Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
9. Berubah


__ADS_3

Serina tersenyum. "Terimakasih, Des. Tapi ini hanya masalah sepele, aku bisa mengatasinya." Ucap Serina berbohong karena dia tidak mungkin bilang bahwa suaminya telah berselingkuh dengan pembantunya sendiri.


"Baiklah. Tapi jika kamu sedang dalam masalah, tidak usah sungkan jika ingin bercerita." Ucap Desi diiringi dengan senyuman.


Akhirnya keduanya melanjutkan makan siang mereka.


"Serina, sepertinya itu pria yang kemarin." Ucap Desi sembari menunjuk pria yang berjalan mendekati tempat Desi dan Serina.


Serina menoleh dan pria itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arahnya.


Serina menghela nafas lalu membuangnya kasar.


"Pria aneh itu lagi!" Gumam Serina.


"Mau apa lagi dia?" Tanya Desi dan Serina menggeleng.


"Tidak kusangka kita akan bertemu lagi, Serina!" Ucap Pram.


"Sebenarnya apa mau mu?" Tanya Serina.


Pram mengeluarkan benda pipih dari saku celananya lalu menyodorkan nya tepat di depan Serina.


"Maksudnya?" Tanya Serina heran.


"Aku ingin kau memberikan nomor ponsel mu!" Jawab Pram.


"Tidak akan!" Ucap Serina membuang pandangannya.


"Berikan nomor ponsel mu atau aku akan..."


"Akan apa?" Tukas Serina.


"Mengikuti mu terus." Jawab Pram.


"Pram! Aku sudah bilang jika aku sudah menikah." Seru Serina lebih jelas.


"Iya aku tahu, tapi tidak ada salahnya kan jika aku meminta nomor ponselmu?" Pram terus memaksa sehingga membuat Serina jengah.


"Desi, ayo kita pergi saja!" Ucap Serina.


"Baik, ayo....."


Saat hendak berdiri Pram langsung saja menarik tangan Serina.


"Pram! Mau mu apa? Lepaskan tangan ku." Sentak Serina yang begitu terkejut dengan apa yang di lakukan Pram.


"Berikan nomor ponsel mu maka aku akan melepaskan mu!"


Serina menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.


"Pria ini sungguh tidak waras." Batin Serina kesal.


"Lepaskan dulu tangan ku!"


"Tidak akan. Sebelum kamu memberikan nomor ponsel mu." Ucap Pram semakin memperkuat cengkraman tangannya.


Lagi-lagi Serina menghela nafas.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Serina langsung saja memberikan nomor ponselnya kepada Pram.


Pram melepaskan cengkraman tangannya lalu pria itu tersenyum dan hendak memeluk Serina tapi di hentikan oleh Desi.


"Ini tempat umum, lagipula sahabat ku ini sudah menikah. Nanti apa kata orang!" Ucap Desi.

__ADS_1


"Ya, kamu memang benar. Tapi aku tidak peduli dengan itu semua." Ucap Pram.


Desi dan Serina, kedua wanita itu kebingungan mendengar penuturan dari Pram.


"Des, sebaiknya kita cepat pergi dari sini, bisa ikut gila kalau kita berlama-lama disini." Ucap Serina.


Keduanya pun berlalu dari hadapan Pram.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi, Serina dan aku akan membuatmu kembali lagi padaku." Batin Pram sambil menatap kepergian Serina yang semakin jauh.


-


-


-


Sore ini diruang tamu, tampak Bara sedang menikmati secangkir kopi sambil menunggu kepulangan sang istri.


Tiba-tiba datang Arum dan langsung duduk di samping Bara.


"Rum, kamu mengagetkanku saja!" Ucap Bara.


"Mas, aku ingin bicara sama kamu." Ujar Arum.


"Bicara apa, Arum?"


Dengan wajah sendu, Arum menundukkan wajahnya dan seketika itu juga air mata keluar membasahi pipinya.


"Arum, kenapa kamu malah menangis? ayo katakan saja, aku siap mendengarnya."


"Maaf mas, ini agak sedikit memalukan."


"Maksudmu apa Arum, aku sama sekali tak mengerti."


"Oh ternyata kamu butuh uang toh, Berapa?" Tanya Bara.


"Dua puluh juta." Jawab Arum menunduk kembali.


"Arum, untuk apa uang sebanyak itu?" Tanya lagi Bara.


