
Pukul empat sore, barulah Serina selesai dengan pekerjaannya. Saat dia ingin menuju ke parkiran mobilnya untuk pulang, tiba-tiba saja seseorang mencengkeram tangannya.
"Pram...!"
"Kita harus bicara." Ucap Pram kemudian menarik tangan Serina lalu menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
"Pram, ada apa dengan mu?" Tanya Serina.
"Ada yang harus ku jelaskan padamu."
"Jelaskan apa, Pram?" Tanya Serina semakin tak mengerti.
"Aku tidak ingin kamu salah paham. Aku dan Tasya hanya teman, tidak lebih." Jawab Pram.
"Memang kalau lebih kenapa? Toh, kamu sama dia juga cocok."
"Tapi aku tidak menyukainya."
"Lalu apa hubungannya dengan ku?" Tanya Serina.
"Aku tidak bisa menyukai orang lain karena aku menyukaimu." Ungkap Pram dengan tatapan serius sehingga membuat Serina membeku sesaat.
"Bukankah aku sudah pernah bilang, Pram. Kalau kita ini hanya sebatas teman saja dan tidak lebih." Ujar Serina.
"Kita hanya teman?" Tanya Pram kembali memastikan.
Serina hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap ke arah Pram.
Pram menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. "Serina, apa aku tak cocok untukmu?"
Lagi, Serina mengangguk kembali seolah mengiyakan. "Ya, memang tidak cocok."
"Pernahkah aku menjadi penting dalam hidupmu?"
Untuk kali ini Serina tak bisa menjawab pertanyaan dari Pram. Dia hanya diam saja tanpa berani menatap ke arah Pram.
"Tatap aku dan katakan, Serina!" Pinta Pram.
Serina menghela nafas panjang dan dia menatap Pram dengan lekat.
"Sekali lagi kamu hanya aku anggap teman, Pram. Jadi jangan meminta lebih padaku. Dan aku harap menjauh lah dariku, aku tidak ingin menyakiti kamu." Pinta Serina dengan tegas namun matanya berkaca-kaca.
Pram meneguk salivanya, memandang wajah Serina yang seakan berbohong dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Lupakan aku, Pram. Sebentar lagi kamu akan menikah." Ujar Serina tanpa ekspresi. Wanita itu kemudian membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil Pram.
Tak mengejar Serina yang berlalu, Pram hanya diam tertegun meratapi nasib cinta sepihaknya itu. Hatinya begitu sakit sekarang karena orang yang dia cintai selama ini malah menyuruh dirinya untuk pergi dan melupakan.
*
*
*
Seminggu berlalu, keadaan rumah tangga Bara dan Arum kini semakin panas-panasnya. Bagaimana tidak, setiap hari hanya diisi dengan pertengkaran saja. Arum sering kali pergi pulang malam, yang entah kemana Bara sendiri tak tahu.
Sementara Bara sudah seminggu ini kerjaannya hanya menganggur saja, sudah mencari pekerjaan kesana kesini namun tak ada yang mau menerima dirinya karena rumor dia korupsi sudah tersebar dimana-mana.
Hidupnya sekarang benar-benar susah, Bahkan untuk makan sehari-hari saja dirinya dan Arum, Bara hanya mengandalkan mamahnya.
"Bara, mamah minta uang dong!" Ucap Mayang.
"Aduh mah, mamah kan tahu sendiri kalau Bara ini pengangguran."
"Halah masa seratus dua ratus gak ada sih,"
"Sumpah demi tuhan Mah, jangan seratus dua ratus, sepuluh ribu aja Bara gak punya."
"Bara kemarin baru aja pinjem mah, masa mau pinjem lagi. Malu lah, yang itu aja belum dibayar." Jelas Bara.
"Hah, terus uang yang kamu pinjem mana?" Tanya Mayang.
"Yaa Bara berikan ke Arum lah Mah, katanya dia ada keperluan untuk biaya berobat orangtuanya." Ujar Bara.
"Kamu ini yah, malah mikirkan si Arum. Mamah ini butuh uang Bara, kamu kira untuk kasih makan kamu sama istri kamu gak pake uang apa?" Cibir Mayang sedikit kesal.
