
Siang ini, Bara memutuskan untuk menemui Serina di perusahaannya untuk meminta penjelasan. Karena merasa malu, Bara memilih untuk menunggu di parkiran mobil lebih tepatnya di samping mobil pribadi milik Serina.
Tidak terlalu lama menunggu, akhirnya Bara melihat Serina yang sedang berjalan menuju parkiran.
"Serina, kita harus bicara!" Ucap Bara mencengkeram lengan Serina.
"Mau apa kamu menemui ku lagi, hah?" Tanya Serina menepis kasar tangan Bara.
"Kembalikan apartemen ku!" Pinta Bara membuat Serina tertawa renyah.
"Lebih tepatnya apartemen milikku!" Ucap Serina. "Apa kamu sudah lupa? Harta yang kamu dapat itu melalui aku bahkan kesusksesan mu itu bersumber dariku. Kamu sungguh tidak tahu diri! Sudah di beri hidup enak malah selingkuh." Imbuh Serina.
Bara mendecih.
"Orang selingkuh itu pasti ada sebabnya, seharusnya kamu yang tahu diri Serina, bukan aku!" Sentak Bara tak bermalu.
Serina mengatur nafas, menahan diri untuk tidak terbawa emosi.
"Selingkuh, selingkuh saja tidak usah berlindung di balik kata murahan seperti itu, selingkuh kok ada sebabnya." Cibir Serina.
Pias wajah Bara, pria ini tidak bisa menjawab.
"Bara, aku harus mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku." Bisik Serina di telinga Bara. "Jika kamu mengajak ku bermain-main seharusnya kamu lihat dulu siapa yang kamu lawan."
"Kamu benar-benar keterlaluan, Serina!" Geram Bara.
"Kamu yang menyakiti ku tapi kamu yang merasa paling tersakiti. Waras?" Tanya Serina sambil tersenyum dingin menatap Bara.
"Pergilah, aku muak melihat mu!" Usir Serina.
"Awas saja kamu, Serina. Aku akan membalas mu, kamu hanyalah wanita lemah!" Cibir Bara.
"Tapi aku memiliki uang dan kekuasaan yang bisa saja menghancurkan mu. Ancaman mu tidak membuat ku takut. Kita lihat saja nanti...!" Ucap Serina tidak takut.
"Minggir! Kamu menghalangi jalan ku." Ucap Serina kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Serina melajukan mobilnya menjauh dari parkiran, sampai mobil tak terlihat barulah Bara beranjak pergi.
Serina memutuskan untuk tidak pulang melainkan ia akan menemui seorang pria di sebuah cafe.
"Apa wanita itu sudah masuk dalam perangkap mu?" Tanya Serina.
"Bahkan aku sudah menidurinya." Bisik pria itu.
"Kerja bagus!" Serina membuka tas nya lalu mengeluarkan sebuah amplop yang cukup tebal isinya. "Ambilah! Sisanya akan ku transfer jika kamu sudah berhasil!" Ucap Serina.
Pria itu membuka amplop lalu tersenyum melihat uang yang jumlahnya cukup banyak.
"Tidak sia-sia aku masuk dalam permainan mu." Ucap pria itu.
__ADS_1
"Itu belum seberapa, jika kamu sudah berhasil seratus persen, maka aku akan menambah bayaran mu menjadi dua kali lipat dari itu." Ucap Serina.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu!" Ucap pria itu dan diiyakan oleh Serina.
"Serina!" Seru seseorang yang suaranya nampak tak asing bagi Serina.
Serina menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah Pram.
"Pram......"
"Serina, ngapain kamu disini sendirian?" Tanya Pram pada Serina.
"Bertemu dengan teman lama ku." Jawab Serina.
"Benarkah. Lalu dimana teman mu?" Tanya Pram yang tatapan yang berkeliling mencari teman yang Serina maksud.
"Sudah pulang, kami hanya berbicara sebentar."
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Pram memastikan.
"Laki-laki." Jawab Serina.
Pram, wajahnya berubah memerah. Seperti orang yang sedang menahan cemburu.
"Kalau kamu sendiri, ngapain disini?" Tanya balik Serina.
Belum sempat Pram menjawab, tiba-tiba seorang wanita datang mengandeng lengan Pram.
"Siapa dia?" Tanya wanita itu menatap sinis Serina.
Pram membeku, begitu pula dengan Serina yang terlihat bingung.
"Pram, kenapa kamu hanya diam?" Tanya lagi wanita itu.
