Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
7. Hujan


__ADS_3

💅HAPPY READING💅


Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap pertanda hujan sebentar lagi akan segera turun.


"Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, tapi kenapa tiba-tiba ya?"Gumam Serina tapi masih bisa di dengar oleh Pram.


"Hujan turun pertanda bahwa ada seseorang yang diam-diam mengingat mu dan merindukan mu." Celetuk Pram.


Serina mencubit lengan Pram hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Aish.. kenapa kamu mencubit ku, serin?" Tanya Pram dengan nada kesal yang di buat-buat.


Serina terkekeh melihat wajah Pram yang menurutnya begitu lucu. Melihat hal itu Pram juga ikut tersenyum.


Hujan turun dengan derasnya, Pram dengan cepat-cepat melepaskan jasnya.


Lalu keduanya berlari di antara hujan dengan jas memayungi kepala agar terlindung dari hujan.


"Hujan punya alasan kenapa ia jatuh, tapi aku tidak punya alasan mengapa hatiku jatuh kepada kamu, Serin." Batin Pram seraya tersenyum ke arah Serina.


-


-


-


Pram, pria itu baru menginjakkan kakinya dirumah, sesekali pria itu bersenandung kecil mengiringi langkahnya. Senyum lebar tak henti-hentinya terlukis di wajah tampan milik Pram. Semua itu tak luput dari perhatian Hermawan, ayahnya Pram.


"Pram!" Seru Hermawan dan Pram menoleh.


"Ayah!"


"Sepertinya kamu hari ini terlihat sangat bahagia?" Tanya Hermawan.


"Tentu saja, Ayah! Hari ini, tanpa sengaja Pram bertemu dengan Serina lagi." Ucap Pram, masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.


"Serina?" Hermawan mengerutkan dahinya. "Wanita yang kamu cintai 10 tahun terkahir ini?" Tanya Hermawan lagi.


"Tentu saja, ayah!" Sahut Pram, dengan mata yang berbinar-binar menatap sang ayah.


"Apakah kamu masih menunggu wanita itu?" Tanya Hermawan.


"Tentu saja, ayah! Sampai kapanpun aku tetap menunggu Serina." Ucap Pram mantap.


Hernawan menghela nafas pelan.


"Pram, berhentilah! Serina sudah memiliki kehidupannya sendiri. Jangan kau menggangunya lagi. Dia sudah bahagia, bersama pilihannya, Pram!"


Seketika senyum di wajah Pram perlahan menghilang, berganti dengan raut wajah kesedihan.


"Ayah! apa salahnya jika Pram masih berharap Serina kembali?" Tanya Pram dengan suara tertahan.


"Semua orang pasti punya harapan. Kamu berharap padanya, tapi dia berharap pada sosok lain. Tidak semua harapan bisa didapatkan dan tidak semua cinta bisa terbalaskan." Ucap Hermawan.

__ADS_1


Pram menghela nafas berat.


"Setidaknya biarkan Pram tetap seperti ini, Ayah! kalau memang sudah waktunya untuk pudar maka ia akan hilang dengan sendirinya."


"Kamu pantas bahagia, Pram meskipun tidak bersama dengan Serina. Cobalah buka hatimu."


"Tapi kebahagiaan Pram hanya ada pada Serina, Ayah!"


"Ayah sangat mengerti perasaan mu, Pram. Kehilangan seseorang yang kita cinta memang sangat menyakitkan, tapi itu bukan akhir segalanya. Kamu bisa bahagia, meski tanpa dia, Pram!" Tegas Hermawan.


Tidak menjawab, Pram berlalu begitu saja menuju ke kamarnya.


Dikamar, Pria itu langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya.


"Semakin aku ingin melupakan mu, semakin aku merindukan mu." Batin Pram.


"Serina, bagaimana bisa aku berhenti mencintaimu sedangkan seluruh cinta di hatiku sudah habis kau bawa bersama kenangan kita?"


-


-


-


Sementara saat ini terlihat Bara sedang mondar mandir di ruang tengah menunggu kepulangan istrinya, Serina.


"Kemana dia? kenapa belum pulang juga?" Tanya Bara dengan wajah sedikit cemas.


Bara berkali-kali menghubungi istrinya tapi ponsel Serina tidak dapat di hubungi.


Tiba-tiba dari arah belakang, ada yang memeluk Bara.


