Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
22. Tak Peduli


__ADS_3

Serina yakin bila yang menelepon itu adalah Arum. Sebuah rasa sakit tak bisa lagi diungkapkan, kini ia lebih memilih untuk diam saja.


"Iya Hallo, ada apa?" Tanya Bara sambil Melirik ke arah Serina yang berdiri mematung menatapnya.


"Mas, kamu dimana sih? aku nungguin kamu dari tadi!" Ucap Arum dengan nada manja.


"Aku masih dirumah, nanti saja aku pasti kesana!" Ujar Bara dengan nada pelan, tak ingin Serina mendengarnya. Akan tetapi Serina masih bisa mendengar percakapan mereka.


"Jangan lama-lama kesini nya!" Kata Arum.


"Iya iya, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya!" Bara menutup teleponnya dan kemudian kembali menatap sang istri yang membuang pandangan.


"Kamu jangan salah paham, dia hanya menanyakan keberadaan ku saja!" Ucap Bara.


"Aku tidak bertanya, dan aku sama sekali tidak peduli." Balas Serina dengan tegas.


"Tapi aku tahu kamu pasti kesal."


Serina tersenyum miring. "Hah, kesal? untuk apa juga? ingat ya mas, rasa peduli dan cemburuku ke kamu itu sudah hilang semenjak aku tahu satu kebenaran bahwa kamu berkhianat!" Jelas Serina seraya berlalu. Namun dengan cepat Bara menahannya kembali dengan memegang tangannya.


"Ada apa lagi?" Tanya Serina yang sudah muak.


"Aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita, Serin!"


Serina yang begitu geram langsung saja kembali melayangkan satu tamparan keras ke wajah Bara.


Plaaak...


Bara memegangi pipinya, dan menatap heran pada Serina yang menampar dirinya.


"Masih bisa bilang kalau kamu tidak mengkhianati pernikahan kita? dimana letak kesadaranmu, mas? jelas-jelas kamu berselingkuh dengannya dan masih bilang---" Serina tak lagi melanjutkan ucapannya, ia sungguh tak habis pikir dengan pemikiran Bara yang begitu konyol.


Bara menghembuskan nafasnya kasar. "Sudahlah Serin, kamu tidak usah lebay. Ini hanya masalah sepele, kita bisa memperbaikinya. Jangan terlalu terbawa perasaan!" Kata Bara tanpa merasa bersalah.


Serina menggelengkan kepalanya dengan pelan, tak menyangka jika suaminya akan berkata seperti itu.


"Lebih baik kamu urus saja dulu selingkuhan mu itu!" Ucap Serina seraya berlalu dengan wajah sedikit tertunduk, menyembunyikan mata yang sudah berkaca-kaca.


Bara mengacak rambutnya dan terlihat frustasi dengan situasi saat ini.


"Argh.......sial!" Umpat Bara. Pria itu akhirnya memilih untuk bergegas pergi, menemui Arum yang ada di apartemen.


Dikamar, Serina terus saja mengusap kasar air matanya yang sejak tadi tak berhenti keluar. Hatinya bagaikan kaca yang retak seribu, tak kala merasakan pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya sendiri, orang yang selama ini ia cintai.


Dari jendela, Serina melihat kepergian Bara yang tentu saja pasti itu menemui Arum.


Tak ingin larut dalam kesedihan, Serina pun memutuskan untuk bertindak cepat. Dia mengambil semua berkas-berkas penting yang tersimpan di laci lemari lalu meraih kunci mobilnya yang berada diatas Nakas. Dia ingin pergi ke pengadilan untuk mengurus pengajuan perceraiannya dengan Bara. Karena ia pikir, semakin cepat, semakin lebih baik.


Namun, sebelum pergi ke pengadilan Serina berniat untuk pergi ke rumah orangtuanya terlebih dahulu.

__ADS_1


-


-


-


"Mas, kenapa kamu lama sekali?" Tanya Arum saat Bara datang.


"Maaf Rum, tadi ada sedikit perdebatan dengan Serina." Jawab Bara sambil mendudukkan pantatnya di sofa.


"Kenapa lagi? dia marah lagi?" Tanya Arum lebih lanjut.


"Ya, begitulah!" Bara menghela nafas panjang.


"Kalau begitu, mau aku buatkan kopi?" Tawar Arum.


"Boleh!"


Arum lalu beranjak ke dapur untuk membuatkan Bara kopi.


Tak lama Arum kembali lagi dengan membawa secangkir kopi.


