Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
58. Kecelakaan


__ADS_3

"Jangan bercanda!" Ucap Arum kemudian wanita ini menerobos masuk.


Alangkah terkejutnya Arum saat mendapati Bayu yang tengah asik di genjot oleh wanita lain, bukan hanya satu ternyata ada dua wanita di apartemennya.


"Mella, kenapa kamu lama sekali, siapa yang datang ?" Tanya Bayu


"Akh... Akh.. terus Diana.. lebih cepat lagi...!" timpal Bayu pada Diana yang sedang melakukan irama maju mundur pada benda pusakanya.


Arum tidak bisa berkata-kata, dadanya bergemuruh, rahangnya mengeras. Dengan amarah yang sudah memuncak, Arum langsung naik ke atas ranjang, menjambak rambut wanita yang tengah asik menggoyang Bayu.


"Bedebah.....!" Teriak Arum dengan lantang.


"Arum...!" lirih Bayu terkejut dengan kedatangannya.


"Hei......wanita murahan!" Teriak Arum seraya menjambak kuat rambut wanita itu.


"Argh.....sakit.....hei lepaskan!" Raung Diana.


Bayu langsung bangun, pria ini berniat untuk melerai Arum yang seperti orang kesetanan.


"Heh, Arum lepaskan rambut Diana..!" Sergah Bayu tak mau kalah.


"Bisa-bisanya kamu berbuat hal yang menjijikan seperti ini dengan dua wanita...!" Teriak Arum.


Arum tak melepaskan, wanita ini semakin memperkuat cengkeraman tangannya untuk menjambak rambut wanita itu.


"Dasar wanita gila!" Hardik Bayu kemudian mendorong tubuh Arum hingga jatuh dari atas ranjang.


"Arghh.....!" jerit Arum. Ia kemudian bangkit berdiri menatap Bayu dan dua wanita itu dengan sorot mata berapi.


"Jelaskan pada ku Bayu, apa ini, apa yang sebenarnya terjadi...!" Seru Arum.


"Apa! Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang bersenang-senang dengan mereka?" tanya Bayu dengan entengnya.


Sementara kedua wanita yang bernama Mella dan Diana menatap Arum dengan senyum mengejek.


"Tega kamu, Bayu!" gumam Arum yang kini sudah berderai air mata.


Baru tersenyum menyeringai, bukannya menjelaskan dan meminta maaf, Bayu justru malah menyalahkan Arum.


"Apakah hanya aku yang tega disini?" Tanya Bayu.


Arum menyipitkan matanya, tak mengerti dengan apa yang diucapkan Bayu.


"Apa maksudmu?"


"Aku tega seperti ini karena kamu juga, Rum. Kamu juga Setega itu telah mengkhianati cinta kita! Kamu menikah dengan lelaki lain selain aku! Apakah itu tidak tega namanya?"


"Jangan bilang kamu mau balas dendam padaku?" Tanya Arum dengan hati-hati.


Bayu mengangguk dengan cepat. "Yah, tentu saja. Aku senang sekarang karena kamu bisa merasakan yang aku rasakan kemarin." Ucap Bayu.


Arum menarik nafas dalam-dalam, ia sungguh tak menyangka jika Bayu akan melakukan ini padanya.

__ADS_1


Bayu tertawa sarkas.


"Bagaimana rasanya, sakit kan?" Tanya Bayu.


Serempak ketiganya tertawa, menertawakan Arum yang hanya diam mematung dengan wajah tertunduk.


"Brengsek!!!" Umpat Arum seraya mengangkat pandangannya lalu mendekat ke arah Bayu dan melayangkan satu tamparan keras ke wajah Bayu.


Plak......


Bayu langsung memegangi pipinya yang terasa panas dan sakit.


"Berani-beraninya kamu menamparku!" bentak Bayu tak terima.


"Lelaki brengsek sepertimu pantas mendapatkan itu!" Cecar Arum.


"Pergi kamu.....! pergi darisini.....!" Usir Bayu mencengkram tangan Arum dengan kuat dan membawanya paksa keluar dari apartemen.


"Bayu lepaskan aku!" pinta Arum tapi tak dihiraukan.


"Pergi darisini, aku tidak ingin melihatmu lagi. Kita sudah tidak ada urusan lagi!" Seru Bayu yang sudah emosi.


Brugh...!


Bayu mendorong tubuh Arum hingga jatuh kelantai.