"Di-dia....." Belum sempat Pram menjawab, Serina langsung membuka suara.
"Aku Serina, teman Pram." Ucap Serina mengenalkan dirinya.
"Oh ya, aku Tasya. Calon istri Pram." Ucap Tasya yang masih melingkarkan tangannya di lengan Pram, seolah ingin menunjukkan bahwa pria di sampingnya ini adalah miliknya.
Serina pun cukup terkejut melihat Pram yang datang tiba-tiba dengan seorang wanita yang menggandeng lengannya mesra. Karena selama ini yang Serina tahu, Pram tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Menyadari tatapan Serina, Pram langsung melepaskan tangan Tasya dari lengannya.
"Pram, kamu kenapa sih?" Tanya Tasya yang kesal sebab Pram melepaskan tangannya.
"Serina, kamu jangan salah paham dulu. Tasya ini hanya teman ku." Ucap Pram.
"Calon istri ya gak apa-apa, Pram!" Ucap Serina. "Lagipula kamu udah cukup umur untuk menikah." Ucap Serina membuat Pram sedikit terkejut.
"Bahkan disaat aku di gandeng wanita lain, kamu tidak cemburu. Serina, kenapa tidak ada cinta di hati mu untuk ku meskipun hanya secuil?" Batin Pram.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mengganggu kamu dan calon istrimu, Pram. Jadi aku pergi dulu!" Ucap Serina melangkahkan kakinya. Tapi Pram dengan sigap langsung meraih lengan Serina.
"Serina, ka-kamu jangan salah paham dulu," Ujar Pram.
Serina terdiam, dan sekilas melirik ke arah calon istri Pram yang tampak kesal.
"Kamu bicara apa, Pram? untuk apa aku salah paham?" Tanya Serina tersenyum.
Pram menghela nafas gusar. Tak ada jawaban dari dirinya sehingga Serina berlalu begitu saja.
"Serina....tunggu!" Pinta Pram tapi tak dihiraukan.
"Pram, aku lapar! Ayo kita makan!" Ujar Tasya menahan langkah Pram yang hendak mengejar Serina.
"Kamu makan sendiri saja, aku ada urusan dengan Serina." Ucap Pram.
Lagi, Tasya menahan Pram. Dia tak ingin membiarkan Pram meninggalkan dirinya.
"Kamu jangan seperti ini, Pram. Aku ini calon istrimu, apa kamu mau aku ngadu ke papah mu atas sikap kamu yang seperti ini?" Ancam Tasya.
"Aku nggak peduli, terserah kamu mau ngadu gimana!" Ujar Pram seraya melepaskan lengan Tasya, kemudian berlalu begitu saja.
"Pram .......Pram!" Panggil Tasya tak dihiraukan.
Pram terus mempercepat langkahnya untuk mencari Serina, akan tetapi ia sama sekali tak melihat Serina.
"Kemana dia, kenapa cepat sekali hilangnya!" Lirih Pram dengan mata liarnya.
Ternyata Serina sudah ada didalam mobilnya. Dia sejenak termenung, entah kenapa ada sedikit rasa sakit saat mengetahui bahwa Pram sudah memiliki calon istri.
Sementara dilain tempat, Mayang terus memanggil-manggil Arum yang sejak pagi tak kelihatan batang hidungnya.
"Arum.....Arum.....!" Panggil Mayang mengetuk pintu kamar.
"Aduh, si nenek ngapain sih manggil-manggil. Nggak bisa apa liat aku santai!" Ucap Arum seraya beranjak dari ranjangnya lalu membuka pintu.
"Ada apa, Mah?" Tanya Arum.
"Ada apa ada apa, enak ya kamu kerjanya seharian ini santai-santai aja!" Cibir Mayang.
"Loh terus Arum harus ngapain memangnya?" Tanya Arum santai.
"Malah nanya lagi, kan udah saya bilang kalau kamu itu harus mempekerjakan seluruh pekerjaan dirumah ini!" Jelas Mayang.
Arum mendecih sambil membuat bola mata malas.
"Cepet bersihin rumah, habis itu masak buat makan malam!" Titah Mayang.
"Aduh mah, Arum gak bisa. Arum itu baru perawatan, ntar kalau kuku Arum rusak gimana?"
__ADS_1
"Eh....eh...kamu ini ya benar-bener. Pokonya saya gak peduli, mau kamu perawatan kek, enggak kek terserah!" Seru Mayang.