
Kini Arum telah bersiap-siap, ia hendak pergi seorang diri. Saat berjalan menyusuri koridor, tanpa sengaja Arum berpapasan dengan Pram. Wanita itu langsung saja menghentikan langkahnya dan menunjukan senyumnya pada Pram. Begitu juga sebaliknya dengan Pram, langkahnya pun terhenti saat melihat Arum.
"Ka-kamu?" Tegur Arum.
Pram hanya tersenyum tipis.
"Ah, kemarin aku belum sempat berkenalan denganmu, ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya Arum.
"Aku Pram." Jawabnya singkat.
"Oh jadi namamu, Pram. Nama yang bagus!" Puji Arum. "Kenalin namaku, Arum." Arum mengulurkan tangannya untuk mengajak Pram bersalaman. Pram pun membalas salaman dari Arum.
"Kamu tinggal disini juga?" Tanya Arum lebih lanjut.
"Iya aku tinggal disini."
"Di unit berapa?"
"25,"
"Wau, ternyata kita tetanggaan, boleh dong kalau sesekali aku main ke unit kamu?" Tanya Arum sambil mengangkat satu Alisnya.
Pram tak menggubris, ia justru malah menanyakan hal lain pada Arum.
"Ka-kamu siapanya Bara?" Tanya Pram.
Arum seketika gelagapan.
"A-aku, aku calon istrinya Bara." Jawab Arum berbohong.
"Calon istri?" Pram sungguh dibuat heran dengan jawaban tersebut. Tapi ia baru ingat jika Serina bilang kalau Bara telah mengkhianatinya.
"Ada apa? apa ada yang salah?" Tanya Arum membuyarkan lamunan Pram.
Pram menggeleng dengan cepat. "Tidak, tidak ada yang salah. Kalau begitu aku pergi dulu!" Ucap Pram kemudian berlalu begitu saja.
Arum menatap langkah Pram yang semakin jauh dari pandangannya.
"Senyumnya manis sekali, hampir saja aku diabetes!" Batin Arum.
Ia kemudian melanjutkan langkahnya.
_____
"Bisakah kita bertemu selepas kamu pulang dari kantor?"
Sebuah pesan masuk dari Pram untuk Serina. Serina yang tengah sibuk dari kegiatan kerjanya pun sejenak berhenti.
"Tidak bisa!" Balas Serina.
"Harus bisa, aku akan menjemputmu nanti."
"Apa maumu Pram? sudah ku bilang tidak bisa!" Kesal Serina.
"Hanya ingin mengajakmu makan saja, tidak lebih."
Tak membalas, Serina langsung mematikan ponselnya. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul empat sore, dimana waktunya untuk segera pulang. Serina baru saja keluar dari ruangannya, tiba-tiba Desi memanggil dirinya.
__ADS_1
Desi mengatakan pada Serina bahwa di lobby sudah ada Pram yang menunggu dirinya.
Serina yang mendengar itu pun, langsung saja bergegas menuju ke lobby.
"Dia benar-benar gila!" Omel Serina.
Sesampainya di lobby, ia memang mendapati Pram yang tengah berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Pram....!" Tegur Serina.
Pram berbalik badan dan tersenyum melihat Serina.
"Akhirnya kamu keluar juga!" Ujar Pram.
"Kamu gila, sudah ku bilang aku tidak bisa!"
"Betul, aku memang sudah gila, gila karena mu!" Gurau Pram..
"Ayo pergi!" Pram meraih lengan Serina dengan begitu erat dan membawanya melangkah keluar.
"Pram, lepasin! gak enak kalo dilihat sama orang! biar bagaimana pun aku masih istri orang!" Ujar Serina berontak.
"Aku tak peduli, lagian sebantar lagi kamu akan bercerai kan?"
Serina tak bisa menjawab, ia begitu kesal kepada Pram yang terus saja bersikap seenaknya.
Akhirnya keduanya pun pergi dalam satu mobil yang sama. Entah kemana, Serina tak tahu kemana Pram akan membawa dirinya. Sepanjang perjalanan, wajah Serina terlihat begitu manyun.
Pram dan Serina kini telah sampai direstoran bintang lima. Pram bergegas turun lalu membukakan pintu mobil untuk Serina.
Terlihat jelas dari raut wajah Serina, kalau ia begitu bad mood sekarang.
"Mau bergandengan?" Tawar Pram mengulurkan satu tangannya pada Serina.
Pram hanya tersenyum. Sambil bergeleng kepala ia pun menyusul langkah Serina.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Pram.
