Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
20. Pelukan


__ADS_3

Pram, pria itu menghentikan mobilnya di sebuah taman yang terletak cukup dekat dengan sebuah pantai.


Pram mengajak Serina untuk duduk di pinggir pantai.


"Pram.. Kenapa kamu membawa ku ketempat seperti ini?" Tanya Serina.


"Kamu sedang dalam masalah, jadi tempat seperti ini sangat cocok untuk mu menenangkan pikiran."


"Apa kamu lupa, dulu waktu kita masih kuliah kita sering kesini." Ucap Pram mengingat masa lalu.


"Tentu saja aku masih ingat." Sahut Serina.


"Minumlah!" Ujar Pram memberikan sebotol air mineral.


"Terimakasih." Ujar Serina lalu menenggak air minum hingga tersisa setengah.


Serina memejamkan matanya, menikmati alunan angin pantai yang menerpa wajah cantiknya dan hal itu tak luput dari pandangan Pram.


Pram menatap indah wajah Serin, apalagi di saat rambut panjang Serina berkibar terkena angin, membuat Pram semakin kagum akan kecantikan wanita di sampingnya. Pria itu tanpa sadar menyunggingkan senyumnya.


"Cantik!" Batin Pram.


Pram, pria itu segera mengalihkan pandangannya menatap hamparan laut di depannya lalu kembali melihat wanita cantik di sampingnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Pram.


Serina membuka matanya lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Ya. Aku baik-baik saja!" Jawab Serina, tapi matanya tak bisa berbohong.


"Apa kamu yakin?" Tanya Pram yang kurang puas dengan jawaban Serina.


"Tidak, aku tidak yakin." Jawab Serina datar.


"Katakanlah! Apa yang ingin kamu katakan, aku siap menjadi pendengar mu bahkan sandaran mu sekalipun." Ucap Pram serius.


"Aku juga ingin mengatakannya. Aku juga ingin mengeluarkannya. Terkadang, aku juga ingin bersandar pada seseorang," Ucap Serina tak terasa air mata menetes.


Serina menghela nafas lelah.


"Apa yang salah denganku Padahal aku hidup dengan baik, apa kekurangan ku?" Ucap Serina dengan suara bergetar.


"Kamu tidak memiliki kekurangan apapun, Serina. Kamu wanita cantik dan baik hati." Ujar Pram.


"Tapi tidak bagi suamiku," Tukas Serina.


Pram mengernyitkan alisnya, ia tak mengerti apa yang di maksud Serina. Belum sempat Pram bertanya kembali, Serina langsung berucap.


"Kenapa dia tega sekali padaku? kenapa? apakah sepuluh tahun bersama tidak ada artinya sama sekali?" Tanya Serina disela tangisnya.


"Serina .....tenanglah, tenanglah!" Pinta Pram sambil mengusap lembut air mata Serina. "Ceritakan lah padaku, apa yang sebenarnya terjadi? apa Bara melakukan kesalahan padamu?" Tanya Pram.

__ADS_1


"Ya, dia melakukan kesalahan yang fatal. Di-dia....dia mengkhianati ku!" Tutur Serina kembali menangis.


"Apa?!" Pram sangat terkejut mendengar pengakuan dari Serina.


"Kurang ajar kamu Bara!" Umpat Pram dalam hati. "Bisa-bisanya kamu mengkhianati Serina, wanita yang telah mencintai kamu dengan tulus tapi malah kamu balas dengan pengkhianatan." Batin Pram.


"Lihat saja Bara, aku akan mengajarkan mu sebuah arti penyesalan karena kamu telah mencampakkan Serina."


Ada rasa sakit yang hinggap di hati Pram kala melihat wanita pujaannya menangis, Pram lalu membawa Serina kedalam pelukannya, membiarkan wanita itu menangis di dalam pelukannya.


Pram membelai lembut rambut Serina memberikan wanita itu kekuatan.


"Menangislah sepuas mu!" Ucap Pram.


Mendengar itu, Serina pun semakin menangis kejer sehingga membuat Pram lebih mengeratkan pelukannya.


Pram tak menyangka di balik wanita yang tangguh dan terlihat ceria ternyata menyimpan luka yang begitu dalam.


"Sudah, tidak apa-apa. Ada aku untukmu!" Kata Pram menenangkan.


