
"Akhirnya sampai rumah juga,"ucap Pram merasa lega. "Sayang, kamu pasti lelah. Istirahat lah!"
Serina mengangguk, wanita ini langsung pergi ke kamar sedangkan Pram masih harus membawa masuk semua barang-barang mereka.
Serina, sesampainya di kamar dia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang untuk sekedar menata tulang-tulangnya yang terasa nyeri.
"Sayang, kamu lapar gak?" tanya Pram dengan lembut.
"Iya mas. Aku lapar!" Jawabnya.
"Ya sudah, biar mas masakin kamu dulu ya!"
"Biar aku bantu, mas!" tawar Serina.
"Nggak usah, sayang. Kamu tiduran saja dulu, nanti kalau udah siap mas bangunin kamu!"
Serina hanya bisa menghela nafas panjang
Setelah makanan siap, Pram kembali ke kamar. Pram duduk di tepi ranjang. Di pandangnya wajah sang istri yang meneduhkan hati.
"Sayang, bangun!" ujar Pram sembari mengusap lembut pipi sang istri.
Serina pun bangun dan langsung mengubah posisinya menjadi duduk di samping suaminya.
"Kenapa sayang?" tanya Pram.
"Badan ku sakit semua,"
"Ya sudah nanti mas pijeti kamu tapi sekarang makan dulu,ya!"
"Iya, mas. Ayo kita turun!" Ajak Serina.
Di tempat lain, saat ini Bara masih berusaha mencari keberadaan mantan istrinya, beberapa kali pria ini pergi ke kantor milik Serina tapi ia juga tidak menemukan keberadaannya. Alhasil, ia memutuskan untuk kembali esok harinya.
Dan benar saja, esok harinya Bara datang kembali ke kantor milik Serina.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Serina sedikit terkejut.
"Serin, aku ingin bicara padamu." ujar Bara dengan nada lembut.
Shitt...
Serina mengumpat pelan lalu tertawa sinis.
"Tapi aku tidak ingin bicara padamu. Pergilah, aku tidak ada urusan lagi denganmu!" Usir Serina.
__ADS_1
Bara hanya bisa tertunduk lesu.
"Bukankah ini yang kamu mau? Aku sudah menceraikan Arum dan lebih memilih kamu. Aku baru sadar ternyata kamu jauh lebih baik dari Arum."
Serina tersenyum miring mendengar ucapan Bara.
"Gampang sekali kamu bicara seperti itu, mas! Dari dulu kemana saja, hah? Kenapa baru sadar sekarang, hah? Disaat aku sudah menjadi milik orang lain kamu tiba-tiba datang ingin meminta rujuk?" Tanya Serina.
"Ayolah Serin. Aku benar-benar menyesal sekarang. Ceraikan Pram dan kembalilah padaku. Kita bangun lagi rumah tangga kita yang sempat hancur itu," Ucap Bara tak tahu diri.
"Untuk apa kembali padamu dan membangun rumah tangga lagi? Sementara aku saja sudah hidup bahagia dengan lelaki yang aku cinta bahkan menghargai aku!"
Bara melangkah maju menghampiri Serina lalu berkata.
"Ayo lah Serin, jangan mengingat tentang kita kemarin tapi ingatlah bahwa dulu kita pernah saling mencintai," ucap Bara membuat Serina tertawa.
Serina melangkah maju menghampiri Bara, ditatapnya tajam sang mantan suami yang sangat ia benci ini.
"Aku muak.. muak.." Seru Serina. "Pergi dari sini dan jangan pernah menginjakkan kaki mu lagi di perusahaan ini...!!"
Bara mengumpat kesal, pada akhirnya ia memilih untuk pergi. Bara kembali pulang ke rumah, ia benar-benar pusing memikirkan cara untuk memisahkan Pram dan Serina dan membuat Serina kembali lagi padanya.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bisa mengambil hati Serina," ucap Bara begitu yakin.
Tak berapa lama Bara keluar, Pram masuk ke dalam ruangan istrinya. Pram dapat melihat wajah istrinya seperti sedang menahan emosi.
"Begitulah manusia yang tidak pernah bersyukur!" Sahut Serina geram. "Mas, aku lapar. Ayo kita cari makan!" Ucap Serina dan langsung diiyakan oleh Pram.
Dengan bergandengan tangan, merekapun turun ke bawah. Pemandangan seperti ini sudah biasa dilihat oleh para karyawan.
Sementara Bara, pria ini pergi menemui Arum hanya untuk mengejek wanita itu.
