
"Serina......" panggil Bara.
"Ya ada apa?" tanya Serina.
"Apa kamu yakin akan menikah dengan dia?"
"Kenapa tidak yakin? Aku bahkan bahagia saat sedang bersama dia," Ucap Serina menatap Pram dengan senyum bangga.
"Apa sedikitpun kamu tidak ada lagi perasaan untuk ku?"
Serina menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak ada, kamu sekarang hanyalah masa laluku." Ujar Serina.
Bara menghela nafas panjang, pria ini masih benar-benar tidak menyangka jika wanita yang dulu mencintainya kini berbalik tidak ada rasa padanya.
"Oh ya......tunggu sebentar!" Ucap Serina lalu merogoh tasnya.
Bara mengerutkan dahi saat melihat Serina mengeluarkan sebuah surat undangan.
"Aku dan Pram sebelumnya memang berencana untuk mengundang kamu dan ibumu, jadi silahkan datang!" Kata Serina tersenyum lebar sambil memberikan surat undangan tersebut pada Bara.
Bara mengambil surat undangan tersebut, lalu membukanya dan tertera lah nama Serina dan Pram serta tanggal pernikahan mereka yang akan diselenggarakan tiga hari lagi.
"Apa-apaan ini!" Protes Bara tak terima.
"Kenapa?" tanya Pram.
Bara diam, pria itu tak bisa lagi berkata-kata. Sungguh dia merasa tidak rela jika harus melihat Serina menikah lagi. Niat nya untuk rujuk dengan mantan istri pun seketika hilang.
"Sayang, ayo kita pergi!" ajak Serina dan Pram mengangguk.
Akhirnya mereka berdua pun pergi begitu saja dari hadapan Bara yang masih diam mematung.
Bara lalu meremas surat undangan di tangannya. Pria ini merasa putus asa karena harapannya pupus sudah untuk memulai bahtera rumah tangga kembali bersama mantan istrinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku harus bisa membatalkan pernikahan Serina. Aku tidak akan membiarkan dia bahagia dengan lelaki lain selain aku."
__ADS_1
Bara dan mamahnya pun memutuskan untuk pulang, sepanjang perjalanan ia terus saja memikirkan rencana untuk membatalkan pernikahan mantan istrinya itu.
"Bara, kamu kenapa diam saja daritadi?" tanya Bu Mayang.
"Hem....gak papa mah,"
"Hem.....kamu pasti mikirin mantan istri kamu yang mau nikah itu lagi ya?"
"Sebenarnya Bara gak rela, Mah. Kalau Serina menikah lagi." Ucap Bara.
"Tapi kan itu sudah pilihannya!"
"Tetap saja, Mah. Bara gak iklas kalau melihat Serina bahagia dengan lelaki lain selain Bara."
"Terus mau kamu apa, Bara?"
"Bara akan menggagalkan pernikahannya, Mah!" Ucap Bara membuat Mayang menautkan kedua alisnya.
"Kamu sudah gila?"
"Jangan ngawur kamu, Bara. Toh lagian semua ini juga salah kamu, dulu kamu yang meninggalkan dia!"
"Kamu jangan egois begitu, kamu saja baru bercerai dari dia langsung menikah lagi dengan Arum. Ikhlaskan Serina, dia pantas berbahagia, Bara..!!" Ucap Mayang.
"Sudahlah, mah. Mamah ngga usah ikut campur, ini masalah ku..!"
"Terserah kamu sajalah!"
Menempuh perjalanan setengah jam, barulah mereka sampai di rumah. Terlihat Arum berdiri di ambang pintu dengan raut wajah penuh amarah.
"Lihat tuh, ngapain wanita idiot itu berdiri didepan pintu?" tanya Mayang.
"Sepertinya dia menunggu kita, Mah!"
Mayang menghembuskan nafas kasar, ia pun keluar dari dalam mobil di susul dengan Bara.
__ADS_1
"Heh, kenapa kalian jam segini baru pulang?" Tanya Arum.
"Memangnya kenapa? mau kami pulang sekarang kek, besok kek, besok lusa kek, itu terserah kami ya. Lagipula bukan urusan kamu kan!" Sentak Mayang.
"Heh, dasar nenek peot, dimana perhiasanku?" tanya Arum emosi.
"Kamu ngomong sama orangtua gak ada sopan-sopan nya yah!" Ujar Mayang tak terima.
"Gak suka memangnya?"
"Rum, jaga ucapanmu. Dia itu mamahku, tidak sepantasnya kamu memanggil dia dengan sebutan nenek peot." Ucap Bara.
Arum tak menggubris.
"Mas Bara, dimana perhiasanku? Pasti kamu dan mamah mu mencurinya kan?" tanya Arum.
"Heh, tutup mulut kamu yah! Bisa-bisanya kamu bilang kami pencuri!" Seru Mayang.
"Perhiasan kamu sudah kami jual," Celetuk Bara tanpa dosa.
Arum melebarkan matanya, wanita ini merasa marah karena barang miliknya karena telah dicuri dan dijual.
"Mas...!!" Teriak Arum.
"Apa, Hah..!! Kamu nggak terima?"
"Aku nggak terimalah, pokoknya kamu harus mengembalikannya padaku meskipun sudah kamu jual, berikan saja uang hasil penjualannya kepadaku..!" Pinta Arum.
"Tidak bisa. Lagi pula ini dulunya pakai uang ku membelinya. Kamu itu miskin, mana mungkin bisa beli perhiasan mahal seperti itu." Hardik Bara.
"Heh, perempuan gatal perebut suami orang. Anggap saja kami menjual perhiasan milikmu sebagai ganti rugi tinggal di sini." Sambung Mayang.
"Mah, aku tinggal di sini bukankah sudah membayarnya dengan tenaga, kenapa kalian memeras ku, hah..!!" Sentak Arum.
"Perempuan sakit jiwa..! Sudah mah biarkan saja dia." Ucap Bara kemudian pria ini masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Arum mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Wanita ini merasa tak terima terus dihina oleh suami dan mertuanya.