"Serina..!" Bara menoleh kebelakang yang ternyata bukan Serina melainkan Arum.


Arum, wanita itu langsung saja melepaskan pelukannya sambil menatap kesal ke arah Bara.


"Kenapa kamu malah mengira aku Serina, mas? aku ini Arum!"


"Iya....iya maaf, Arum. Aku pikir kamu Serina yang sudah pulang tadi!" Ucap Bara.


Tiba-tiba terdengar suara deruan mobil dari luar, dengan antusias Bara langsung bergegas menuju ke luar.


"Mas....mas.....mau kemana?" Tanya Arum tapi tak di hiraukan.


Serina baru saja turun dari mobil dan mendapati suaminya sudah berdiri menunggu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Kamu darimana saja? kenapa baru pulang jam segini? kenapa juga kamu gak bisa dihubungi?" Tanya Bara dengan rinci.


"Ah....aku, aku banyak urusan hari ini. Em, ponselku juga mati tadi!" Jawab Serina.


Bara menghembuskan nafasnya kasar. "Aku pikir kamu kemana tadi!"


"Bukankah kamu senang jika aku tidak ada rumah?" Batin Serina.

__ADS_1


Serina lalu melangkah masuk ke dalam rumah, di susul oleh Bara di belakangnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Arum yang hanya berdiri sambil menundukkan kepalanya.


"Sampai kapan kamu akan terus berdiri disitu seperti orang bodoh?" Tanya Serina dengan tatapan sinis.


Arum menegakkan pandangannya menatap Serina.


"Serina, jaga kata-katamu!" Sergah Bara.


Arum yang mendengar pembelaan dari Bara tersenyum tipis.


"Cepat siapkan air hangat untuk ku!" Titah Serina pada Arum.


Serina tak menghiraukan suaminya, wanita itu berlalu begitu saja melangkahkan kaki nya menuju kamarnya.


Bara menghela nafas.


"Arum! Maafkan Serina." Ujar Bara pelan.


Arum tersenyum. " Tak apa, Mas."


"Baiklah, kalau begitu aku menyusul Serina dulu." Ucap Bara seraya berlalu.


Arum mengepalkan kedua tangannya erat-erat.


"Awas saja kamu, Serina. Sebentar lagi kamu akan menangis darah. Aku akan merebut Mas Bara dari tanganmu!" Geram Arum.


Huft.....


Beberapa saat kemudian, Terlihat Bara dan Serina menuruni anak tangga bersama. Niatnya ingin makan malam karena perut sudah terasa sangat lapar.


Dimeja makan kebetulan ada Arum yang sedang menuangkan minuman ke gelas.


Serina menatap sinis ke arah Arum, ketika melihat penampilan Arum yang berbeda malam ini. Dandanan menor dan pakaian yang sengaja memperlihatkan belahan payudara, membuat Serina langsung bergumam dalam hati.


"Oh rupanya kau sekarang mulai blak-blakan ya ingin menggoda Bara." Batin Serina sambil melirik ke arah Bara yang terus saja memperhatikan Arum.


Yah, sebenarnya malam ini Arum sengaja berdandan dan berpakaian seperti itu, agar ia bisa memikat perhatian dari Bara. Selain memikat Bara, adalah alasan lain yaitu karena ia tak ingin kalah saing dari Serina, akan tetapi Arum sama sekali tidak sadar diri akan posisinya.


"Arum! Lain kali berpakaian lah yang sopan!" Tegur Serina seketika.


Arum tergugup mendengar teguran dari majikannya itu. Belum saja Arum menjawab, tiba-tiba Bara menyambung.


"Serina, sejak kapan kamu mengurusi cara berpakaian seseorang?" Tanya Bara.


"Kenapa? Kamu suka kan mas melihatnya?" Batin Serina.


"Mengurusi? Untuk apa aku mengurusi hal yang tidak penting? hanya saja mataku risih melihatnya!" Jawab Serina dengan ketus.


"Maafkan saya nyonya, lain kali saya akan------" Belum habis Arum berucap, Serina langsung memotongnya.


"Seharusnya kamu dapat memposisikan diri, Arum."


"Sayang, sudahlah!" Pinta Bara.

__ADS_1


"Mas, untuk sekelas pembantu seperti Arum sangatlah tidak pantas memakai pakaian seperti itu dihadapan majikannya!" Jelas Serina.


Jreng.....jreng....


__ADS_2