Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
16. Marah


__ADS_3

"Serina, aku mohon hentikan!" Pinta Bara yang berdiri tepat di sampingnya.


"Aku sedang tidak bicara denganmu, jadi tutup mulut mu itu!" Sergah Serina.


"Sejak kapan kalian main api di belakangku?" Tanya Serina menatap tajam Arum.


"Sejak du-dua tahun yang lalu," Jawab Arum dengan nada gugup.


Serina menarik nafas dalam-dalam dan melirik tajam ke arah Bara.


"Serina.....maafkan aku, aku....aku benar-benar khilaf." Ujar Bara.


Plaaak......


Satu tamparan keras kini baru saja melayang di wajah Bara.


"Khilaf? selama dua tahun kamu mengkhianati rumah tangga kita dan sekarang kamu bilang kalau itu khilaf?" Tanya Serina dengan nada penuh tekanan.


Tak menjawab, Bara malah menundukkan pandangannya.


"Nyonya, saya tahu kalau nyonya sangat marah sekarang. Tapi saya minta jangan seperti itu kepada mas Bara." Ucap Arum.


"Setidak malu itukah dirimu berbicara seperti itu?" Tanya Serina yang begitu murka.


"To-tolong maafkan saya, Nyonya."


Karena kesabaran Serina sudah habis melihat dua manusia terkutuk yang ada dihadapannya, ia pun langsung saja meraih gelas yang berisi minuman di atas meja lalu menyiramkan nya tepat di wajah Arum dan Bara secara bergantian.


Semua tamu yang ada di pesta itupun menutup mulut mereka karena syok melihat pertikaian tersebut.


"Serina.....apa-apaan ini, aku minta hentikan semua ini. Kita bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik nanti, jangan didepan para tamu!"


"Itu pelajaran buat kalian berdua mas!" Pekik Serina.


"Bajingan!" Teriak Mayang tiba-tiba sambil mendekat ke arah Bara.


"Apa yang kamu lakukan ini, Bara? sungguh memalukan!" Berang Mayang dengan wajah memerah.


"Mah, mamah salah paham. Ini tidak seperti yang mamah lihat!" Sangkal Bara.


"Diam kamu, Bara!" Seru Mayang, lalu melirik tajam ke arah Arum.


"Bisa-bisanya kamu menggoda anak ku, hah! Kamu itu hanya pembantu, berani-beraninya kamu--" Mayang ingin mengayunkan tangannya hendak menampar Arum, tapi Bara langsung menahannya.


"Mah.. jangan salahkan Arum, ini semua salah Bara." Pungkas Bara.


"Kamu masih membela jala*ng ini? Gara-gara dia, nama baikmu jadi jelek dihadapan para tamu!" Ucap Mayang sambil menunjuk-nunjuk wajah Arum.


Air mata Arum kini runtuh membasahi pipinya tak Kala ia mendengar cacian dan makian dari mulut orangtua Bara yang begitu pedas seperti cabe rawit.


"Mah.. sudahlah, jangan ribut-ribut disini, malu dilihat para tamu." Ujar Bara memohon.


Plak!

__ADS_1


Mayang menampar wajah Bara.


"Seharusnya kamu yang malu, Bara bukan mamah!" Ucap Mayang seraya berlalu.


Kini semua mata memandang Bara dan Arum remeh, bahkan orang-orang menatap keduanya dengan tatapan jijik. Akhirnya para tamu pun memutuskan untuk pulang satu persatu.


Kini hanya tersisa orang tua Serina, yang menatap Bara dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Bara..! Saya sangat kecewa dengan kamu." Ucap Ruslan yang tak lain adalah ayah mertua Bara.


Sonia, ibu Serina menatap geram ke arah Bara terutama Arum.


"Aku tidak menyangka kenapa kamu bisa menduakan anak ku dengan wanita seperti dia!" Ucap Sonia geram lalu beranjak pergi menyusul Serina yang telah masuk ke dalam rumah.


Kini di taman tersebut hanya tinggal Bara dan Arum saja.


"Arghhh..... Sial..! Sial!" Umpat Bara sambil mengusap wajahnya kasar.


"Mas... Apa yang harus kita lakukan sekarang, aku tidak mau kamu meninggalkan aku, Mas." Ucap Arum di sela tangisnya.


"Arum.. Aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku akan menjelaskan pada mereka semua." Tutur Bara.


