


"Mamah tahu Serin, tapi apa salahnya jika kamu memberi Bara kesempatan? toh, lagian hanya karena Bara selingkuh sekali masa kamu langsung menguatnya cerai. Apa kamu ini tidak keterlaluan?" Tanya Mayang.


"Lagi pula Bara juga sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya." Imbuhnya lagi.


Serina tertawa renyah, hingga membuat Mayang dan Bara keheranan.


"Tidak sopan! Orang tua bertanya kamu malah tertawa." Ujar Mayang yang sudah memasang wajah masam.


"Percuma diberi kesempatan. Sesorang yang pernah berselingkuh, kemungkinan akan kembali berselingkuh!" Ucap Serina sambil melirik tajam Bara.


"Mamah bilang, Bara sudah menyesali perbuatannya. Asal mamah tahu saja, anak kesayangan mamah ini masih berhubungan dengan selingkuhannya." Timpal Serina.


"Serina, itu tidak benar." Bantah Bara.


"Jangan berusaha menutupinya lagi!" Kata Serina.


"Kamu pikir aku tidak tahu? selingkuhanmu itu tinggal di apartemen sekarang dan kemarin waktu kamu tak pulang itu kamu sedang disana kan?" Tanya Serina.


"Jangan konyol, aku bukan lagi wanita bodoh yang terus-terusan kamu bohongi!"


Bara menghembuskan nafasnya kasar, ia tak dapat lagi menyangkal semua perkataan Serina. Karena yang dikatakan Serina memang benar.


Sedangkan Mayang, wajahnya sudah memerah menahan amarah dan malu. Mayang tak terima jika Serina terus menyudutkan anaknya, Bara.


"Tapi Serin, lagian mamah pikir wajar sih Bara selingkuh, karena pasti tujuannya ingin punya anak dari wanita lain. Kan kamu tahu sendiri kalau kamu istrinya tidak bisa mem........" Belum selesai berbicara Bara langsung memotongnya.


"Mah, jangan bicara seperti itu!" Ujar Bara dengan wajah tak enak.


"Serina tidak habis pikir, ternyata mamah malah membela sekaligus mendukung anak mamah yang telah berselingkuh ini." Ucap Serina.


"Baiklah, keputusan Serina untuk bercerai rupanya adalah jalan yang benar. Tunggu saja, sebantar lagi surat cerainya akan keluar!" Jelas Serina.


Mayang terdiam tak bisa menjawab. Wajahnya terlihat kesal dengan tangan mengepal erat.


"Baiklah, sepertinya apa yang saya katakan sudah jelas. Kalau begitu Saya permisi dulu dan selamat menikmati makan siangnya!" Ucap Serina kemudian beranjak pergi meninggalkan Bara dan Mayang yang masih terdiam.


"Serina.....makanan mu belum habis!" Panggil Bara bangkit dari duduknya. Tapi Serina tak memperdulikannya.


Saat Bara hendak menyusul langkah Serina, tiba-tiba saja Mayang memanggilnya.


"Bara tunggu......" Panggil Mayang.


"Ada apa mah?" Tanya Bara.

__ADS_1


"Pokonya mamah gak mau tahu, kamu tidak boleh bercerai dari Serina. Pikir dong, kalau kamu bercerai dari Serina, kita pasti akan jatuh miskin!" Kata Mayang.


"Mamah takut jika aku berpisah dengan Serina tapi mamah sendiri sudah mengatakan hal yang menyakiti perasaan Serina!" Kesal Bara lalu beranjak pergi menyusul istrinya.


Mayang menghembuskan nafasnya kasar.


"Serina..!" Seru Bara tapi tak di hiraukan Serina.


Bara mempercepat langkahnya lalu mencekal tangan Serina.


"Lepaskan!" Tepis Serina dengan kasar.


"Kamu belum makan, sebaiknya habiskan dulu makanan mu!"


"Tidak perlu! Aku harus kembali ke kantor." Ujar Serina tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Baiklah, kalau begitu biar ku antar!"


"Tidak usah!"


"Serina, pliss!" Mohon Bara.


