Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
81.Pulang


__ADS_3

Pram dan Serina kemudian pulang, sepanjang perjalanan Serina hanya diam saja tak bicara.


Huek.. Huekk...


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Pram tampak khawatir. Pria ini lalu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Serina kemudian keluar lalu muntah-muntah di pinggir jalan. Pram memijat tenguk istrinya kemudian memberikannya minum.


"Sayang, kamu sudah baikan?" tanya Pram yang masih khawatir.


"Hem, aku baik-baik saja tapi sedikit pusing." jawab Serina.


"Kita ke rumah sakit sekarang, ya?"


"Tidak usah, mas." tolak Serina. "Ini hanya mabuk perjalanan kok,"


"Tapi tidak seperti biasanya kamu mabuk perjalanan seperti ini,"


"Iya juga ya, mas!" ucap Serina merasa heran pada dirinya sendiri.


"Ya sudah, kita lanjut pulang ke rumah saja. Sepertinya kamu perlu istirahat!"


Pram dan Serina kembali masuk ke mobil, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah, Pram langsung mengajak Serina pergi ke kamar lalu membantu istrinya merebahkan diri di kasur.


"Kalau masih pusing sama mual, dibawa tidur aja sayang." Kata Pram.


Serina menurut, wanita ini memejamkan matanya untuk sekedar menghilangkan rasa pusing dan mual. Pram pun sama, pria ikutan merebahkan diri di samping istrinya. Tiba-tiba saja Serina memeluk suaminya dengan mata terpejam.


"Aku ingin seperti ini. Jangan bergerak!"


Pram diam tidak menjawab, pria ini malah mengusap lembut tangan istrinya hingga keduanya sama-sama terlelap tidur.


Sementara Bara, pria ini pergi ke perusahaan Serina dengan maksud mengikuti Serina pulang agar dia tahu di mana Serina tinggal sekarang. Dengan sabar Bara menunggu mantan istrinya namun batang hidung wanita itu tak kunjung kelihatan.


Argh....


"Sial...!!" umpat Bara.


Merasa lelah, akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan kembali esok harinya.


Keesokan harinya benar saja, Bara pria ini memutuskan untuk pergi, bukan ke perusahaan Serina melainkan ke perusahaan Pram. Dia ingin berbicara empat mata dengan Pram.


Kembali pada Pram, pria ini kedatangan tamu yang tak lain adalah Bara. Duduk saling berhadapan. Memandang dengan sinis bahkan Bara sangat menunjukkan dengan jelas jika dirinya sangat tidak menyukai Pram.


"Kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi. Lantas, apalagi yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Pram yang sebenarnya sudah muak.


"Aku ingin kau segera menceraikan Serina." pinta Bara seketika membuat Pram tertawa.


"Sepertinya kau sudah gila, sebaiknya kau pergi ke rumah sakit jiwa jangan ke perusahaan ku. Kau tiba-tiba datang ke sini hanya untuk menyuruh ku menceraikan Serina?"

__ADS_1


"Kau tidak pantas menjadi suami Serina! Hanya aku yang pantas menjadi suaminya. Seharusnya kau sadar diri."


Pram menghela nafas kasar, pria ini merasa geli dengan ucapan Pram.


"Seharusnya kau yang sadar diri. Kalau kau merasa hanya kau yang pantas menjadi suami Serina, kenapa dulu kau selingkuh dan menikah dengan pembantu mu sendiri?" ucap Pram tersenyum sinis menatap Bara.


Bara diam, pria ini berhasil dibuat bungkam oleh suami mantan istrinya.


"Aku tidak mengerti kenapa kau terus mengejar Serina? Kau yang menyakitinya tapi kau sendiri yang berusaha menyembuhkan lukanya." kesal Pram yang masih mencoba menahan emosinya.


"Pergi dan jangan berharap aku menceraikan istriku karena sampai kapanpun aku aku tidak akan pernah menceraikannya!" Tegas Pram.


Bara masih diam, ada rasa nyeri yang menjalar di hatinya saat Pram mengatakan kata istri.


"Apa telingamu masih berfungsi? Apa kau tidak mengerti bahasa manusia, hah?!" sentak Pram geram.


Bara beranjak dari duduknya, tatapannya tajam tertuju pada Pram, "Lihat saja, aku akan memisahkan kau dan Serina!" Ancam Bara.


"Terserah kau, aku tak peduli. Pergi..!!" usir Pram sekali lagi.


