Risalah Hati

Risalah Hati
Episode 9


__ADS_3

Usai pemotretan Soraya langsung bergegas menuju ruang make-up untuk membersihkan riasan di wajahnya.


"Jadwal hari ini udah selesaikan?" tanya Soraya pada Angel yang baru saja duduk disebelahnya.


"Iya, kamu sudah free hari ini."


"Baiklah, setelah ini aku akan langsung pulang," ucap Soraya menuang cairan pembersih muka pada kapas, lalu dengan telaten ia mengusap membersihkan wajahnya.


"Bukankah kamu ada janji dengan teman-temanmu?" tanya Angel seakan mengingatkan.


Soraya kemudian memutar kepalanya menatap Angel. "Ohya, hampir aku lupa. Terimakasih sudah ingetin aku. Kamu mau ikut?"


"Gak, aku udah ada janji sama Mama."


"Baiklah. Kamu pulanglah terlebih dahulu, biar Naomi dan Intan jemput aku disini."


"Ok, aku pulang," kata Angel yang bangkit dari duduknya untuk keluar dari ruangan. Setelah menutup pintu, ia mulai mengeluarkan ponselnya. Jemarinya mulai mendial nomor tanpa nama. Setelah tersambung dia berucap memberi perintah, "Jalankan sesuai rencana."


**


Rudi menimang-nimang ponselnya sambil menatap kartu nama di tangan kirinya. Tiga hari yang lalu saat perjalanan pulang, di bandara ia bertemu dengan teman lamanya ketika SMA. Karena waktu yang tidak mendukung untuk mengobrol, akhirnya mereka saling bertukar nomor.


Kali ini Rudi mencoba menghubungi nomor yang tertera disana, berharap ia bisa mendapat kabar tentang Amaira melalui temannya.


Panggillan telepon tersambung, terdengar temannya menyuruh agar Rudi bertandang ke tempatnya. Rudi dengan senang hati mengiyakan ucapan temannya sebab jadwal kerjanya hari ini telah kosong.


Empat puluh lima menit kemudian ia sudah tiba di sebuah club dibilangan Jakarta. Tempat belum begitu ramai sebab masih pukul sembilan malam. Matanya mengedar mulai mencari keberadaan temannya. Tepat saat melihat ke arah seorang bartender, Rudi mulai melangkah mendekat.


"Woy Bro, baru datang," ucap Davin yang menyadari bahwa Rudi mendekat lalu duduk di kursi tepat di depannya. Lalu mereka melakukan tos dengan saling mengarahkan kepalan tinju ala-ala anak SMA.


"Kerja disini?" ucap Rudi dengan menaikan intonasi bicara agar Davin mendengar, sebab suara dentuman musik terdengar sangat kencang.


"Part time, sekaligus menuangkan hoby," jawab Davin sambil meracik minumannya.


"Mau minum apa?" Tawarnya pada Rudi.


"Yang ringan saja," ucap Rudi yang jarinya sibuk mengetuk-ngetuk ke sisi meja.


Setelah selesai meracik minuman cocktail yang kadar alkoholnya rendah, Davin menyodorkan pada Rudi.


"Kayaknya ada hal penting sampai mau nemuin aku disini," ucap Davin menebak gelagat Rudi.

__ADS_1


Rudi mengangkat sudut bibirnya, kemudian menyesap sedikit minumannya. "Apa terlalu kentara?" sahut Rudi kemudian.


"Sudah kuduga," ucao Davin tersenyum dan mengangguk-anggukan kepals. Cukup akrab dengan Rudi pada masa SMA, jadi tak heran dia sedikit tahu dengan gerak-gerik Rudi.


Rudi mengusap tengkuknya, merasa sedikit tak enak. "Kamu tahu dimana keberadaan Rara, maksudku Amaira Husna," ucapnya langsung pada topik pembicaraan.


"Lima tahun yang lalu sempat bertemu waktu reuni alumni SMA, sepertinya dia jadi staff di perusahaan properti. Nama perusahaannya aku kurang tahu. Tapi dekat dan searah dengan jalan Thamrin. Kenapa nyariin dia? Mau CLBK?" ucap Davin seakan menggoda dan ditanggapi oleh Rudi dengan senyum tipis.


"Lagian, kamu juga pergi tanpa kabar. Dia kayak orang bingung saat hari kelulusan. Nyariin kamu. Kamu kemana saja?" sambung Davin, namun Rudi seakan sulit untuk menjawab.


"Aku ada kepentingan," ucap Rudi.


Davin mencebik. "Seenggaknya kalau pergi ngasih penjelasan, biar gak bikin orang bingung. Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang kerja dimana?"


"Gantiin kakek."


"Bravo. Jadi pak Dokter sekarang," kata Davin, kemudian mereka melanjutkan perbincangannya.


Dari arah pintu kini muncul Soraya dan kedua temannya. Sebelum tiba ditempat ini mereka terlebih dahulu mampir ke sebuah Mall. Lalu kemudian dengan paksaan dua temannya Soraya pasrah mengikuti masuk ke dalam club.


Soraya sebenarnya risih dengan tempat seperti ini, apalagi ini baru pertama kali baginya. Dentuman musik memekakan telinga, apalagi dengan tarian-tarian antara laki-laki dan wanita yang bercampur baur berada di floor dance ditambah dengan baju-baju minim para wanita disana.


Sementara ia hanya memakai dress selutut, sungguh terlihat seperti orang yang sedang tersasar.


"Duduk," ucap Intan, disusul Soraya yang mendudukkan diri disamping Intan. "Kenalin dia Revan," sambung temannya memperkenalkan lelaki yang duduk semeja dengan mereka.


