
Sore menjelang malam, Arum baru saja pulang ke apartemennya. Baru saja dia turun dari mobil tiba-tiba seseorang menarik lengannya.
Arum yang kaget sontak saja langsung menoleh ke orang yang menarik lengannya, ternyata itu adalah Bayu.
"Bayu....ada apa? lepaskan tanganku!" Pinta Arum.
"Kamu harus ikut aku sekarang juga," Ucap Bayu.
"Tidak, aku tidak mau." Tolak Arum seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Bayu.
"Kita harus bicara, Arum." Ucap Bayu.
"Bicara apa lagi, kita ini sudah tidak ada hubungan apapun. Jadi lepaskan tanganku!"
"Aku masih mencintaimu dan aku pun tahu kalau kamu pasti juga masih mencintaiku." Ujar Bayu.
Tak menjawab, Arum hanya memalingkan pandangannya.
"Jawab Rum, yang kukatakan benarkan?"
"Kamu pergi saja dari sini, bagaimana nanti dilihat orang atau suamiku?"
Bayu menggeleng, "Tidak mau, aku akan tetap disini sampai kamu menjawab pertanyaan ku."
Arum menghela nafas panjang, sebenarnya dia memang masih mencintai Bayu. "Iya memang aku masih mencintai kamu, tapi aku tidak bisa Bayu. Aku sudah jadi istri orang sekarang." Jelas Arum.
"Katakan padaku, kamu menikah dengannya hanya karena harta saja kan?" Tanya Bayu.
Arum sejenak memejamkan matanya lalu mengangguk pelan menandakan apa yang diucapkan Bayu itu memang benar. Arum memang mencintai Bara, tetapi harta lah yang menjadi tujuan utama Arum untuk menikah dengan Bara.
Merasa lega dengan pernyataan Arum, Bayu pun mulai kembali tenang. "Baiklah aku akan pergi, tapi jangan lupa besok temui aku." Ucap Bayu seraya mengusap lembut kepala Arum.
Arum mengangguk tanda mengiyakan. Kemudian Bayu pun berlalu begitu saja dari hadapan Arum. Melihat Bayu yang sudah pergi, Arum langsung saja berjalan ke unitnya.
Malam harinya, Bara baru saja pulang ke apartemen. Wajahnya nampak begitu kusut sehingga membuat Arum yang sedang bersantai langsung menanyainya.
"Mas, kok baru pulang? darimana saja?" Tanya Arum.
"Dari kantor Rum," Jawab Bara datar.
"Tapi kok wajahmu tampak kusut begitu, ada apa?" Tanya Arum lebih lanjut.
"Nggak apa-apa Rum, mas hanya sedikit kecapean aja. Sekarang mas mau membersihkan diri dulu." Kata Bara lalu berlalu begitu saja.
Selang beberapa saat, Bara dan Arum kini sedang makan malam bersama. Terlihat Bara hanya diam saja tak seperti biasanya.
*
*
*
__ADS_1
Keesokan harinya, benar saja Arum menepati janjinya untuk bertemu dengan Bayu. Setelah Bara pergi pamit untuk ke kantor, barulah Arum bersiap-siap untuk pergi.
Di salah satu apartemen yang berbeda, disitulah Arum menemui Bayu. Bayu begitu sumringah melihat kedatangan Arum yang rupanya benar-benar datang.
"Rum, aku sangat merindukanmu." Bayu langsung saja memeluk Arum.
Begitu juga Arum, wanita ini membalas pelukan Bayu. Keduanya saling bertatapan dan langsung saja Arum memagut bibir dower Bayu dengan begitu rakus.
"Rum, setelah sekian lama aku tidak melihat mu, sekarang kamu cantik sekali bahkan tubuhmu sangat seksi. Aku tidak sabar ingin mencicipinya." Ujar Bayu.
"Bayu, apa maksud mu?" Tanya Arum tak mengerti.
Bukannya menjawab, Bayu justru mendorong tubuh Arum ke atas ranjang.
"Bayu, kamu mau ngapain?" Tanya Arum yang panik.
"Kita akan bersenang-senang sayang." Ucap Bayu mesra.
Tanpa banyak bicara, Bayu langsung saja mendekatkan wajahnya ke Arum. Kemudian ia menarik tengkuk leher Arum lalu mencumbu bibirnya.
Arum yang sudah menggebu-gebu pun langsung saja membalas cumbuan dari Bayu.
"Sudah lama aku tidak merasa terong mu," Goda Arum.
Api birah* Bayu pun semakin tak tertahan kan tak kala Arum menggodanya seperti itu. Tanpa banyak cingcong, Bayu langsung saja membuka celananya lalu melepas semua pakaian Arum dan akhirnya terjadilah adengan plus-plus.