"Argh......" Rintih Arum kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Argh....tapi Bayu, aku ingin bicara dulu denganmu!" ucap Arum.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," ungkap Bayu langsung menutup pintunya.


"Argh........" Teriak Arum memanas.


"Kurang ajar, kamu Bayu!"


Wanita itu bangkit berdiri, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan apartemen tersebut.


Sepanjang perjalanan, Arum yang sedang menyetir mobil terus saja mengumpat kata-kasar untuk Bayu.


Hingga ia tak sadar jika dari arah berlawanan ada mobil yang melaju karena kehilangan kendali. Arum yang panik langsung saja banting stir ke kiri hingga mengakibatkan mobilnya terpental beberapa meter.


"Argh..............." Teriak Arum.


Huft........


Dengan bantuan warga yang lewat, Arum kini sudah berada dirumah sakit. Kecelakaan tadi membuat Arum sempat tak sadarkan diri.


Bara yang mendapatkan kabar bahwa Arum masuk rumah sakit, pa pun langsung bergegas pergi.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Tanya Bara.


"Istri bapak tidak apa-apa , hanya mengalami luka-luka kecil dan syok akibat kecelakaan." Ucap Dokter.

__ADS_1


"Dan syukurnya kandungan ibu Arum tidak apa-apa." Timpalnya membuat Bara terkejut.


"Kandungan? Maksud dokter istri saya sedang hamil?" Tanya Bara lebih lanjut.


"Iya, istri bapak sedang hamil. Apakah bapak tidak tahu sebelumnya?" Tanya Dokter merasa heran.


Tak menjawab, Bara hanya diam mematung. Tidak seperti orang lain yang akan bahagia ketika mendengar istrinya sedang hamil.


Selang beberapa saat, Arum yang tak sadarkan diri sejak tadi kini sudah siuman. Arum mengerjapkan matanya demi menyesuaikan pandangan yang masih kabur. Tepat ditepi ranjang Arum melihat ada Bara yang sedang berdiri sambil menatap dingin dirinya.


"Mas Bara......." Lirih Arum sedikit kaget.


"Hah, kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Arum.


Bara membuang nafas kasar. Sebenarnya ada sesuatu penting yang ingin ia tanyakan pada Arum. Akan tetapi ia menundanya karena melihat kondisi Arum yang masih seperti ini.


"Tidak penting bertanya seperti itu, aku kesini datang untuk menjemputmu pulang. Kata dokter kamu sudah boleh pulang." Ucap Bara.


Akhirnya Bara dan Arum pun pulang ke rumah. Bara membopong tubuh Arum yang masih lemah menuju ke kamar. Tak banyak bicara, karena Bara sedang berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Melihat suaminya hanya diam sejak tadi, Arum pun langsung menanyainya.


"Mas, dari tadi kamu kenapa diam?" Tanya Arum.


Tanpa basa basi, Bara langsung saja menanyakan perihal kehamilan istrinya.


"Kamu hamil?" Tanya Bara.


Arum termangu beberapa detik.


"Emh.. Kamu sudah tahu ternyata. Ya, aku sedang hamil anak kita." Ujar Arum tersenyum berusaha menghilangkan kegugupan.


"Kenapa tidak memberitahu ku?"


"Aku juga baru tahu tadi siang, rencananya sih akan ku beri tahu besok sebagai kejutan." Kata Arum.


Bara menghela nafas berat.


"Apa kamu berhubungan dengan lelaki lain selain aku?"


Arum mengerutkan dahinya. Pertanyaan Bara sungguh membuat dia ketar ketir.


"Mas, kamu apaan sih, jelas-jelas aku cuma berhubung sama kamu, ya sudah pasti ini anak kamu lah!" Ucap Arum berusaha untuk tenang.


Bara semakin menatap tajam Arum, tidak mungkin dirinya bisa memiliki keturunan sementara dokter menyatakan dirinya mandul. Tapi kenapa tiba-tiba istrinya hamil, mungkinkah ini suatu keajaiban?


"Mengapa melihat ku seperti itu?" Tegur Arum yang kebingungan.


Bara mengusap wajahnya dengan kasar lalu melangkah menuju ke arah lemari.


Arum hanya diam, tak mengerti apa yang sedang dilakukan Bara.


Beberapa detik kemudian Bara kembali lagi kehadapan Arum dengan membawa sebuah surat ditangannya.


Bara lalu memberikan surat tersebut kepada Arum. Arum yang penasaran pun langsung saja mengambil dan membacanya.

__ADS_1


__ADS_2