Rintihan Di kamar Pembantuku

Rintihan Di kamar Pembantuku
19. Pergi Ke Bar


__ADS_3

"Mas ......." Panggil Arum yang sudah kembali dengan membawa tas.


"Arum.....sudah?" Tanya Bara.


Arum menganggukkan kepala.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!" Ucap Bara.


"Tapi kita mau pergi kemana, mas?" Tanya Arum dengan tatapan sendu.


"Kita akan pergi ke apartemen." Jawab Bara.


"Tapi Arum takut, mas."


"Takut kenapa?" Tanya Bara lagi.


"Kalau nyonya Serina tahu terus dia marah bagaimana?"


"Tak usah takut, aku akan selalu ada untukmu." Ucap Bara menenangkan.


Arum mengiyakan dan akhirnya keduanya pun pergi meninggalkan kediaman Serina.


Huft.....


Sementara Serina, tanpa tahu arah dia tetap saja melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang tampak ramai oleh lalu lalang kendaraan. Wanita itu sesekali menghela nafas berat mengingat apa yang telah terjadi pada rumah tangganya yang berantakan sekarang.


Air mata yang ia tahan sejak tadi pun kini runtuh membanjiri pipi mulusnya. Hatinya begitu nyeri, manalagi saat melihat suaminya yang masih peduli pada selingkuhannya. Betapa teganya Bara, mengkhianati cinta tulus Serina.


"Kenapa kamu tega, mas?" Tanya Serina berbicara sendiri. "Dulu kamu mengucapakan janji suci kepadaku bahkan dihadapan orangtuaku dan semua orang. Tapi kenapa, kenapa kamu malah mengkhianatinya!" Tangis Serina pecah.


-


Bara dan Arum kini telah sampai di apartemen. Terlihat Arum terus saja memandangi setiap sudut-sudut ruangan yang begitu bagus dan mewah.


"Sementara tinggallah dulu disini, Arum." Ucap Bara pada Arum.


Tak menjawab, Arum masih saja fokus pada pandangannya.


"Arum....kamu kenapa?" Tanya Bara.


"Mas, ini apartemen mu?"


"Iya Arum, tahun lalu aku membeli apartemen ini. Tapi sangat jarang ditinggali."


Arum menghembuskan nafas pelan. Lalu ia kembali bertanya pada Bara.


"Mas, bisakah kamu berjanji padaku?"


"Janji? janji apa, Rum?"


"Berjanjilah kalau kamu tidak akan akan pernah meninggalkan ku." Pinta Arum.


Bara terdiam sesaat.

__ADS_1


"Untuk saat ini kita jalani saja hubungan ini." Ujar Bara.


"Tapi aku mau kamu berjanji dulu, mas. Berjanjilah kalau kamu tidak akan meninggalkanku." Arum mengulang ucapannya sambil menatap lekat-lekat wajah Bara.


"Tenang saja, Rum! aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" Tutur Bara.


Arum tersenyum puas mendengar penuturan Bara.


"Kalau begitu aku pulang dulu." Ujar Bara seraya berlalu tapi dengan cepat Arum meraih tangan Bara.


"Aku tidak mau sendirian disini, Mas. Kamu harus menemani ku. Kamu tidak boleh menolak." Ujar Arum.


"Arum... Mengertilah!"


"Mengerti apa? Selama ini aku selalu pengertian sama kamu, mas." Ucap Arum, matanya sudah berkaca-kaca.


"Iya aku tahu Rum, tapi aku segera pergi. Serina akan semakin marah nantinya!"


"Cih.....kamu masih memikirkannya? kamu masih peduli padanya?" Tanya Arum dengan kesal.


"Biar bagaimana pun dia masih istriku, Arum." Kata Bara.


"Tapi mas----"


Bara langsung membawa tubuh Arum ke dalam pelukannya.


"Kamu harus tenangkan dirimu, Rum. Beristirahatlah dulu, kalau ada apa-apa segera hubungi aku!" Ucap Bara sambil mengelus kepala Arum.


Merasa Arum sudah tenang, Bara langsung melepaskan pelukannya. "Kalau begitu aku pergi dulu!" Kata Bara seraya berlalu dan Arum hanya bisa memberikan senyum tipis.


-


Hari mulai beranjak malam dan Serina masih saja menyetir mobil sejak tadi. Ia sama sekali tidak tahu kemana harus pergi, di rumah pun percuma karena dia pasti akan bertemu dengan Bara.


