
Brag.....
Pram mengebrak meja, saking kesal dan geramnya mendengar ucapan Bara. Rupanya sedari tadi, telepon dia dan Serina masih menyambung sehingga membuat Pram bisa mendengar semua percakapan Bara dan Serina.
"Benar-benar keterlaluan kamu, Bara!" Ucap Pram dengan kedua tangan terkepal erat. "Bisa-bisanya kamu menampar orang yang paling ku sayang!"
"Memang tidak bisa dibiarkan, lihat saja Bara, kamu akan ku buat menyesal seumur hidupmu!"
_________________________________
Dua hari mereka ada di atap yang sama tanpa pertemuan. Hingga pagi ini Serina keluar dengan pakaian yang rapi.
"Serina, kamu mau kemana?" Tanya Bara yang kebetulan baru menuruni anak tangga.
"Ke kantor!" Jawab Serina singkat.
"Mari ku antar!" Tawar Bara.
"Tak perlu, aku bawa mobil sendiri." Tolak Serina dengan pembawaan yang dingin.
"Tapi, sudah lama kita tidak berangkat bersama." Ujar Bara.
"Sudah ku bilang, aku bawa mobil sendiri." Ucap Serina seraya berlalu. Tapi dengan cepat Bara meraih lengan istrinya.
"Kamu masih marah padaku?" Tanya Bara.
Serina tak menjawab dan ia hanya menggeleng.
"Kalau tidak kenapa sikap mu jadi begini? dingin dan acuh padaku."
"Masih bisa bertanya kenapa sikap ku jadi begini? bukankah kamu yang membuat aku seperti ini?" Tanya balik Serina dengan tatapan tajam.
Bara terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan sang istri.
Serina melepas pegangan tangan suaminya, wanita itu lalu melanjutkan langkahnya. Namun, baru saja beberapa langkah, langkah Serina terhenti seketika. Ia berbalik badan dan kembali menatap Bara yang masih diam mematung.
"Aku tidak sabar mendengar keputusanmu. Jadi pikirkanlah kepada siapa hatimu memilih!" Ujar Serina lalu melanjutkan langkahnya lagi.
Bara mengusap kasar wajahnya. Situasi ini sungguh membuat dirinya frustasi. Bara lalu melangkah pergi, dia memutuskan untuk pergi ke apartemen menemui Arum. Dia ingin berbicara pada Arum tentang dirinya yang diberikan pilihan oleh Serina.
Tiba di apartemen, Bara langsung saja masuk ke dalam dan mencari keberadaan Arum yang tak terlihat di pandangannya.
"Rum......Rum..." Panggil Bara seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ada apa, mas?" Begitu mengagetkan, Arum muncul begitu saja tepat dibelakang Bara.
"Rum......" Bara menatap lekat Arum dari atas kebawah. Penampilan Arum saat ini sungguh mengunggah nafsu birah* Bara. Bagaimana tidak, Arum hanya menggunakan handuk diatas lutut dengan belahan yang sepertinya sengaja diperlihatkan.
"Ada apa, mas? kok malah bengong begitu?" Tanya Arum.
"Kamu habis mandi?"
Arum mengangguk. Bara lalu mendekatkan langkahnya pada Arum.
__ADS_1
"Kamu cantik," Puji Bara tersenyum sambil mengelus kepala Arum.
"Kalau begitu, bersalin lah dulu, ada yang ingin aku bicarakan!" Ujar Bara.
"Baiklah!"
Arum sudah keluar dari kamar, ia langsung saja menghampiri Bara yang sedang duduk di sofa.
"Mas....." Tegur Arum sambil mendudukkan pantatnya tepat di samping Bara.
"Apa yang ingin mas bicarakan pada, Arum? katakanlah!"
Bara menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Begini Rum, pikiranku sedang kacau balau sekarang." Ujar Bara.
"Kenapa? apa ada masalah lagi dengannya?"
"Serina malah memberikanku pilihan sekarang, pilihan yang sangat sulit bagiku."
"Pilihan? pilihan apa, mas?"
"Dia menyuruh aku untuk memilih antara dia atau kamu!"
"Hah, lalu kamu pilih siapa?"
"Dia memberi aku waktu, jadi aku belum menjawab nya."
"Kalau begitu kamu pilih aku saja, Mas. Dan lepaskan Serina, lagipula sepertinya keputusannya untuk bercerai dari mu sudah mantap." Kata Arum.
