Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
35. Resmi Bercerai


__ADS_3

"Sampai kapanpun aku tak akan pernah angkat kaki dari rumah ini!" Ujar Bara.


"Tidakkah seharusnya kamu berterimakasih padaku? karena aku telah mengizinkanmu untuk tinggal bersama Arum?" Tanya Serina.


Bara menghela nafas berat. "Kamu benar-benar egois, Serina. Masalah sepele begini saja kamu sampai jadi seperti ini!" Bara mulai tersulut emosi.


"Aku tak peduli, pergilah sekarang dan jangan lupa bawa koper itu!" Usir Serina dengan tegas.


Bara menyeringai. Ia sudah tak bisa lagi menahan kesabarannya.


"Apa kamu pikir aku akan mengemis bersujud-sujud memohon dibawah kakimu agar kamu tidak mengusirku?" Tanya Bara.


"Sekalipun itu kamu lakukan, aku tidak akan berubah pikiran!" Ujar Serina tersenyum miring.


Bara begitu geram mendengar setiap kata yang keluar dari mulut istrinya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi dari rumah ini!" Celetuk Bara. "Kesabaranku juga sudah habis karena mu, jadi aku rasa bercerai adalah jalan terbaik untuk kita." Bara menatap Serina dengan tajam.


"Baguslah, kita memang harus bercerai!" Kata Serina kedua matanya membelalak.


"Aku sangat bersyukur sudah di jauhkan dengan laki-laki pengkhianat seperti kamu! Apa kamu lupa siapa yang menaikkan derajatmu, hah?"


"Apa maksudmu, kamu mau mencoba menghinaku?" Tanya Bara dengan kedua tangan terkepal dengan kuat.


Tak menjawab, Serina hanya tersenyum mengejek ke arah Bara.


"Jangan sampai kamu menyesal, Serina. Seharusnya kamu bersyukur ada laki-laki yang sudah mau menerima wanita mandul seperti kamu!" Hina Bara sambil tersenyum miring.


Hati Serina bagaikan ditusuk jarum, tak kala Bara menghina dirinya seperti itu.


"Apa katamu barusan?"


"Kamu dengar tapi pura-pura tidak dengar?" Tanya Bara.


"Dengar baik-baik Serina, mau 5 tahun, 10 tahun atau bahkan lebih itu sama sekali tidak ada artinya jika kita tidak memiliki anak." Ujar Bara.


Kedua mata Serina mulai berkaca-kaca, tak menyangka jika suaminya akan berkata semenyakitkan itu. Padahal selama ini suaminya lah yang selalu menguatkan dirinya. Amarah dalam diri Serina memuncak, dia tidak terima dengan kata-kata yang baru saja Bara lontarkan.


"Pergilah, pergi sekarang juga. Pergilah! Mataku sakit jika harus melihat pengkhianat seperti dirimu!" Cibir Serina tak mau kalah.


Bara mendengus kesal, dengan wajah masam ia meraih dua koper tersebut lalu pergi meninggalkan rumah Serina.


Sepergiannya Bara, Serina masih berdiri mematung sambil menyeka air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya.


"Tega kamu, Mas. Kamu keterlaluan! bukan aku yang seharusnya menyesal, tapi kamu!" Ucap Serina.


"Aku yakin pasti kamu akan menyesal setelah mengetahui kebenarannya!" Kata Serina.


******


Prang!


Pyaar!


"Mas! Kamu kenapa datang-datang seperti ini?" Tanya Arum yang terkejut melihat apartemen yang sudah seperti kapal pecah.

__ADS_1


Arghhh....


"Serina...! Awas saja kamu, akan ku buat kamu menyesal...!" Teriak Bara.


Arum terkejut mendengar teriakan Bara yang memekakkan telinga.


Dengan memberanikan diri Arum melangkahkan kakinya mendekati Bara yang seperti orang kerasukan.


"Mas.." Panggil Arum dengan nada yang di buat selembut mungkin.


Bara seketika menghentikan kerasukan nya, pria ini lalu berbalik menoleh ke arah Arum yang sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang terlihat tenang.


"Apa yang terjadi, mas? Kenapa kamu menghancurkan semua ini?" Tanya Arum.


"Serina. Wanita itu akan ku buat dia menyesal." Geram Bara.


Arum mengerutkan keningnya. "Maksudmu?" Tanyanya lagi.


"Dia mengusir ku dari rumah!" Jawab Bara.


"Apa?!" Arum terkejut padahal jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa senang. "Bahkan dia menghina ku." Timpal Bara.


"Wanita itu memang tidak tahu diri, mas. Padahal tanpa kamu dia hanyalah gembel. Dasar wanita tidak tahu diri!" Ucap Arum menjelek-jelekkan mantan majikannya.


Bara tidak menjawab, dia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Arum meraih lengan Bara lalu mengusapnya dengan lembut.


"Sudahlah, tidak usah di pikirkan. Bukankah ini bagus? Kita bisa tinggal bersama sekarang?"