Arum lalu menceritakan saat ibunya menelpon dan ingin meminjam uang untuk biaya ayahnya yang sedang sakit.


"Kamu tidak usah khawatir, Arum. Apapun yang kamu minta pasti akan aku kabulkan." Ucap Bara. "Kamu tidak usah meminjamnya, karena aku akan memberikannya secara cuma-cuma untukmu." Ucap Bara yang merasa kasihan dengan Arum.


"Kamu serius, mas?" Tanya Arum.


"Tentu saja Arum, kamu lebih berarti daripada uang dua puluh juta itu." Bara kembali berucap dengan serius.


Bara lalu mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata selingkuhan nya itu.


"Sudah jangan menangis lagi, aku tidak akan membiarkan kamu kesusahan, Arum." Ucap Bara begitu lembut dan halus.


Arum tersenyum lebar, dalam hati ia tertawa karena melihat Bara yang gampang sekali termakan oleh dramanya.


Tiba-tiba terdengar suara deru mobil memasuki halaman. Yang sudah pasti itu adalah Serina.


"Rum, kembalilah ke dapur, Serina sudah pulang!" Ujar Bara.


"Baiklah, mas!" Arum tersenyum, kemudian ia berlalu.


Tak lama datanglah Serina, tapi tidak seperti biasanya. Serina hanya melirik dan tersenyum ke arah Bara, kemudian ia berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Bara yang sedang berdiri menunggunya.


Bukannya bertanya suami sudah makan apa belum, ini malah begitu saja melewati Bara.

__ADS_1


Merasa di acuhkan, Bara meraih tangan Serina lalu membawa wanita itu ke hadapannya.


"Kenapa kamu mengabaikan ku?" Tanya Bara kesal.


"Mengabaikan bagaimana?" Tanya balik Serina. "Padahal aku biasa-biasa saja!"


Bara menghela nafas panjang.


"Kamu kenapa pulang jam segini lagi?"


"Aku sibuk, banyak urusan dikantor." Jawab Serina. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya.


Bara yang merasa tidak puas mendengar jawaban istrinya pun kembali menghentikan langkah Serina.


"Apa lagi sih, mas? Aku kan sudah bilang jika aku sibuk dan banyak urusan di kantor."


"Kenapa sikapmu berbeda jauh dari sebelumnya?" Tanya Bara sambil menatap intens wajah istrinya.


Serina membuang nafasnya kasar lalu berkata. "Aku tidak ingin berdebat dengan mu, mas!"


"Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"


Serina tidak buru-buru menjawab dan hanya menatap dingin Bara.


Dan beberapa detik kemudian, Serina menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, aku ingin membersihkan diri dulu!" Ucap Serina seraya berlalu.


"Mari kita bicara nanti!" Seru Bara Setengah berteriak.


Beberapa saat kemudian, mereka pun makan malam bersama.


Dipertengahan sedang menikmati makan, tiba-tiba Bara membuka suara.


"Kamu kenapa?" Tanya Bara pada Serina.


"Kenapa apanya? tidak lihat ya kalau baik-baik saja?" Ucap Serina dengan pembawaan yang dingin.


"Bukan itu, sikapmu kenapa? kenapa aneh?"


"Tidak ada yang aneh!" Ujar Serina sambil menyantap makanannya.


Bara membuang nafasnya kasar. Benar-benar bukan Serina yang selama ini ia kenal.


"Lebih baik kamu berhenti saja bekerjanya." Ucap Bara dengan entengnya.


"Dengan maksud apa kamu menyuruhku berhenti?"


"Aku ingin kamu lebih fokus saja kepadaku, melayani aku sebagai suamimu." Ujar Bara.


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya, sungguh membuat Serina begitu geram.


"Tidak bisa! Lagi pula jika aku berhenti siapa yang akan mengurus perusahaan. Bukankah kamu tau sendiri aku anak tunggal." Kata Serina menatap tajam ke arah Bara.


"Tapi Serin, kamu harus patuh pada perintah suamimu! tugas istri kan memang harus melayani suami." Jelas Bara.


"Bukan begitu, tapi mau melayani apa lagi? sementara saja dirumah ini sudah ada Arum, pembantu kita yang sudah dari dulu melayani." Ucap Serina.


"Bahkan melayani ranjang mu juga, mas." Batin Serina.


Ucapan Serina membuat Bara terdiam dengan detak jantung berdegup lebih kencang dari biasanya.


Serina merasa sangat senang melihat Bara yang tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2