Arum begitu sangat menikmati setiap sentuhan dan belaian dari Bayu, begitupun sebaliknya dengan Bayu yang terus menghujam terong miliknya.
Hari beranjak sore namun Arum belum juga bangun dari tidurnya, permainan Bayu tadi sungguh membuat dirinya kelelahan.
"Hampir jam lima sore." Jawab Bayu.
"Apa?!" Arum terkesiap, wanita ini pun buru-buru memakai pakaiannya.
"Kenapa kamu tidak membangunkan ku?" Kesal Arum.
"Aku tidak sampai hati membangunkan mu."
Arum mendengus kesal, ia pun bergegas pergi tanpa berpamitan dengan Bayu. Bayu pun hanya bisa tersenyum misterius.
*
Sementara Bara saat ini baru saja menginjakan kakinya diapartemen. Ia mendapati suasana yang begitu hening dan sepi, entah kemana Arum dia sendiri tak mengerti. Bara terus memanggil nama Arum sambil berkeliling ke beberapa ruangan, tapi sama sekali tak ada jawaban dan Arum pun tak terlihat batang hidungnya.
Ting.....Ting......
Terdengar suara orang membuka pintu, Bara yang mendengar itu pun langsung saja menuju ke arah pintu.
"Eh mas, ternyata kamu sudah pulang." Ucap Arum.
"Kamu darimana saja, Rum?" Tanya Bara menatap tajam Arum.
__ADS_1
"A-aku aku habis dari......." Arum begitu gelagapan untuk mencari alasan.
"Kamu kok nggak bilang aku kalau mau pergi?"
"Maafin aku, Mas. Ta-tapi aku mendadak tadi, makanya aku belum sempet ngabarin kamu. Ayahku jatuh sakit lagi." Jawab Arum berbohong.
Bara menghela nafas panjang. "Hem.....baiklah aku kira kamu kemana lagi."
"Mas, kamu mandi dulu sana. Aku mau masak makan malam dulu buat kamu." Seru Arum mengalihkan suasana yang sempat membuat ia gugup.
"Baiklah, aku mandi dulu." Bara kemudian berlalu begitu saja.
Melihat Bara yang sudah pergi ke kamar, Arum langsung saja menghela nafas lega.
"Huh, untung saja!" Lirih Arum.
Beberapa saat kemudian, Bara dan Arum sudah ada dimeja makan.
"Mas, besok kita pergi yuk!" Ajak Arum disela makannya.
"Pergi kemana, Rum?" Tanya Bara.
"Ya pergi ke mall, kita shoping." Jawab Arum.
Meskipun besok ada meeting penting dikantor, sebagai suaminya yang baik, Bara pun langsung mengangguk mengiyakan ajakan dari istrinya itu. Jadi besok dia tidak akan pergi kekantor demi menemani Arum shopping.
Arum begitu senang karena suaminya langsung menuruti kemauannya.
*
Malam berlalu, keesokan harinya Bara dan Arum pergi ke mall untuk shopping. Arum terus saja tunjuk sana sini membeli beberapa barang mewah yang harganya lumayan menguras kantong. Tapi bagi Bara tak masalah, jika Arum senang dia pun juga ikut senang.
Sementara Hari ini, Serina menghentikan mobil mewahnya tepat di depan gedung kantor berlantai enam puluh milik keluarganya. Kantor yang selama ini dijalankan oleh Bara.
Kesan ceria tak lagi nampak di wajah Serina, hanya ketegasan dan keberanian yang terlihat. Ia segera turun dari mobilnya lalu langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Serina menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disitu, karena mereka selama ini tahu kalau Serina sangat jarang sekali datang ke kantor ini. Terlebih bisik-bisik mulai terdengar karena yang mereka tahu juga hubungan Serina dengan Bara kini sudah bercerai.
Pak Seno yang selaku manager dikantor itu pun terlihat sedikit kaget dengan kedatangan Serina yang tiba-tiba. Dia lalu menghampiri Serina.
"Bu Serin, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pak Seno.
Serina melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya lalu menatap pak Seno dengan seksama.
"Ikuti saya!" Ucap Serina melanjutkan langkahnya. Pak Seno pun lalu mengiring dibelakangnya.
Sampai di ruangan direktur, Serina mendudukkan pantatnya di kursi kebesaran lalu menyilangkan kakinya sambil menatap ke sekeliling ruangan yang terlihat begitu bersih dan rapi. Rasanya sudah lama sekali dia tidak kesini.
"Maaf Bu, pak Bara hari ini tidak pergi kekantor." Ucap Pak Seno.
"Aku kesini bukan untuk bertemu dengannya." Kata Serina.
"La-lu?" Tanya Pak Seno.
__ADS_1
"Kirim saya laporan keuangan sampai dua tahun kebelakang." Titahnya pada pak Seno.
Kedua mata pak Seno membulat mendengar perintah itu.