Soraya dan Naomi saling berbalas memperkenalkan diri. Menyadari Soraya tampak risih berada ditempat ini, Revan dengan segera memanggil waitress untuk memesan minuman.


Beberapa menit kemudian setelah minuman selesai diantarkan, kedua teman Soraya sudah berpindah tempat untuk berdansa di floor dance. Sempat Naomi mengajaknya, tapi ia menolak secara halus. Sementara dirinya kini berbincang berbasa-basi dengan Revan. Melihat Soraya yang tampak lengah, gelas milik Soraya kini berpindah ditukar dengan milik Revan.


Menghela nafas panjang, Soraya menahan kesal sebab temannya tak kunjung kembali. Melihat botol-botol minuman keras berjejer dimeja-meja sekitar membuatnya sedikit geleng kepala, lalu membuang muka menatap meja di depannya. Karena merasa haus dan merasa minumannya aman tanpa alkohol, ia mengangkat dan menegak habis minumannya.


Sempat ia mengulurkan lidah sebab, merasakan sedikit ada rasa pahit pada minumannya.


"Kenapa?" tanya Revan yang dari tadi memperhatikan tingkah Soraya.


"Bukankah yang aku pesan tanpa alkohol, kenapa ada rasa pahit?"


Revan terkekeh, "Tenang itu rendah alkohol. Mau lagi?"


"Tidak terimakasih," ucap Soraya menolak secara halus.

__ADS_1


Menit berlalu Soraya mulai merasa tak nyaman dengan tubuhnya, ia kemudian berpamitan kepada Revan untuk ke toilet sebentar.


Cahaya lampu yang berkedip-kedip tak beraturan serta kencangnya musik membuat kepala Soraya bertambah pusing, tiba di toilet Soraya membasuh mukanya.Rasanya ada yang tidak beres dengan tubuhnya kali ini. Tapi ia berusaha mengendalikan diri.


Disatu sisi Rudi masih sibuk berbincang dengan Davin di meja Bar.


"Bang, didepan ada razia," ucap salah satu waitress yang berbisik pada sisi telinga Davin.


Rudi hanya menaikkan alisnya menatap orang di depannya.


"Kayaknya kamu harus segera cabut dari sini. Di depan sudah ada polisi, sialnya hari ini ada razia," Jelas Davin pada Rudi dengan suara pelan agar tak membuat gaduh dengan orang sekitar.


"Cepet deh cabut, dari pada ribet urusannya. Siniin kunci mobilmu kita tukaran," ucap Davin memaksa agar Rudi menyerahkan kunci miliknya untuk ditukar dengan kunci mobil milik Davin. Davin berfikir akan merusak citra seorang dokter bila temannya itu berurusan dengan aparat kepolisian. Apalagi seluruh pengunjung Club diharuskan melakukan beberapa test meski tak telibat dengan barang tabu.


"Ok, besok kita ketemu lagi," kata Rudi setelah mengambil kunci milik Davin.


"Yoi Bro. Stella, tolong antar temanku lewat pintu belakang," ucap Davin kepada waitress yang bernama Stella.


Dengan segera Stella mengajak Rudi untuk mengikuti berjalan di belakangnya melewati kerumunan orang-orang yang sibuk berdansa. Stella dan Rudi berjalan tergesa akibatnya Rudi bertabrakan dengan seseorang yang berjalan sempoyongan. Dengan gesit Rudi menahan tubuh orang yang ditabraknya agar tidak rubuh jatuh ke lantai.


Kepala Soraya rasanya sudah mulai berkunang, tapi ia masih sedikit menyadari ia berada ditempat mana serta tahu betul orang yang kini ada di depannya. Hingga ia berucap sebelum matanya terpejam. "Dokter Rudi, kita bertemu lagi."


Rudi yang mendengar namanya dipanggil serta merta menatap dan mengamati wajah wanita yang masih ia topang. Sedang Stella yang menyadari bahwa Rudi tak mengikutinya, ia bergegas menoleh ke belakang.


"Bapak kenal dengan wanita ini?"


Rudi tersadar dengan ucapan Stella, dengan menoleh ia lalu menganguk ragu.


"Sudah gak ada waktu, di depan sudah terdengar bising. Bawa saja dia kalau dia teman Bapak," ucap Stella yang terdengar panik sebab di arah depan sudah terdengar suara ribut-ribut.


Rudi yang menyadari situasi langsung mengiyakan.


"Kamu tolong bawa ini," ucap Rudi menyerahkan tas yang sudah melorot dari bahu Soraya kepada Stella. Dan dengan segera Rudi membopong tubuh Soraya yang sudah lemas mengikuti langkah Stella menuju pintu darurat.


Lorong demi lorong sudah dilewati, dan tibalah mereka di tempat parkir belakang yang tanpa orang duga bahwa masih wilayah club. Rudi menurunkan tubuh Soraya menyandarkan pada sisi mobil dan mulai merogoh kunci mobil milik Davin.


Setelah mendapati mobil Davin lewat bunyi alarm dan lampu yang berkedip, Rudi segera bergegas membawa tubuh Soraya di bantu oleh Stella. Setelah menyelesaikan urusannya Stella berpamitan kembali lagi ke tempatnya bekerja.


Rudi mulai menjalankan mobil yang tengah ia kemudikan, setengah bingung ia menoleh pada wanita di sampingnya. "Mau dibawa kemana?" batinnya.


To be Continue

__ADS_1


part ini masih berlanjut...


__ADS_2