
Serina kembali tertawa lalu menatap Bara dengan tajam.
"Terlalu percaya diri itu tidak baik. Untuk apa aku terluka?" Tanya Serina.
Bara tersenyum miring. "Aku sudah mengenalmu selama sepuluh tahun lebih, Serina. Jadi aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini." Celetuk Bara.
"Jangan berlagak tahu semua tentangku. Karena aku yang paling tahu mengenai perasaanku, dirimu." Tutur Serina.
Bara seketika dibuat diam oleh penuturan Serina.
"Bagiku sepuluh tahun yang lalu sudah menjadi masa lalu yang tidak perlu aku ingat kembali. Kamu sudah menancapkan duri di hatiku." Kata Serina.
Bara menghela nafas panjang. "Bertemu denganmu adalah hal paling beruntung yang terjadi padaku. Aku ingin mempertahankan mu. Tapi kamu malah memilih untuk berpisah denganku. Padahal aku, kamu dan dia bisa hidup seatap bersama." Ucap Bara tak berperasaan.
"Apa maksudmu itu?" Tanya Serina.
"Awalnya aku berniat untuk memadu mu, tapi kamu malah lebih kekeh dengan keputusanmu. Aku bisa apa?"
Serina tersenyum sambil menggeleng pelan. "Tidak ada perempuan manapun yang ingin di madu dan berbagi ranjang dengan perempuan lain. Sungguh untuk mendengarnya saja aku merasa geli!" Ujar Serina.
Lagi, Bara dibuat terdiam menahan rasa malu.
"Baiklah, kamu sudah mengundangku. Aku pasti akan datang untuk mengucapkan selamat pada kalian!" Seru Serina mengambil undangan tersebut lalu bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan Bara yang mematung.
_
Malam harinya, Serina duduk termenung di ruang makan. Makanan yang tersaji dihadapannya, sama sekali tak di sentuh. Entah kenapa dia tiba-tiba tak berselera.
Ting.......
Serina melirik ponselnya sekilas melihat siapa yang mengirimkan pesan, karena penasaran Serina membuka pesan tersebut yang ternyata dari Pram.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Pram.
"Ya, tentu saja aku baik-baik saja." Balas Serina.
"Pram, boleh aku minta tolong padamu?"
"Tentu saja. Kamu minta tolong apa?" Tanya Pram antusias.
"Aku di undang mantan suamiku untuk menghadiri pernikahan mereka. Kita berdua sama-sama di undang, bagaimana jika kamu menjadi pasangan ku untuk menghadiri acara pernikahan Mantan suamiku?" Tawar Serina.
"Tentu saja, kamu tidak usah khawatir." Pram menerima tawaran Serina dengan senang hati.
"Baiklah kalau begitu,." Ujar Serina dalam pesannya.
__ADS_1
"Tidurlah.Kamu akan merasa lebih baik saat bangun nanti." Balas Pram.
Tak membalas, Serina hanya tersenyum simpul membaca pesan dari Pram.
-
Keesokan harinya, Serina tidak pergi ke kantor melainkan ia akan pergi ke mall untuk membeli sebuah dress yang akan ia kenakan nanti di acara pernikahan mantan suaminya. Di salah satu outlet, Serina tampak memilih-milih dress hingga pada akhirnya wanita ini menjatuhkan pilihannya kepada sebuah dress berwana navy. Dan tak lupa juga Serina membeli sepasang heels dengan warna senada.
Tak langsung pulang, Serina memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke sebuah toko perhiasan. Dia bertekad untuk tampil cantik saat di acara pernikahan mantan suaminya.
Tidak tanggung-tanggung, Serina pun langsung membeli satu set perhiasan yang keluaran terbaru. Pembayaran yang harganya cukup menguras kantong namun bagi Serina tidak masalah.
Saat Serina hendak melangkah pulang, tiba-tiba saja terdengar suara berat yang tak asing memanggil namanya. Sontak saja Serina langsung menoleh ke arah sumber suara itu yang ternyata adalah Pram.
"Pram.....kamu disini juga?" Tanya Serina.
Pram tersenyum. "Iya Serina, kebetulan sekali kita bertemu disini."
