Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
29. Mabuk


__ADS_3

Serina mengunci rapat pintu kamar, ia lalu meletakan surat cerai tersebut ke atas meja.


Ada sedikit rasa nyeri yang menyergap hatinya tapi ia juga merasa lega, sebab pada akhirnya ia melepaskan nya dengan rela.


"Bara, hari ini hari terakhir aku mencintaimu." Gumam Serina.


Kemudian wanita itu melangkah menuju ke arah balkon kamar. Dengan kedua tangan terlipat di dada, Serina menghela nafas lega. Tak ada setetes air mata pun yang keluar, karena air mata itu sudah habis sejak kemarin.


Serina sendiri tak mengerti dengan perasaannya saat ini. Antara sedih atau bahagia. Sedih karena perpisahan dan bahagia karena ia bisa menyelamatkan hatinya.


Sementara Bara, dia masih duduk terpaku diruang makan. Dia sungguh tidak menyangka jika akhir dari semua ini adalah perpisahan yang begitu menyakitkan. Kini didalam diri Bara hanyalah tinggal penyesalan saja. Menyesal karena telah mengkhianati wanita yang begitu ia cintai. Bara mengacak rambutnya, dia merutuki dirinya yang sekarang tidak bisa berbuat apa-apa.


Bara bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke kamar. Dia ingin menyusul Serina dan membujuknya. Akan tetapi saat Bara hendak memutar knop pintu, ponselnya tiba-tiba saja berdering. Bara merogoh saku celananya, lalu melihat siapa yang menelpon. Ternyata itu adalah Arum.


Bara tak menghiraukan panggilan dari Arum, ia malah mematikan ponselnya dan kembali memasukannya ke dalam saku.


Bara termenung sejenak, ia berpikir mungkin saat ini Serina butuh waktu untuk sendirian. Jadi Bara mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, dan dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi.


Bara menyalakan mobilnya, dan dengan berat hati ia pun pergi.


Serina menatap datar mobil Bara yang baru saja berlalu pergi dari halaman rumah. Serina sudah tahu pasti Bara akan pergi ke apartemen.


Bara melajukan mobilnya tanpa arah. Ia tampak kesal dan sesekali memukul setir mobilnya.


"Argh.......!"


Bara kembali merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Ia berniat untuk menghubungi sahabat karibnya yang bernama Damar. Yah, Damar kebetulan baru saja pulang dari luar negeri.


"Baiklah, kita ketemuan disana!" Ujar Bara.


Selang beberapa saat, Bara telah sampai disalah satu Bar yang terletak dipusat kota. Dia turun dari mobil dan langsung bergegas masuk menemui Damar yang sedari tadi sudah menunggunya.


"Hei....Bro!" Damar menyambut hangat kedatangan Bara.


Bara tersenyum lalu duduk disebelah Damar.


"Beri aku satu botol bir!" Pinta Bara pada pelayan.


"Tumben sekali, ada apa? ada masalah ya?" Tanya Damar.


"Ya begitulah, aku benar-bena pusing sekarang!" Jawab Bara.


"Ada apa? cerita lah, aku penasaran!"


"Aku dan Serina bercerai!" Ucap Bara lalu meneguk minuman haram.


Damar terkejut, mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Sepengetahuan Damar, Bara dan Serina selama ini baik-baik saja, tapi kenapa sekarang malah bercerai?

__ADS_1


"Serius? kenapa bisa? padahal ka-kalian------"


Bara menghembuskan nafas berat. Dia pun mulai menceritakan dari awal sampai akhir mengapa dia bisa bercerai dari Serina.


Damar yang mendengar cerita dari Bara pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"Kamu bodoh, Bara!" Ucap Damar.


"Bisa-bisanya kamu mengkhianati Wanita seperti Serina!" Damar tak habis pikir.


"Aku khilaf, Mar!"


"Sayang sekali, padahal Serina wanita cantik,cerdas dan juga wanita karier. Aku rasa tidak ada yang kurang darinya. Tapi kenapa kamu malah berselingkuh dengan pembantu sendiri!" Jelas Damar.


"Diantara banyak wanita, ternyata levelmu serendah itu!" Timpal Damar.


