Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
28. Makan Malam Terakhir


__ADS_3

Serina menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Wanita itu kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya untuk menaruh tasnya. Serina, wanita itu mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang yang tak lain adalah Bara.


Sementara itu Bara yang tadinya terlihat lesu seketika menjadi bersemangat tak kala Serina menelponnya. Dengan segenap perasaan bahagia dia mengangkat panggilan itu.


"Hallo sayang." Ujar Bara.


Hening.


"Sayang, ada apa kamu menelpon ku?" Tanya Bara lagi.


"Emm.. pulanglah lebih cepat, kita makan malam bersama dirumah.""


Bara tersenyum lebar lalu mengiyakan ajakan istrinya.


"Tentu saja! Aku akan segera--" Belum sempat Bara melanjutkan ucapannya, panggilannya terputus.


Bara menghela nafas pelan lalu dengan hati yang berbunga-bunga, pria itu pergi dari ruangannya untuk segera pulang.


Di perjalanan pulang, Bara mendapatkan telpon dari Arum.


"Arum.., untuk apa dia menelpon ku?" Tanya Bara pada dirinya sendiri.


Bara menepikan mobilnya lalu dia mengangkat panggilan telpon dari Arum.


"Ada apa, Rum?" Tanya Bara.


"Aku ingin kamu mengajak ku untuk belanja sore ini." Ujar Arum dari balik telpon.


"Tidak bisa, Rum! Aku lembur hari ini." Tolak Bara.


"Hem baiklah!" Ucap Arum lalu mematikan teleponnya.


"Hem.. pasti dia kesal." Gumam Bara.


Akhirnya mau tidak mau Bara putar arah menuju ke apartemennya untuk menemui Arum.


Sesampainya di apartemen, Bara dapat melihat Arum yang terlihat kesal sambil menatap dirinya. Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Katamu kamu lembur, kenapa malah pulang?" Tanya Arum ketus.


"Aku pulang karena aku tahu , pasti kamu marah denganku!" Jawab Bara.


Arum tersenyum lebar. "Hem....sudahlah, kalau begitu kita jadi belanjakan?" Tanya Arum.


Bara mengangguk, mengiyakan pertanyaan Arum.


Akhirnya mereka berdua pun pergi ke salah satu Mall untuk berbelanja.


Singkat cerita, Bara dan Arum kini telah pulang ke Apartemen dengan membawa beberapa tentengan ditangan.


"Aku sudah menemanimu berbelanja, sekarang aku pergi dulu!" Ucap Bara.

__ADS_1


Arum meraih lengan Bara. "Loh, kamu gak nemenin aku tidur disini, mas?" Tanya Arum.


"Untuk malam ini aku tidak bisa, Rum." Ucap Bara.


"Kenapa, mas?"


"Sudahlah Rum, kamu tidak perlu tahu. Yang penting besok-besok dan seterusnya, aku akan menemanimu terus!" Kata Bara.


Arum menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah kalau begitu!"


Bara tersenyum, lalu memberikan Arum sebuah pelukan hangat. "Jaga dirimu baik-baik disini, mas pergi dulu!" Kata Bara.


~


~


~


Serina terkejut ketika seseorang memeluknya dari Belakang. Bara menempelkan dagunya di bahu Serina. Pria itu ingin mengecup pipi istrinya tapi dengan cepat Serina menghindar.


"Masak apa?" Tanya Bara dengan suara lembut.


"Kamu tidak lihat aku sedang masak ayam." Jawab Serina ketus lalu melepaskan pelukan dan berbalik menatap Bara.


"Maaf jika membuat mu kesal." Ujar Bara masih terdengar lembut dan halus.


"Sebaiknya kamu pergi ke kamar dan membersihkan diri lalu kita makan bersama sekalian ada yang ingin aku bicarakan."


Setelah selesai menata makanan di meja makan. Serina melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk membersihkan diri. Wanita itu terhenti lalu menoleh ke arah meja makan.


"Mungkin ini makan malam terakhir kita." Gumam Serina lalu melanjutkan langkahnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Serina lalu mengenakan dress selutut berwana hitam dan berdandan tipis.


Serina, wanita ini lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan yang ternyata sudah ada Bara yang menatapnya tanpa berkedip. Serina menghembuskan nafasnya pelan.


Di meja makan, keduanya tampak diam satu sama lain hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring masing-masing.