"Sedang apa kamu disini?" Serina melirik ke arah paper bag yang ditenteng oleh Pram.
"Ah....iya Serina, em.....aku kesini tadi untuk membeli pakaian yang akan ku pakai saat acara pernikahan nanti." Ujar Pram. "Kalau kamu sendiri?"
"Sama dong kalau begitu, aku kesini untuk membeli pakaian juga." Kata Serina.
"Oh begitu. Kamu sudah makan siang?"
"Kalau begitu sekalian saja kita makan siang bersama. Bagaimana?" Ajak Pram.
"Dengan senang hati, kebetulan aku juga sudah sangat lapar sekarang!" Kata Serina.
Keduanya pun lalu melangkah pergi menuju ke salah satu restoran terdekat. Setibanya direstoran, Pram langsung saja mempersilahkan Serina untuk duduk.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Pram sambil memberikan buku menu.
"Nasi goreng seafood dan lemon tea saja, Pram!" Jawab Serina.
"Baiklah!"
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan pun datang, keduanya pun langsung menikmati makanannya masing-masing sambil mengobrol santai.
"Kenapa kamu tidak mengabari ku?" Tanya Pram.
"Tentang apa?" Serina keheranan.
"Kalau aku tahu kamu akan pergi belanja hari ini, maka aku pasti akan menjemputmu dan kita pergi bersama!" Ucap Pram.
__ADS_1
Tak menjawab, Serina malah asik menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Besok aku akan menjemput kamu, Serina." Ucap Pram.
"Tidak usah, Pram. Aku bisa di antar supir ku." Tolak Serina.
"Jangan gitu dong! Kan kamu sebagai pasangan ku jadi biarkan aku menjemput mu." Tukas Pram.
"Kamu benar juga Pram! Kan kamu jadi pasanganku nanti!"
"Tapi aku sedikit takut, Pram." Timpal Serina.
"Takut kenapa?" Tanya Pram menghentikan aktivitas makannya.
"Aku takut jika orang lain memandang ku salah paham jika datang bersama pria lain. Aku juga takut mereka mengira kamu dan aku ada sesuatu."
"Ngapain takut, memangnya kamu tidak mau jika ada sesuatu sama aku?" Goda Pram.
"Kamu bisa saja," Serina tersenyum miring.
"Berdandanlah yang cantik, aku yakin mantan suamimu itu pasti akan menyesal karena telah menduakan kamu dengan wanita lain." Kata Pram.
"Aku heran sama laki-laki, di kasih wanita yang cantik dan bisa cari uang sendiri malah di sia-siakan. Apa semua laki-laki seperti itu?" Tanya Serina.
"Tidak semua laki-laki seperti itu, tapi yang seperti itu jelas laki-laki." Ucap Pram setengah bergurau.
"Termasuk kamu juga." Serina tersenyum sinis ke arah Pram.
"Oh tentu tidak, aku pria mahal. Pria mahal tidak akan melakukan perbuatan murahan seperti itu." Pram membela diri.
Serina memutar bola matanya malas kemudian ia kembali menikmati makan siangnya.
"Loh, itu bukannya Serina, ya?" Ujar seorang wanita.
"Serina!" Panggil seseorang dari arah belakang, Serina pun menoleh ke arah sumber suara yang ternyata adalah mantan ibu mertuanya.
"Mamah," Ucap Serina sedikit kaget.
"Wah, hebat ya kamu. Belum ada satu bulan bercerai dari anakku ternyata kamu sudah dapat pria lain." Tuduh Mayang.
"Ibu Mayang yang terhormat, seharusnya kata-kata itu saya tujukan kepada anak anda. Baru bercerai dua Minggu kok udah nikah lagi, sama selingkuhan nya pula." Cibir Serina.
Wajah Mayang memerah saat mendengar ucapan Serina.
"Loh, wajar dong kalau Bara memilih wanita lain, lagi pula kan kamu tidak bisa memberikan dia keturunan." Cemooh Mayang tak mau kalah.
__ADS_1
"Kamu itu ya, sudah mandul tidak sopan pula sama orang tua!" Hardik Mayang.