Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
73. Sadar


__ADS_3

Dua hari kemudian, Arum baru membuka matanya, wanita ini tersenyum-senyum seperti orang gila saat mengetahui Bara sedang tertidur di sofa.


"Aku tahu kamu akan mengkhawatirkan aku mas." Ucap Arum yang belum sadar kakinya sudah hilang satu.


Arum hendak bangun dari tidurnya ingin menghampiri Bara, tapi saat ia membuka selimut, alangkah terkejutnya ia saat mengetahui kaki kanannya tidak ada dan yang terlihat hanya perban saja.


"Apa ini? Kenapa kakiku tidak ada?" Arum bertanya-tanya.


Arum menangis meraung-raung saat ia mengetahui kaki kanannya diamputasi. Mulut kotornya begitu jahat melontarkan sumpah serapahnya kepada Bara sebab karena pria itu ia kecelakaan dan harus kehilangan satu kakinya.


Bara yang sedang tidur terkejut sebab mendengar tangisan Arum yang sangat kencang bahkan pria ini memijit kepalanya yang terasa nyeri mendengar sumpah serapah Arum yang menyumpahi dirinya.


"Biadap kamu Bara!" Umpat Arum. "Lihat! Gara-gara kamu, aku sekarang jadi buntung!" Tangis Arum semakin pecah.


Bara justru menertawakan Arum karna ia pikir ini bukan salahnya. Arum sendiri lah yang melarikan diri hingga tertabrak.


"Andai kamu tidak lari dari ku malam itu, mungkin kakimu sampai saat ini masih utuh. Arum, seharusnya kamu nikmati saja tamparan yang aku berikan padamu." Ejek Bara semakin membuat Arum geram.


Dokter dan perawat yang menyaksikan adegan itu hanya bisa melihat dan mendengarkan saja.


Tangis dan sumpah serapah Arum berhenti saat dua orang polisi masuk ke dalam ruangannya.


"Apakah anda yang bernama Arum?" Tanya salah seorang polisi.


"Iya, saya Arum. Ada apa ya pak?" Tanya Arum yang penasaran.


"Kami mendapatkan laporan bahwa anda telah menusuk saudari Serina." Ujar salah seorang polisi seketika membuat Arum terdiam.


"Ma-maksud bapak apa? Saya tidak menusuk siapapun..!"


"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi." Ucap polisi itu sambil memborgol tangan Arum.


"Mas, tolong aku mas...!" Ucap Arum pada Bara.


"Sudahlah, Rum. Nikmati saja rumah barumu!" Ujar Bara dengan senyum mengejeknya.


"Jahat kamu mas..!" Jerit Arum.


Dengan keadaan terpincang-pincang, Polisi membawa Arum. Wanita terus menjerit bahkan sumpah serapah terus keluar dari mulutnya tanpa memperdulikan tatapan aneh orang-orang pada dirinya.


Mayang yang baru sampai di ruangan Arum pun merasa heran karena di ruangan itu hanya Ada Bara yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Bara, di mana Arum?" Tanya Mayang.


"Loh, mamah belum tahu kalau Arum ditangkap polisi karena menusuk Serina."

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Sepertinya suami Serina telah melaporkan Arum." Ujar Bara.


"Bara, kamu harus pergi ke kantor polisi!"


"Biarkan saja dia. Wanita biadab itu harus menerima karmanya."


"Bara, biar bagaimanapun dia masih istri kamu."


"Mah, kenapa mamah sekarang peduli sama Arum. Bukankah mamah sangat membencinya?"


"Mamah hanya kasihan padanya. Apa itu salah?"


"Kasihan mamah bilang? Sudahlah mah dia begitu juga karena ulah dia sendiri!" Seru Bara kemudian berlalu pergi.


"Bara kamu mau ke mana?"


"Menjenguk Serina!" Sahut Bara.


Tepat saat didepan pintu ruangan Serina, Bara tak sengaja melihat dari kaca ada Pram yang sedang duduk menunggui Serina.


Bara dapat melihat wajah Pram yang tampak khawatir. Ada rasa cemburu yang menyergap hatinya saat ia melihat Pram terus menggenggam tangan Serina dan menciuminya.


Rasanya ingin marah, tapi lagi-lagi Bara disadarkan bahwa sekarang dia sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan mantan istrinya. Pria ini memutuskan untuk pergi dari sana tanpa menjenguk mantan istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" Tanya Pram.