"Minumlah, dulu!" Ujar Arum sambil meletakkannya dihadapan Bara.


"Terimakasih, Rum!"


Arum lalu duduk disamping Bara.


"Rum, Rum, kan sudah ku bilang kalau aku dan dia tidak akan pernah bercerai!" Jawab Bara.


Arum mengernyitkan dahi. "Kalau kamu tidak bercerai, lalu bagaimana dengan aku? apakah kita akan terus menjalani hubungan yang seperti ini?"


"Sabar saja dulu, aku akan mencari jalan keluarnya nanti. Untuk saat ini aku harus memperbaiki hubunganku dulu dengan Serina." Jelas Bara.


"Kamu harus jadi milik ku seutuhnya mas, aku tidak rela jika kamu tidak jadi bercerai dengannya!" Batin Arum.


"Arum, kamu kenapa diam?" Tanya Bara.


"Tidak apa-apa, mas!"


"Apa kamu sudah makan?" Tanya Bara.


Arum menggeleng. "Di dapurmu tidak ada makanan, hanya ada minuman saja!" Kata Arum.


"Kalau begitu sekarang ayo kita pergi makan!" Ajak Bara.


Arum mengangguk, tanda setuju karena perutnya sudah terasa sangat lapar.


-

__ADS_1


Sementara Serina, kini telah tiba dikediaman orangtuanya. Wanita itu masuk ke dalam rumah dan kebetulan kedua orangtuanya sedang makan siang.


"Serina....." Seru Sonia ketika melihat kedatangan Serina yang tiba-tiba.


Serina tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan.


"Tumben kamu kemari, nak!" Ucap Ruslan.


"Iya pah, Serina mampir doang kok sebantar!"


"Sayang, Kebetulan kami sedang makan siang, ayo makan bareng! kamu pasti belum makan siang kan?" Tanya Sonia.


"Belum, mah!"


"Ayo, ayo duduklah!" Titah Ruslan.


Serina menarik kursi lalu duduk. Rasanya sudah lama ia tidak makan bersama dengan kedua orangtuanya.


"Kamu pergi kemana sampai gak pulang semalam?" Tanya Ruslan.


"Loh, kok papah tahu?" Serina merasa heran.


"Ya tahulah, kemarin malam Bara suami kamu datang kemari, katanya sih nyari kamu yang gak pulang-pulang!" Sambung Sonia.


"Heran papah itu, bisa-bisanya sama istri sendiri gak tau pergi kemana!" Ujar Ruslan yang masih menyimpan geram terhadap Bara.


Serina hanya tersenyum menanggapi ucapan mamah dan papahnya.


"Ngomong-ngomong bagaimana Serin, tentang kejadian waktu itu? apa kamu memaafkannya dan lanjut lagi atau....." Ruslan menggantung ucapannya.


Serin menggeleng pelan. "Tidak pah, ini saja Serina nanti mau pergi ke pengadilan untuk pengajuan gugatan cerai." Kata Serina sambil memalsukan senyumnya.


"Hah, jadi maksudnya, kamu memilih untuk bercerai?" Tanya Sonia dengan nada sedikit kaget.


Serina mengangguk. "Iya mah, Serina rasa pengkhianatan itu tidak pantas untuk dimaafkan apa lagi dilanjutkan."


Ruslan tertawa renyah mendengar penuturan anaknya yang seperti itu. Tertawanya Ruslan sontak saja membuat Sonia dan Serina merasa heran.


"Ada apa pah? kok seperti orang gila saja?" Tanya Sonia.


"Bagus mah, Bagus Serina.......Kamu memang layak untuk bercerai darinya. Papah sangat setuju kalau kamu dan dia bercerai. Lebih baik kamu menjadi janda kembang daripada harus lanjut dengan lelaki biadab itu!" Ungkap Ruslan.


"Shut ...pah jangan bicara seperti itu. Biar bagaimana pun dia itu pilihan anak kita dulunya!" Celetuk Sonia.


"Sudah ah....nggak usah dibahas." Serina lalu melirik ke jam yang melingkar ditangannya. "Udah jam segini, Serina harus pergi dulu, pah, mah!" Ucap Serina.


"Biarkan papah mamah nemenin kamu, Serin" Tawar Ruslan.


"Nggak usah, Serina bisa sendiri."

__ADS_1


"Hem....baiklah kalau begitu, semoga prosesnya lancar ya!" Ujar Ruslan.


_________________________________


__ADS_2