Bara sesekali melirik ke arah sang istri yang wajahnya terlihat tenang sedangkan Bara tak henti-hentinya senyum terbit dari kedua sudut bibirnya.


"Emm... Sayang katanya kamu ingin membicarakan sesuatu dengan ku, apa itu?" Tanya Bara.


Serina bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya masuk ke kamar dan selang beberapa saat Serina kembali dengan membawa amplop coklat di tangannya.


"Apa amplop itu berisi surat gugat cerai?" Tanya Bara harti


Serina menyodorkan amplop tersebut ke arah Bara, Pria itu lalu membuka nya perlahan.


Deg.


Bara terpaku, dadanya seketika menjadi sesak. Serina tidak main-main dengan ucapannya yang akan menceraikan dirinya.

__ADS_1


"Tolong, aku minta kamu segera tanda tangani dengan cepat, biar urusan kita juga cepat selesai!" Ujar Serina.


Bara memalingkan wajahnya ke arah istrinya yang terlihat tenang.


"Aku sudah bilang, kalau aku tidak ingin bercerai dengan mu, Serina! Tidak bisakah kamu memaafkan ku sekali ini saja?" Tanya Bara.


"Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, tapi maaf, untuk bersama lagi rasanya aku sudah tak bisa." Jawab Serina tegas.


"Jangan begitu Serina! Aku tahu aku salah tapi tidak bisakah kita memperbaikinya lagi?"


"Selagi permasalahannya bukan perselingkuhan, mungkin semuanya masih bisa di perbaiki." Ucap Serina. "Bukankah malam itu aku sudah memberi mu kesempatan untuk memilih diriku atau selingkuhan mu? Tapi sepertinya kamu bimbang untuk memilih antara aku dan dia." Timpalnya.


Bara mengusap wajahnya kasar, sekarang hanya ada penyesalan dalam dirinya.


"Kesalahan yang kamu lakukan sudah terlalu fatal." Imbuhnya.


"Semudah itukah kamu ingin berpisah dengan ku?" Tanya Bara dengan tatapan nanar.


"Berpisah dengan mu memang tidak mudah tapi jika aku terus bersama mu, itu hanya akan membuat kita saling menyakiti satu sama lain." Ucap Serina mencoba tegar.


"Kamu yakin dengan surat ini?" Tanya Bara memastikan.


"Sangat yakin!" Ucap Serina tegas.


"Tidakkah waktu yang kita lewati selama sepuluh tahun itu tidak ada artinya bagimu?"


"Kalau kamu bertanya seperti itu, maka aku akan menanyakan hal yang sama padamu. Apa waktu sepuluh tahun yang telah kita lewati bersama, tak ada artinya bagimu?"


Bara menghela nafas pelan.


"Ayo berpisah secara baik, sebaik saat kamu datang melamar ku untuk menjadi istrimu."


"Sebaik apapun perpisahan, itu akan tetap menyakitkan bagi ku." Sela Bara.


"Lantas bagaimana dengan aku? Apa kamu tahu sehancur apa diriku malam itu ketika melihat kamu bercinta dengan wanita lain selain diriku? Aku mencoba untuk menepis nya tapi tetap saja tidak bisa bahkan aku mencoba untuk melupakannya namun hanya rasa sakit saja yang menghampiri ku." Tutur Serina dengan suara bergetar.


Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Serina membuat Bara merasakan sesak yang luar biasa, sungguh ia merasa menyesal telah mengkhianati wanita yang sudah menjadi istrinya selama sepuluh tahun.


"Maafkan aku...!" Bara tak bisa berkata-kata, hanya kata maaf yang mampu dia ucapkan.


"Sekarang cepat kamu tanda tangani surat ini!" Pinta Serina.


"Aku tidak bisa!" Tolak Bara.


"Tolong hargai keputusan ku!" Ucap Serina tegas.


Bara meraih surat itu, tangannya serasa kaku untuk menandatangani surat tersebut. Ada perasaan berat yang bergejolak di hatinya.


Di satu sisi Bara merasa berat harus berpisah dengan Serina tapi disisi lain dia juga mencintai Arum dan tidak ingin kehilangan Arum.


"Benar, aku tidak boleh mencintai dua orang sekaligus itu akan hanya membuat salah satunya terluka." Batin Bara. "Maafkan aku Serina, aku lebih memilih Arum."

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Serina mengambil surat yang sudah di tanda tangani. Ia pun kemudian melangkah pergi menuju ke kamar.


__ADS_2