Serina menghentikan sebuah Taxi lalu ia masuk ke dalamnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya benar-benar sakit apalagi di saat mertuanya sendiri sering menghina dirinya yang tak bisa memiliki keturunan. Bara menatap sendu mobil yang di tumpangi istrinya.


"Aku tidak ingin berpisah dengan mu, Serina. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku." Gumam Bara.


"Lebih baik kamu nganterin mamah pulang daripada nganterin istrimu yang kurang ajar dan keras kepala itu!" Ujar Mayang yang semakin membuat Bara geram.


"Mamah pulang saja sendiri, Bara harus kembali ke kantor!" Tolak Bara.


"Kamu ini jadi kurang ajar sama mamah mu sendiri. Pasti Serina yang ngajarin kamu, iyakan?" Tanya Mayang marah.


"Mah, plis. Jangan menjelek-jelekkan Serina lagi."


"Oh kamu sekarang membela wanita kurang ajar itu?" Tanya Mayang tersulut emosi.


"Mah, bukan begitu tapi--" Belum habis Bara berbicara Mayang sudah memotongnya.


"Ah sudahlah, mamah tidak peduli. Sekarang mamah minta uang sama kamu, limapuluh juta!"


"Loh mah.. perasaan baru dua hari yang lalu Bara kasih mamah uang kok udah habis aja?" Tanya Bara frustasi.


"Uang nya dah habis buat traktir temen-temen mamah liburan kemarin. Jadi cepat kasih mamah uang!" Ucap Mayang sambil menyodorkan tangannya ke arah Bara.


"Gak ada, mah!"

__ADS_1


"Bara...!" Seru Mayang. "Mamah harus beli tas keluaran terbaru, temen-temen mamah udah pada beli masa mamah enggak, nanti apa kata temen-temen mamah."


Bara menghembuskan nafasnya kasar lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


"Sudah Bara transfer!" Ujar Bara.


Mayang lalu mengambil ponselnya dari dalam tas lalu memeriksanya dan benar saja anaknya sudah mentransfer uang lebih dari limapuluh juta.


"Nah gitu dong! Harus berbakti sama orang tua." Ujar Mayang dengan senyum lebarnya.


Tidak menjawab, Bara berlalu begitu saja meninggalkan Mayang tanpa pamit.


"Eh... Dasar anak kurang ajar, gak punya sopan santunnya sama orang tua!" Seru Mayang.


"Untung saja menantu ku orang kaya raya, kalau miskin sudah ku tendang kamu dari dulu." Celoteh Mayang.


Huft......


Serina sudah kembali ke kantornya dengan perasaan yang teramat kesal.


"Wajah mu kenapa seperti benang kusut, Serin?" Tanya Desi.


Serina menghela nafas pelan.


"Tadi siang aku di ajak makan siang oleh Bara tapi setelah sampai di restoran dia membawa ibunya."


"Lantas kenapa kamu terlihat begitu kesal, apa mertua mu menghina mu lagi?" Tanya Desi.


"Hem.." Serina berdehem dan hanya menggantungkan kepala.


"Mertua mu sungguh tak tahu diri, padahal dia benalu tapi kenapa dia selalu saja menghina kamu, aku tidak habis pikir." Tutur Desi yang ikut kesal.


Serina hanya tersenyum tipis menanggapi sahabatnya.


"Biarkan saja dia, toh suatu saat akan tiba masa dia mengemis-ngemis padaku." Ujar Serina.


Desi tertawa begitu juga dengan Serina.


Jam menunjukkan pukul tiga sore hari, masih ada waktu sekitar satu jam untuk pulang. Serina memutuskan untuk pulang lebih awal hari ini.


"Des, kita batalkan pertemuan kita dengan klien. Aku ada urusan mendadak." Titah Serina pada Desi.


"Hem.. Baiklah!"


"Aku pergi dulu!" Pamit Serina.

__ADS_1


"Ya, hati-hati di jalan." Jawab Desi.


Kini Serina sudah menginjakkan kaki di rumahnya, Serina memasuki rumah, matanya berkeliling memperhatikan sudut-sudut rumah. Bayangannya kembali ke masa lalu dimana dirinya begitu bahagia bersama suaminya dulu.


__ADS_2