Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
59. Perkelahian


__ADS_3

Alangkah terkejutnya Arum saat membaca surat tersebut. Surat yang menyatakan bahwa selama ini Bara adalah lelaki mandul yang tak bisa memiliki keturunan. Arum pun mulai gelagapan, dan terlihat dirinya seperti orang yang sedang mencari alasan yang cocok.


"Apa maksud kamu, Mas? ini tidak mungkin, pasti surat ini palsu!" Sanggah Arum.


"Salahku karena aku tidak memberitahu kamu sebelumnya, jika diriku ini dinyatakan mandul. Tapi sekarang yang jadi pertanyaanku ialah anak siapa yang sedang kamu kandung itu? Sementara diriku saja mandul, Rum!"


Arum terkekeh kecil, berusaha menutupi kepanikan dan kebohongannya.


"Mas, kamu itu ngomong apa sih! jelas-jelas aku berhubungan cuma sama kamu aja!" Jelas Arum.


"Dan itu pasti surat palsu, Mas. Kan dulu katamu sendiri kalau yang mandul itu Serina!" Kata Arum.


"Justru surat ini Serina sendirilah yang memberikannya kepadaku setelah bercerai. Selama ini dia merahasiakannya dariku, bahwa yang sebenarnya mandul itu aku, bukan dia." Ucap Bara lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Arum menggelengkan kepalanya, dia masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Bara.


"Kamu selingkuh kan?" Pertanyaan Bara keluar begitu saja dari mulutnya sehingga membuat Arum tertegun.


"Jawab, Rum!" sentak Bara dengan nada meninggi.


"Mas, kamu jangan sembarang meneduh ya!" bentak Arum yang tak mau kalah.


"Buktinya mana, Mas! Sampai kamu berani meneduh istrimu sendiri?"


"Aku memang tidak mempunyai bukti, Rum. Tapi entah kenapa filing ku sangat yakin kalau kamu main serong dibelakang ku!" Tukas Bara.


"Lagipula aku sudah lama curiga denganmu, karena mamah sering mengadu padaku jika kamu sering kali pergi!" timpal Bara mulai terbawa suasana yang semakin panas.


"Lama-lama kamu ngawur ya, Mas!" seru Arum.


"Aku cuma berhubungan sama kamu doang, jadi ini anak darah daging kamu sendiri!" Cetus Arum.


Bara mengusap kasar wajahnya yang terlihat frustasi. Entah kenapa saat berdebat dengan Arum, ia selalu saja kalah. Arum, wanita bagajulan itu selalu saja mampu membolak balikan perkataan Bara.


"Sudahlah, aku lagi gak mood berdebat sama kamu. Aku capek pengen istirahat!" seru Arum langsung saja merebahkan dirinya ke atas ranjang lalu menutupi dirinya dengan selimut.


Bara menghembuskan nafas panjang, ia pun lebih memilih untuk keluar dari kamar demi menenangkan pikirannya yang sedang amburadul.


Sementara keesokan harinya, perut yang sudah mulai keroncongan kini membuat Arum segera bergegas menuju ke ruang makan. Diruang makan Arum melihat sudah ada Bara dan mamah mertuanya yang sedang duduk.


"Enak ya, jam segini baru bangun!" sindir Mayang sekilas menatap sinis Arum yang baru saja duduk.


"Ya terus kenapa, apa ada yang salah?" tanya Arum.


"Ya salah lah, udah numpang seenaknya pula!" Sahut Mayang.


Panas kuping Arum yang mendengar setiap kata yang keluar dari mulut mertuanya, Arum pun langsung saja menggebrak meja sehingga membuat Mayang dan Bara kaget.


Braakk.....

__ADS_1


"Mah, kalau aku sama mas Bara punya rumah sendiri pun pasti kami gak akan numpang disini!" sentak Arum menatap tajam mertuanya.


"Rum!" bentak Bara seketika bangkit dari duduknya. "Berani-beraninya kamu membentak orangtuaku!"


"Kenapa, kamu nggak terima, hah?" tanya Arum dengan membelalakkan mata.


"Biar bagaimanapun dia orangtuaku, Rum dan orangtuamu juga. Tidak seharusnya kamu berkata dengan nada seperti itu." Tutur Bara.


"Yah, jangan nyalahin aku dong mas. Aku gitu karena mamah kamu juga, Mas. Punya mulut kok nggak bisa di rem!"


"Sudah cukup!!" teriak Mayang memanas. "Istri kamu memang kurang ajar, Bara. Makanya mamah dulu gak setuju kamu nikah sama dia." Ucap Mayang.


Arum mendengus kesal mendengar ucapan tersebut.


"Rum, cepat minta maaf sama mamah!" titah Bara.


Arum tertawa kecil. "Apa minta maaf? buat apa? lagian aku gak merasa bersalah!"


"Sudahlah Rum, minta maaf saja. Kamu sudah membentak mamah tadi."