"Untung saja luka tusuknya tidak terlalu dalam dan hanya mengenai lapisan kulit. Jadi, hanya menunggu lukanya kering saja pasien sudah bisa pulang, mungkin dua hari lagi." Ucap dokter menjelaskan keadaan Pram.


Pram bernafas lega sekarang karena istrinya baik-baik saja. Pria ini masih setia menjaga istrinya yang belum sadarkan diri. Sampai malam larut, barulah Serina membuka matanya.


"Sayang... Kamu sudah sadar." Ucap Pram yang merasa lega sekarang.


"Mas..."Lirih Serina sambil menggenggam erat tangan suaminya.


"Kamu jangan khawatir sayang, mas di sini akan menjaga kamu." Ujar Pram. "Maafkan mas, semua ini gara-gara mas yang meninggalkan kamu sendirian."Ucap Pram sampai mengeluarkan air mata.


Pram merasa bersalah, pria ini benar-benar menyesal.


"Mas, jangan seperti ini. Mas nggak bersalah tapi merekalah yang bersalah."Ucap Serina dengan nada pelan.


Serina mengusap wajah suaminya, hatinya menghangat mendapat perlakuan tulus seperti ini.


"Sekali lagi maafkan mas, sayang." Ucap Pram sambil menciumi tangan Serina.

__ADS_1


"Sudah jangan menangis lagi."


"Mas hanya takut kehilangan kamu. Mas sudah berjanji tidak akan membiarkan kamu pergi untuk yang kedua kalinya."


Serina menanggapi dengan tersenyum, dipandangnya wajah pria ini, sungguh hati Serina merasa sangat tersentuh merasakan cinta dari suaminya.


"Mas..." Panggil Serina.


"Iya sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Pram.


"Emm.. Bagaimana dengan Arum?"


"Oh, kamu tenang saja. Mas sudah memberi dia perhitungan." Jawab Pram.


"Maksud mas apa?" tanya Serina tak paham.


"Mas sudah menjebloskan biar kerok itu ke dalam penjara." Jawab Pram membuat Serina sedikit kaget.


"Mas, apa tidak berlebihan memasukan Arum ke penjara?"


"Tidak sayang, wanita itu harus diberi pelajaran karena ini sudah menyangkut nyawa seseorang. Nyawa dari wanita yang sangat aku cintai. Untung kamu masih bisa selamat, kalau tidak aku akan membunuh wanita itu pakai tanganku sendiri." Jelas Pram dengan tegas.


Serina tersenyum, lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu sungguh begitu sangat mencintai dan menyayanginya.


"Oh ya mas, kapan aku boleh pulang? Aku sudah gak betah disini." Ujar Serina.


"Kata Dokter tunggu luka mu kering dulu sayang, mungkin dua hari lagi baru boleh pulang."


"Kelamaan mas, Aku udah gak betah. Lagian aku udah baik-baik saja kok." Kata Serina.


"Hem....yasudah sayang, besok mas coba izin ke Dokter biar kamu bisa pulang lebih dulu dan dirawat jalan dirumah saja."


Serina mengangguk tanda mengerti.


Dan keesokan harinya, Pram sudah mendapat izin oleh pihak rumah sakit jika sang istri boleh pulang ke rumah atau rawat jalan dirumah saja.


Setelah mengurus administrasi, Pram langsung saja memboyong istrinya untuk pulang ke hunian baru yang telah disediakan sebelum menikah.


"Sayang, apa kamu suka dengan rumah ini?" Tanya Pram pada Serina saat mereka baru saja masuk ke dalam rumah.


Serina mengangguk dengan wajah sumringah. "Tentu saja, Mas. Aku sangat suka dengan rumah ini." Ucap Serina.


"Disinilah tempat kita membina rumah tangga, sayang. Aku berjanji, aku akan membuat kamu begitu bahagia menikah dan hidup bersamaku" Kata Pram dengan percaya diri.


"Terimakasih, Mas. Rasanya aku beruntung sekali menikah denganmu."

__ADS_1


"Kalau gitu aku akan mengantar kamu ke kamar sayang, kamu harus banyak-banyak istirahat pokoknya. Agar kamu cepat membaik sepenuhnya." Ujar Pram lalu mendorong kursi roda Serina


__ADS_2