
Serina mendecih. "Cih.........."
"Saya tegaskan kepada anda, saya akan sopan jika orang itu juga bersikap sebaliknya kepada saya." Tegas Serina.
"Hah, apa kamu bilang? Ternyata kamu sudah berani kurang ajar ya sama saya?" Mayang semakin geram.
"Kalau iya kenapa? toh lagian anda sudah bukan apa-apa saya!" Ucap Serina.
Mayang seketika naik pitam mendengar ucapan mantan menantunya. Ia pun mengangkat satu tangannya dan hendak melayangkannya ke wajah Serina, akan tetapi Pram dengan sigap langsung menahan tangan Mayang.
"Jangan ikut campur kamu, lepaskan tanganku!" Sergah Mayang melotot ke arah Pram.
"Selama Serina ada disamping saya, maka saya pastikan tidak akan ada yang dapat menyakitinya! termasuk anda, tua bangka." Kata Pram setengah mengejek.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?"
"Apa anda tidak malu nek? anak nenek sudah menyakiti dan menghancurkan hidup Serina, sekarang anda malah memaki-makinya seolah semua itu salah Serina." Jelas Pram sembari melepaskan tangan keriput milik Mayang.
Mayang semakin murka, kedua tangannya kini terkepal dengan begitu erat.
"Sebaiknya anda pergi sebelum darah tinggi anda kumat!" Ujar Serina menimpali dengan menyunggingkan senyuman.
Dengan perasaan kesal, Mayang pun akhirnya memilih untuk berlalu pergi dengan sumpah serapahnya.
"Sudah tua masih saja bertingkah seperti itu!" Ujar Pram sambil menggeleng.
"Dia memang seperti itu, dari semenjak aku menikah dengan Bara, dia sama sekali tak pernah menyukaiku." Kata Serina.
Merasa sudah kenyang, akhirnya Pram dan Serina pun memutuskan untuk pulang masing-masing.
_
Sementara sore ini, terdengar suara bel berulang kali. Arum yang saat ini sedang duduk santai sambil menikmati cemilan, langsung saja bergegas untuk membukakan pintu.
"Siapa?" Tanya Arum saat membuka pintu.
Tak menjawab, Mayang hanya menatap sinis Arum dari atas kebawah.
Arum sedikit kaget ketika melihat kedatangan Mayang yang begitu tiba-tiba.
"Ma-mah......" Sapa Arum terbata-bata seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Akan tetapi masih dengan tatapan sinis nya, Mayang sama sekali tak mengindahkan sapaan Arum.
"Dimana anakku?" Tanya Mayang sambil memanjangkan leher melihat ke arah dalam.
"Mas Bara dari pagi sedang sibuk menyiapkan acara pernikahan kami, Mah. Mungkin sebentar lagi mas Bara pulang." Jawab Arum.
"Kalau begitu silahkan masuk dulu, mah!" Kata Arum mempersilahkan calon mertuanya untuk masuk.
__ADS_1
Lagi, tak menjawab Mayang langsung saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Didalam Mayang melipat kedua tangannya di dada, sambil menatap jijik suasana disekelilingnya yang terlihat begitu berserakan dan kotor.
Tiba-tiba terdengar lagi suara Bel, yang sudah pasti itu adalah Bara.
"Mamah......." Seru Bara yang baru saja pulang.
"Bara......"
"Mamah kok, ada disini?" Tanya Bara.
"Ya kenapa, memangnya gak boleh?" Tanya balik Mayang.
"Duduk dulu, mah!" Ujar Bara. Mayang lalu mendudukkan pantatnya disofa.
"Mamah sudah minum?" Tanya lagi Bara.
"Belum, dia sibuk sendiri. Sampai dia lupa memberi mamah minum!" Ujar Mayang sambil melirik ke arah Arum yang sedang berdiri.
"Loh Rum, kamu bagaimana sih? mamahku datang tapi kamu malah gak bikinin minuman!" Bara sedikit kesal.
"Bukan begitu mas, mamah baru saja datang jadi----" Belum selesai Arum berbicara, Mayang langsung memotongnya.
"Alah dasar kamu saja, belum jadi menantu saja sudah pelit!" Cibir Mayang.
"Tunggu apa lagi Rum, cepat buatkan mamah minum!" Titah Bara.
Didapur sambil membuat minuman, Arum terus saja mengomel dalam hatinya.
"Dasar tua bangka tidak tahu diri, bisa-bisanya dia pintar bersandiwara didepan mas Bara biar aku disalahkan."
