Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
74. Membaik


__ADS_3

Setelah mengantar istrinya ke kamar, Pram pergi menuju ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sedikit menumpuk, hingga sore hari, barulah pria ini selesai mengerjakan pekerjaannya.


Ia kembali pergi ke kamar untuk melihat kondisi istrinya. Dilihatnya Serina yang tengah tertidur pulas. Pram duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah cantik yang selama ini selalu menari-nari dalam ingatannya.


"Mas..." Serina membuka matanya.


"Sayang, kamu sudah bangun? Tunggulah sebentar nanti mas akan kembali lagi." Ucap Pram dan langsung diiyakan oleh Serina.


Setengah jam berlalu, akhirnya Pram kembali dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman yang akan ia berikan pada istrinya itu.


"Sayang, kamu pasti lapar, makanlah dulu!" Kata Pram lalu duduk disamping Serina setelah membantu mendudukkan Serina.


"Mas, ini kamu yang masak?" Tanya Serina.


"Iya sayangku, mas sendiri yang masak."


Serina tersenyum lalu ia mau mengambil mangkuk berisi bubur tapi dicegah oleh Pram.


"Biar mas yang menyuapi kamu, Sayang!"


Serina mengangguk tanda mengerti.


"Gimana rasanya, apa enak?" Tanya Pram yang penasaran.


"Ini sangat enak tapi..." Serina menundukkan kepalanya.


"Tapi apa?"


"Seharusnya aku yang memasak untukmu."


"Sayang, tidak apa-apa. Kamu kan lagi sakit jadi apa salahnya mas yang melakukan ini semua? Mas hanya ingin menjadi suami yang baik dan selalu ada untuk mu sayang." Ucap Pram sambil mengusap lembut pipi istrinya.


Manis sekali, tentu saja sikap Pram yang seperti ini membuat Serina merasa tersentuh.


Pram pun terus menyuapi sampai tersisa sedikit Serina menolak suapan terakhirnya. Lalu Pram menyodorkan obat-obatan serta segelas air putih.


Setelah melihat Serina minum obat, Pram langsung menyuruh istrinya itu untuk beristirahat.


*


Sore berganti malam, Pram masih setia menunggu istrinya yang masih terbaring di atas kasur. Pria ini dengan telaten mengganti perban yang membalut luka Serina dengan perban yang baru.


"Mas, terimakasih ya.."

__ADS_1


"Iya sayang, sama-sama."


"Baru saja menjadi istrimu beberapa hari tapi aku sudah membuatmu kesusahan."


"Sayang, jangan bicara begitu!" Pram menempelkan jari telunjuknya di bibir Serina. "Aku suami kamu dan kamu adalah istriku. Aku merasa tidak terbebani malah aku merasa sangat senang melakukan hal seperti ini kepada orang yang sangat aku cintai." Ujar Pram.


"Terimakasih, mas." Ucap Serina dengan senyum tipisnya.


"Ya sudah. Ayo kita tidur!" Ucap Pram.


"Malam pertama kita tunda dulu mengingat kondisi kamu yang belum sembuh." Ucap Pram lagi.


"Hem, iya mas."


"Kamu udah nggak sabar?" Tanya Pram menampilkan senyum menggodanya.


"Mas...!!" Serina mencubit lengan suaminya.


"Bercanda kok sayang. Ya udah ayo kita istrihat." Ucap Pram langsung diiyakan oleh Serina.


Malam ini, sebenarnya malam pertama untuk Pram dan Serina, hanya saja Pram menundanya karena kondisi istrinya yang belum sembuh total.


"Akhirnya bisa meluk juga." Ucap Pram kegirangan. Pria ini memeluk Serina dari belakang. Rasanya nyaman sekali apalagi wangi tubuh Serina sudah membuat ia merasa candu.


*


"Sayang, kamu sedang sakit kenapa sekarang malah memasak? Seharusnya kamu istrihat di kamar saja." Ujar Pram.


"Mas, aku sudah baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir." Ucap Serina dengan lembut.


"Tapi tetap saja aku mengkhawatirkan mu, sayang."


"Mas, aku sudah membuat kamu kopi, minumlah!"