"Loh kok mamah jadi mengungkit gitu sih, wajar Bara kasih uang ke Arum mah, karena Arum itu istri Bara."
"Haduh terserah kamu ajalah Bara, mamah kesel sama kamu!" Omel Mayang kemudian berlalu begitu saja.
Belum lama mamahnya pergi, tiba-tiba Arum pulang.
"Rum, kamu darimana saja?" Tanya Bara menghampiri. "Aku perhatikan selama ini kamu pergi terus."
"Ya terserah akulah, Mas. Lagipula aku ngerasa gak nyaman dirumah ini." Ucap Arum.
"Iya aku tahu, Rum. Tapi kamu sabar dulu, aku janji aku akan beliin rumah buat kamu. Biar kamu gak berseteru terus dengan mamah!" Jelas Bara.
__ADS_1
"Udahlah Basi omongan kamu, Mas. Sekarang aku mau istirahat dulu!" Arum kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Bara.
Beberapa saat kemudian, Bara pergi kekamar menyusul Arum. Ternyata Arum istrinya sudah terlelap tidur dengan posisi menyamping. Melihat Arum yang tidur hanya menggunakan daster sebatas lutut, mulai muncul di benak Bara untuk mengayuh birahi dengan istrinya itu. Pikir Bara sudah lama juga dia tidak berhubungan badan dengan Arum.
Bara mengunci pintu kamar lalu dengan pelan melangkah menuju ke arah ranjang. Perlahan ia duduk dan tangannya pun mulai menggerayangi paha Arum yang bekas dipenuhi oleh Borok.
"Sayang, sudah lama kita tidak melakukannya. Aku lagi pengen menanam benih dirahim mu," Bisik Bara ditelinga Arum.
Arum yang merasa geli dan terganggu, langsung saja membuka kelopak matanya.
"Apaan sih, Mas!" Sentak Arum.
"Ayo kita melakukannya, Rum." Ajak Bara menggoda.
Dengan kasar Arum berbalik badan dan menatap benci ke arah suaminya itu.
"Aku capek mas, aku pengen istirahat!" Tolak Arum.
"Tapi Rum, mas lagi pengen ini, lihat noh udah tegang gini." Ucap Bara.
"Aku gak peduli, kalau kamu udah gak tahan, sana main di kamar mandi sendiri!" Lagi Arum menolak ajakan suaminya dengan begitu tegas. Wanita itu kembali menyelimuti dirinya dan tidur membelakangi suaminya.
Bara menghela nafas berat. Pria ini pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Arum.
"Astaga, aku gigit jari malam ini." Ucap Bara dalam hatinya.
Entah kenapa akhir-akhir ini istrinya itu selalu tidak mau jika diajak berhubungan badan.
Bara mencoba memejamkan matanya tapi tetap saja tidak bisa, benda pusaka miliknya sedari tadi sudah mengeras memaksa agar segera di masukan ke dalam lubang kenikmatan.
Tanpa pikir panjang, Bara langsung saja membalik paksa tubuh istrinya dan ia langsung berusaha melepas pakaian yang melekat di tubuh Arum. Merasa sulit, Bara yang habis kesabarannya pun langsung saja merobek pakaian yang Arum kenakan.
"Mas..-" Belum sempat Arum berontak, Bara terlebih dulu membungkam mulut Arum dengan ciuman mautnya. Meskipun mulut Arum bau jigong, tapi Bara tak mempermasalahkan nya dan tetap ******* mulut Arum dengan rakus.
Kedua tangan Bara tak hentinya juga terus meremas gundukan kenyal dan kendur milik Arum. Dia benar-benar terbakar api birahi sekarang.
Deg.....
Bara menghentikan aktivitasnya saat matanya tak sengaja terfokus oleh bekas merah di dekat gundukan kendur milik Arum. Dia mengernyitkan dahinya, membuat Arum keheranan.
"Ada apa, Mas? kenapa menatap seperti itu?" Tanya Arum.
"Rum, tanda merah ini bekas apa, Rum?" Tanya Bara.
__ADS_1