"Tidak bisa, Rum. Aku tidak bisa kehilangan Serina." Ucap Bara.
"Kamu memang tidak pernah mencintai ku, Mas." Ucap Arum pelan.
"Rum.., bukan begitu, hanya saja ini sulit bagiku."
"Lantas apa bagimu ini juga tidak sulit untuk ku?" Tanya Arum. "Kehormatan ku sudah aku berikan padamu, karena aku mencintai kamu, Mas! Aku tidak mau tahu kamu harus bertanggung jawab." Ujar Arum penuh penekanan.
"Aku sudah bilang kalau aku akan bertanggung jawab, tapi Rum....." Bara menggantung ucapannya.
"Tapi apa, mas?"
"Aku akan bertanggung jawab, tapi bukan berarti aku akan menikahi mu, Rum." Tutur Bara lalu menunduk. Tak berani menatap ke arah Arum.
"Apa katamu barusan? Berarti kamu tidak akan menikahi ku?" Tanya Arum tak percaya.
Bara mengangguk.
"Aku memilih istriku, Rum. Jadi kemungkinan aku tidak akan menikahi mu." Ucap Bara.
Arum menggeleng tak percaya, dengan apa yang ia dengar.
"Tapi tenang saja, Rum. Yang penting kan aku sudah mau tanggung jawab, aku akan memenuhi semua materimu!" Jelas Bara.
__ADS_1
Arum bangkit dari duduknya lalu menampar laki-laki di hadapannya.
Plak!
"Kurang ajar kamu, Mas!" Umpat Arum seraya berlalu.
"Rum... Kamu mau kemana? Jangan pergi!" Ujar Bara mengejar Arum.
Ternyata Arum pergi ke dapur untuk mengambil sebilah pisau lalu diarahkan ke tangannya.
"Lebih baik aku mati, mas!" Ancam Arum berderai air mata.
"Jangan gila kamu, Rum!" Gumam Bara.
"Yah, aku memang sudah gila karena mu!" Balas Arum.
"Kita bisa bicarakan baik-baik, Rum. Cepat letakkan pisau itu kembali, Rum." Pinta Bara.
"Kamu memilih istrimu, sementara aku? Apa kamu ingin membuang ku setelah puas kamu menggunakan tubuh ku, hah!!!" Teriak Arum.
Bara memejamkan matanya, sejenak ia berpikir lalu setalah itu ia kembali membuka matanya.
"Baiklah, Rum. Aku akan memilih mu tapi letakkan pisau itu!" Titah Bara. Tak ada cara lain, mau tidak mau ia harus berkata seperti itu.
"Kamu bohong, Mas. Kamu mengatakan itu agar aku tidak jadi bunuh diri, kan?" Tanya Arum.
Tidak menjawab, Bara malah mendekatkan langkahnya ke arah Arum. Bara sangat yakin, jika Arum tidak mungkin melakukan hal itu.
"Jangan mendekat atau aku akan---" Belum sempat melanjutkan ucapannya, Bara langsung memotongnya.
"Akan menyayat tangan mu?" Ujar Bara yang terus mendekat.
Arum malah semakin kesal dan tiba-tiba saja Bara langsung merampas pisau tersebut dari tangan Arum dan langsung melemparnya jauh.
"Mas, kembalikan pisau itu!" Ucap Arum. Tapi Bara terus saja menahan Arum.
"Tidak, jangan lakukan hal gila itu, Arum! tenangkan dirimu." Ujar Bara.
Sekuat tenaga Arum mendorong tubuh Bara hingga Bara hampir saja terjatuh.
"Rum......!"
Arum meraih gelas lalu melemparkannya ke arah Bara hingga pecah.
Pyaar...
"Kamu sudah janji akan menikahi ku, Mas. Aku tidak rela jika kamu memilih Serina." Arum tergugu.
Arum mengamuk, menghempaskan semua benda yang ada didepan mata. Bara pun panik. Bara berusaha membujuk dan merayu Arum tapi tetap saja membuat wanita itu semakin mengamuk seperti kesetanan. Bara semakin bingung, mau tidak mau Bara menangkap Arum lalu memeluknya dengan erat.
Arum tetap berontak dengan rasa amarah yang sudah menguasai dirinya. Wanita ini menangis meraung-raung tak terima.
Bara langsung membungkam mulut Arum dengan ciuman, meremas buah dada hingga membuat Arum lemas di dalam pelukan Bara.
__ADS_1