"Jadi selama ini kamu tinggal sama dia?" Tanya Mayang pada Bara.
Bara mengangguk. "Iya mah, Bara tinggal sama Arum selama ini. Lagian Bara Kasihan sama Arum mah, sejak dia diusir Serina dia tidak punya tempat tinggal lagi."
"Alah itu alasannya saja."
"Oh ya, katanya kamu habis mempersiapkan acara pernikahan kamu, jadi kamu memang benar mau nikah sama dia?" Tanya Mayang memastikan.
"Iya mah, keputusan Bara sudah bulat. Bara akan menikahi Arum."
"Aduh, Bara kamu ini kan sudah mamah bilang, kalau mau nikah lagi cari wanita yang derajatnya di atas mantan kamu itu, eh ini kok malah milih yang jauh di bawah Serina." Ujar Mayang sengaja mengeraskan suaranya.
"Mah!"
Mayang menghembuskan nafas kasarnya. "Heran mamah sama kamu Bara, kenapa bisa kamu mau dengan wanita seperti itu? cuih.....jelas-jelas dia hanya seorang pembantu!" Mayang kembali menghardik.
"Shut.....mah, bagaimana kalau Arum mendengarnya? pasti dia akan sakit hati!" Ucap Bara setengah berbisik.
__ADS_1
"Ya biarlah, mamah kan sengaja biar dia denger sekalian juga sadar diri!"
Tak lama setelah berkata seperti itu, Arum datang dengan membawakan secangkir teh hangat untuk calon mertuanya.
"Diminum, mah. Nanti dingin gak enak." Ucap Arum tersenyum seraya meletakkannya di hadapan Mayang.
Setelah itu Arum mendudukkan pantatnya tepat disebelah Bara.
"Bara, mamah tanya sekali lagi. Yakin kamu mau menikahi perempuan ini?" Tanya Mayang sambil melirik tajam Arum. "Apa nantinya kamu nggak nyesel tujuh turunan?"
Arum menelan ludah, apa maksud omongan dari calon mertuanya ini? sungguh membuat ia sangat geram dan sakit hati mendengarnya.
"Bara sangat yakin dan percaya, mah." Ucap Bara seraya memegang tangan Arum. Hal itu pun membuat Mayang tampak muak dan geli sehingga ingin muntah.
"Heh, Bara kamu itu lihat coba, apartemen kamu kotor sekali, sampah berserakan dimana-mana, Arum kerjaan kamu itu ngapain aja sih?" Tanya Mayang geram.
"Kalau kerajaanmu cuma merawat diri, aku lihat kamu ya nggak cantik-cantik banget. Malah tetap gitu-gitu aja wajahmu! " Ejek Mayang.
Kuping Arum begitu panas mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut calon mertuanya. Ingin marah tapi tidak bisa karena dia harus menjaga sikap dan perilakunya sebagai calon menantu dan istri yang baik.
"Mah, jangan terus-terusan menghina Arum, Mah. Dia calon istri sekaligus menantu mamah bukan pembantu." Ucap Bara yang selalu membela Arum.
"Halah, bukannya dulu Arum itu pembantu kamu dulunya dan kamu Arum, bukankan pekerjaan kamu dulunya pembantu?"
Tidak menjawab, Arum memilih untuk diam tapi di dalam hatinya ia terus menyumpahi calon mertuanya agar segera menjadi tanah.
"Mah, itu dulu sekarang sudah beda." Ucap Bara.
Mayang menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu ia mengambil minuman dan meminumnya.
"Cuih.!!" Mayang menyemburkan minuman tersebut.
"Heh, Arum kamu ini. Ini teh kenapa rasanya asin, kamu sengaja mau mengerjai saya?" Tanya Mayang dengan marah.
"Loh, mah maafin Arum, perasaan tadi Arum sudah memasukkan gula. Kalau begitu biar Arum buatkan yang baru."
"Halah, gak usah. Padahal kamu itu mantan pembantu bisa-bisanya gak bisa membedakan gula sama garam." Kesal Mayang.
"Maafin Arum, mah. Arum kurang teliti." Ucap Arum menyesal padahal dalam hatinya merasa puas telah mengerjai Mayang.
"Gini kok, mau di ambil jadi istri. Bisa-bisa anak ku sengsara punya istri kaya kamu." Cibir Mayang.
Bara menghembuskan nafasnya panjang.
"Sudahlah mah, Arum juga sudah minta maaf, jangan di perpanjang lagi." Ujar Bara.
Arum tersenyum tipis, ternyata Bara lebih membela dia daripada mamahnya.
__ADS_1