Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
44. Murka


__ADS_3

"Kamu sudah bangun, mas?" Tegur Arum yang tiba-tiba berdiri diambang pintu.


"Ya, yang kamu lihat bagaimana?"


Arum tersenyum lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Bara yang sedang duduk.


"Aku kesiangan bangunnya. Tunggulah sebentar, aku akan membuatkan mu sarapan." Ujar Arum.


"Baiklah."


Tak butuh waktu lama, Arum telah selesai memasak sarapan. Dua piring nasi goreng Arum sajikan tepat di hadapan Bara yang kini telah menjadi suaminya.


"Makanlah, mas!" Ucap Arum.


"Baik, terimakasih."


Bara lalu menyuapkan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya. Begitu pula dengan Arum.


"Aku yakin waktu pulang dari acara pernikahan kita pasti Serina menangis." Kata Arum disela makannya.


"Entahlah, sepertinya begitu."


"Hem......mas sepertinya habis ini aku akan pergi ke rumah ibu." Ucap Arum.


"Oh ya, mau ku antar?" Tawar Bara.


Arum menggeleng dengan cepat. "Tidak usah mas, aku sendiri saja." Tolak Arum.


"Kamu mau naik apa kesana kalau nggak kuantar?" Tanya Bara.


"Ya rencananya sih aku pengen bawa mobil kamu sendiri,"


"Ya boleh sih, tapikan kamu belum pandai menyetir." Kata Bara.


"Tenang aja, Mas. Aku pasti bisa kok." Seru Arum.


Bara menghela nafas. "Hem.....baiklah kalau begitu, bawa saja mobilnya."


Arum seketika terlihat begitu sumringah tak kala Bara mengizinkannya untuk membawa mobil sendiri.


Selepas sarapan, Arum langsung saja pergi ke kamar untuk membersihkan diri sekaligus bersiap-siap untuk pergi ke rumah ibunya.


Merasa sudah menjadi istri dari seorang bos, Arum pun mulai mengubah penampilan dirinya layaknya seperti wanita sosialita.


"Mas aku pergi dulu ya," Ucap Arum berpamitan pada Bara yang sedang duduk diruang tengah.


Bara sedikit kaget melihat penampilan istrinya yang dari atas kebawah tampak begitu Hedon dengan ditambah kaca mata hitam bertengger di hidung peseknya.


"Rum, tu-tumben penampilan kamu seperti ini?" Tanya Bara seraya bangkit dari duduknya.


Tak buru-buru menjawab, Arum melepas kaca mata hitam tersebut lalu tersenyum pada Bara.


"Ya kan sekarang aku sudah jadi istrimu, Mas." Jawab Arum.


"Iya kamu sudah menjadi istriku, tapi aneh saja melihat penampilan kamu kali ini." Ujar Bara.


Arum menghela nafas panjang. "Masa kamu nggak paham sih, kan wajar aku penampilan seperti ini karena sekarang aku sudah menjadi istri seorang bos. Jadikan penampilan ku harus terlihat mewah dan Hedon seperti orang berkelas." Jelas Arum.


Bara menggeleng pelan. "Hem.....terserah kamu saja, Rum. Yang penting kamu senang." Tutur Bara.

__ADS_1


"Yaudah kalau begitu, aku pergi dulu ya!" Arum mengulurkan tangannya untuk berpamitan.


"Hati-hati dijalan," Ucap Bara seraya mencium kening Arum.


Arum, wanita itu pun kemudian melangkah pergi.


Sebelum menuju ke rumah kediaman orangtuanya, Arum mampir terlebih dahulu ke salah satu Mall. Dia berniat membeli buah tangan untuk orangtua serta adiknya. Selepas membeli buah tangan, Arum langsung saja melanjutkan perjalanannya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai Arum telah tiba dipekarangan rumah orangtuanya.


Arum bergegas turun dari mobil dan langsung segera mengetuk pintu rumah orangtuanya.


Tak lama setelah Arum mengetuk pintu, pintu pun terbuka dan yang membukanya adalah ibunya sendiri.


"Arum......" Sisil menatap Arum dari atas kebawah. Setelah menikah penampilan anaknya itu benar-benar berubah. Terlihat seperti orang kaya.


"Ibu......" Arum melepas kacamatanya lalu tersenyum.


Tak banyak bertanya, Sisil langsung saja mempersilahkan anaknya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ini Bu, Arum bawakan buah tangan. Pasti ibu, ayah dan Laras suka!" Arum meletakan beberapa paper bag yang ia bawa.


Sisil hanya diam dan menatap Arum dengan datar.


"Bapak sama Laras kemana, bu?" Tanya Arum.


"Laras sedang pergi sama temannya, sementara bapak kamu sedang kerja." Jawab Sisil.


Arum menghela nafas. "Kasian ayah, sudah tua masih bekerja. Sebaiknya ibu bilang pada ayah nanti, tidak usah bekerja lagi. Tidak usah khawatir, biar Arum nanti yang mencukupi semuanya." Kata Arum.


Lagi, Sisil hanya diam sembari menatap Arum dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Ibu, ibu kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Arum.


"Maksud ibu apa?" Tanya balik Arum yang tak paham.