Dengan senyum sinis nya, Bara beranjak dari duduknya dan pergi dari sana. Begitu pula dengan Pram, pria ini merasa kesal sekarang. Ia pun memutuskan untuk pulang karena memang tidak ada pekerjaan yang terlalu serius. Tanpa Pram ketahui ternyata Bara mengikutinya.


Sesampainya di rumah Pram langsung menceritakan kejadian yang ia alami saat di kantor.


Serina yang mendengar cerita suaminya pun ikut merasa geram pada sikap mantan suaminya yang sudah sangat keterlaluan.


"Sebaiknya kita apakan dia?" tanya Pram.


"Iya sayang. Mas mau mandi dulu, gerah!" ucap Pram dan diiyakan langsung oleh Serina.


Malam harinya, seperti biasa Pram yang akan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Setelah selesai, ia pergi ke ruang tamu di mana istrinya berada.


"Sayang, makan malamnya sudah siap. Ayo kita makan!"


"Nanti saja makannya," ucap Serina. "


"Kamu sakit?"


Pram mendadak khawatir.


"Entahlah, sejak kemarin kepala ku rasanya pusing dan perut rasanya mual," ujar Serina.


"Sini mas pijatin,"


Pram memangku kepala istrinya kemudian memijat nya pelan. Serina merasa senang karena suaminya sangat peduli padanya.


"Sudah mendingan?" tanya Pram.


"Kepala ku pusing sekali," keluh Serina.

__ADS_1


"Kita pergi ke rumah sakit sekarang!"


"Nggak usah lah, mas. Ini cuma pusing biasa." tolak Serina.


"Ya sudah, tiduran lagi ya biar kepalanya gak pusing lagi." ujar Arkan.


"Iya tapi aku pengennya di kamar," sahut Serina.


"Iya, ayo ke kamar!"


Malam berganti tugas, Pagi ini Pram bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Pria ini sedang menyiapkan sarapan untuk istrinya karena sejak tadi malam Serina belum makan. Dengan perasaan malas serina duduk di meja makan sambil memandangi suaminya yang tengah sibuk menyiapkan makanan.


"Sayang, ayo makan dulu."


"Hem, aku sedang malas makan."


"Ya sudah, biar mas yang suapin kamu." ujar Pram diiyakan oleh Serina.


Baru beberapa suapan, ponsel milik Pram berdering tanda panggilan masuk, setelah mendapatkan telepon, Pram bergegas pergi tak lupa ia memberi tahu istrinya.


"Sayang, aku harus pergi. Di kantor sedang ada masalah." ujar Pram.


"Iya sayang. Pergilah!"


"Aku akan segera kembali." Ucap Pram lalu mengecup kening istrinya sebelum pergi.


Pagi menjelang sore, Serina yang sudah merasa baikan pun memutuskan untuk pergi ke luar rumah untuk sekedar mencari angin.


Saat Serina keluar ia merasa terkejut saat seseorang menahan langkahnya. Untuk beberapa saat keduanya saling tatap.


"Kau.. kau tau darimana aku tinggal di sini?" tanya Serina menatap tajam ke arah Bara.


"Aku tahu itu darimana sekarang tidak penting," ucap Bara dengan angkuhnya. "Serina, bisa kita bicara sebentar?"


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Kau dan aku sudah selesai!" Tolak Serina mentah-mentah.


Bara menghela nafas pelan , pria ini hendak meraih tangan Serina tapi dengan cepat ia menarik tangannya.


"Jangan seenaknya menyentuh wanita yang sudah bersuami!"


"Serina, kau sudah berubah. Pasti laki-laki itu yang mempengaruhi mu untuk membenci ku."


Serina semakin tertawa.


"Lantas apa hubungannya dengan mu? Ini hidupku dan kita sudah bercerai. Jadi, tolong jangan ganggu kehidupan ku lagi dan aku mohon jangan pernah kau injakan kakimu itu di sini!"


Bara menarik tangan Serina secara paksa, pria ini mengajak Serina untuk masuk ke dalam mobilnya. Karena Serina terus melawan dengan terpaksa Bara memukul tenguk Serina dan akhirnya wanita ini pingsan. Bara membaringkan tubuh Serina di kursi belakang kemudian ia bergegas masuk ke dalam dan melajukan mobilnya.


**Promo Novel diakun baru◉⁠‿⁠◉

__ADS_1


Silahkan segera mampir(⁠θ⁠‿⁠θ⁠**)



__ADS_2