"Kamu benar, Arum. Tapi di satu sisi aku masih mencintai istri ku." Ujar Bara frustasi.


Bara menghembuskan nafasnya pelan.


"Entahlah, Rum. Pikiran ku sedang kacau, sebaiknya kamu siapkan aku air hangat. Aku ingin mandi." Ucap Bara dan diiyakan oleh Arum.


****


Satu Minggu kemudian, Serina serta keluarga telah datang ke pengadilan. Hari ini adalah hari penentuan, dimana Serina akan mendapatkan status baru.


Bara datang tanpa dihadiri oleh orangtuanya. Akan tetapi, dia tidak sendiri, ada Arum yang mendampinginya.


Bara melihat Serina didampingi oleh kedua orangtuanya, dia tersenyum getir melihat istri yang sebentar lagi akan berubah menjadi mantan.


Berbeda dengan Arum, raut wajahnya terlihat begitu sumringah dari awal sidang hingga akhir.


Serina dan Bara sudah resmi bercerai. Tak ada sapaan atau kata-kata terakhir yang mereka ucapkan ketika mereka saling bertemu di ruang sidang. Bagi Serina Bara hanya lah masa lalu yang tak harus di ingat lagi.


Mereka hanya saling lirik, tergambar jelas kebencian Serina dari sorot mata nya. Terlebih saat ia melihat Arum yang terus saja mesem-mesem.


"Serina.....aku ingin bicara!" Panggil Bara saat sidang sudah selesai.


Serina melihat kedua orangtuanya. Ayah serta ibunya mengangguk, mengizinkan Serina untuk bicara berdua saja dengan Bara.


"Rum, aku ingin bicara dulu sama Serina. Jadi tolong kamu tunggu di mobil dulu ya..." Pinta Bara pada Arum yang sedari tadi berada disamping Bara.

__ADS_1


"Ta-tapi, mas?"


"Rum, sekali ini saja." Bara setengah berbisik.


"Baiklah!" Arum kemudian berlalu begitu saja dengan perasaan sedikit kesal.


Serina mengikuti langkah Bara ke tempat yang agak jauh dari orangtuanya.


"Cepatlah katakan! Aku tidak punya banyak waktu untukmu." Ucap Serina datar.


"Apa kamu senang sekarang?" Tanya Bara.


"Apa maksudmu?"


"Apa sekarang kamu senang karena kita telah resmi bercerai?"


Serina mengangguk dengan cepat. "Tentu saja, aku sangat senang. Akhirnya aku sudah tidak ada ikatan lagi dengan lelaki pengkhianat sepertimu." Ucap Serina tanpa menatap Bara.


"Apa kita benar-benar akan berakhir seperti ini?" Tanya Bara dengan tatapan sendu.


"Hm...hubungan kita sudah berakhir. Aku sudah tidak lagi mencintai kamu." Serina tak berani menatap mata Bara.


"Tatap aku, Serin. Apa benar kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"


Serina berusaha untuk kuat. Dia menatap lekat Bara. "Sudahlah semua sudah jelas, mas. Apalagi yang perlu kita bicarakan. Sekarang intinya kita sudah masing-masing, jalani hidupmu dengan semau mu, aku pun begitu sebaliknya." Kata Serina.


Bara menghela nafasnya dengan kasar.


"Entah kenapa rasanya berat sekali sekarang......" Lirih Bara.


Serina menahan rasa air mata yang akan jatuh ke pelupuk matanya. Dia mengedipkan matanya beberapa kali serta mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Sebenarnya Serina masih begitu mencintai Bara. Tapi tidak mudah juga bagi Serina berada didalam posisi seperti ini.


"Izinkan aku untuk memelukmu Kali ini, Serin!" Pinta Bara.


Serina terdiam sesaat dan hanya menatap Bara dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Baru saja Serina akan menjawab, tiba-tiba Arum dagang menghampiri.


"Mas.....katamu sebentar, kenapa lama sekali?" Tanya Arum sekilas menatap sinis Serina.


"A-arum......"


Serina memutar bola mata malas, awalnya dia berniat untuk memberikan pelukan terkahir pada Bara, akan tetapi Arum datang dan Serina pun langsung mengurungkan niatnya.


"Ayo mas, kita pergi! lagian ngapain lagi sih memangnya, kan dia sudah bukan apa-apa mu lagi!" Kata Arum.


Serina mendecih.


"Cih...mas, aku pergi dulu. Urus lah dulu wanita monyet ini!" Seru Serina kemudian berlalu begitu saja sambil menatap tajam Arum.


"Apa kamu bilang, hei wanita murahan!" Arum mengepalkan tangannya erat-erat. Ia berusaha untuk mengejar Serina, tapi Bara langsung menahannya.


"Sudah Rum, hentikan!" Ujar Bara.

__ADS_1


"Dia bilang aku wanita monyet, mas. Aku tidak terima!" Arum begitu geram.


"Sudahlah, Rum! ayo kita pergi saja!" Bara meraih lengan Arum dan membawanya pergi.


__ADS_2