
Drtt.......drtt..........
Tiba-tiba ponsel Serina yang berada diatas meja bergetar. Serina pun mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon dirinya. Ternyata itu adalah Pram. Langsung saja Serina mengangkat panggilan telepon itu.
"Hallo Pram, ada apa?" tanya Serina.
"Aku harap malam ini kita bisa bertemu," ajak Pram tiba-tiba.
"Bertemu untuk apa?" tanya Serina.
"Aku ingin berbicara penting denganmu, jadi tolong temui aku di cafe **** aku tunggu pukul tujuh malam nanti."
Ucap Pram kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Malam berlalu, singkat cerita kini Serina telah berada di cafe yang di maksud oleh Pram. Serina di arahkan oleh salah satu pelayan cafe tersebut menuju ke sebuah privat room. Serina menautkan ke dua alisnya saat melihat ada Pram yang duduk seperti seperti yang sedang menunggu dirinya.
"Serin, kenapa hanya berdiri disana. Kemari lah!" Titah Pram.
Pram bangkit dari duduknya, menarikan kursi di sampingnya lalu mempersilahkan Serina untuk duduk.
"Pram, kenapa kamu mengajak ku bertemu ditempat yang seperti ini?" tanya Serina matanya memandangi sudut ruangan yang terkesan begitu mewah dan elegan.
"Tidak apa-apa Serina, duduklah!"
Serina lalu mendudukkan pantatnya.
"Kita makan malam bersama malam ini," ujar Pram tersenyum.
"Hah, hanya makan malam? bukankah katamu ada hal penting yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Serina.
"Benar, tapi aku akan bicara nanti, selepas kita makan."
Serina pun mengangguk tanda mengerti. Akhirnya keduanya makan bersama sambil menikmati alunan musik romantis yang mengalun.
"Bagaimana, apa kamu suka dengan makanannya?" tanya Pram.
__ADS_1
Serina mengangguk dengan senyuman yang terkambang di bibirnya. "Tempatnya sangat bagus, makannya juga enak. Aku baru pertama kali ke tempat ini."
"Aku merasa senang karena akulah orang pertama yang mengajakmu kesini." Ucap Pram.
Serina kembali tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke luar kaca, memandangi langit malam yang bertabur bintang serta gedung-gedung perkotaan yang tampak terang dengan lampu-lampunya.
Dan beberapa saat kemudian mereka berdua telah selesai makan.
Tanpa bertele-tele, Pram langsung saja menyatakan yang sebenernya. Pram mengatakan kalau dirinya tidak jadi menikah karena ia sendirilah yang membatalkan pernikahannya.
Serina yang mendengar itu sama sekali tak mengerti, kenapa bisa Pram membatalkan pernikahannya sendiri dan apa hubungannya dengan dirinya?
"Aku tahu kamu pasti kebingungan, Serin. Tapi asal kamu tahu, aku membatalkan pernikahan ini adalah karena kamu juga Serin." Ucap Pram.
Serina terkekeh kecil, ia semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Pram. "Hei Pram, apa hubungannya dengan aku?" Tanya Serina.
"Sudah ku bilang Serin, aku hanya menyukai dan mencintaimu saja. Jadi aku tidak bisa menikah dengan wanita lain selain kamu." Jelas Pram.
Serina mematung, menatap wajah Pram dengan datar.
Serina ternganga, tak menyangka jika Pram akan melakukan hal ini.
"Maukah kamu menerima cintaku, Serina?" tanya Pram dengan tulus, tapi matanya terpejam menunggu jawaban dari Serina.
Serina tak buru-buru menjawab, dia malah menatap wajah kedua orangtua Pram yang terlihat penuh harap.
Sedetik dua detik barulah Serina menjawabnya dengan rasa gugup.
"Maafkan aku, Pram." Satu bait kalimat itu sontak membuat Pram membuat kembali sepasang matanya.
"Jangan bilang kalau kamu menolak ku lagi?" tanya Pram dengan tatapan sendu.
Serina menggeleng dengan cepat.
"Lalu apa, Serin?"
__ADS_1
"Bukannya aku menolak, hanya saja aku masih ragu dan trauma jika harus menikah lagi." Ucap Serina tanpa menatap wajah Pram.
"Kamu masih trauma kepada pengkhianatan suami kamu ?" Tanya Pram.
Serina mengangguk, tanda mengiyakan.
Pram menghela nafas pelan.
"Apa salahnya jika aku ingin serius sama kamu, Serin. Aku mohon jangan padamkan cinta mu untuk ku, aku bukan laki-laki seperti mantan kamu itu." Ucap Pram.
"Tapi aku belum bisa menerima orang baru dalam hidup ku, aku masih takut..!
"Apa salahnya menerima orang baru dalam hidup kamu, bisa jadi luka lama yang kamu alami bisa sembuh dengan orang yang baru."
"Apa jangan-jangan kamu masih mencintai mantan suami kamu?" Tanya Pram memastikan.
"Tidak, sejak hari dimana dia menduakan aku, sejak saat itu juga cinta ku telah mati." Jawab Serina membuat Pram bernafas lega.
"Kalau begitu, ayo menikah dengan ku..!" Ajak Pram.
"Percayalah, aku tidak seperti mantan suami kamu itu, jangan kamu samakan semua lelaki dengan mantan mu itu." Imbuh Pram.
"Tapi aku masih trauma, Pram!" Ucap Serina sekali lagi.
"Jangan trauma pada pernikahan. Karena yang salah itu pribadinya, bukan pernikahannya." Ucap Pram membuat Serina terpaku. Kalau dipikir-pikir lagi, ucapan Pram yang seperti itu memang benar.
"Baiklah Pram, kamu memang benar tapi,----" Serina menggantung ucapannya.
"Tapi apa, Serin?"
"Tapi aku butuh waktu untuk pikir-pikir sebelum akhirnya aku mengambil keputusan yang tepat." Ucap Serina.
"Baiklah, aku akan memberi mu waktu. Tapi ingat, jangan lama-lama." Ucap Pram.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku hanya takut bajingan itu mengejar-ngejar mu lagi.'