"Tapi mas, aku takut!" Ucap Arum.


"Kamu tidak perlu takut, ada aku di samping mu." Ujar Bara.


-


-


-


"Serina, jangan menangis nak!" Ujar Sonia.


"Mah.. Pah.. maafkan, Serina!" Ucap Serina pada Sonia dan Ruslan.


"Tidak apa-apa, Nak. Kamu tidak bersalah disini." Kata Sonia sambil mengelus pundak Serina.


"Yang bersalah itu suami kamu, Serina. Papah tidak habis pikir kenapa dia berselingkuh dengan pembantu di rumah ini." Kesal Ruslan.


"Benar-benar Jabingan!" Umpat Ruslan sambil berkacak pinggang.


"Pah.. mulut mu kotor, sejak kapan papah tahu sumpah serapah seperti itu?" Tanya Sonia mencubit ke daerah terlarang milik suaminya.


"Sakit mah!" Pekik Ruslan.


"Lihat saja, papah akan memberikan laki-laki tak tahu diri itu pelajaran." Ruslan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Sudah Pah, mah tidak usah dipikirkan. Ini masalah rumah tangga Serina, Serina kan menyelesaikan nya sendiri." Ucap Serina menatap Ruslan dan Sonia bergantian.


"Tapi nak----"


Serina tersenyum lalu mengangguk. "Serina bisa menyelesaikannya sendirian pah, mah!" Serina mengulang ucapannya agar orangtuanya yakin.

__ADS_1


Ruslan menghembuskan nafasnya kasar.


"Lalu apa langkah selanjutnya?" Tanya Ruslan.


"Serina akan menceraikan mas Bara!"


"Serina.. apa pun keputusan mu, papah dan mamah akan mendukung mu." Ucap Sonia memberi semangat.


Tiba-tiba Bara datang menghampiri Serina dengan Arum yang mengekor di belakangnya.


"Mau apa kamu kesini, Hah! Dasar laki-laki tak bermalu!" Hardik Ruslan.


"Pah..!" Tukas Serina.


Ruslan lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar, kesabarannya sudah habis. Pria paruh baya itu beranjak dari duduk nya bersiap-siap melayangkan pukulan ke arah Bara.


"Pah.. ayo kita keluar! Biarkan Serina menyelesaikan masalahnya." Ajak Sonia


Ruslan tak mengindahkan ajakan istrinya. Dia masih menatap geram Bara.


"Maafkan Bara, Pah, mah..." Ucap Bara tertunduk dengan wajah melas.


"Minta maaflah pada anak kami!" Ketus Sonia.


"Cuih.....kutu kupret! enak saja tinggal minta maaf!" Cecar Ruslan.


"Sudahlah pah, ayo kita pergi saja!" Sonia merangkul lengan suaminya dan membawa suaminya pergi. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di depan Arum yang sedang berdiri mematung dengan wajah tertunduk.


Arum meremas ujung bajunya, ia begitu ketar ketir saat melirik kedua orangtua Serina yang berhenti tepat didepannya.


"Yang kamu curi, tidak akan pernah menjadi milikmu!" Lirih Sonia dengan tatapan jijik.


Setelah mengatakan itu pada Arum, Sonia dan suaminya pun langsung saja melanjutkan langkahnya kembali.


Wajah Arum bagaikan ditampar malaikat saat ia mendengar orangtua Serina berkata seperti itu.


"Duduk!" Titah Serina pada Bara dan Arum.


Bara dan Arum melirik satu sama lain, lalu keduanya duduk bersebelahan.


Melihat Arum yang duduk disebelah Bara, Serina menghela nafas panjang.


"Apa kalian berdua saling mencintai?" Tanya Serina pada keduanya.


Bara tak bergeming dan hanya membuang muka.


"Tentu saja! kami berdua saling mencintai satu sama lain." Jawab Arum tak bermalu.


"Cih...." Serina mendecih dan tersenyum menyeringai saat mendengar pernyataan Arum.


"Kamu tak menyangkalnya,berarti Apa yang di ucapkan


Arum, itu benar?" Tanya Serina beralih menatap Bara dengan serius.

__ADS_1


"Aku memang salah, Serina. Tapi apakah kamu bisa mengatur sebuah perasaan ? Bukankah dia hadir begitu saja tanpa di minta?" Tanya Bara emosi.


__ADS_2