Tak menghiraukan, Serina masih saja menangis didalam pelukan Pram. Hingga beberapa saat kemudian, wanita itu sudah berhenti menangis dan langsung melepaskan pelukannya.


"Ma-maafkan aku!" Ucap Serina gugup, sambil mengusap kasar air matanya.


Pram tersenyum lalu berkata, "Apa kamu sudah puas menangisnya?"


"Cih.....aku bodoh, kenapa aku menangis seperti tadi?"


Serina menghembuskan nafas panjang.


"Aku akan mengantarkan mu pulang." Kata Pram.


"Sungguh, saat ini aku sedang tidak ingin melihat bajingan itu!"


"Lalu kamu ingin tidur dimana, ini sudah larut malam."


Serina termenung sejenak, saat ini otaknya tidak bisa di ajak berpikir. Melihat Serina yang seperti itu, Pram langsung saja menawarinya untuk tidur di apartemen nya.


"Ya sudah, kalau kamu bingung, bagaimana kalau sementara kamu tidur di apartemen ku saja?"


Serina mengerutkan dahinya.


"Tenang, aku tidak akan tidur di sana karena aku akan pulang ke rumah."


"Aku akan membiarkan kamu sendiri disana untuk menenangkan pikiran mu." Kata Pram.


Serina mengangguk tanda setuju.


-


-

__ADS_1


-


Di dalam mobil hening, baik Pram maupun Serina hanya diam saja. Sesekali Pram melirik ke arah Serina yang terlihat memejamkan matanya. Ternyata wanita itu tertidur.


Menempuh perjalan yang cukup lama akhirnya mobil Pram sudah sampai di apartemen.


"Kita sudah sampai." Ujar Pram tapi Serina diam saja.


"Hem.. ternyata dia ketiduran."


Pram, pria itu turun dari mobil lalu bergegas membopong tubuh Serina dan membawanya masuk ke dalam apartemen.


Pram, pria itu menggendong Serina menuju kamarnya, setelah sampai, Pram langsung saja membaringkan tubuh Serina dan menyelimutinya.


Pram duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah cantik yang kini tengah tertidur pulas.


Tangannya terulur menyingkirkan anak-anak rambut yang menghalangi wajah Serina.


"Apakah ini kesempatan emas untukku bisa mendapatkan cintamu kembali?" Tanya Pram dalam hati.


-


Sementara Bara, dia masih saja menunggu kepulangan Serina, walaupun malam sudah larut.


Berulang kali pria itu menghubungi Serina, tapi tetap saja tidak ada jawaban sama sekali bahkan nomornya sudah tak aktif.


"Kemana perginya dia? huh......!" Bara menghela nafas berat.


"Apa jangan-jangan dia di rumah orangtuanya? tapi kenapa nomor teleponnya tidak aktif?"


Tiba-tiba ponsel Bara berdering, tanda ada yang menelepon. Bara melihat siapa yang menelpon dirinya, ia kira itu adalah Serina ternyata bukan, itu adalah Arum.


Arum menghubunginya, memberitahu kalau dirinya tidak bisa tidur karena terus saja memikirkan Bara. Arum juga menyuruh Bara untuk segera kembali ke apartemen untuk menemaninya, akan tetapi Bara mengatakan jika dirinya tidak bisa kesana sekarang.


Huft....


Di tengah kekalutannya, akhirnya Bara pun memutuskan untuk pergi kerumah orang tua Serina. Ia pikir Serina berada disana.


Lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai Bara telah tiba di sebuah rumah besar yang mewah.


Bara berulang kali memencet Bel, dan tak lama kemudian keluarlah kedua orangtua Serina.


"Bara....."


"Ada apa kamu malam-malam begini kesini?" Tanya Sonia dengan tatapan heran.


Bara tak segera menjawab, pria itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sonia membalas uluran tangan Bara tapi tidak dengan Ruslan, pria paruh baya itu membuang muka seolah-olah tak menganggap kehadiran Bara, menantunya.


"Maaf pah mah, menggangu waktunya sebentar. Bara kesini hanya ingin mencari Serina!" Tutur Bara.


"Loh.....mencari Serina? Serina tidak ada disini!" Ujar Sonia.

__ADS_1


Bara terdiam. Sementara Ruslan langsung naik pitam mendengar penuturan menantunya yang seperti itu.


__ADS_2