Serina menatap buka menu dihadapannya. Ada banyak sekali makanan enak direstoran itu. Tetapi bukan itu yang Serina pikiran.
"Kamu saja yang pesan, aku tidak." Serina menyodorkan buku menu pada Pram.
"Kenapa? disini makanannya enak-enak Lo!" Kata Pram.
"Aku sedang tidak berselera!" Ucap Serina.
"Aku tahu kamu pasti belum makan dari pagi. Jadi makanlah sekarang!" Kata Pram.
Serina mendelik, bahkan ia sendiri pun lupa jika dirinya itu dari pagi belum memakan apapun.
"Tidak usah terlalu dipikirkan, nanti kamu malah jadi sakit." Cibir Pram.
"Apa maksudmu?" Tanya Serina.
"Aku tahu, perasaanmu sekarang sedang tidak baik-baik saja."
"Kamu benar." Serina menundukkan pandangannya.
"Mungkin itu semua tidak mudah bagimu tapi aku yakin kamu bisa melewati semuanya. Serina! Kamu berhak bahagia meskipun tidak bersama laki-laki itu." Ujar Pram menyemangati. "Sudahlah! jangan bersedih lagi." Timpalnya.
__ADS_1
"Aku tidak sedih, hanya saja aku merasa sangat sakit."
Pram meraih tangan Serina lalu menggenggamnya, pria itu menatap lekat-lekat wajah wanita yang duduk tepat di depannya.
"Tak apa, rasa sakit mu akan segera berlalu dan jika itu terjadi, kamu akan menjadi lebih kuat. Kamu boleh bersedih, asalkan tidak berkepanjangan saja." Ucap Pram.
Senyum tipis terbit dari bibir Serina, begitu juga dengan Pram, pria itu ikut tersenyum.
"Bisakah kamu melepaskan tangan ku?" Ujar Serina membuat Pram langsung melepaskan tangannya dari Serina.
"Ma-maaf!" Ucap Pram gugup.
"Sial! Kenapa aku yang gugup seperti ini." Umpat Pram dalam hati.
Pram tertawa kecil sekedar menyamarkan kecanggungan yang terjadi pada dirinya.
"Jadi kamu mau pesan apa?" Tanya Pram lagi.
"Apa saja yang penting ada nasinya." Ujar Serina.
"Hem baiklah!"
Sementara, Bara tampak menghembuskan nafasnya kasar berulang kali, pria itu sesekali memijit pangkal hidungnya untuk menghilangkan rasa pening.
Bara melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Sudah sore, sebaiknya aku pergi ke kantor istriku. Menjemputnya lalu mengajaknya." Ujar Bara tersenyum lebar.
Pria itu pun bergegas meninggalkan ruangannya dengan perasaan bahagia. Kali ini ia akan meyakinkan istrinya kalau dirinya benar-benar tidak ingin berpisah.
Di Lobby, Bara di kejutkan dengan keberadaan Arum yang sudah berdiri seperti menunggu dirinya.
Bara mempercepat langkahnya ke arah Arum.
"Mas...!" Arum melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Arum! Kamu ngapain kesini?" Tanya Bara panik.
"Aku kangen sama kamu, mas makanya aku kesini." Jawab Arum dengan nada manja.
Bara memperhatikan sekitarnya, bisik-bisik mulai terdengar jelas di telinga Bara dan Arum.
"Masih punya malu, ya. Pelakor itu datang kesini." Ucap salah satu karyawan.
"Wah.. wanita itu benar-benar tidak punya muka."
Bara segera menarik tangan Arum dan membawanya ke tempat yang sepi.
"Arum! Kenapa kamu tidak bilang jika ingin kesini, kamu tahu sendiri kan nama baik kita sudah rusak." Geram Bara.
"Mas, aku sudah menelpon mu berkali-kali tapi kamu malah mengabaikan nya jadi aku memutuskan untuk mencari mu kesini."
Bara mengusap wajahnya kasar, ia tidak habis pikir mengapa Arum senekat itu menemui dirinya di kantor.
"Kamu sepertinya kesal, apa kamu malu jika aku datang ke kantor mu, toh apa salah nya, lagipula aku ini calon istri mu, mas."
"Bukan begitu, Arum. Aku masih memiliki istri nanti apa kata orang apalagi karyawan-karyawan ku."
"Bilang saja kalau kamu malu, mas." Ucap Arum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Maaf sudah membuat mu malu." Ucap Arum seraya berlalu tapi Bara menahannya hingga langkah Arum terhenti.
Arum, wanita itu tersenyum puas ketika Bara menahannya. Wanita itu berbalik, memasang wajah sedih.