
Siang itu mereka berkemas, dengan berat hati Arum harus menuruti permintaan suaminya untuk tinggal sementara di rumah ibunya.
"Mas, pokoknya aku gak mau tinggal berlama-lama di rumah mamah kamu!" Ucap Arum.
"Memangnya kenapa, Rum. Lagian mamah ku, mamah kamu juga jadi apa salahnya?" Tanya Bara.
"Mas, kamu ini bodoh atau pura-pura gak tau, sih. Mamah kamu itu gak suka sama aku, dia selalu menyudutkan ku. Bukankah kamu tahu sendiri?" Kesal Arum.
"Sudahlah, Rum. Kamu tahan-tahan saja lah dulu."
"Pokoknya aku gak mau tau, Minggu depan kita harus pindah ke rumah baru. Kamu sudah berjanji mas, mau beliin aku rumah!" Ucap Arum.
Arum mendengus kesal tak mendapat jawaban dari suaminya, wanita ini memutuskan berlalu begitu saja. Bara memijit keningnya yang terasa pening kemudian ia menyusul Arum keluar.
"Mamah kemana?" Tanya Bara pada Arum.
"Dia sudah pulang terlebih dahulu." Jawab Arum.
"Baiklah, ayo kita pergi!"
Menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, keduanya sudah sampai di kediaman Bu Mayang.
"Wah........ Wah... Rumah mamah kamu besar juga mas, nanti kalau kamu beliin rumah buat aku harus lebih besar dan mewah dari ini." Ucap Arum yang baru pertama kali ke rumah mertuanya.
"Pikirkan nanti saja, Rum. Sebaiknya kita masuk dulu menemui mamah." Ujar Bara yang sebenarnya merasa pusing dengan permintaan Arum.
Arum menurut, suami istri ini pun masuk ke dalam rumah, di ruang tamu ada Bu Mayang yang sedang duduk sambil melipat tangannya di dada.
"Sampai kapan kamu akan tinggal di rumah, mamah?" Tanya Mayang ketus.
"Aku juga tidak tahu, mah. Lagipula aku baru saja sampai." Jawab Bara.
"Mamah, tidak usah khawatir kami secepatnya akan pergi dari sini setelah membeli rumah." Sambung Arum.
"Baguslah! Sebenarnya mamah itu gak masalah jika kamu tinggal disini, Bara. Yang jadi masalahnya karena wanita itu!" Ucap Mayang sambil menatap sinis Arum.
__ADS_1
"Mah..! Tolong jangan seperti itu. Arum istri ku, menantu mamah. Mamah jangan membencinya seperti itu dong."
"Terserah mamah. Ini rumah mamah jadi kamu tidak ada hak mengatur!" Ujar Mayang.
"Sudahlah, mah! Bara capek mau istirahat dulu." Ujar Bara. "Arum, ayo ke kamar ku!" Ajak Bara.
Malam telah tiba saatnya jam makan malam. Bara yang baru bangun tidur melirik jam yang melingkar di tangannya. Pria ini bergegas turun dari ranjang untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia masih melihat Arum yang masih tertidur, mungkin lelah pikirnya. Bara yang merasa lapar memutuskan untuk pergi ke ruang makan lalu membuka tudung saji yang ternyata kosong, tidak ada apa-apa.
"Mah, kok gak ada makanan?" Tanya Bara pada Mayang yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Ya, karena gak ada yang masak." Sahut Mayang.
"Loh bukannya mamah punya art?" Tanya Bara.
"Sudah mamah pecat! Toh sekarang sudah ada Arum, biarkan saja dia yang menggantikan nya." Ucap Mayang.
"Mah, jangan gitu dong. Tolong hargai Arum sedikit saja, Mah!" Ucap Bara.
"Duh Bara, toh lagian apa salahnya sih? hitung-hitung ngirit soalnya kan mamah udah gak mampu bayar art." Ujar Mayang.
"Rum, bangun...!"
Bara mengguncang tubuh Arum berulang kali, dengan perasaan malas Arum membuka matanya.
"Ada apa sih, mas?" Tanya Arum.
"Cepat bangun, mas udah lapar nih!"
"Mas, kamu masak sendiri aja lah aku ngantuk ini."
"Ayolah, Rum. Kamu kan istri ku jadi harus nurut dong!"
"Argh... Iya, iya!"
Dengan perasaan kesal dan masih mengantuk Arum pun pergi ke dapur untuk memasak makan malam untuk suaminya.
__ADS_1
"Heh, Rum..!" Seru Mayang.
"Ada apa, mah?" Tanya Arum pada Bu Mayang yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.
"Mulai sekarang kamu yang masak dan bersih-bersih di rumah ini!" Ujar Mayang.
"Memangnya kenapa, mah?" Tanya Arum yang masih tak mengerti.
"Pakai nanya lagi, art dirumah itu sudah ku pecat jadi kamu harus menggantikannya."
"Tapi Arum kan bukan pembantu, mah!" Ucap Arum tak terima.
"Iya, tapi kamu kan tinggal di rumah ku jadi kamu harus mengerjakan pekerjaan rumah. Enak saja mau tinggal gratis!"
"Mah, gak bisa begitu dong!" Ucap Arum. "Mamah tidak bisa mengatur ku seperti itu."
"Ini rumah ku, jadi aku berhak mengatur siapa saja yang tinggal disini. Jika kamu keberatan, silahkan angkat kaki dari rumah ini!" Ucap Bu Mayang seraya beranjak pergi.
Arum mengepalkan tangannya erat-erat merasa tak terima jika dirinya harus di atur oleh sang mertua. Arum menghentikan aktivitas memasaknya lalu menghampiri suaminya yang berada di kamar.
"Mas .....!" Seru Arum dengan wajah memerah.
"Ada apa, apa makanannya sudah siap?" Tanya Bara.
"Mamah kamu itu loh, mas bener-bener keterlaluan!"
"Maksud kamu apa, Rum?" Tanya Bara.
"Masa dia nyuruh aku mengerjakan semua pekerjaan rumah, emang mamah kamu pikir aku pembantu apa? hanya mentang-mentang aku numpang tinggal disini, bukan berarti mamah kamu seenaknya, Mas!" Adu Arum.
"Sudahlah, Rum. Memangnya kenapa, apa salahnya? kita harus sadar diri juga, Rum. Kita ini numpang dirumah mamah. Mungkin maksud mamah itu kamu harus bantu-bantu juga dirumah ini." Jelas Bara.
Arum mendengus kesal. Ia tak menyangka jika suaminya malah mendukung mertuanya.
"Kamu sama aja kaya mamah kamu, mas!"
__ADS_1
"Ya kan emang aku anaknya, Rum."