Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
54. Menjauhlah


__ADS_3

"Pokoknya Arum gak mau, mah. Kalau mamah lapar, masak saja sana sendiri." Cetus Arum.


Kedua mata Mayang melotot mendengar ucapan Arum yang seperti itu.


"Kamu ya benar-benar menantu kurang ajar dan gak sopan. Sudah dikasih tumpangan eh malah kaya gini sikap kamu!" Gerutu Mayang dengan kedua tangan terkepal erat.


Arum memutar bola mata malas, dia sama sekali tak mengindahkan gerutuan mamah mertuanya.


"Sudahlah mah, Arum gak mau ribut sama mamah. Sekarang Arum mau pergi keluar!" Ucap Arum berbalik badan lalu melangkah masuk kembali ke kamarnya.


"Arum.....Arum....hei....." Panggil Mayang geram.


Semenit kemudian Arum kembali keluar kamar dengan tangan yang sudah menjinjing tas.


"Mau kemana kamu?" Tanya Mayang yang masih berdiri didepan pintu kamar.


"Ya mau pergilah," Jawab Arum santai. "Arum males dengar cerocosan terus!" Serunya.


"Heh, enak aja kamu kan saya suruh kamu bersihin rumah sama nyiapin makan malam,"


"Mah ingat ya, aku ini menantu bukan pembantu!" Tutur Arum kemudian berlalu begitu saja.


"Kurang ajar kamu, Rum!" Umpat Mayang dengan nada tinggi.


Belum lama kepergian Arum yang entah kemana, tiba-tiba Bara pulang.


"Mah, mamah kenapa? kok wajah mamah merah begitu?" Tanya Bara yang langkahnya terhenti saat melihat mamahnya duduk disofa.


Mayang bangkit dari duduknya dan menatap penuh kesal kepada Bara. "Istri kamu itu Lo, benar-benar kurang ajar! masa sama mamah gak ada sopan santunnya sama sekali." Jelas Mayang dengan nada geram.


Bara menghela nafas panjang. "Hem.....ada masalah apalagi sih, Mah?"


"Tadi mamah cuma nyuruh dia bersih-bersih sama masak aja, eh tapi masa dia gak mau dan kata-katanya malah kurang ajar sama mamah!"


"Te-terus Arum nya dimana, Mah?"


Mayang mengangkat kedua bahunya. "Nggak tahu, tadi dia pergi gitu aja!"


Bara membuang nafas kasar lalu ia merogoh saku celana mengambil ponselnya untuk menghubungi Arum. Akan tetapi sama sekali Arum tak menjawab panggilan telefon dari dirinya.


"Kemana dia, tak biasanya dia pergi tanpa bilang padaku terlebih dahulu!"


Tanpa Bara tahu, ternyata saat ini Arum sedang menikmati Kayuhan cinta bersama lelaki lain.


Selesai mengayuh cinta, Arum dan Bayu pun beristirahat sejenak sambil tidur berpelukan.


"Apa kamu tidak ada niatan untuk meninggalkan suamimu?" Tanya Bayu.

__ADS_1


"Entahlah mas, aku nggak tahu tapi kayanya makin hari ke hari aku jadi muak dan bosan sama dia." Jawab Arum.


"Kenapa bisa?"


"Mas, kamu kan tahu sendiri aku nikahin dia itu hanya karena harta doang, lah tapi sekarang dia malah jatuh miskin." Jelas Arum.


"Kalau begitu kenapa gak kamu ceraikan aja, Rum?"


"Entar Lah, Mas. Lagi cari waktu yang pas dulu." Ujar Arum.


"Baiklah Rum, namun setelah bercerai darinya, datanglah padaku. Karena aku selalu menunggumu." Tutur Bayu.


Arum tersenyum lebar seolah mengiyakan penuturan dari Bayu.


Sampai malam tiba, Arum tak kunjung pulang ke rumah. Bara yang menunggu sejak sore pun merasa begitu khawatir kepada istrinya apalagi sang istri tidak mengangkat teleponnya.


"Lihat noh istri kamu, Bara. Sudah malam begini gak pulang-pulang!" Ucap Mayang.


"Yah, mungkin Arum pergi ke rumah orangtuanya, Mah!"


"Halah, siapa tahu dia pergi sama laki-laki lain!" Mayang terus Mengompori.


"Mamah jangan bicara gitu, Arum tidak seperti yang mamah pikirkan!" Kata Bara.


Tiba-tiba terdengar suara deru mobil dari arah luar yang jelas itu adalah Arum yang baru saja pulang ke rumah.