"Ah sudahlah, aku ingin menenangkan diriku malam ini!" Kata Bara. Ia pun terus saja meneguk minuman.


Sudah hampir dua jam Bara ada di Bar tersebut. Sampai-sampai ia sudah menghabiskan lima botol minuman beralkohol.


Kepalanya pun sudah terasa sangat pusing dan hampir tak sadarkan diri.


"Pelayan, berikan aku satu botol lagi!" Pinta Bara.


"Jangan! Bara sudah, kamu sudah minum banyak dari tadi!" Kata Damar menghentikannya.


"Mari ku antar pulang, bahaya jika kamu menyetir sendiri!" Kata Damar.


Tanpa menunggu jawaban dari Bara, Damar langsung saja membopong tubuh sahabatnya itu keluar dari Bar.


"Aku akan mengantarmu ke rumahmu!" Seru Damar yang sedang menyetir.


"Ti-tidak, jangan ke rumah!"


"Hah, lalu kemana?"


"Antar saja aku ke apartemen xxx, unit 21!" Ujar Bara.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai telah tiba di apartemen. Damar lagi-lagi harus membopong tubuh Bara yang lumayan berat.


Damar masuk ke dalam lif dan kebetulan ada seorang pria yang juga ikut masuk. Pria tersebut tak lain adalah Pram. Yah, ternyata Pram satu Apartemen dengan Bara.


Pram tercengang saat melihat Bara yang acak-acakan dan tak sadarkan diri.


"Bara....sedang apa dia disini? dan apa yang terjadi padanya?" Tanya Pram dalam hati.


"Ah.....berat sekali tubuhnya!" Gerutu Damar.

__ADS_1


"Maaf, apa yang terjadi padanya?" Tanya Pram.


"Dia minum sangat banyak, makanya jadi seperti ini!" Jawab Damar.


"Lalu kamu mau mengantarnya kemana?" Tanya Pram lebih lanjut. Ia begitu penasaran.


"Entahlah, tapi dia tadi minta antarkan ke unit 21."


"Hah, unit 21? itukan dekat unit ku?"


"Owh....em...biar aku saja yang mengantarkannya." Tawar Pram, seketika membuat Damar bingung.


"Eh....maksudku aku ini adalah tetangganya, jadi biarkan aku saja yang mengantarkannya ke unitnya!" Jelas Pram.


"Baguslah, lagipula aku harus segera pergi. Soalnya aku tadi meninggalkan mobilku di Bar!" Kata Damar.


Akhirnya Damar pun pergi, dan kini Pram lah yang membopong tubuh Bara untuk mengantarkannya.


"Aku penasaran, kenapa dia malah ke apartemen?" Batin Pram.


Sampai didepan pintu, Pram langsung saja memencet bel berulang kali.


Tak lama pintu pun terbuka dan keluarlah seorang wanita muda yang mengenakan pakaian minim.


"Mas Bara......" Ucap Arum tersenyum. Tapi senyumnya seketika memudar saat melihat Bara yang tak sadarkan diri. Terlebih lagi saat dia melihat pria asing sedang membopong tubuh Bara.


"Hah, siapa wanita ini?" Tanya Pram dalam hati.


"Mas Bara.....a-ayo masuklah!" Titah Arum dengan wajah cemas. Pram pun lalu melangkah masuk dan kemudian membaringkan tubuh Bara di sofa.


"Apa yang terjadi dan siapa kamu?" Tanya Arum.


"Ah, ceritanya panjang. Aku hanya mengantarkannya saja karena ia dalam kondisi seperti ini!" Jawab Pram.


"Sepertinya dia habis minum!" Lirih Arum.


"Benar, dia minum terlalu banyak, makanya sampai seperti ini."


"Astaga, mas Bara....."


Pram sejenak diam, sambil memperhatikan wanita yang tak ia kenal ini. Kenapa begitu dekat sekali dengan Bara?


"Terimakasih ya, karena kamu sudah mau mengantarkannya!" Ucap Arum tersenyum gatal pada Pram.


"Baiklah, sama-sama!" Ujar Pram.


"Siapa dia, kenapa dia tampan sekali? lebih tampan daripada mas Bara!" Batin Arum.

__ADS_1


__ADS_2