"Enggak mas, sampai kapanpun aku gak bakal minta maaf!" jelas Arum menatap tajam mertuanya.


Mayang menyeringai, benar-benar tak habis pikir jika siluman ular didepannya ini adalah menantunya sendiri.


Plakk......


Mayang melayangkan satu tamparan keras ke wajah Arum karena dirinya begitu sangat murka.


Dia sama sekali tak terima jika dirinya ditampar begitu saja.


"Beraninya kamu menamparku!" Pekik Arum mengangkat satu tangannya hendak menampar balik Mayang. Akan tetapi dengan sigap Bara langsung menahan tangan Arum.


"Rum, hentikan. Apa yang kamu lakukan!" Sergah Bara.


"Kamu buta ya mas? mamah kamu itu nampar aku, jadi nggak salah dong kalo aku mau balas. Lepasin tanganku sekarang!" protes Arum.


Suasana dirumah ini semakin memanas, pertengkaran kali ini tak bisa lagi dielakkan. Akan tetapi suasana menjadi hening saat mendengar Bell rumah berbunyi.


Ting.....Ting......


Semua mata langsung menoleh ke arah pintu utama. Penasaran dengan siapa yang datang.


"Biar mamah yang buka," ucap Mayang kemudian berlalu.


"Lepasin tanganku, Mas!" pinta Arum tak dihiraukan Bara.


Sesaat kemudian Mayang kembali lagi menghampiri Bara dan Arum dengan membawa sebuah map ditangan.


"Siapa, Mah?" tanya Bara.

__ADS_1


Mayang mengangkat kedua bahunya.


"Nggak tahu, tapi kata yang nganter tadi ini buat kamu, Bara." Ujar Mayang seraya memberikan map tersebut.


Bara melepaskan tangan Arum, lalu ia mengambil Map itu. Lalu, dengan wajah penasaran pun Bara langsung saja membuka Map tersebut.


Alangkah terkejutnya Bara saat membuka Map tersebut, ada beberapa lembar kertas yang ternyata itu adalah foto Arum dengan lelaki lain yang sedang melakukan ritual esek-esek.


Nafas Bara pun seketika kembang kempis, kepalanya menggeleng-geleng tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Ada apa, apa itu Mas?" tanya Arum penasaran saat melihat ekspresi wajah suaminya.


"Apa maksud dari semua ini, Rum!" Bara memberikan lembaran kertas tersebut kepada Arum.


Sama seperti Bara tadi, Arum pun juga ikut terkejut saat melihat fotonya dengan Bayu.


"Benar kan dugaanku, kalau kamu selama ini selingkuh dariku!" Cecar Bara.


"Mas.....ini tidak seperti yang kamu lihat, Mas. Ini semua salah paham," sangkal Arum panik.


"Salah paham apanya, Rum! jelas-jelas ini kamu yang sedang berzina dengan lelaki lain!" sergah Bara dengan nada tinggi.


"Arum, kamu selingkuh?" tanya Mayang.


Arum tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala saja.


"Tidak, aku yakin pasti ini adalah foto editan. Tidak mungkin.....tidak!" sanggah Arum.


"Sudahlah, Rum. Jangan berusaha menutupi dan berbohong lagi. Semuanya sudah jelas, kamu memang selingkuh dariku." Kata Bara.


"Berarti anak yang sedang kamu kandung ini bukanlah darah dagingku melainkan darah daging selingkuhan kamu itu, iya kan!" geram Bara.


"Apa maksudmu, Bara? apa Arum sedang hamil?" Tanya Mayang tak mengerti.


Bara mengangguk. "Iya mah, Arum hamil padahal dokter sudah mendiagnosa kalau akulah yang mandul bukan Serina! jadi mamah bisa pikir sendiri, kalau yang dikandung Arum ini bukanlah anak Bara!" jelas Bara.


Mayang tak menyangka dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Arum yang memang sudah kehabisan kata-kata pun langsung saja bersimpuh dikaki Bara.


"Mas.....maafkan aku mas! Aku khilaf....." sesal Arum dengan diiringi tangisan.


"Khilaf kamu bilang, hah! Sungguh tidak masuk akal Rum. Kemana otak mu Rum, kemana!" teriak Bara emosi.


"Padahal semuanya sudah aku lakukan demi kamu, bahkan bercerai dari Serina. Tapi apa yang kudapat sekarang, kamu mengkhianati rumah tangga kita!"


"Aku salah aku minta maaf, aku berjanji aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sungguh menyesal!" Tutur Arum.


"Tidak ada kata maaf untuk orang yang sudah selingkuh," ucap Bara.

__ADS_1


Arum mulai khawatir dan tangisnya pun semakin pecah, ia sangat takut jika Bara akan menceraikan dirinya.


"Sekarang juga aku TALAK KAMU!" Ucap Bara dengan tegas dan lugas.


__ADS_2