"Arum, kamu darimana saja?" Tanya Bara.


Bara menghela nafas lega, ternyata dugaannya benar jika Arum pergi ke rumah orangtuanya.


"Tapi kenapa kamu tak mengangkat teleponku?"


"Ya lagi sama selingkuhannya, mana berani dia ngangkat!" Cibir Mayang tiba-tiba.


"Mah, mamah apa-apaan sih!" Seru Bara.


"Mamah cuma nebak aja, Bara. Siapa tahu bener."


Sementara Arum hanya menatap mamah mertuanya dengan tatapan dongkol.


"Argh.....sudahlah, Mas. Arum mau ke kamar dulu, mau bersihin badan!" Ucap Arum kemudian berlalu begitu saja sambil melirik sinis ke arah Mayang.


Melihat Arum yang sudah pergi ke kamar, Bara langsung saja berbicara serius kepada mamahnya. "Mah, Bara mohon jangan seperti itu terhadap Arum. Kasihan Arum, pasti dia merasa gak betah dirumah ini, Mah." Ucap Bara.


"Ya baguslah, kan mamah begitu memang sengaja biar dia gak betah!"


Tak ingin berdebat, akhirnya Bara memilih untuk menyusul Arum ke kamar.

__ADS_1


"Rum, maafin mamah ya. Mamah emang gitu kok orangnya!" Ucap Bara pada Arum yang sedang duduk didepan meja rias.


Arum memutar kepalanya, menoleh ke arah Bara. "Sudah tahu begitu, lalu kenapa kamu gak cepet-cepet beli rumah? Dari pada kita harus tinggal disini?" Tanya Arum.


"Iya aku tahu, Rum. Tapi kamu juga tahu sendiri kan kalau semua kartuku di bekukan? Lagian udah beberapa hari ini juga aku uang aja pinjem ke temen aku buat pegangan." Jelas Bara.


Arum membuang nafas kasar. "Aku gak mau tahu ya, Mas. Pokonya aku mau kamu cepat-cepet beli rumah terus kita minggat dari sini!" Tuntut Arum dengan kekeh.


*


Sementara keesokan harinya, Siang ini ada seorang wanita yang tak dikenal datang ke kantor Serina untuk bertemu Serina sendiri.


Wanita tersebut tak lain adalah Tasya, calon istri Pram.


Serina sempat bingung kenapa Tasya ingin bertemu dengannya. Ternyata ada hal yang ingin Tasya bicarakan sehingga Tasya mengajak Serina untuk berbicara empat mata saja dicafe terdekat.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" Tanya Serina pada Tasya yang duduk dihadapannya.


"Singkat saja, aku ingin kamu menjauhi Pram." Ucap Tasya dengan tatapan sinis.


Serina mengerutkan dahinya, lalu tersenyum tipis.


"Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Serina.


"Kenapa, apakah salah? Hei.....kamu harus menjauhi Pram calon suamiku, karena sebentar lagi kami akan menikah!" Tuturnya.


Serina terkekeh kecil. "Dengarkan aku, aku dan Pram tidak ada hubungan apa-apa selain teman. Jadi kamu tidak usah khawatir." Ujar Serina.


"Meskipun begitu aku tetap saja khawatir." Seru Tasya.


"Apa maksudmu itu?"


"Menjauh lah darinya, maka aku tidak akan khawatir lagi."


Serina terdiam sesaat.


"Aku tahu dia mencintaimu, sudah sejak lama. Tapi tak pernah sedikitpun kamu membalas cintanya. Maka dari itu jauhilah dirinya, apa kamu tak kasihan melihat dia terus bergantung pada perasaan tak nyata?"


Deeg.....


Serina tertegun mendengar pernyataan Tasya yang seperti itu.


"Hanya itu saja yang ingin kukatakan padamu, aku pergi dulu!" Ucap Tasya meraih tasnya yang ada diatas meja lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan Serina yang tertegun.


Serina bahkan sama sekali tak menghiraukan Tasya yang sudah pergi dari hadapannya itu. Dia masih mematung , terdiam seribu bahasa seolah ucapan Tasya itu benar-benar membuat dirinya tersadar.


Cukup lama Serina mematung dan berperang dengan pikirannya sendiri, hingga akhirnya wanita itu memilih untuk kembali ke kantornya.

__ADS_1


Saat kembali ke kantor, Serina pun langsung melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi. Akan tetapi, pikirannya terus saja terganggu oleh ucapan Tasya tadi.


"Apakah aku Setega itu? karena selama ini aku menggantung perasaannya?" Tanya Serina pada diri sendiri.


__ADS_2