Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
34.Angkat Kaki


__ADS_3

Kalung tersebut pun dibeli oleh Bara. Setelah melakukan pembayaran yang cukup menguras kantong, Bara langsung saja mengajak Arum untuk pulang. Sementara tanpa di sadari oleh Bara dan Arum, dari kejauhan ada dua pasang mata sedang memperhatikan mereka.


Dada Serina kembali merasa sesak, hatinya terasa diiris-iris ketika melihat suami dan mantan pembantunya.


"Serina kita kesana saja, yuk!" Ajak Pram pada Serina tapi tak ada jawaban dari Serina.


Pram lalu menoleh dan melihat Serina yang hanya diam dengan sorot mata tajam menatap sesuatu. Pram mengikuti sorot mata wanita itu.


"Hah, bukankah itu Bara?" Tanya Pram menatap lekat.


"Serina, sebaiknya kita pergi saja dari sini." Ajak Pram dengan sengaja.


"Tunggulah dulu, aku ingin melihat pertunjukan yang luar biasa ini." Ucap Serina tanpa mengalihkan pandangannya.


"Apa kamu tidak sakit hati?" Tanya Pram hingga membuat Serina mengalihkan tatapannya pada Pram.


"Sungguh itu hal konyol!"


"Benarkah? Kamu memang wanita tangguh. Tidak salah aku menyukai mu." Seloroh Pram.


"Jangan berbicara omong kosong, Pram!" Ucap Serina dengan tatapan sinis.


"Aku tidak berbicara omong kosong, jika kamu mau aku bisa saja membuktikannya."


Serina memutar bola matanya malas kemudian wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Pram.


"Hei! Serina mau kemana? Tunggu!" Kata Pram setengah berteriak lalu menyusul Serina.


"Kenapa jalan mu cepat sekali?" Tanya Pram mensejajarkan langkahnya dengan Serina.


Serina tidak menjawab, wanita itu terus saja berjalan keluar dari mall.


"Aku yakin kamu pasti sakit hati!"


"Jangan konyol!"


"Hem.. Baiklah. Kamu mau kemana?"


"Pulang!"


"Serina, kita baru saja sampai kenapa pulang."


Serina menghentikan langkahnya, untuk beberapa saat dia termenung sejenak.

__ADS_1


"Aku ingin pulang, Pram! Aku lelah."


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang!"


Tanpa banyak bicara, keduanya pun masuk ke dalam mobil. Pram mulai melajukan mobilnya meninggalkan mall tersebut. Tak butuh waktu lama kini Pram dan Serina sudah sampai.


"Aku turun dulu, terimakasih karena sudah mengantarku pulang!" Ucap Serina, ia hendak membuka pintu mobil tapi Pram langsung mencekal tangannya.


"Ada apa lagi, Pram?" Tanya Serina.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya balik Pram yang merasa khawatir.


"Tentu saja aku baik, sudahlah aku turun dulu!" Ujar Serina lalu turun.


Pram diam dan menatap Serina yang melangkah masuk ke dalam rumah.


Ia sangat yakin pasti Serina begitu sakit hati saat melihat suami dan pembantunya tadi. Pram kemudian berlalu begitu saja.


Sementara Serina yang telah masuk ke dalam rumah, ia melangkahkan kakinya pelan menuju ke arah dapur. Membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin lalu ia duduk termangu dimeja makan. Sesekali wanita itu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rasanya aneh saja, rumah yang dulunya menjadi tempat yang paling hangat dan nyaman, kini malah berubah menjadi tempat yang paling suram. Serina menatap sendu sekelilingnya, terasa sunyi dan hening seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Serina mulai merasakan benci, benci akan kenangan yang ia lewati bersama Bara waktu di rumah ini. Tak hanya itu, ia benci karena dirumah inilah Bara mengkhianati pernikahannya sendiri.


************


Malam berganti tugas. Keesokan harinya, Serina memasukan semua pakaian-pakaian Bara ke dalam koper. Dia tak ingin lagi Bara tinggal dirumahnya.


Huft.......