"Hai, apa kabar Arum?" Sapa Bara membuat Arum terkejut jika Bara datang menjenguknya.
Senyumnya melebar seolah mengejek Arum yang penampilannya tampak kurus tak terurus.
"Mas, aku tahu kamu merindukan aku." Ucap Arum menatap Bara dengan sorot mata penuh kerinduan.
"Cih..., jangan besar kepala kamu, Arum!"
"Buktinya tidak ada angin, tidak ada hujan kamu datang menemui ku, untuk apalagi kalau bukan kamu merindukan aku,"
"Sadar dirilah, wanita buntung!" Cibir Bara.
"Mas, tolong keluarkan aku dari sini!" pinta Arum berlinang air mata. "Apa kamu lupa jika kita pernah saling mencintai bahkan aku selalu bisa memuaskan mu di atas ranjang, hah!"
__ADS_1
Bara meringis, menatap jijik pada mantan istrinya.
"Aku tidak peduli. Memangnya dengan kaki mu yang tersisa satu begitu, apa bisa masih memuaskan di atas ranjang, hah!" Bara tertawa.
Arum terduduk lemas, hatinya begitu sakit melihat sikap Bara yang sekarang.
"Akibat ulahmu rumah tanggaku dengan Serina hancur!" ucap Bara dengan suara di tekan. "Sejak bertemu denganmu, hidupku menjadi sial dan berantakan,"
"Kamu pikir aku tidak sama? Semua gara-gara ulahmu. Orangtua ku sudah tidak mengakui anak dan aku kehilangan segalanya. Dasar bajingan!"
Bara tertawa mendengarnya, kemudian pria ini berkata. " Kamu itu hanya wanita kampung yang bodoh bermimpi menjadi istri dari orang kaya, sekarang nikmatilah hidupmu di penjara ini."
Pria ini terus mengejek Arum sampai Arum emosi. Setelah puas mengolok-olok mantan istrinya, dengan wajah angkuhnya, Bara keluar dari ruangan besuk. Tentu saja hal ini semakin
membuat Arum tidak akan pernah melupakan Serina yang sudah membuat hidupnya hancur berantakan dan sekarang mendekam di penjara pesakitan.
Wanita ini juga benar-benar merasa menyesal telah bertemu dan menjadi selingkuhan Bara yang membuat hidupnya kacau.
Satu bulan berlalu, rumah tangga Serina dan Pram berjalan dengan begitu mulus dan bahagia tanpa adanya campur tangan orang ketiga. Pram sangat menyayangi dan mencintai Serina, begitupun sebaliknya Serina.
"Sayang, aku bosan." Ujar Serina.
"Kita pergi belanja yuk," ajak Pram.
Serina dan Pram pun bersiap-siap sebentar kemudian mereka langsung pergi ke mall. Sesampainya di mall mereka berbelanja untuk keperluan.
"Sayang, itu ada gaun. Pasti kamu semakin cantik mengenakan gaun itu," ujar Pram seraya menunjuk gaun berwarna hitam yang berada di dalam outlet.
"Mas, ini udah banyak loh kamu beliin aku baju-baju."
"Mas tahu kamu pasti akan menolaknya. Tapi, mas tertarik membelikannya untukmu. Kita beli yuk...!"
Setelah membeli gaun tersebut, mereka kembali berkeliling untuk mencari tempat makan. Mereka makan saling mengobrol dan sesekali bercanda. Pram sangat senang melihat istrinya senang.
"Pram...!" Sapa seorang wanita.
Pram langsung menatap wajah pemilik suara yang baru saja menegurnya itu.
Tanpa ragu perempuan itu langsung memeluk Pram. Pram yang tidak bisa menghindar tentu saja terkejut dan merasa tak enak hati melihat raut wajah Serina berubah dingin.
Pram lalu mendorong tubuh perempuan yang tak lain adalah Davina, wanita yang hampir dijodohkan dengannya.
"Jangan sembarang memeluk orang lain. Di sini ada istriku!" ucap Pram membuat Davina terkejut.
"Pantas kamu tidak menerima perjodohan kita, ternyata gara-gara janda bolong ini..!" ucap Davina dengan angkuh.
__ADS_1
"Ya, memangnya kenapa? Apa masalah bagimu?" tanpa mendengarkan jawaban dari Davina, Pram menarik tangan Serina lalu mengajaknya pergi.
Davina yang tidak terima diacuhkan pun kembali ke meja nya dengan raut wajah kesal.