"Apa benar kata orang-orang kalau kamu itu perebut laki orang?"


Deeg......


Arum begitu kaget mendengar pertanyaan dari sang ibu.


"Apa perebut laki orang? itu semua tidak benar, bu." Sanggah Arum dengan senyum palsu.


"Jawab saja yang jujur, Rum. Ibu sudah tahu semuanya!" Ujar Sisil.


"Kenapa kamu bohongi ibu selama ini, Rum? kamu bilang kamu bekerja sebagai seorang manager tapi ternyata kamu hanyalah pembantu rumah tangga."


Arum seketika diam beribu bahasa, semua yang awalnya ia tutup-tutupi akhirnya terbongkar juga.


"Siapa yang bilang begitu, Bu? ibu jangan percaya omongan dari orang!"


"Sudahlah, Rum. Ibu juga tahu kalau ternyata Bara itu sebelumnya adalah majikan kamu yang sudah mempunyai istri. Tapi kamu malah merebutnya dari istrinya hingga membuat mereka bercerai." Jelas Sisil.


Arum termangu. Bibirnya seketika tergagap, ia tak bisa berkata satu huruf pun dan hanya menatap ibunya dengan mematung.


"Ibu tidak menyangka kamu akan berbuat hal sekeji itu, Rum." Lirih Sisil dengan mata memerah.


"Aku dan mas Bara saling mencintai, Bu. Tapi aku sama sekali tidak merebutnya." Elak Arum dengan wajah sedikit tertunduk.

__ADS_1


"Omong kosong! Semua sudah jelas, Rum bahwa kamu itu adalah perebut laki orang!" Terang Sisil.


Kini Arum merasa sangat malu pada ibunya. Dia pun hanya diam mematung mendengar makian ibunya.


"Apa ibu pernah mengajari mu seperti itu, Rum?" Tanya Sisil.


Arum menggeleng pelan.


"Ibu kecewa sama kamu, Rum. Ibu benar-benar kecewa sama kamu!" Gerutu Sisil kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Ibu maafkan, Arum Bu!" Ucap Arum seraya bersimpuh di kaki ibunya.


"Anak macam apa kamu ini, Rum? ibu benar-benar kecewa sama kamu." Tangis Sisil pecah.


Arum sudah hilang kesabarannya. Ia yang mulanya bersimpuh dikaki sang ibu, akhirnya pun bangkit berdiri sambil menatap garang ibunya dengan kedua tangan terkepal erat.


"Iya ibu, betul betul sekali aku memang perebut laki orang. Apa ibu puas?!" Pekik Arum yang sudah geram.


Sisil melotot tak percaya, anak yang selama ini ia besarkan dengan kebaikan ternyata besarnya malah menjadi pelakor.


"Keterlaluan kamu, Rum!" Gumam Sisil.


Arum tertawa jahat. "Sudahlah bu, jangan munafik! Jangan berlagak kaget! Kalau bukan karena Arum ngeretin harta mas Bara mungkin bapak sekarang udah di liang kubur! kan yang selama ini bayar biaya pengobatan bapak, Arum kan?Toh, lagian ibu juga makan uangnya kan?" Tanya Arum menyeringai.


Sisil yang sudah terbakar emosi sejak tadi, ia langsung saja melayangkan satu tamparan keras ke wajah Arum.


Plak!


"Aw......." Rintih Arum kesakitan.


Ia memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari sang ibu.


"Ibu, ibu benar-benar kecewa sama kamu, Rum. Jangan pernah temui ibu lagi!" Ucap Sisil sambil menunjuk-nunjuk wajah Arum.


"Silahkan! Mau ibu tidak menganggap ku anak, silahkan!" Ucap Arum dengan entengnya.


Plak!


Lagi, Sisil menampar anaknya.


"Jahanam bin biadab kamu Arum! Ibu benar-benar tidak menyangka kalau kamu akan seperti ini!" Seru Sisil.


"Ingat karma, Rum. Kamu juga seorang wanita." Timpal Sisil.


"Kalau karma kenapa, masalah buat ibu?" Tanya Arum.


"Ibu nyesel udah ngelahirin kamu, Rum!" Pekik Sisil.


"Oh ya? Pas lagi bikin nyesel gak, Bu?" Tanya Arum yang malah semakin berani dan kurang ajar.


Sisil menggelengkan kepalanya.


"Mulai sekarang kamu bukan lagi anakku!" Tegas Sisil dengan diiringi suara kilat yang tiba-tiba saling bersahutan.


"Arum tidak peduli, yang penting sekarang, Arum sudah mendapatkan apa yang Arum inginkan selama ini!" Ucap Arum.


"Yah Jangan nyesel aja nanti, soalnya kan selama ini Arum terus yang menghidupi bapak ibu!" Imbuhnya.


Sisil tak menghiraukan ucapannya dan hanya menatap Arum dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Oh ya dan satu lagi, Arum menunggu hari dimana ibu sama bapak ngemis-ngemis di kaki Arum untuk meminta uang." Ujar Arum dengan angkuhnya.


"Demi dewa! Ibu tidak akan memaafkan mu." Raung Sisil.


__ADS_2