Sementara Bara, pagi ini baru saja terbangun dari tidurnya setelah bertempur hebat bersama Arum tadi malam.


"Jam berapa ini?" Tanya Bara masih belum sadar sepenuhnya. Ia meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan melihat jam sudah menunjukan pukul delapan kurang. Bara begitu kaget, bukan karena jam melainkan saat ia melihat panggilan tak terjawab dari Serina.


"Hah, bodohnya aku, kenapa tidak ku angkat!" Umpat Bara pria itu pun beranjak dari atas ranjang.


"Aku harus segera pergi, Rum!" Ucap Bara seraya mengambil pakaiannya yang berserakan dilantai.


"Mas....memangnya kamu mau pergi kemana?" Tanya Arum yang tubuhnya hanya ditutupi oleh selimut.


Tak menjawab, Bara berlalu begitu saja meninggalkan Arum.


"Sial, pasti dia mau menemui wanita murahan itu lagi!" Cibir Arum.


"Awas saja, aku akan membuat Bara seutuhnya milik ku!"


-

__ADS_1


Serina masih duduk disofa dengan kaki menyilang, ia terus saja menatap koper yang berisi pakaian Bara.


"Dia sama sekali tidak menghubungiku kembali. Hm....apakah dia mengabaikan panggilanku karena sedang asik bersama wanita itu?" Tanya Serina pada diri sendiri.


"Sudah jam segini, bodoh sekali aku menunggunya dari tadi. Ah, lebih baik aku pergi saja sekarang!" Ucap Serina seraya bangkit dari duduknya.


Tapi tiba-tiba dari arah luar terdengar suara deru mobil yang tak asing bagi Serina. Yah, itu adalah Bara. Bara turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui Serina.


"Serina......." Seru Bara yang datang.


Serina yang berdiri pun hanya diam dan menatap datar Bara yang terlihat acak-acakan.


"Serina......" Bara tersenyum, sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Serina.


"Aku merindukanmu," Ucap Bara, ia ingin merangkul Serina tapi dengan cepat Serina menghindarinya.


"Jangan sentuh aku, aku jijik sama kamu mas!" Gumam Serina.


"Tapi kamu istriku, jadi apa salahnya?" Tanya Bara.


"Tapi kita akan bercerai sebentar lagi. Lagian kamu pikir saja Mas, wanita mana yang mau dengan lelaki bekas wanita lain?" Tanya Serina.


"Apa maksudmu, Serina? kenapa kamu selalu mengajakku berdebat?"


"Jangan pura-pura bodoh didepan ku, Mas. Aku tadi malam melihatmu bersama Arum sedang berbelanja banyak dan kamu juga membelikannya perhiasan kan?" Serina tersenyum menyeringai.


Bara terdiam seribu bahasa. Entah dari mana istrinya tahu, Bara sendiri tak mengerti. Setiap kata yang terlontar dari mulut Serina seolah terus saja menyudutkan dirinya.


Bara pun tak bisa menjawab dan hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Sudahlah, aku tidak peduli sekarang. Aku tidak ingin melihatmu lagi, jadi pergilah dari sini. Aku sudah membereskan pakaian mu!" Ujar Serina seraya menunjuk ke arah koper.


Bara memicingkan kedua matanya, melihat ada dua koper yang sudah disiapkan Serina.


"Serina.....apa-apaan ini, apa maksudmu?" Tanya Bara tak paham.


"Aku ingin kamu angkat kaki dari rumahku!" Jawab Serina dengan jelas.


"Apa, angkat kaki?" Bara benar-benar dibuat syok dengan pernyataan istrinya.


"Iya, karena aku tidak ingin lagi tinggal bersamamu!" Kata Serina dengan tegas.


Bara menggelengkan kepalanya. "Jangan bercanda, Serina. Kita ini adalah sepasang suami istri yang tidak akan terpisahkan sampai kapanpun, jadi bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk angkat kaki?"

__ADS_1


"Dasar lelaki tidak tahu diri!" Serina menatap nyalang ke arah Bara.


__ADS_2