Pria ini bisa mencium aroma kopi yang begitu lembut menusuk rongga hidungnya, aroma yang membuat semangat pagi ini semakin meningkat. Lebih meningkat lagi saat Pram menyesap kopi itu dengan penuh cinta.


"Enak sekali kopi buatan istriku ini," puji Pram membuat Serina tersipu malu.


"Mulai sekarang, meracik kopi untuk suamiku tercinta akan menjadi rutinitas setiap pagi untukku." Ucap Serina dengan senyum lebarnya.


"Bukan hanya pagi tapi setiap aku menginginkannya, kamu harus membuatkannya untukku." Ucap Pram.


Pram kembali menyesap kopinya sambil matanya melirik ke arah Serina.

__ADS_1


"Tanganmu memang sangat lihai untuk meracik kopi hitam seperti ini. Kopi hitam racikan mu, nyatanya akan menjadi kopi kesukaanku mulai saat ini." Ujar Pram.


"Kamu terlalu berlebihan mas," ucap Serina.


"Aku bicara apa adanya sayang." Sahut Pram.


Serina hanya mengangguk kemudian wanita itu menyuruh suaminya untuk mandi kemudian sarapan. Hingga beberapa saat kemudian, Pram sudah kembali menyusul istrinya yang sudah menunggunya di meja makan untuk melakukan sarapan bersama.


Untuk pertama kalinya Serina melayani suaminya, Pram yang melihat istrinya hanya tersenyum-senyum seperti orang gila.


"Mas, kamu senyum-senyum terus kenapa?"


"Aku merasa bahagia sudah memilikimu seutuhnya. Serina, apa kamu tahu? Selama sepuluh tahun aku menunggumu, akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya. Aku harap kamu sudah melupakan masa lalumu itu." Ucap Pram terdengar serius.


"Suamiku, cintailah aku tanpa meminta melupakan masa lalu. Karena aku juga akan mencintaimu, tanpa pernah perduli bagaimana masa lalumu." Ujar Serina.


"Setiap orang tentu memiliki masa lalu, baik masa lalu yang indah maupun menyakitkan. Tidak perlu berusaha untuk melupakan, kenangan punya caranya sendiri untuk menghilang. Karena sepahit, dan segetir apa pun itu. Dari masa lalu lah kita bisa belajar agar semua hal yang dilakukan saat ini jauh lebih baik untuk ke depannya." Tutur Pram panjang lebar.


Serina tersenyum lebar lalu berkata,


"Ternyata aku tidak salah untuk menjatuhkan hatiku kepadamu, mas. Kamu benar-benar dewasa."


"Iya sayang. Ya sudah, cepat habiskan sarapanmu, setelah itu kita pergi!"


"Pergi ke mana, mas?"


"Nanti kamu akan tahu sendiri. Aku yakin pasti kamu akan suka." Ujar Pram.


Selesai sarapan Serina langsung saja pergi ke kamar untuk siap-siap. Dan beberapa saat kemudian, Serina sudah selesai bersiap dan mendapati suaminya Pram sudah menunggu di sofa ruang keluarga.


"Aku sudah siap, mas!" tegur Serina.


"Ah.....iya sayang, kamu cantik sekali!" Puji Pram lalu mengecup bibir Serina.


"Sekarang ayo kita pergi!"


Akhirnya Pram dan Serina pun pergi. Pergi menuju ke kantor polisi dimana Arum saat ini di penjara. Pram memang sengaja mengajak Serina ke sana karena ia ingin Arum meminta maaf pada Serina atas apa yang sudah ia perbuat.


Sedangkan Arum sejak ia diamankan polisi dan dibawa ke penjara, dia terus saja berteriak meraung-raung layaknya orang gila. Dia sama sekali tak terima jika dirinya harus dipenjara.


Dua puluh menit kemudian, Pram dan Serina sampai di kantor polisi. Serina keheranan kenapa suaminya membawa dia kesini.


"Kenapa kita kesini, Mas? Mau ngapain memangnya?" tanya Serina.

__ADS_1


"Aku ingin Arum meminta maaf padamu, Sayang." Ucap Pram.


"Sekarang ayo kita masuk!" Ajak Pram seraya mengandeng tangan Serina.


__ADS_2