Pandangan Serina tiba-tiba terfokus pada sebuah Bar yang ada dipinggir jalan.


Serina sempat termenung dan akhirnya ia memutuskan untuk mampir ke Bar tersebut, karena ia pikir dengan minum ia bisa menenangkan pikirannya yang saat ini sedang kalut.


"Berikan aku satu botol minuman" Pinta Serina pada pelayan.


"Baik!" Pelayan tersebut lalu mengambilkan satu botol minuman untuk Serina.


Serina langsung saja menuangkan minuman itu ke dalam gelas, kemudian meneguknya sampai habis. Hal itu pun dilakukannya sampai berulang-ulang kali.


Sampai beberapa saat kemudian, Serina tanpa sadar sudah menghabiskan dua botol minuman beralkohol. Efeknya pun membuat kepalanya terasa pusing, dan bicara asal-asalan.


Wanita itu mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi seseorang yang tak lain itu adalah Pram.


Pram begitu kaget saat mendapati Serina yang menelpon dirinya secara tiba-tiba. Dengan senang, Pram pun langsung saja mengangkatnya.


"Hallo Serina, tumben sekali kamu menghubungiku? ada apa?" Tanya Pram dengan bungah.


"Dimana?" Tanya Serina dengan suara lirih.

__ADS_1


"Di Apartemen, ada apa?"


"Katamu aku bisa bercerita kapanpun dan kamu akan siap mendengarnya, apa itu masih berlaku?" Tanya Serina.


"Tentu saja Serin, aku akan selalu siap mendengarnya." Ujar Pram.


"Apa kamu sedang ad masalah? dimana kamu sekarang?"


"Di Bar ×××" Jawab Serin.


"Hah, di Bar? kamu minum?"


Tak ada jawaban, hanya ada suara tangisan Serin yang terdengar didalam telepon tersebut.


"Hallo.....Serin! Hallo.....!"


Sambungan telepon seketika terputus. Pram yang begitu khawatir, ia pun langsung saja bergegas menuju ke Bar untuk menyusul Serina. Pram sangat takut jika sesuatu terjadi pada pujaan hatinya.


"Apa aku kurang sempurna di matamu, hingga kamu menduakan aku?" Ujar Serina meracau.


Tidak butuh waktu lama, Pram akhirnya sampai di Bar. Pria itu turun dari mobil dan langsung buru-buru masuk. Pram mengedarkan pandangannya ke segala arah dan ia melihat ada Serina yang sedang duduk dengan kepala tertunduk ditopang satu tangan.


Pram berjalan cepat dengan langkah yang begitu lebar.


"Astaga, Serina kenapa kamu mabuk-mabukan seperti ini?" Tanya Pram sambil memegang pundak Serina.


Serina mengangkat pandangannya dan menoleh ke arah Pram dengan senyuman yang dipaksakan.


"Ternyata kamu datang...." Lirih Serina.


Pram menghela nafas panjang, karena baru kali ini ia melihat Serina seperti ini.


"Kamu mau minum bersamaku?" Tawar Serina yang dalam keadaan mabuk.


Pram menggeleng dengan cepat. "Tidak, lebih baik kita pergi saja dari sini!" Ajak Pram.


"Tidak mau, duduklah dulu, kita minum bersama!" Kata Serina. "Pelayan, berikan aku satu botol lagi!" Titah Serina.


Pelayan lalu memberikan lagi satu botol minuman beralkohol. Saat Serina ingin meneguk minuman itu, Pram langsung saja menahannya dan menaruh kembali minuman tersebut.


"Serina, hentikan." Pinta Pram dengan lembut. "Bukankah katamu kamu ingin bercerita padaku?" Tanya Pram.


Tak menjawab, Serina hanya tersenyum-senyum seperti orang gila.


"Ayo, kita pergi dari sini!" Paksa Pram, ia lalu membantu Serina untuk bangun dari duduknya.


"Tidak mau....aku mau disini saja!" Seloroh Serina.


Tak menghiraukan, Pram langsung saja membopong tubuh Serina dan membawanya keluar dari Bar tersebut.


Sedangkan Bara saat ini, diruang tengah ia terus saja mondar mandir menunggu kepulangan Serina. Sesekali matanya melirik ke arah jam yang melingkar ditangannya, jam yang sudah menunjukan pukul tujuh lewat.


"Kemana dia, kenapa jam segini belum pulang juga?" Tanya Bara pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2